Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Takut Kecewa


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


"Baim.. boleh Umi masuk?"


Umi penasaran dengan kejadian tadi siang, ia berniat menanyakan masalah Baim dengan Yuna tadi.


"Masuk aja mi.. nggak di kunci"


Terdengar sahutan Baim dari dalam kamarnya membolehkan umi masuk.


Umi masuk dan duduk di kursi sebelah kasur Baim. Saat itu Baim tengah bersandar pada tempat tidurnya sambil membaca sebuah buku.


"Baim.. Umi boleh bertanya sesuatu?" tanya umi memulai pembicaraan .


Baim menutup bukunya dan melihat ke arah umi. "Boleh mi.. tanya aja.. Umi juga sudah Baim anggap seperti ibu kandung sendiri, jadi jangan sungkan untuk menanyakan apapun."


"Sebenarnya siapa Yuna? Trus, apa yang terjadi tadi siang? Umi melihat matanya memerah seperti habis nangis."


Baim berdehem. "Yuna itu mantan pacar Baim mi."


"Oh.. jadi apa tadi yang membuatnya menangis?" tanya umi semakin penasaran.


"Baim juga nggak tahu kenapa dia menangis, tapi yang jelas dia tadi minta maaf sama Baim," jelas Baim dengan malas.


"Kalau boleh tahu, apakah Baim yang memutuskan hubungan kalian?" Umi menatap Baim dengan serius mencoba menggali informasi tentang masa lalunya.


"Iya mi.." jawab pria itu singkat.


"Pantas saja dia menangis, pasti dia masi mencintaimu," balas umi lagi.


"Ya.. Mungkin mi.." Baim menaikkan kedua bahunya.


"Lalu, kenapa kalian bisa putus?" tanya Umi semakin kepo.


"Panjang lah ceritanya mi.. intinya dia selingkuh dan mengkhianati Baim mi.." ujarnya dengan menurunkan kedua kakinya ke lantai dan menggeser tubuhnya menghadap umi.


"Oh.. gitu..."


"Baim masi ada rasa sama dia?" Umi kembali bertanya.


"Rasa?" Baim nampak berpikir sejenak.


"Rasa jijik iya mi.." lanjutnya kemudian.


"Astaghfirullah.. nggak bole ngomong gitu.. emang dia sebuah kotoran sampe Baim jijik sama dia.." tutur umi.

__ADS_1


"Biarin mi.. Baim uda benar-benar benci sama dia.. uda muak liat mukanya.." kata Baim yang mulai emosi.


"Oh iya mi, lain waktu kalau dia datang lagi, jangan dikasih masuk.. Biarin aja di luar sampe jamuran," pintanya pada umi.


"Loh, kok gitu? Kita kan harus bersikap baik pada tamu im, mana boleh tamu di biarin gitu aja," sambung Umi menasihati Baim.


"Ya.. terserah umi la.. pokoknya kalau dia datang lagi, jangan bilang ke Baim!" titahnya.


"Bagaimana dengan Aini im? apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya umi mengalihkan pembicaraan.


"Baik mi.. ternyata benar kata umi, dia gadis yang baik," ucap Baim sambil mengingat-ingat momen kebersamaannya dengan gadis kecil itu.


Umi ternyata lebih dulu mengenal Aini. Karena dulu umi pernah membuka lembaga pengajian di rumahnya, dan Aini salah satu muridnya yang paling rajin dan pintar. Aini juga baik, tidak pernah membuat keributan dan sering membantu umi mengajarkan murid lain jika ia sudah selesai mengaji.


"Umi tahu im, dia memang anak yang baik. Jadi umi mohon jangan pernah mengecewakannya," pinta umi.


"Baim tidak pernah sedikitpun berpikir demikian mi, bahkan Baim ingin selalu membuatnya tersenyum senang," sahut Baim lagi.


"Im.. dia itu masih sangat muda.. apa kamu tidak takut kecewa jika menunggunya terlalu lama?" tanya umi yang mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


"Tidak mi.. jika memang harus kecewa, Baim rela kok mi.." jawab Baim meyakinkan umi.


"Tapi kalau kamu mau, umi punya banyak kenalan wanita yang sudah cukup dewasa untuk menjadi pendampingmu." Umi mencoba memberikan pilihan lain kepada Baim, dia juga takut Baim akan kecewa dikemudian hari karena menunggu yang tak pasti.


"Umi.. jangan berbicara seperti itu.. Umi membuat Baim ragu.. terkadang umi mendukung Baim, terkadang umi menggoyahkan keyakinan ini pula," jelasnya kepada umi.


Baim menghela nafas. "Baim tahu mi.. tapi apa salahnya mencoba? Kita juga tidak akan tahu kalau tidak mencobanya."


"Apa kamu yakin saat usiamu menginjak kepala tiga dan usianya baru tujuh belas tahun, kamu akan mengajaknya menikah?" tanya umi.


"Kenapa tidak mi? Kita sebagai manusia kan punya rencana, walau nanti Allah yang nentukan," jawab Baim mantap.


"Tapi, dengan perbedaan umur kalian yang cukup jauh apa itu tidak mebuatmu berpikir ulang? Bukankah kamu terlihat seperti om nya?" Umi bertanya seolah tak yakin dengan keputusan Baim.


"Mi.. umur tidak menjadi penghalang cinta dan suatu pernikahan. Baim bahkan ingin menikahinya sekarang juga kalau saja negara membolehkan menikahi gadis di bawah umur." Baim terlihat serius mengucapkan kata-katanya.


"Kamu gila Baim," kata umi sambil menggelengkan kepalanya.


"Baim memang gila dibuat gadis itu mi," sahutnya sambil terkekeh geli.


"Apa kamu sudah yakin dia juga akan mencintaimu?" Pertanyaan umi seperti menusuk jantung Baim, sakit.. rasanya.


"Baim belum yakin mi.. tapi Baim punya Allah. Dia lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Baim yakin jika Allah meridhoi Baim dengannya, pasti Allah tumbuhkan rasa cinta di hatinya untuk Baim."


"Terserah kamu lah im, pokoknya umi sudah mengingatkan.. jangan terlalu berharap kepada sesuatu yang tak pasti.. Umi hanya takut kamu atau dia nantinya kecewa," tutur umi kembali.

__ADS_1


"Iya mi.. Baim serahkan semuanya sama Allah.. biar Allah yang menentukan akhir dari segalanya, kita hanya perlu berusaha semaksimal mungkin," jawab Baim bijaksana.


*********


"Bu.. ibu merasa ada yang lain nggak dari perhatian Baim ke Aini?" tanya ayah Broto ke ibu Ema.


Mereka kini tengah berada di dalam kamar saat beberapa waktu lalu menyuruh ketiga anaknya masuk ke kamar pula.


"Iya yah.. ibu juga merasa seperti itu," sahutnya.


"Apa mungkin seorang pria dewasa menyukai gadis belia seperti Aini bu?" tanya ayah, sambil berpikir-pikir tentang jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Entah la yah, tapi memang rasanya mustahil, untuk ukuran pria sepertinya seharusnya dia sudah mencari wanita yang ingin serius menjalin suatu hubungan, bukan dengan gadis yang masi labil dan ingin mencoba hal-hal baru seperti si kakak," jawab ibu yang juga berpikir keras.


"Ayah takut kalau dia beneran menaruh rasa kepada si kakak bu.." kata ayah lagi.


"Iya.. ibu juga.. nanti yang ada dia kecewa. Tau sendiri Aini orangnya seperti apa, di cuek dan kemauannya susah ditebak."


"Kalau ternyata Aini juga menyukainya bagaimana bu? apa ibu setuju?" tanya Ayah, kini ayah sudah benar-benar merebahkan tubuhnya di kasur yang beberapa saat tadi ia hanya duduk di pinggiran tempat tidur mereka.


"Ayah ngomong apaan sih? Aini itu masih kecil yah, bahkan tahun ini ia baru akan tamat dari SMP. Masak iya ayah bahas masalah seperti itu untuk anak yang masih di bawah umur." Ibu juga sudah merebahkan tubuhnya di kasur dan memakai selimutnya.


"Tapi kan bu.."


Belum siap ayah menyelesaikan ucapannya.


"Sudah.. sudah.. lebih baik kita tidur.. besok ayah harus bekerja kembali kan?"


.


.


.


.


.


tbc


____________


masi ada yg belum tahu caranya vote kah?


kalian hanya perlu mengumpulkan poin

__ADS_1


caranya: buka beranda klik pusat misi>>klik ambil


setelah kalian punya poin, baru beri vote utk novel ku dengan klik bacaan vote di sebelah kanan dari profil aku ya👍😊🙏


__ADS_2