
Mau tahu dong, para readers yang suka baca novel ini kisaran umur berapa?
kalau masih di bawah 17 tahun tenang aja..
novel ini aman untuk kalianππ
Eitss..
votenya jan lupa
like, klik β₯οΈ dan komen yang banyak
biar author tetep semangat..ππ
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Allahu Akbar Maha Besar..
Memujamu Begitu Indah...
Selalu kau berikan semua..
Kebesaranmu.. Tuhan.. (Kebesaranmu~Setia Band)
Terdengar suara dering handphone Aini di atas nakas, sedang si empunya berada di dapur membantu ibu menyiapkan makan siang.
Aini segera menuju kamarnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Assalamu'alaikum..."
Terdengar salam dari seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam.." sahut Aini.
"Ada apa Ra? tumben nelpon? biasa juga kalo perlu langsung ke rumah..," sambungnya lagi.
"Iya, aku lagi malas ke rumah mu. Eh, lusa kau ada acara nggak?" tanya Sara.
"Nggak ada tuh.. bahkan sampe libur selesai juga kayaknya aku di rumah aja. Emang kenapa?" Aini balas bertanya.
"Lusa aku dan keluargaku mau pergi ke pantai untuk berlibur. Rencana aku mau mengajakmu kalau memang tidak ada acara," tutur Sara lagi.
"Ntar aku kabari deh, bisa atau enggaknya.. Kau tau sendiri kan, gimana susahnya aku minta izin sama ayah ibu untuk keluar tanpa didampingi orang yang dipercaya," jelas Aini panjang lebar.
"Iya, tinggal bilang aja pergi bareng aku dan keluargaku aja Ni.. Aku yakin pasti dikasih izin kok.. kalau nggak, coba kasi handphone mu ke ibu, biar aku yang minta izin," pintanya kemudian.
"Ya Sudah.. bentar aku susul ibu ke dapur ya..," sambil melangkah ke luar kamar menuju dapur Aini tampak bersemangat.
"Bu, Sara mau ngomong sama ibu," kata Aini saat sudah menghampiri ibu di dapur.
"Assalamu'alaikum.. Ya.. ada apa nak Sara?", kata ibu langsung to the point.
"Wa'alaikumsalam.. Begini bu, Sara mau minta izin mengajak Aini pergi berlibur ke pantai., perginya juga sama keluarga Sara kok bu.."
"Oh.. begitu.. kapan rencananya?" tanya Ibu lebih detil.
"Lusa bu, insyaallah..," lanjut Sara.
"Aini, kamu mau tidak ikut dengan Sara?" tanya Ibu ke Aini sambil masi melengketkan handphone Aini ke telinganya.
"Kalau ibu mengizinkan aku mau bu," sahutnya lirih.
"Iya nak Sara, boleh kok.. Aini juga mau katanya.. tapi bener sama keluarga kan?" selidik ibu karena kejadian tempo hari takut terulang lagi ketika Sara mengajak Aini ke mall.
"Iya bu.. bareng keluarga Sara.. sebelumnya terima kasih ya bu sudah memberi izin, kalau begitu Sara mau bicara sama Aini lagi boleh kan bu?" Sara langsung mengalihkan pembicaraan karena takut di diinterogasi ibu Ema juga.
"Eh, mau ngomong apa lagi?" tanya Aini dan sudah berjalan menuju teras rumah.
"Nggak ada sih, cuma takut aja sama ibumu," jawab Sara terkekeh geli.
__ADS_1
Aini pun ikut tertawa. "Bisa takut juga kau rupanya ya?"
"Ibumu kalau uda nanya lebih serem dari macan mau nerkam mangsa.. Ihhh.. serem.." Sara bergidik ngeri.
"Hussshh.. sembarangan.. tak bilangin ibu ni ya.." ancam Aini sambil tertawa.
"Ampuunn ndoorooo.. (ndoro\=sebutan utk majikan/bangsawan dlm bhsa jawa)," canda Sara.
"Yo wes.. Aku mau bantu ibu masak.. Lusa aku ke rumahmu atau nunggu di ujung jalan aja?" tanya Aini sebelum menutup telponnya.
"Datang ke rumah ku aja ya, biar ntar langsung pergi bareng," kata Sara lagi.
"Oke.. sampai jumpa lusa.. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." jawab Sara dari seberang telepon dan memutus telponnya.
**********
"Yah.. si kakak katanya mau pergi berlibur ke pantai sama keluarga Sara. Ayah izinin nggak?" tanya Ibu disela-sela makan malam mereka.
"Kalau perginya bareng keluarga ya ayah kasih aja, asal jangan berduaan dengan cowok," sahut ayah sambil melirik ke arah Aini.
"Iya memang pergi sama cowok yah, tu kan bapak Sara juga cowok," Aini terkekeh geli.
"Sudah.. sudah.. lanjutkan makan dulu, nanti kita sambung setelah makan.. Nggak baik makan sambil berbicara," lanjut ayah.
Mereka menikmati makan malamnya dalam diam. Tak ada yang berani bersuara kalau ayah sudah melarangnya.
Usai makan malam, mereka berkumpul diruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu. Berhubung ini libur semester, jadi tidak ada acara belajar dan mengerjakan PR.
"Kakak kapan mau pergi ke pantai?" tanya Ibu memulai pembicaraan.
"Lusa dek.. kenapa?" tanya balik Aini.
"Nggak apa-apa.." Iva tampak menahan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Hmm.. emang boleh kak?" tanyanya antusias.
"Ya nggak tahu, ntar kakak tanya kak Sara dulu, kalau memang mobilnya masi cukup pasti dia ngasi," kata Aini lagi.
"Adek... Nggak usah ikut la.. Nggak ada ayah sama ibu.. ntar adek ngerepotin kakak.. Biarlah kakakmu menikmati liburnya, nanti adek ayah ajak jalan-jalan juga ya.." sambung ayah menimpali.
"Ihhh.. Ayah puunn.. adek kan juga pengen ikut ke pantai.." rengek Iva.
"Adek....." lanjut ayah sambil menatap Iva dengan tatapan tajam.
Iva tertunduk lesu. "Iya ayah."
Memang tidak ada yang berani membantah ayah. Sebagai seorang kepala keluarga, ayah memang memiliki wibawa yang luar biasa. Ia mampu membuat semua anggota keluarga menuruti segala keputusannya tanpa harus marah-marah. Begitulah ayah Broto.
********
"Maasyaallah.. indah sekali pantainya," ucap Aini sambil berlari kecil di pinggiran pantai.
Iya, kini Aini dan keluarga Sara sudah tiba di pantai setelah menempuh perjalan dua jam lamanya.
Tadi mereka pergi pukul sepuluh pagi. Jadi sekarang sudah pukul dua belas siang.
"Ni.. ayoo kita makan dulu sambil menunggu zuhur," ajak Sara yang menghampiri Aini menyusuri pantai.
"Eh, iya Ra.. lupa aku kalau uda waktunya makan siang, habis pantainya indah sekali," tutur Aini dan mengikuti Sara menuju pondok tempat mereka beristirahat dan makan siang.
Mamak, Bapak, dan Kakak Sara sudah duduk di pondok terlebih dahulu, dan sekarang disusul Sara dan Aini yang baru datang dari arah bawah. Ya karena pondok berada sedikit lebih tinggi dari pantai, jadi dari pondok itu terlihat pantai berada di bawah.
"Ayoo Sara.. ajak Aini makan.." kata mamak Sara yang melihat mereka baru tiba di pondok.
"Iya mak.." sahutnya dan menggiring Aini untuk duduk disebelahnya.
"Ini.." tangan Aini mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Sara.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Sara.
"Kerupuk.. Tadi ibu bawain.. katanya enak untuk makan bareng nasi.." Jawab Aini.
"Aduh.. kok repot-repot nak.. ini ibu juga sudah bawa banyak makanan.." kata mamak Sara menimpali.
"Nggak repot kok bu.. malah Aini takut ngerepotin ibu.." kata Aini yang merasa tak enak hati karena ikut nimbrung di keluarga Sara.
"Nggak ngerepotin sama sekali sayang.. Kamu ini kayak sama otang lain aja.. uda ayoo makan.." pinta nya.
Mereka menghabiskan makan siang bersama kemudian dilanjutkan sholat zuhur di musholla dekat pantai. selepas itu mereka bermain-main di pantai.
"Gimana kabar kau sama Amar.." Aini membuka percakapan sambil duduk di pinggir pantai bersama Sara.
"Aku dan dia baik-baik saja.." sahut Sara sambil jari-jarinya bermain-main dengan pasir pantai.
"Oh, kalian nggak kencan lagi selama liburan?" tanya Aini kembali.
"Enggak.. takut ketahuan si emak.. jadi sabar aja sampai nunggu masuk sekolah lagi," jawab Sara sekenanya.
"Kau gimana sama bang Baim? uda ada kemajuan belum?" tanya Sara penasaran.
"Gimana apanya? kemajuan apa?" Aini balik bertanya.
"Ya, semacam ada ikatan yang ditegaskan dalam sebuah hubungan gitu.." ujar Sara.
"Nggak paham aku maksud perkataanmu.." kata Aini sambil terus menatap ke depan menikmati keindahan ombak yang bergulung-gulung di pantai.
"Ishh.. masak gitu aja nggak paham.. kepala tu jangan di pake buat hafalin rumus matematika doang.. tapi dipake buat mencerna ucapan orang lain juga," katanya sambil menyentil dahi Aini pelan.
"Apaan sih.. sakit tau.." Aini berpura-pura meringis kesakitan sambil mengelus dahinya yang tidak terasa sakit.
"Intinya, kau uda jadian sama dia apa belum?" tanya Sara to the point.
Aini menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Apanya yang jadian? hubungan kami hanya sebatas teman seorganisasi aja, nggak lebih dari itu. Lagian aku juga nggak boleh pacaran tu.."
"Berarti kalau dibolehin, kau mau kan pacaran?" ucap Sara dengan menggoda Aini.
"Nggak juga tuh.." celetuknya lagi.
"Uda.. ngaku aja.. tu kan mukanya merah.. pasti malu-malu tapi mau.." sara terus menggoda Aini.
byuurrr...
Wajah Sara basah kuyup terkena cipratan air.
Aini melakukan itu agar Sara tidak menggodanya lagi.
Sara akhirnya membalas perbuatan Aini dan jadilah mereka basah kuyup bersama..
Di lanjutkan dengan kejar-kejaran di sepanjang bibir pantai, seperti anak kecil yang kegirangan saat diizinkan bermain air.
Begitulah Aini bila bersama Sara, bisa tertawa lepas dan mengekspresikan kebahagiaannya. Bukan Aini yang cuek dan terlihat sombong di mata orang lain.
Akhirnya liburan Aini kali ini sangat menyenangkan.. tidak seperti liburan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkunjung ke rumah nenek di kampung.
.
.
.
.
.
tbc
______________
__ADS_1