
"Sara....," teriak Aini sambil berjalan ke arah sahabatnya yang berada di depan gerbang sekolah mereka.
Ya, gadis berbulu mata lentik itu baru tiba di depan sekolah setelah turun dari angkot, ia melihat Sara yang tergesa-gesa berjalan menuju gerbang sekolah.
Sara menoleh kebelakang. "Heii.. cepat sedikit, bel sudah mau berbunyi sebentar lagi," sahut Sara sedikit kesal karena mendapati Aini berjalan santai ke arahnya.
"Iya.. bawel..," ucap Aini sambil mencubit gemas pipi Sara yang sedikit berisi itu membuat si empunya meringis kesakitan dan refleks memukul pundak Aini untuk membalas perbuatan jahil sahabatnya ini.
Sara sahabat Aini sedari SD, sekarang mereka masih duduk di bangku SMP tingkat 2, kurang lebih sudah 5 tahun mereka bersahabat, karena dulu Aini murid pindahan dari sekolah lain dan bertemu Sara saat mereka masih duduk di kelas 3 SD. Sara anak yang ceria, aktif, dan tidak lupa kalau bicara suka ceplas-ceplos. Namun itulah yang membuat Aini merasa senang bersahabat dengannya, karena sifat Aini cukup berbanding terbalik dari Sara. Aini lebih bersifat introvert, suka memendam perasaannya, tidak terlalu terbuka tentang masalah yang dihadapinya, karena ia merasa tidak perlu orang lain tau setiap masalah yang dihadapinya. Bahkan orang yang tak mengenalnya lebih jauh akan berpikiran bahwa Aini anak yang sombong sangking jarangnya bertegur sapa dengan orang di sekitarnya. Walau pun demikian, Sara selalu bisa membuat Aini jujur tentang berbagai perasaan yang tengah menimpanya, berbagai bujuk rayu yang Sara lakukan mampu membuka hati gadis itu untuk berbagi ceritanya. Itulah yang membuatnya senang mempunyai sahabat seperti Sara, karna setelah berbagi masalah dengan Sara, dirinya akan merasa lebih baik.
Hssshhh.. hssshhh.. hssshhh..
Suara hembusan nafas keduanya yang terengah-engah karena berlarian menuju kelas. Bukan tanpa sebab mereka berlari-lari seperti itu, melainkan mereka takut akan guru yang masuk pada jam pelajaran pertama di hari Senin ini, karena guru tersebut terkenal sangat killer, namanya bu Tuti. Dia guru matematika. Bayangkan sendiri gimana kalau kalian berada di situasi menegangkan saat di suruh mengerjakan soal-soal matematika di depan kelas sambil di liatin semua teman-teman yang ada di tambah tatapan mata dari bu Tuti yang tajam bagaikan elang itu. Ah, ngebayangi nya aja buat bulu jaket ku berdiri. Eh, maksudnya bulu kudukku berdiri yawww.. hehehe
"Untung saja bu Tuti belum masuk, hufftttt....," ucap Sara sambil menghembuskan nafas dan mendudukkan bokongnya di kursi yang biasa ia duduki tiap harinya, bersamaan dengan Aini yang duduk di depan Sara.
Iya, mereka memang bersahabat, tetapi mereka tidak duduk bersebelahan, karena pada saat pemilihan kursi beberapa bulan lalu saat kenaikan kelas, mereka datang sedikit terlambat. Jadi hanya ada 1 kursi yang kosong di pojok kiri nomor 2 dan 1 kursi lagi di pojok kiri nomor 3. Walau demikian, mereka tidak keberatan, toh mereka duduk dengan siapapun kan tidak membuat hubungan persahabatan mereka merenggang, malah mereka makin menambah banyak kenalan teman lainnya.
"Eh, uda siap PR belum?" tanya Ela teman sebangku Aini.
"Uda dong...," saut Aini dengan cepat sambil mengeluarkan buku matematika dari dalam tasnya.
"Liat dong, aku nomor 2 belum siap," sambung Ela.
Tanpa berkata apa-apa Aini langsung menyerahkan buku PR nya kepada Ela dan di sambut dengan cepat oleh tangan Ela karena ingin segera menyelesaikan tugas matematika nya sebelum bu Tuti masuk ke kelas.
Tak Lama kemudian...
"Assalamu'alaikum...," sapa bu Tuti ketika memasuki kelas 8c tersebut.
Langsung semua murid diam dan menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
"Letakkan buku tugas di atas meja kalian masing-masing!" ucap bu Tuti tegas kepada murid-muridnya.
"Siapa yang belum selesai tugasnya?" tanya bu Tuti.
Hening beberapa saat dan tidak ada satupun suara di kelas itu.
"Berdiri sekarang juga," sambungnya lagi.
__ADS_1
Semua mata tertuju kepada murid laki-laki yang memakai kacamata tebal dengan tinggi badan sekitar 160cm, hidungnya mancung, kulitnya kuning langsat dan badannya terlihat kurus.
"Kamu belum mengerjakan tugas yang saya berikan?" tanya bu Tuti kepadanya dan diangguki oleh orang yang di tanya. Kemudian bu Tuti bertanya lagi. "Siapa nama kamu?"
"Saya Bagas bu," sahutnya sambil menunduk di hadapan bu Tuti. Semua juga menunduk takut bila berhadapan dengan bu Tuti. Guru killer yang ditakuti semua murid seantero jagad raya. hahaha..
Tapi kali ini bu Tuti tampak lesu, mungkin dia lagi nggak enak badan kali ya, karena biasa dia langsung menghukum murid yang tidak mengerjakan tugas, tapi hari ini.....
"Berhubung saya lagi baik, maka kamu (menunjuk ke arah Bagas) tidak saya hukum, hanya saja saya minta tolong belikan makanan di kantin untuk saya karena saya belum sarapan," kata bu Tuti. Semua bernafas lega mendengar penuturan bu Tuti, seakan-akan yang baru saja terjadi adalah kejadian yang menimpa masing-masing murid yang ada di kelas 8c, padahal itu hanya dialami Bagas saja, memang lebay murid-murid 8c ini.
***************
"Ni," kata Sara menyebutkan singkatan nama Aini. Kau ingat nggak sama si Bagas waktu MPLS dulu. (MPLS\= masa pengenalan lingkungan sekolah).
Aini tampak berpikir sejenak lalu kemudian tertawa..
Hahhahahahha....
"Ingat lah, mana mungkin aku lupa," saut Aini sambil masih terbahak-bahak mengingat kejadian setahun yang lalu.
Flash back on
Seketika Aini dan Sara yang belum jauh dari area toilet melihat kejadian itu sambil menahan tawa mereka. Mau tertawa lepas takut si korban merasa malu, alhasil mereka hanya senyum-senyum sambil menahan tawa. Saat Aini hendak menghampiri murid tersebut untuk membantunya berdiri, murid itu sudah berdiri sendiri tetapi dia tidak menyadari celananya melorot sampai ke lututnya.
"Arggghhhhh...," teriak Aini sambil menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya. Murid itu pun terkejut keheranan, ada apa dengannya? kenapa cewek ini teriak histeris melihatnya? Saat hendak melangkahkan kaki, akhirnya murid itu sadar bahwa celananya telah jatuh sampai ke lutut, segera ia tarik dan masuk ke dalam toilet dengan keadaan yang campur aduk, antara malu, kesel dan ingin tertawa juga.
"Udah yuk pergi, masi mau di sini?" tanya Sara kepada Aini karena sedari tadi Aini masi saja menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Mereka berdua pergi sambil tertawa di sepanjang koridor sekolah. Membahas kejadian memalukan yang baru terjadi untuk pertama kalinya saat mereka menginjakkan kaki di sekolah itu.
"Sial banget aku Ra," kata Aini setelah puas tertawa tadi.
"Sial kenapa sih?" tanya Sara sok polos.
"Iyalah sial, pagi-pagi uda liat aurat laki-laki culun kayak gitu," jawab Aini sambil mengambil botol minum di dalam tasnya.
"Biasa aja kali, lagian dia juga kan pake celana pendek/boxer tadi. Jadi gak kelihatan juga kan auratnya. Lebay deh lhoo, kata Sara. Eh, tapi tunggu dulu, tadi kau bilang apa? culun? Emang kalau yang di lihat nggak culun nggak jadi sial? Hati-hati Ni, jangan ngejek orang sembarangan, ntar kau naksir baru tahu," sindir Sara ke Aini.
"Astaghfirullah.. jangan nyumpahin gitu napa," omel Aini ke Sara. Tetap aja aku nggak biasa lihat begituan Ra, kau tahu sendiri keluargaku terbiasa menutup aurat, dan nggak sembarangan pake-pake celana pendek gitu kalau di luar kamar," sambung Aini menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Iya, iya bu ustadzaahh..," saut Sara dengan nada meledek sahabatnya itu. "Yaudah, yuk kita balik ke barisan, ntar di cariin sama kakak senior bisa di hukum kita," lanjut Sara.
Flash back off
"Itu pertama kali kita ketemu si Bagas itu ya Ra," kata Aini sambil menyeruput es jeruk yang di pesannya di kantin. Sara mengangguk-angguk membenarkan perkataan Aini sambil mengunyah gorengan yang dimakannya.
Semenjak masuk di kelas 8c, mereka jadi sekelas, padahal waktu kelas 7 dulu mereka beda kelas. Entah la peraturan di sekolah ini, setiap pergantian kelas selalu diubah-ubah penempatan tiap-tiap murid, dengan alasan para murid seangkatan bisa lebih mengenal satu sama lain karena tiap tahun akan mendapat teman yang berbeda.
Tapi Entah kebetulan atau memang di ijinkan yang Kuasa, Aini dan Sara masi bisa sekelas walau mereka duduk di bangku yang berbeda. Itu saja sudah membuat mereka merasa bersyukur.
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka tadi di dengar oleh sepasang telinga yang duduk tak jauh dari bangku mereka di kantin itu. Dia juga tersenyum mendengar percakapan Aini dan Sara sambil mengingat-ingat kejadian memalukan itu...
.
.
.
.
.
.
tbc
______________
jan lupa vote, like dan hatinya sayang kuuhhh
kritik dan saran juga ya di kolom komentar..
emmmuaachh😘😘😘
Visual Sara
Visual Bagas
__ADS_1