
"Itu kan teman dekat perempuan, kalau teman dekat laki-laki ada tidak?" tanya Bagas yang memang begitu penasaran.
"Maksud kamu?" Aini bingung dengan pertanyaan Bagas yang mengarah ke mana. Maklum saja, Aini memang sulit peka dengan perasaan orang lain.
"Teman dekat laki-laki, seperti Sara dengan Amar," jelas Bagas.
"Oh, pacar maksudnya? Bilang kek dari tadi, kenapa harus berbelit-belit seperti itu!" tutur Aini. Padahal maksud Bagas sudah sangat jelas, dia saja yang tidak peka akan hal itu.
Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Dari tadi aku juga sudah mengarah ke situ, tapi kenapa dia baru paham sekarang?" gumamnya.
"Hmm.. iya itu maksudku," ucap Bagas.
"Kalau pacar belum ada, lagian aku juga nggak berpikir ke arah situ, masih mau fokus untuk ujian saja," jelas Aini.
"Bagus deh," ucap Bagas lega. Ia merasa punya kesempatan untuk terus mendekati Aini, bahkan ia berencana akan mengutarakan perasaan yang sebenarnya kepada gadis itu di saat ujian telah usai.
"Ra, balik yuk," ajaknya saat melihat sahabatnya itu telah menghabiskan makanan yang dipesannya. Aini melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata setengah jam lebih mereka sudah duduk di cafe itu. Les akan berakhir setengah jam ke depan, jadi ia merasa sudah waktunya kembali ke kelas sebelum les berakhir dan mereka benar-benar dinyatakan tidak hadir. Ia tidak ingin keesokan hari di tegur guru wali kelas jika dirinya dinyatakan bolos les.
"Bentar lagi ya, si Amar belum selesai," bantah Sara.
"Ya sudah, aku balik duluan!" Aini tidak bisa menunggu terlalu lama lagi, karena dari tadi pikirannya tidak tenang. Ia tidak biasa melakukan bolos seperti ini, walau dia sering telat datang ke sekolah, tetapi kalau bolos gadis itu tidak pernah melakukannya.
"Eh, jangan dong! Iya, kita balik," sahutnya panik, lalu ia melihat ke arah Amar. "Yank, cepat minta bill nya, aku nggak mau di tinggal Aini," titahnya pada Amar.
"Punya Aini biar aku saja yang bayar," timpal Bagas.
Aini, Sara dan pacarnya melihat ke arah Bagas. Aini memang biasa di traktir Sara dan Amar jika menemani mereka kencan, tapi kali ini Bagas yang ingin membayar minuman yang ia pesan membuat mereka semua heran. Apa yang menyebabkan Bagas melakukan hal itu. "Nggak usah bro, uang ku cukup kok untuk membayar makanan kita. Lagian kan kami yang mengajak kalian untuk makan di sini, jadi biar aku yang bayar," sahut Amar.
"Biasa kalian kan hanya mengajak Aini, tapi karena hari ini aku ikut, jadi aku saja yang membayar minuman kami," bantah Bagas.
Sara mengisyaratkan Amar agar menuruti saja kemauan Bagas. Lagi pula, hal itu tentu menguntungkan pacarnya, Sara berpikir kalau Bagas yang membayar minuman Aini, uang saku Amar masih bisa ia simpan untuk kencan berikutnya.
Aini yang merasa tak enak akhirnya angkat bicara. "Sudah, dari pada kalian ribut-ribut, aku saja yang membayar minumanku. Uang ku juga cukup kalau untuk membayar ini saja," tunjuknya pada segelas milkshake yang tersisa sedikit di dalam sana.
"Tidak perlu Aini, biar aku saja. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku atas kejadian kemarin di pesta itu," bujuk Bagas.
__ADS_1
Aini nampak berpikir. "Baiklah, aku setuju."
Setelah menyelesaikan urusan mereka, keempat siswa itu masuk ke kelas masing-masing. Aini, Sara dan Bagas yang memang sekelas masuk secara bersamaan, sedangkan Amar harus berpisah karena kelas mereka berbeda.
* * *
Aini pergi ke toilet setelah les tambahan di sekolah sudah berakhir. Ia masih meninggalkan tasnya di kelas karena Sara juga masih berada di sana untuk membereskan peralatan tulisnya. Ia sengaja pergi sendiri tanpa menunggu Sara karena sudah tidak tahan untuk membuang hajatnya.
"Ah, leganya," ucap Aini setelah keluar dari toilet. Ia lalu hendak pergi kembali ke kelas untuk mengambil tasnya di sana.
"Aini.. tunggu!" panggil seorang siswa. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Alfi di sana.
"Ya, ada apa Fi?" tanyanya setelah Alfi mendekat.
"Kemarin, waktu di pesta Trisya, si Bagas ngutarain perasaannya. Apa kalian sudah jadian?" tanya Alfi. Sebenarnya ia ingin menanyakan ini dari tadi pagi saat Aini sudah datang ke sekolah, tapi selalu saja dirinya bersama Sara, membuat Alfi mengurungkan niat karena takut di ledek Sara.
"Jadian? Bukannya kau yang jadian sama Trisya?" tanya Aini balik.
"Aku dan Trisya? Itu tidak mungkin Aini, kami ini hanya sepupu," jelas Alfi.
"Oh, jadi apa maksud Trisya kalau kau orang yang disayangnya setelah kedua orangtuanya?" tanya Aini lagi.
"Tidak, kemarin Bagas hanya bercanda karena dia tidak tahu ingin mengutarakan perasaannya ke siapa, sementara wanita yang dia kenal dekat hanya aku," jelas Aini.
Alfi menghela napas, rasanya ia begitu lega mendengarkan penuturan Aini. "Syukurlah," gumamnya.
"Aku kira setelah kemarin, kalian benar jadian," ucapnya yang sudah merasa lega karena apa yang dipikirkannya ternyata salah.
"Tidak, kita hanya berteman. Sama sepeti aku dan kau," sahut Aini. "Aku mau balik ke kelas, Sara sudah menunggu lama, apa kau masih ingin di sini?" tanyanya pada Alfi yang di rasa tidak ingin beranjak dari sana.
"Eh, iya aku juga mau balik. Ayo kita ke kelas bareng," ajak Alfi. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju kelas bersama, di sepanjang jalan melewati koridor, tak jarang mereka saling bercerita tentang kegiatan mereka di sekolah yang akhir-akhir ini sangat melelahkan.
Saat Aini dan Alfi sampai di tangga menuju kelas, mereka berpapasan dengan Bagas yang baru saja turun. Ia menatap sinis ke arah Alfi dan langsung mengalihkan pandangannya ke gadis yang ada di sebelahnya.
"Aini, kok belum pulang? Sara tadi sudah tidak ada di kelas," ucapnya setelah melihat Aini.
__ADS_1
"Benarkah? padahal aku sengaja meninggalkan tas ku agar dia menunggu, tapi kenapa dia pergi duluan?" tanya Aini heran.
"Aku juga kurang tahu dia pulang atau ke kelas Amar, sebaiknya cepat kamu cek ke kelas Amar," tutur Bagas. Aini yang ingin cepat ke kelas untuk mengambil tasnya dan mencari Sara, meninggalkan Alfi dan Bagas begitu saja.
Bagas Sudah melangkahkan kaki hendak berlalu meninggalkan Alfi pula, namun di cegah oleh siswa itu. "Apa kau menyukainya?" tanya Alfi.
"Siapa yang kau maksud?" Bagas kembali bertanya. Bukan tidak mengerti maksud Alfi, ia hanya ingin memastikan saja.
"Aini, Apa kau menyukainya?" tanya Alfi kembali.
Bagas melirik sekilas ke alfi. "Kalau iya, kau mau apa?"
"Aku yang lebih dulu, jadi jangan berani-berani kau mendekatinya!" titah Alfi.
Bagas membuang napas kasar. "Memangnya kau siapa berani mengaturku?"
Alfi yang menyadari kalau mereka berada tidak jauh dari kantor guru segera mengakhiri perdebatan itu. Ia meninggalkan Bagas begitu saja tanpa membalas pernyataan terakhir yang diucapkan siswa itu. Ia berpikir juga tidak ada gunanya mengancam Bagas, karena Aini juga terlihat tidak menyukainya.
.
.
.
.
.
tbc
____________
Like dan vote yg banyak
Maaci atas komen yg selalu positif
__ADS_1
Jan lupa mampir di novel ku yg satu lagi
Semoga kita bahagia selalu🤲😊♥️♥️