Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Merasa Malu


__ADS_3

Tanpa terasa, butiran bening jatuh dari pelupuk mata Aini dan membasahi pipinya. Rasanya ia begitu menyesal pernah berburuk sangka terhadap Baim. Selama ini ia begitu bodoh dengan mendiamkan orang yang tidak bersalah.


"Betapa berdosanya aku mendiamkan saudara sesama muslim. Padahal kata bu guru, kita hanya boleh tidak bertegur sapa dengan seseorang yang kita musuhi dengan batas waktu tiga hari. Tapi aku sudah tidak bertegur sapa dengannya selama setengah tahun," gumam Aini.


Aini menempelkan surat itu ke dadanya. Perasaannya begitu sesak, ada sedih, menyesal, dan merasa dirinya egois semuanya jadi satu. Lalu ia teringat akan satu hal.


"Kalung," batinnya. Ia membongkar kotak kado tadi dan mencari kalung yang dikatakan Baim. Ternyata benar kalau di bagian paling bawah ada sepasang kalung hati yang bertuliskan nama mereka. Namun Aini masih ragu dengan perasaannya, apakah ia akan memberi salah satu kalung itu kepada Baim atau akan membuangnya. Lalu ia putuskan untuk menyimpan kalung itu di dalam laci lemari pakaiannya.


Aini membuka pintu kamarnya sedikit untuk melihat apakah ibu dan ayahnya masih berada di ruang keluarga karena ia malu jika ketahuan sedang menangis. Namun ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Ia segera keluar menuju kamar mandi hendak mencuci mukanya yang sudah memerah karena dan matanya sedikit bengkak.


* * *


Keesokan harinya, Aini sedang membantu ibu membereskan rumah. Berhubung ini hari libur, jadi gadis itu ditugaskan sang ibu untuk membantu pekerjaan ibu dari mulai menyapu, mengepel, sampai mengelap jendela kaca yang kotor. Sedangkan kedua adiknya nampak sibuk mencuci sepatu mereka di kamar mandi.


"Kak, bantu ibu bawa belanjaan ini ke dalam. Ibu mau lihat nenek dulu sebentar," pinta ibu yang melihat Aini sudah duduk santai di teras depan. Nenek Aini memang sedang sakit, jadi ibu dan adik-adik ibu bergantian merawat nenek.


"Iya bu," sahutnya, lalu mengambil alih belanjaan ibu dan segera membawanya ke dapur.


"Ibu mana kak?" tanya si bungsu dari dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi memang tidak tertutup, jadi kedua adiknya dapat leluasa melihat siapa saja yang memasuki dapur.


"Ibu ke rumah nenek," sahutnya, sambil tangannya menyusun belanjaan ke dalam kulkas.


"Kakak dapat kado apa dari pak Baim?" tanya si Iva.


"Idihh, anak kecil kepo!" celetuk Aini.


"Siapa yang kepo, aku kan hanya bertanya," bantah Iva.


"Sama aja, itu kepo namanya!" Aini sudah menutup kulkas dan menyimpan bungkusan plastik bekas belanjaan ke dalam lemari di bawah kompor.


"Kepo itu apa sih kak? Bukannya kepo itu merk motor?" tanya si bungsu. Ternyata dari tadi dia diam saja karena memikirkan arti kepo.


"Sejak kapan kepo jadi merk sebuah motor," pikir Aini.


Iva yang berada di sebelah Tia langsung mendorong dahi adiknya pelan. "Itu Revo, bukan kepo!"


Aini menggelengkan kepala. Ternyata dia tidak lebih pintar dari Iva. Gadis itu tadi memang tidak faham tentang apa yang dipikirkan adik bungsunya. Setelah Iva mengucapkannya, baru ia tersadar, jika memang ada merk motor yang mirip dengan kata kepo.


"Kepo itu artinya mau tau aja urusan orang lain," ujar Aini untuk menutupi rasa malunya karena ketidaktahuannya.


"Oh, itu artinya ya kak," jawab si bungsu sambil terus menyikat sepatunya.


* * *


Baim baru selesai menyapu halaman rumah Umi. Walaupun dia lelaki, tetapi dia tidak malu sedikitpun mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan seorang wanita. Baginya, membantu Umi adalah bentuk baktinya terhadap orangtua, walau Umi bukan orangtua kandungnya.

__ADS_1


Baim menghela nafas kasar. "Capek juga," ucapnya, lalu ia meletakkan sapu di sudut halaman dan mendudukkan diri di kursi teras.


"Bang, uda selesai?" tanya Fahri yang baru keluar dari pintu rumah.


"Sudah," jawabnya. Baim menoleh sekilas ke arah Fahri. "Nggak bawa minuman?" tanyanya karena ia ingin segera melepas dahaganya.


"Astaga, lupa bang. Tadi Umi sudah meletakkan minuman di atas meja, tapi Fahri lupa membawanya karena tadi mengambil handphone dulu ke kamar," jelasnya. "Tunggu bentar ya, biar Fahri ambilkan," lanjutnya lagi dan sudah berjalan memasuki rumah kembali menuju dapur untuk membawa minuman mereka.


"Ini minumnya bang," ucap Fahmi yang datang dengan membawa beberapa gelas minuman di atas nampan.


"Loh, Fahri mana? Bukannya tadi dia yang mau ambil minuman?" tanya Baim keheranan.


"Iya, waktu dia ke dapur, minumannya sudah Fahmi pegang, jadi dia di suruh Umi membawa camilan," sahut Fahmi. Tak lama Fahri pun keluar dengan membawa camilan di tangannya.


Baim yang sudah meneguk minuman di gelas itu langsung mengambil camilan dari tangan Fahri tanpa permisi.


"Gimana semalam bang? Aini mau terima kadonya?" tanya Fahmi sambil ikut memakan camilan itu.


"Kado?" timpal Fahri yang tidak tahu. "Iya, bang Baim semalam kan datang ke rumah Aini memberi kado ulang tahun untuknya," sambung Fahmi.


"Oh, jadi di terima nggak bang?" tanya Fahri yang juga penasaran.


Baim mengangkat kedua bahunya. "Ya abang nggak tahu, karena semalam abang titip kadonya ke ibunya."


"Yah, payah ni abang! nggak jentelmen!" ledek Fahri.


"Bukan tidak ingin memberi kado secara langsung, tapi kalian tahu sendiri, kalau Aini sampai saat ini belum mau bertemu sama abang. Sudah berapa kali abang datang ke rumahnya, selalu alasannya dia tidur, atau lagi mengerjakan tugas sekolah dan tidak ingin di ganggu," jelas Baim. "Kan nggak lucu kalau nanti abang belum memberi kado tapi sudah di suruh pulang karena Aini tidak ingin bertemu abang!" lanjutnya lagi.


"Sabar ya bang," ucap Fahri empati sambil tangannya menepuk pelan punggung Baim.


* * *


"Yah, ini minumnya," ucap Aini pada ayahnya yang terlihat sedang mengelap motor sehabis dicuci.


"Iya, taruh saja di atas meja," sahut ayah. Gadis itu meletakkan teh yang ia buatkan untuk ayahnya di atas meja, lalu ia mendudukkan diri di kursi sebelah meja itu.


Aini mengambil benda pipih dari saku roknya dan memainkannya. Ia teringat isi surat Baim yang mengatakan harapan akan hubungan mereka bisa kembali seperti dulu.


"Aku tidak akan memblokir nomornya lagi," gumamnya pelan, lalu jari jemarinya nampak sibuk mengatur ulang agar nomor Baim tidak terblokir lagi.


Assalamu'alaikum, apa kabar bang?


Assalamu'alaikum, lagi apa?


Assalamu'alaikum, maaf ganggu. cuma mau ucapin makasi atas kadonya

__ADS_1


Beberapa kata sudah gadis itu ketikkan dan akan segera ia kirim ke nomor Baim, namun berulang kali ia menghapus dan mengganti dengan kata-kata lain karena ia ragu untuk memulai dari mana. Rasanya ia begitu malu untuk lebih dulu menghubungi Baim, terlebih selama ini dia salah faham terhadap pria itu.


"Sudah la, tidak usah jadi di kirim," ucapnya lirih.


"Lagi ngetik apa kak, serius banget." Ayah sudah duduk di sebelah anak sulungnya itu beberapa detik saat Aini sibuk dengan handphonenya, namun gadis itu belum menyadarinya.


Aini menoleh dan sedikit terkejut. "Ayah, sejak kapan ayah duduk di situ?"


"Sejak kakak lihatin handphone melulu," ledek ayah sambil menyeruput teh yang tergeletak di atas meja.


Aini menelan ludah. "Apa ayah melihat isi pesan yang akan ku kirim ke bang Baim?" batinnya.


"Kata ibu, semalam Baim datang membawa kado. Memangnya kalian sudah akrab kembali?" tanya ayah.


Aini diam karena bingung harus jawab apa. Kalau ia bilang sudah kembali akrab, nyatanya sampai sekarang tidak ada kata yang terucap dari mulut Aini untuk membalas surat atau menelpon pria itu sebagai bukti mereka kembali akrab. Tapi kalau dibilang belum juga Aini sekarang sudah mulai melupakan masalah mereka yang lalu dan sudah memaafkan wanita yang tempo hari menelponnya dan tentunya memaafkan Baim yang memang tidak bersalah.


"Jadi apa isi kadonya?" tanya Ibu yang tiba-tiba sudah duduk dihadapan Aini. Untuk kedua kalinya Aini dibuat terkejut. "Astaghfirullah.. Ibu."


"Mikirin apa sih? Sampai ibu duduk di sini kakak jadi terkejut gitu!"


"Tidak ada," bantah Aini. "Emm.. isi kadonya ada alquran mini, buku dan peralatan menulis lainnya," lanjut Aini untuk mengalihkan pertanyaan ibunya tadi.


"Oh, ibu pikir seperangkat alat sholat," sahut ibu.


"Di bayar tunai, sah!" timpal ayah.


Wajah Aini tampak memerah menahan malu. Ayah dan ibunya ini bisa saja kompak untuk meledek dirinya. "Aini masuk ke dalam dulu ya bu, yah," pamitnya untuk menghindari kedua orangtuanya.


.


.


.


.


.


tbc


_______________


kalian mau alur cepat atau lambat ya?


aku bingung mau nulis apa lagi.

__ADS_1


Mau di nikahin Baim dan Aini gak mungkin, kan Aini masi SMP🤦‍♀️🤦‍♀️


ayo komen yang mau alur cepat, biar Aini langsung tamat SMA ini😄😄


__ADS_2