
Yuna sudah bersiap ingin pergi ke masjid di kampung yang Baim tinggali saat ini. Tadi sore saat berbincang dengan umi, dia menanyakan tentang Aini. Wanita itu begitu penasaran dengan sosok gadis kecil yag di dambakan Baim. Umi memberi saran agar dia pergi ke rumah Aini untuk menemuinya jika memang ingin tahu, tapi itu jelas tidak mungkin. Akhirnya umi juga memberitahu bahwa Aini setiap hari selalu mengaji di masjid selepas maghrib. Jadilah Yuna sekarang ingin ke masjid juga dengan tujuan utama ingin bertemu gadis kecil itu.
"Kamu jadi ingin ke masjid?" tanya umi yang melihat Yuna sudah menggunakan mukenanya.
"Jadi mi, Una benar-benar penasaran dengan gadis itu," sahutnya.
"Jangan kamu apa-apain anak orang, dia masih kecil," ucap Umi yang merasa was-was akan perlakuan Una nantinya.
"Tidak mungkin Una melakukan yang tidak-tidak mi, Una hanya ingin mengenalnya saja," kilah Yuna. Padahal dalam pikirannya sudah merencanakan banyak hal nantinya.
"Apalagi yang kamu tunggu, azan sudah hampir selesai!" Umi juga sudah menggunakan mukenanya untuk sholat di rumah. Umi memang belum terlalu tua, namun karena masa mudanya harus bekerja keras, jadi sekarang ia sudah sering sakit. Bahkan kakinya terkadang tidak sanggup untuk berjalan menuju masjid, jadi ia putuskan untuk sholat di rumah saja.
"Yuna pergi dulu ya mi, assalamu'alaikum.." pamitnya pada umi.
"Wa'alaikumsalam.."
* * *
Yuna melihat ke arah kanan, karena dia berdiri di shaf paling kiri. Sebelum memulai sholat ia mencoba memperhatikan satu-satu wajah gadis di sebelahnya.
"Mana gadis kecil itu?" gumamnya. Yuna memang pernah melihat sekilas wajah Aini di layar handphonenya Baim. Namun dia tidak mengingat jelas wajah itu.
"Sepertinya tidak ada dia di sini," batinnya, kemudian berniat dan memulai sholat berjamaah.
Usai sholat dan berdoa, semua gadis yang tadi sholat bersama Yuna sudah mengambil Alqur'an mereka masing-masing. Hanya Yuna sendiri yang terlihat celingukan mencari seseorang.
"Hai.. nama kamu siapa?" tegurnya pada salah satu gadis yang hendak mengaji.
"Saya Nana," sahut gadis itu. "Mbaknya siapa? Orang baru ya disini? Saya kok baru lihat mbak," lanjutnya lagi.
"Iya.. Eh kalau boleh tau, murid di sini ada namanya Aini nggak?" tanya Yuna tanpa memperjelas identitasnya pada Nana.
"Ada mbak, tapi sepertinya hari ini dia tidak datang," ucap gadis itu sambil menatap temannya satu-satu.
"Oh.." sahut Yuna singkat.
"Kalau boleh tau, mbak kenal Aini dimana?" tanya Nana penasaran.
Yuna yang takut diketahui orang lain sedang menyelidiki Aini secepatnya berdiri. "Saya duluan ya, masi ada keperluan," ucapnya pada Nana.
"Aneh, tadi dia yang sibuk nanya Aini, giliran di tanya balik malah kabur," gumam Nana.
Yuna duduk di tangga masjid di depan pintu utama. Ia memainkan handphone dan bermaksud menunggu Baim pulang. Dengan ia duduk di tangga, ia pasti bisa melihat Baim nanti melewati pagar masjid, jadi ia bisa menyusulnya.
Tak lama kemudian Baim ke luar dari pintu sebelah kiri dan terlihat melewati pagar. Yuna yang melihat itu langsung segera menyusulnya.
"Bang tunggu," teriaknya sambil melangkah cepat ke arah Baim.
Baim berhenti karena merasa tidak ada siapapun di dekat pagar kecuali dia. Saat menoleh ke belakang dia dapati Yuna di sana.
__ADS_1
"Apa?" jawabnya ketus.
"Kita pulang bareng ya," pintanya.
Belum sempat Baim membalas ucapan Yuna, tiba-tiba Aini melintas di hadapan mereka. Sekilas Aini melirik mereka berdua lalu tertunduk dan terus berjalan menuju masjid.
"Jadi itu pacar bang Baim? Cantik. Cocok juga sama dia," gumam Aini dengan perasaan kacau.
Baim tak hentinya memperhatikan Aini yang berjalan menuju pintu utama masjid. Yuna juga ikut menyaksikan tingkah laku Baim yang menurutnya aneh.
"Apaan sih bang Baim lihatin anak kecil itu?" pikir Yuna. Lalu ia teringat akan satu hal. "Jangan-jangan itu gadis kecil yang lagi ditaksir bang Baim?" Yuna seketika mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sedang berjalan itu.
"Ya ampun, gadis kecil yang depan belakang masih pada rata gitu yang ditaksir bang Baim? Cakepan aku kemana-mana kali! Uda siap panen gini!" batinnya.
Saat Aini sudah tak terlihat di pelupuk mata Baim, dia segera melangkahkan kaki hendak pulang ke rumah umi. Sedangkan Yuna tampak kebingungan.
"Aduh, ternyata dia datang, nyesel juga aku udah terlanjur bilang mau pulang bareng bang Baim, kalau aku masi di masjid kan bisa menjalankan rencanaku," gumamnya sambil memikirkan akan pulang bersama Baim atau kembali ke masjid untuk menjumpai gadis itu. Lalu ia tersadar kalau Baim sudah tidak berada di sampingnya.
"Eh, bang Baim mana?" Yuna segera berjalan untuk menyusul Baim yang sudah keluar melewati pagar masjid.
"Bang, itu tadi siapa yang abang liatin?" tanya Yuna saat sudah berjalan berdampingan dengan pria yang masih dicintainya itu.
Baim tak menggubris Yuna yang sedang bertanya. "Oh, jadi itu gadis kecil yang lagi abang taksir?" tanyanya lagi.
"Iya, mulai sekarang anda jangan datang-datang lagi kemari! Saya sudah tidak mengharapkanmu!" ketus Baim tanpa menoleh sedikitpun ke arah wanita di sebelahnya.
"Apa bagusnya dia dibanding aku sih bang?" Mata Yuna sudah mulai berkaca-kaca.
"Abang nggak salah suka sama bocah ingusan yang tubuhnya tidak ada bagus-bagusnya itu? Depan belakang juga masih pada rata semua lagi!" celetuk Yuna.
"Jaga ucapan anda! Anda pikir saya lelaki macam apa yang hanya memandang fisik wanita saja? Baim begitu emosi, nada bicaranya juga sudah mulai meninggi dari sebelumnya.
Yuna seketika takut dengan ekspresi wajah Baim yang begitu menyeramkan di matanya. "Ma.. maaf bang, bukan begitu maksud Una."
Baim sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah Umi tanpa mempedulikan Una lagi. Ia menutup pintu kamarnya dengan keras sehingga mengeluarkan suara yang mengejutkan Umi di sana.
"Astaghfirullah.. si baim kenapa nutup pintu sampai segitunya?" ucap Umi yang sedang menata makanan di meja makan.
"Ada apa Mi? Berisik amat tadi?" tanya Fahmi yang baru keluar dari kamar.
"Nggak tau tu, bang Baim pulang-pulang main banting pintu seperti itu," sahut Umi.
"Kamu sudah pulang?" tanya Umi saat melihat Yuna menghampirinya.
"Sudah mi," jawabnya dengan tertunduk menahan kesedihannya karena ucapan Baim.
"Kamu kenapa? Terus tadi Baim pulang-pulang membanting pintu apa ada hubungannya sama kamu?" Umi menggiring Yuna untuk duduk di meja makan itu agar lebih enak menceritakan masalah yang tengah dihadapi Yuna.
"Tidak apa-apa mi," sahut Yuna.
__ADS_1
Umi belum sepenuhnya percaya ucapan Yuna. "Tadi kamu jadi bertemu Aini?"
"Awalnya tidak, karena kata temannya kalau dia tidak datang. Tapi saat Yuna mau pulang bareng bang Baim, gadis itu melewati kami. Jadi Yuna belum sempat kenalan dengannya," tutur Yuna menjelaskan.
"Syukurlah," batin Umi. Sedari tadi Yuna pergi ke masjid, Umi sebenarnya merasa takut kalau Yuna akan menyakiti Aini. Hal itu tentu membuat Baim akan semakin membencinya. Umi tidak ingin Baim mempunyai dendam terhadap wanita ini, karena bagaimana pun menyimpan dendam itu tidak baik. Tapi kalau wanita ini yang memang selalu membuat kesalahan, Umi bisa apa. Jadi umi merasa lega saat Yuna bilang kalau dia belum sempat kenalan dengan Aini, hal itu berarti Yuna belum sempat melakukan hal yang tidak-tidak terhadap gadis itu.
"Mi, apa sih yang disukai bang Baim pada gadis itu?" tanya Yuna.
"Mana umi tahu," sahutnya kemudian berjalan menuju dapur hendak mengambil gelas.
Yuna terus mengekori Umi. "Mi, bujukin bang Baim napa biar mau maafin Una," rengeknya pada Umi.
Umi terdiam dan mencerna ucapan Yuna. "Nanti umi usahain."
"Beneran ya mi? Umi baik deh," ucap Yuna kegirangan.
"Umi memang janji akan membantu kamu agar Baim mau memafkanmu. Tapi umi tidak janji kalau kamu bakal balikan lagi sama Baim." Umi seperti mematahkan semangat Yuna untuk kembali bersama Baim.
"Kenapa mi?" tanya Yuna lagi.
"Ya kamu tau sendiri kan, kalau Baim sedang mengincar Aini. Jadi sepertinya kamu memang sudah tidak ada di hatinya," jawab jujur Umi.
Yuna nampak sedih mendengar ucapan umi. "Maafin Umi ya nak, tidak ada maksud membuatmu sedih. Cuma Umi tidak mau memberikan harapan palsu padamu. Lebih baik mulai sekarang kamu lupakan Baim dan cari pria yang tepat buat pendampingmu kelak," saran Umi.
Yuna sudah tidak dapat menahan butiran air matanya. Butiran bening itu sudah membasahi pipi mulusnya. "Yuna permisi mi," ucapnya hendak pulang.
"Kamu tidak makan di sini dulu?" tanya Umi. Yuna sudah membuka mukenanya dan segera mengambil tas di ruang tamu. Ia kembali ke meja makan dan menyalami punggung tangan Umi dan pamit untuk pulang.
"Loh, kenapa kak Una pulang mi?" tanya Fahmi yang tidak tau masalah Yuna. Pasalnya tadi Yuna dan umi sedang berada di dapur, jadi yang sempat ia dengar hanya saat Yuna menanyakan hal apa yang disukai Baim dari Aini saja.
.
.
.
.
.
tbc
___________
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Biar aku semangat lagi buat ngetik💪😊♥️😘