Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Bocah Ingusan


__ADS_3

Flash back on


Sehabis zuhur, Baim telah bersiap memakai pakaian batik lengan panjang serta celana keper nya yang longgar dan memakai peci. Dia akan mengajar privat seperti biasa. Merasa tidak terlalu membutuhkan handphonenya di saat mengajar, ia meninggalkan benda pipih itu yang memang kebetulan lowbatt, jadi ia charge di atas meja sebelah ruang sholat.


Saat hendak pamit kepada umi, terdengar ketukan pintu di depan rumah. "Sepertinya ada tamu," gumamnya.


Baim yang lebih dekat ke arah pintu itu langsung membukanya dan menemukan sosok yang paling tidak ia sukai di sana.


"Mau apalagi sih wanita ini? Tidak punya malu sama sekali!" batinnya.


"Assalamu'alaikum.." ucap wanita itu.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Baim juga.


"Eh abang sudah rapi mau kemana?" tanya Yuna yang melihat Baim sudah rapi dengan setelannya.


"Ada perlu apa?" tanya Baim tanpa mau menjawab pertanyaan Yuna sebelumnya.


"Tidak ada apa-apa.. hanya ingin berkunjung dan bertemu umi saja," tutur wanita itu.


"Pandai sekali dia berbohong," batin Baim.


"Oh ya sudah, kalau mau bertemu umi silahkan masuk, umi ada di dapur!" ketus Baim.


"Iya.. makasih bang, saya langsung masuk ya." Yuna masuk dan langsung menuju dapur. Baim yang memang mau berpamitan dengan Umi juga mengikuti Yuna dari belakang. Yuna merasa mendapat sedikit perhatian dari Baim, karena ia kira Baim memang sengaja mengantarkannya bertemu dengan Umi.


"Tuh kan, bang Baim masih perhatian sama aku, berarti masih ada rasa di hatinya buat aku," gumam Yuna.


"Mi.. Baim pamit mau pergi mengajar ya," ucap Baim saat tiba di dapur dan mendapati umi tengah sibuk dengan peralatan masak nya.


"Iya," jawab Umi dan berbalik menghadap Baim. Umi pun melihat Yuna berdiri di sebelah Baim.


"Loh, nak Una kapan datang?"


"Baru aja mi," ucapnya sambil mencium tangan Umi.


"Baim pergi ya mi, assalamu'alaikum." Baim sepertinya tidak ingin lebih lama lagi melihat wajah wanita itu, ia pun segera pamit pada umi dan pergi dari sana.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Umi dan Una bersamaan.


"Una mau minum apa? Biar umi buatin," tanya umi setelah melihat Baim pergi dari hadapan mereka.


"Tidak perlu repot-repot mi, nanti Una ambil sendiri kalau haus. Umi kan sedang sibuk, Una nggak mau ganggu," ucapnya merasa segan.


"Tidak apa.. kamu kan tamu, masak nggak umi kasi minum sih."


"Kamu sering datang ke sini apa tidak dimarahin orangtua kamu nak?" tanya Umi pada Una sambil mengaduk teh hangat yang sedang dibuatnya.


"Tidak mi.. orangtua Una sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, mana mungkin mereka peduli dengan Una," jawabnya sedih.

__ADS_1


"Hussshh.. kamu tidak boleh berucap begitu, orangtua kamu sibuk juga kan demi biayai kehidupan kamu," balas Umi dan sudah meletakkan teh hangat itu di dekat Una.


"Diminum dulu tehnya, umi lanjutin pekerjaan umi dulu ya," sambungnya.


"Iya mi.." katanya sambil menyeruput teh itu. Yuna mengambil handphone dari dalam tasnya, ternyata benda itu mati, saat dihidupkan juga tidak menyala. "Mungkin baterainya habis," pikir Yuna.


"Mi, boleh Una pinjam charger? handphone Una butuh di charge ni," pintanya pada Umi.


"Boleh.. kamu ambil saja charger di dekat meja ruang sholat, biasa di situ ada," jawab Umi yang masih sibuk dengan acara memasaknya.


Yuna pergi menuju ruang sholat, ternyata handphone Baim tengah di charge di sana. Saat dia menekan salah satu tombol handphone Baim, dia melihat ada foto seorang gadis di layar itu. Niatnya Yuna hanya ingin melihat apakah baterai handphone Baim sudah terisi penuh atau belum, tapi malah ia dapati foto gadis yang merusak moodnya itu.


"Apa ini si gadis kecil yang membuat bang Baim berpaling dariku?" gumamnya.


Yuna mulai memiliki rencana jahat di pikirannya. Ia membuka handphone Baim dan mencari nomor kontak gadis kecil itu. Setelah mendapati nomornya, ia menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.


" Assalamu'alaikum "


Terdengar suara gadis itu mengucap salam, namun Yuna tidak menjawabnya.


" Hallo bang "


Gadis itu kembali bersuara, namun Yuna masih memikirkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan nantinya untuk gadis ini.


" Iya Hallo "


" Siapa Ini? "


Gadis itu bertanya kembali dan Yuna merasa ini saat yang tepat.


" Saya pacar bang Baim.. tolong kamu jauhi dia "


Flash back off


duarrr..!! seperti sambaran petir di siang bolong, kata-kata yang terdengar dari seberang telepon seketika membuat Aini mematung.


" Hallo.. kamu dengar tidak? Saya bilang kalau saya pacar bang Baim.. Jadi mulai sekarang jauhi dia "


Wanita itu menegaskan kata-katanya kembali agar si gadis kecil mengerti keinginannya.


" Oh tenang saja mbak, saya juga bukan siapa-siapanya, tanpa di suruh menjauh juga saya selalu jaga jarak dengannya "


Aini berbicara dengan luapan emosi. Ntah apa yang ada dipikirannya saat ini, tapi ia begitu kecewa, sedih dan kesal mendengar perkataan wanita itu.


" Bagus kalau kamu sadar.. Karena kamu cuma bocah ingusan yang belum mengerti artinya cinta, jadi lebih baik kamu belajar dulu "


Wanita itu berbicara panjang lebar untuk membuat Aini semakin terluka.


" Terima kasih atas saran mbak "

__ADS_1


Aini mengakhiri panggilan itu tanpa mengucap salam seperti biasa. Tubuhnya melemas, ia langsung mendudukkan diri di tepi tempat tidurnya. Apa yang baru ia dengar terus terngiang-ngiang di ingatannya. Tanpa terasa butiran bening dari matanya jatuh begitu saja.


"Ya Allah.. apa ini? kenapa aku begini? emang dia siapa?" Aini melontarkan banyak pertanyaan di kepalanya sampai dadanya terasa semakin sesak. Ia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur itu.


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.." berulang kali Aini mengucap istighfar berharap mendapat ampunan dari Allah.


"Ya Allah.. ampuni aku yang telah memiliki perasaan terhadap lelaki yang tidak sepantasnya. Apa aku salah memiliki perasaan ini? Hingga Kau hukum aku dengan memberitakan bahwa dia telah memiliki kekasih?


Aini begitu terpukul dengan kejadian tadi. Ia begitu bingung dengan perasaannya sendiri, terkadang pikirannya mengatakan bahwa ia hanya mengagumi sosok pria yang sering mengacaukan pikirannya itu. Terkadang hatinya berkata lain bahwa ia ingin pria itu menjadi imamnya suatu hari nanti.


"Argghhhh..." Aini berteriak frustasi.


"Tapi benar yang dikatakan wanita tadi, aku ini hanya bocah ingusan, mana pantas aku dengan bang Baim," batinnya.


"Lebih baik aku sakit sekarang, dari pada nanti di saat perasaan ini jauh lebih dalam dan ternyata bang Baim memang tidak memilih aku, itu jauh lebih sakit," pikirnya lagi.


"Bantu aku Ya Allah.. Bantu aku lupakan dia.."


Aini terus memanjatkan doa kepada sang Maha pembolak-balik hati manusia, berharap rasa sakit di hatinya bisa berkurang, atau bahkan Allah langsung mengabulkan doanya agar perasaannya terhadap Baim bisa hilang seketika. Ia begitu lelah memikirkan kejadian ini, hingga ia memejamkan matanya yang mulai memerah dan tertidur pulas.


.


.


.


.


.


tbc


____________


sakit nggak sih?


orang yg kita taksir dan kita merasakan dia juga naksir kita, eh malah uda punya pacar 🤦‍♀️🤦‍♀️


vote


like


komen


jan lupa


udah begadang ini nyiapin episodenya😄😄


♥️♥️ readers

__ADS_1


__ADS_2