Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Ciptaan yang Paling Indah


__ADS_3

Minggu ini, awal dimana ujian demi ujian akan di lalui semua murid kelas 9. Semua murid sudah mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari, dari mulai mengikuti les tambahan di sekolah, di rumah, bahkan mengikuti ujian try out/uji coba untuk mengetahui sejauh mana ilmu yang mereka miliki dengan cara bersaing mengikuti ujian itu dengan murid-murid dari sekolah lain maupun teman seangkatan mereka sendiri.


"Ni, kau tadi malam belajar apa?" tanya Sara ketika mereka jalan bersama dari depan gerbang sekolah. Sara yang lebih dulu datang ke sekolah memang sengaja menunggu Aini di depan gerbang. Hari ini ia rasanya begitu nervous akan menghadapi ujian akhir, di tambah lagi dia akan di tempatkan di kelas yang berbeda dari biasanya dan juga dengan teman-teman yang berbeda pula tentunya. Hal ini dikarenakan setiap kali ujian akhir sekolah, pihak sekolah sudah mengurutkan nama-nama murid kelas 9 sesuai abjad. Kemudian dari abjad itu pula penentuan kelas mereka.


"Aku tidak belajar yang berat-berat, hanya sekilas melihat soal-soal yang sering kita bahas di sekolah saja. Rasanya pikiranku juga butuh istirahat agar pagi ini lebih fresh. Selama ini kita sudah cukup lelah belajar dari pagi sampai sore di sekolah, dilanjut malam hari di rumah. Jadi untuk menghadapi ujian hari ini, aku justru mengistirahatkan pikiranku agar bisa menjawab soal-soal dengan lebih tenang nantinya," jelas Aini.


"Kau sih enak, pintar. Lah aku yang oon gini malah pusing sendiri. Sudah belajar pun otakku nggak ngerti ke pelajaran yang dimaksud," keluh Sara.


"Tidak ada orang yang oon, yang ada hanya malas dan tak mau berusaha. Makanya tu otak jangan di pake buat pacaran mulu," ledek Aini.


Sara hanya tertawa ringan karena ada benarnya juga apa yang dikatakan Aini, dia memang kurang serius dalam belajar selama ini. "Eh, kelas mu dimana Ni?" tanya Sara saat mereka sampai di dekat tangga menuju kelas mereka biasanya.


"Aku di ujung sana, dekat perpustakaan. Kau sendiri dimana?" tanya balik Aini.


"Oh, aku di kelas Amar, tapi Amar sepertinya sekelas dengamu, " jawabnya sedikit sedih. Nama Amar memang diawali dengan kata Muhammad, jadi berarti Amar dan Aini akan sekelas mengingat nama Aini yang dimulai dengan huruf O, yakni Octavia.


"Sudah, jangan dipikirkan masalah kita sekelas dengan siapa, tapi lebih baik kita fokus untuk menjawab soal-soal ujian dengan baik dan benar. bukankah nilai kita nantinya akan menjadi penentu bagi kita bisa memasuki sekolah yang kita inginkan? Jadi kalau kau punya impian untuk masuk di sekolah yang bagus, maka berusahalah untuk mendapat nilai yang bagus pula di ujian akhir ini," terang Aini.


"Siap bu guru!" ucap Sara lantang dengan satu tangannya di tempelkan pada dahinya seakan memberi hormat saat upacara.


"Sudah sana naik, aku juga mau jalan ke kelasku yang dekat perpus sana," tunjuk Aini ke arah lapangan yang dapat melihat perpus setelahnya.


"Baiklah, aku ke kelas dulu, sampai jumpa pulang nanti. Kalau aku belum keluar, kau tunggu saja di depan gerbang ya," titah Sara dan diangguki oleh Aini.


Aini menghirup udara segar yang ada di sekelilingnya. Di sekolahnya memang banyak sekali tanaman hijau yang di tanam dengan sengaja untuk membuat suasana sekolah tampak indah dan berseri, bahkan itu juga salah satu bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan untuk mencegah yang namanya global warming. Ia kini sudah berada di depan kelas yang nantinya akan menjadi kelas tetapnya selama beberapa minggu ke depan saat ujian masih berlangsung. Ia memejamkan matanya sesaat sebelum ia benar-benar memasuki kelas itu.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga ujian hari ini sampai akhir nanti berjalan lancar dan semoga aku bisa menjawab semua soal yang tertera di lembar ujian nanti dengan benar. Aamiin," doanya dalam hati, lalu ia membuka matanya perlahan.


"Astaghfirullah..." Aini mengelus dadanya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Bagas berada tepat dihadapannya.


"Aini, kamu tidak apa-apa?" tanya Bagas yang juga terkejut. Ia tadi baru sampai ke kelas yang sama dengan Aini sebelum gadis itu berada di depan pintu. Saat Bagas hendak keluar ingin membeli sesuatu sebelum bel berbunyi, ia melihat Aini sedang memejamkan matanya di depan pintu kelas. Ia yang tadinya ingin pergi tentunya menghentikan langkahnya sejenak untuk sekedar menikmati ciptaan yang paling indah dari sang Maha Pencipta yang ada di hadapannya. Rasanya dari semua ciptaan Tuhan yang indah, maka Wanita lah yang menjadi urutan pertama akan hal itu.


"Bagas, kau di kelas ini juga?" tanya Aini setelah sepenuhnya ia merasa degup jantungnya kembali normal.


"Iya, nama kita kan dekat sesuai abjad," jawab Bagas santai.


"Oh, iya juga," pikir Aini. Nama Bagas juga di awali dengan kata Muhammad, jadi dia juga akan sekelas dengan Bagas. "Eh, kamu mau kemana? Bukannya sebentar lagi bel akan berbunyi?" tanya Aini yang melihat Bagas hendak keluar.


"Aku mau keluar sebentar untuk membeli penghapus pensil, punyaku tertinggal di tas yang biasa ku pakai, sedangkan hari ini aku membawa tas yang berbeda," jelas Bagas.


"Ya sudah, apalagi yang kamu tunggu, cepat pergi sebelum bel berbunyi!" titah Aini.


"Astaga, iya maaf," ucap Aini, lalu ia masuk ke dalam kelas dan membiarkan Bagas melewati pintu ke arah luar. Ia lalu mencari meja yang sudah di tempel dengan kartu ujian yang sama dengan yang dimilikinya.


Bagas yang sudah ke luar dari kelas segera menuju warung di dalam sekolah yang menjual peralatan tulis. Ia jalan dengan hati yang riang gembira. Jarang sekali pagi-pagi begini ia menikmati ciptaan indah di hadapannya seperti tadi. Apalagi gadis itu ialah Aini, gadis yang ia idamkan selama ini. Pasti hari ini ia semakin semangat untuk menjawab semua soal di lembar ujian nanti.


"Tinggal menunggu beberapa minggu lagi, aku pasti akan mengungkapkan isi hatiku," gumam Bagas.


"Aku yakin, dia pasti akan menerima ku," pikirnya lagi. Ia sudah sampai di warung yang tak jauh dari kelas tadi dan sudah membeli barang yang dia inginkan. Ia melihat ke arah lapangan, ada Alfi yang melintasi lapangan itu.


"Lihat saja Alfi, aku yang akan memenangkan hati Aini," batinnya, lalu berjalan menuju tempat dimana ia akan melaksanakan ujian selama beberapa minggu ke depan.

__ADS_1


Alfi yang sempat melihat Bagas menatap ke arahnya mengernyit heran. "Kenapa tu anak lihatin aku sampai segitunya?" batin Alfi. "Oh, mungkin dia lagi pusing karena sebentar lagi ujian akan dimulai," pikirnya lagi.


.


.


.


.


.


tbc


__________


Yg nungguin bang Baim sabar ya.


Bang Baim baik2 aja kok๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


kita tuntaskan dulu Bagas dan Alfi yg memperebutkan Aini.


Jan lupa di Like


Beri Vote yang banyak dong

__ADS_1


Kalau sudah vote sekali masih bisa kasi vote lagi kok, dan ngasi vote itu gak harus 10, bisa 100 bisa 1000 itu sih author ngarep๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Happy reading๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2