Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Kamu Selalu di Hati


__ADS_3

Takdir seringkali tak sesuai angan. Ada banyak hal yang tidak bisa kita pahami hanya dengan akal sehat kita sebagai manusia, karena apa yang direncanakan Tuhan pasti lebih indah dari apa yang kita impikan. Serahkan semua pada-Nya, karena Dia sebaik-baik pembuat rencana. (Lisda_A)


>>>>>>>>>>>>>>>☆☆☆☆☆<<<<<<<<<<<<<<<


"Ni, duduk situ yuk, sambil beli gorengan," ajak Sara saat mereka sudah keluar dari gerbang sekolah yang tiga tahun kedepan bakal jadi tempat mereka menuntut ilmu.


"Ayo, tapi aku lagi malas makan gorengan. Pengen hidup sehat, aku mau beli rujak aja deh," sahut Aini.


"Terserah deh, yang terpenting kita duduk di situ. Capek juga habis berdiri dengan dikerumuni banyak orang macam tadi," keluh Sara.


Ditengah acara makan mereka di dekat penjual makanan di depan sekolah, Bagas terlihat turun dari angkot.


"Eh, Bagas tu!" ucap Sara yang lebih dulu melihatnya.


"Yaudah biar aja sih, ntar juga dia nyamperin kita," celetuk Aini. Tampaknya tidak ada acara romantis-romantisan semenjak Aini berpacaran dengan Bagas. Mungkin karena di dalam hati dan pikiran Aini sendiri sudah menolak yang namanya pacaran, jadi status hubungannya dengan Bagas ia anggap hanya kedekatan antar lawan jenis sebagai bentuk coba-coba untuk merasakan apa yang sering Sara ucapkan terhadapnya. Namun bukan coba-coba dalam hal bersentuhan fisik yang sering para remaja masa kini lakukan, melainkan kedekatan saling mengenal pribadi masing-masing, kawan ngobrol atau sekedar kawan sharing dalam hal tugas sekolah tentunya.


"Aku heran deh sama kalian, pacaran sama nggak pacaran sama aja kayanya!" tutur Sara.


"Terus, aku harus gimana coba? Aku pacaran juga karena mengikut Saran dari mu, kalau tidak juga aku malas!"


"Ya mesra dikit kek, masak di panggil sayang aja nggak mau!" ledek Sara.


Aini membuang napas kasar. "Dengar ya sahabatku dunia akhirat, pacaran itu sebenar nya dilarang lho dalam agama kita. Dengan begini saja kita sudah berbuat dosa, ini mau di tambah lagi dengan mesra-mesraan? Mau berapa banyak dosa yang kita perbuat?" tekan Aini di ujung kalimatnya.


"Lagi pada makan apaan nih? Enak banget kayanya sambil ngobrol, ikutan dong," canda Bagas saat tiba di hadapan Aini dan Sara. Tadi saat dia turun dari angkot, dia berada di seberang jalan dari gerbang sekolah, makanya cukup lama ia sampai di hadapan kedua gadis ini.


"Ayo sini gabung!" ajak Sara.


Bagas tadinya berharap Aini yang akan menyahuti perkataannya, tapi sepertinya harapannya itu sia-sia karena punya pacar yang tidak peka seperti Aini. "Aini makan apa? Bagi dong," pintanya dengan merayu pacarnya itu.


"Ini!" Aini menyerahkan kantong plastik yang berisi beberapa jenis buah di dalamnya serta sedikit bumbu berwarna coklat kehitaman di atasnya dan tak lupa sedikit kacang tumbuk khas bumbu rujak.


"Aku maunya di suapi," rengek Bagas sedikit manja.


"Punya tangan di kasih Allah buat apa kalau tidak di pakai!" seru Aini.

__ADS_1


Sara yang berada di samping Aini memukul lengan sahabatnya itu. "Apa sih kok ngomongnya gitu? Sama pacar itu ngomongnya baik-baik, yang manis, pakai senyum. Ini malah ketusnya minta ampun!" celetuk Sara.


"Aku nggak ketus Sara, tapi aku bilang sesuai fakta. Si Bagas 'kan punya tangan, jadi dia bisa makan sendiri dong?" terang Aini.


"Ya sudah, aku makan sendiri aja!" kesal Bagas. "Eh, kalian sudah liat hasil pengumumannya?" tanyanya di sela-sela mengunyah makanan di mulutnya.


"Sudah," jawab Aini dan Sara bersamaan.


"Lalu?" tanya Bagas lagi.


"Kami lulus," balas Sara kegirangan. "Tapi..."


Belum sempat Sara melanjutkan kalimatnya, Aini udah lebih dulu menyenggol kaki Sara agar tidak memberitahu Bagas kalau dia tidak lulus.


"Tapi kenapa?" tanya Bagas penasaran.


"Tapi kami lupa mencari namamu, karena begitu kami menemukan nama kami berdua, kami langsung ke sini untuk membeli makanan sambil menunggu mu dan Amar," jawab Aini.


"Oh, kalau begitu aku ke dalam dulu ya. Semoga aku juga lulus!" ucap Bagas penuh harap.


Bagas segera masuk ke dalam gedung sekolah untuk mencari tempat dimana ia bisa menemukan lembar pengumuman hasil seleksi siswa/siswi yang diterima di sekolah ini.


"Ni, kau kok tidak bilang Bagas saja sih kalau dia tidak lulus?" tanya Sara saat di rasa Bagas telah jauh dari jangkauan mereka.


"Biar saja dia tahu dengan sendirinya, tidak tega rasanya memberitahukan kabar buruk kepada orang lain yang dekat dengan kita," sahut Aini.


"Bukannya sama saja jika dia tahu dari kita dengan dia melihat hasil pengumuman itu sendiri? Toh hasilnya juga tidak dapat di ubah, kalau tidak lulus ya tetap tidak lulus," jelas Sara.


"Sudah 'lah, lanjutkan makanmu!" titah Aini. Ia begitu malas membahas hal seperti ini dengan Sara, karena gadis itu selalu suka berbicara apa adanya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Berbeda dengan Aini yang lebih tertutup dan bisa menyimpan sesuatu hal agar orang lain tidak terluka karenanya.


"Sudah selesai? ayo kita masuk ke dalam lagi, nanti kita pura-pura bertanya sama Bagas apa hasilnya ya, jangan sampai dia tahu kalau kita membohonginya soal hasil pengumuman tadi!" ancam Aini.


"Terserah kau saja!" sahut Sara malas.


Bagas yang sudah melihat hasil pengumuman merasa sangat kecewa. Ia harus menerima kenyataan kalau ia tidak lagi bisa satu sekolahan dengan gadisnya. Ini akan menjadi awal yang buruk dalam hubungan mereka, karena saat mereka dekat saja Aini bersikap cuek dan biasa saja, apalagi kalau mereka tidak lagi satu sekolah, mungkin Aini akan melupakannya.

__ADS_1


Hari itu hari yang buruk buat Bagas, bahkan yang awalnya mereka berencana akan makan siang di cafe yang baru buka dekat sekolah, itu juga mereka batalkan, lebih tepatnya Bagas yang membatalkan. Di tambah lagi Amar yang tidak jadi datang entah karena sebab apa Sara juga tidak dapat kabar darinya, jadilah Aini dan Sara langsung ingin pulang seusai mereka berpura-pura menanyakan hasil pengumuman Bagas yang mereka sendiri sebenarnya juga sudah tahu kalau lelaki itu tidak lulus.


"Kalian tidak marah 'kan karena kita tidak jadi makan di cafe depan sana?" tanya Bagas sebelum benar-benar menaiki angkot.


"Tidak masalah, Amar juga tidak jadi datang," sahut Sara sedikit kecewa. Bukan kecewa tidak jadi makan siang bersama mereka, namun kecewa karena Amar tidak datang dan tidak memberi kabar sama sekali.


"Iya, tidak mengapa. Aku tadi juga di suruh ibu agar pulang lebih cepat," timpal Aini pula.


"Ya sudah, sekali lagi selamat buat kalian yang lulus masuk sekolah ini," ucap Bagas buat Aini dan Sara.


"Terima kasih," sahut Sara, sedangkan Aini hanya diam saja tanpa sepatah katapun. Mau berbicara dengan Bagas tapi dia merasa enggan karena pasti Bagas saat ini merasa kecewa.


"Aini, walau aku tidak lagi bisa menjagamu karena kita tidak satu sekolah, tapi kamu selalu di sini," tunjuk Bagas pada dada bidangnya menandakan hati. "Aku harap kamu pun demikian," pinta Bagas.


Aini hanya tersenyum kecut. "Jangan sedih, kita masih bisa menatap langit yang sama," sahut Aini menenangkan.


Bagas cukup senang dengan perkataan Aini, walau jauh di lubuk hatinya dia tidak rela akan berpisah sekolah dengan gadis itu. "Baiklah, Aku pulang duluan ya, kalian hati-hati," ucap Bagas sambil melambaikan tangannya dan segera menaiki angkot yang sudah berada di hadapannya.


.


.


.


.


.


akankah Aini tetap berpacaran dgn Bagas yang sudah tidak satu sekolah dengannya?


tunggu kelanjutannya guys🤭🤭


di Like dulu ya episode ini sambil nunggu eps berikutnya


Jangan keluyuran kemana2, DI RUMAH AJA DULU😊

__ADS_1


__ADS_2