Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Nge-mall


__ADS_3

"Cepat sedikit Ni, aku sudah tidak sabar ingin merayakan hari ini," ucap Sara sambil menarik tangan sahabatnya itu. Kini mereka tengah berada di depan gerbang sekolah untuk segera menuju halte bis. Hari ini hari terakhir mereka melaksanakan ujian, jadi setelah pulang dari sekolah, rencananya Sara ingin mengajak Aini jalan-jalan ke mall untuk merayakan hari terakhir mereka di sekolah tercinta. Kalau biasanya anak-anak remaja akan melakukan ajang corat-coret baju pakai semprotan warna di sertai tanda tangan pada baju mereka, tapi tidak untuk Sara dan Aini, bahkan tidak untuk kelas 9 seangkatan mereka. Hal ini sudah diperingatkan kepala sekolah dan para guru jauh-jauh hari, yang melarang mereka melakukan hal demikian, jika sampai ketahuan mereka melakukan kegiatan corat-coret baju, kepala sekolah mengancam tidak akan meluluskan mereka dari sekolah. Ancaman itu sangat ampuh untuk membuat mereka mematuhi aturan sekolah. Jadilah Sara mengajak Aini untuk ngemall saja, tidak ketinggalan mengajak Amar sang pacar.


Aini menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Sara. "Sabar sedikit, lihat tali sepatu ku lepas, aku mau benerin dulu!"


"Ya bilang dong dari tadi, aku kan tidak tahu," ucap Sara dan sudah melepas tangan Aini. Sara menatap kearah gerbang berharap orang yang di tunggu nya segera keluar. Ya, orang itu ialah Amar, karena Sara tidak ingin menghabiskan saat terakhirnya duduk di bangku SMP hanya dengan Aini, tetapi juga dengan sang pacar.


"Mana si Amar? Kok belum muncul juga?" tanya Aini yang sudah membenarkan tali sepatunya tadi. Ia lalu mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya.


"Nggak tahu ni, lama banget. Aku telepon aja kali ya, aku khawatir dia lupa dan malah mau jalan sama geng futsalnya," sahut Sara. Aini yang sibuk dengan benda pipih di tangannya tidak menyahuti perkataan Sara.


"Hei.. Kalian belum pulang?" sapa Bagas yang baru keluar dari gerbang.


"Belum," jawab Sara, sedangkan Aini masih fokus menatap layar handphonenya. Ia belum juga menyadari kalau ada Bagas di hadapan mereka karena sedari tadi murid-murid yang melintasinya terdengar begitu heboh dan berisik, jadi ia tidak begitu mendengar suara Bagas.


"Lagi nunggu Amar ya Ra?" tanya Bagas pada Sara yang terlihat begitu sibuk menempelkan handphone di telinganya.


"Iya, kau lihat dia nggak di dalam?" Sara terus menelepon Amar namun tidak ada jawaban dari seberang telepon.


"Tadi pas aku turun dari tangga sih kayaknya dia ke arah toilet," jawab Bagas.


"Oh, yaudah deh aku susulin. Lama banget tu anak kalau nggak aku susul ntar. Nggak tahu apa dia kalau lama perginya nanti belum puas keliling mall ada bocah yang sibuk minta pulang!" sindir Sara pada sahabatnya. Pasalnya, setiap kali Sara mengajak Aini jalan, selalu saja Aini ingin cepat pulang dengan alasan takut di cariin ibu la, mau bantu ibu masak la, atau mau mengerjakan tugas yang akan di kumpul besok. Tapi untuk kali ini, sepertinya alasan ketiga tidak akan di pakai Aini lagi, karena hari ini mereka sudah tidak memiliki tugas berhubung ujian akhir sekolah juga sudah mereka jalani.


"Aku titip Aini dulu ya, takutnya saat Amar ketemu, malah dia yang hilang," candanya sama Bagas. Ia menepuk pundak Aini untuk memberitahu kalau ia akan pergi, sebab dari tadi Aini tidak menggubrisnya.


Aini sadar jika ada yang menepuknya. Ia lalu melihat Sara yang kembali masuk ke dalam sekolah. "Eh Ra, mau ke mana?" Namun Sara yang sudah setengah berlari tidak mendengar ucapan Aini. Gadis itu kini melihat Bagas di hadapannya. "Loh, Bagas? Sejak kapan ada di sini?"


"Sudah dari tadi, kamu aja yang tidak lihat. Habisnya sibuk terus sama handphonenya," celetuk Bagas.


"Iya, ini lagi seru main game, maaf ya nggak lihat ada kamu," ucap Aini dan sudah mengembalikan handphone ke dalam tasnya. "Sara tadi mau kemana?" tanyanya karena dia memang tidak tahu Sara pergi entah kemana.


"Mau nengokin Amar, katanya takut lama kalau tidak di jemput. Memangnya kalian mau kemana sih?"

__ADS_1


"Kata Sara sih mau ke mall. Aku juga kurang tahu, ikut aja lah, mumpung ada yang ngajak," jawab Aini enteng.


Bagas nampak memikirkan sesuatu. "Aku boleh gabung sama kalian?" pinta Bagas.


"Kalau aku sih yes, boleh-boleh aja, tapi ntar tunggu Sara datang ya, tanya dia dulu, aku khawatir dia malah nggak izinin," terang Aini.


Tak lama kemudian, Sara dan Amar tampak keluar dari gerbang sekolah. Murid-murid yang melintasi gerbang sudah tidak seramai tadi, mungkin mereka semua sudah pada pulang atau juga ingin merayakan hari terakhir mereka ujian seperti keempat siswa dan siswi di depan gerbang sekolah ini.


"Sudah lengkap personil kita, yuk capcuz," ajak Sara pada ketiga orang dihadapannya.


Aini mengernyit heran. "Personil lengkap? Apa Sara memang mengajak Bagas?" pikirnya.


"Ra, aku boleh gabung sama kalian?" tanya Bagas ingin memastikan, karena Aini tadi menyuruhnya untuk bertanya dulu dengan Sara.


"Ya boleh la, makanya aku bilang tadi, personil sudah lengkap. Ayo ikut kami ke mall, biar si Aini juga punya teman ngobrol," tutur Sara. "Kasihan kalau dia harus makan hati lihat kemesraan kami," ledek Sara pada sahabatnya itu.


Bagas tersenyum senang, tidak menyangka bahwa dia akan bisa jalan bareng gadis pujaan hatinya. "Berang-berang bawa tongkat, cuzz.. berangkaatt..," canda Bagas dan yang lainnya juga ikut tertawa dengan lelucon yang dibuat Bagas.


Sesampainya di mall, Sara mengajak mereka makan di cafe termurah yang ada di sana. Maklum saja, untuk ukuran pelajar SMP yang kehidupannya tidak dapat dikatakan kaya, tentu mereka harus mencari tempat makan yang sesuai kantong mereka. Walau tidak bisa makan di tempat mewah, itu sudah membuat mereka senang karena bisa berkumpul bersama sampai menjelang kelulusan mereka.


"Udah, ikut aja. Kita naik ke lantai 3 ya," ucap Sara. Saat ini mereka sedang berada di lantai 1, jadi mereka segera mencari tangga berjalan yang ada di mall untuk sampai ke lantai 3 sesuai permintaan Sara.


"Poto box, siap poto langsung jadi," baca Aini dalam hati. Ia melihat-lihat tempat yang mereka datangi, ternyata tempat itu ialah studio poto. "Mau apa kita ke sini Ra?" tanya Aini begitu penasaran.


"Mau mandi! Ya mau poto la.. Nggak lihat tu tulisannya studio poto!" ketus Sara. Ia kadang suka kesal terhadap sahabatnya ini, terlihat pintar di kelas, namun terlihat oon bila di ajak jalan.


"Iya, aku tahu ini studio poto. Tapi siapa yang mau poto?" tanya Aini lagi.


"Kalau kau mau, kita bisa poto bersama. Tapi sekarang aku poto sama Amar berdua dulu ya, nanti kita rame-rame," jelas Sara, Aini hanya mengangguk saja.


Saat Sara dan Amar masuk ke dalam tempat kecil seperti box kulkas, Aini dan Bagas menunggu di kursi dekat tempat itu.

__ADS_1


"Hmm.. Aini.." ucap Bagas yang merasa canggung dengan diamnya Aini saat duduk bersamanya.


"Iya, ada apa?" sahut Aini.


"Itu.. anu.. aku.." ujar Bagas terbata-bata. Sebenarnya saat ini ia ingin mengungkapkan isi hatinya di hadapan gadis itu. Namun entah mengapa lidahnya terasa kaku hanya untuk mengungkapkan tiga kata yang bahkan anak kecil saja dapat mengatakannya dengan jelas, AKU CINTA KAMU.


"Iya, kamu kenapa?" tanya Aini lagi.


"Aku..." Aini masih menunggu lanjutan kalimat Bagas.


"Aini, Bagas, sini.. ayo kita poto bareng!" ajak Sara yang sudah selesai dengan kegiatan potonya dengan sang pacar.


"Ayo Gas, kita ke sana," ajak Aini pula. Bagas menghentakkan sebelah kakinya ke lantai saat Aini sudah lebih dulu menyusul Sara dan Amar. "Gagal lagi deh, usaha aku untuk nembak dia," gerutunya.


.


.


.


.


.


tbc


___________


Like


Vote

__ADS_1


Komen


😊🙏♥️


__ADS_2