
"Dek, bapak mu tukang jual mie level ya?"
"Enggak kok," jawab Aini polos. Padahal maksud Baim pengen ngegombal, tapi si dia malah nggak peka.
"Aduh.. bukan gitu jawabnya," ucap Baim kesel sambil memijat dahinya.
"Ya terus, Aini harus jawab apa? kan emang bener ayah Aini bukan tukang jual mie," jawabnya merasa tak bersalah.
"Iya, tapi ni abang pengen becanda lho dek, kan jadi nggak lucu kalau jawabannya nggak sesuai yang diinginkan, harusnya adek jawab aja iyya.." gerutu Baim.
"Ya sudah.. Iya.. Iya.. Aini jawab sesuai yang abang minta," kata gadis itu merasa tidak enak.
"Nggak jadi deh, lain kali aja.. uda garing," ketus Baim
"Idihh.. gitu aja ngambek..," cibir Aini.
"Biarin, wekk.." Baim menjulurkan lidahnya.
"Apaan tu melet-melet kayak kucing? mau minta minum? Ni.. ni.. minum.." kata Aini menyodorkan minuman yang ada di meja.
"Eh.. Eh.. Enggak.. itu kan minuman untuk adek, kenapa abang yang di suruh minum?" tolak pria itu.
"Ada apa ini rame-rame?" tanya umi yang heran melihat Aini dan Baim seperti anak kecil yang berebut mainan.
"Aini mi, nggak mau minum katanya, jadi Baim yang di suruh ngabisin," adu Baim, kemudian melirik ke arah gadis itu.
"Ihhh.. enak aja.. bang Baim tuh mi tadi melet-melet kayak kucing kehausan, ya Aini kasi minum aja," adu Aini pula.
"Sudah... sudah.. nggak malu ntar di liatin tetangga!"
"Aini, umi sudah selesai masak, ini sudah umi isi rantang kamu dengan masakan umi," kata umi sambil menyerahkan kembali rantang bawaan Aini tadi.
"Loh, kok diisi balik sih mi.. kan Aini jadi nggak enak.. Padahal tadi pesan ibu nggak perlu diisi," jawab Aini. Sudut matanya mengarah ke Baim yang diam saja mendengar percakapan mereka.
"Tidak mengapa.. kebetulan umi masak banyak, daripada di rumah ntar nggak habis kan jadi mubazir, mending di bagikan ke kamu kan?" tanya umi ingin tahu pendapat Aini.
"Hmmm.. begitu ya.. ya kalau itu alasan umi, Aini terima makanan ini.."
"Kalau begitu, Aini permisi pulang ya mi.." pamitnya.
"kenapa buru-buru? Nggak makan malam di sini dulu?" tanya umi sambil mengedipkan ke arah Baim.
Baim yang paham akan kode dari Umi diam-diam tersenyum. "Umi paham betul ya kalau urusan hati."
"Lain waktu deh mi, Aini tadi udah janji sama ibu akan pulang cepat," sahutnya.
Baim nampak kecewa. "Uda, jangan di tahan-tahan kalau anak orang mau pulang mi," timpal Baim.
********
Malam harinya, di rumah Aini dipenuhi canda tawa. Terutama kedua adiknya yang baru mendapat sepatu dan tas baru.
"Cie.. Cie.. yang dapat sepatu dan tas baru, seneng banget.." goda Aini terhadap kedua adiknya.
"Iya, senang lah.. namanya dapat yang baru kak," sahut si bungsu.
__ADS_1
"Gambar tasnya cantik ya dek, ada kuda-kuda poninya gitu," puji Aini saat melihat tas baru adiknya.
"Iya kak, ini namanya kuda poni popcorn.." jawabnya bangga.
"Popcorn bukannya camilan yang di jual di pasar malam atau di bioskop-bioskop itu ya?" sambung ibu dengan polosnya.
"Astaga.. bukan popcorn dek, tapi unicorn.." jelas Aini lagi.
"Huhhh, dasar! Tia.. Tia.." Iva ikut nimbrung.
Ayah ikut tertawa melihat tingkah lucu si bungsu. "Ada-ada saja anak ayah.."
Si bungsu jadi kikuk karena salah berucap. "Ya maaf.. adek kan lupa namanya."
Aini kini beralih menatap Iva. "Sepatu kamu mana dek? coba kakak lihat!"
"Ini.." sahut Iva datar.
"Kenapa tu muka? kok nggak ada senang-senangnya?" tanya Aini keheranan.
"Habis.. ibu selalu saja seperti itu.. lihat ni.." Iva menunjukkan sepatu yang sudah dipakainya. Sepatu Iva terlihat kebesaran dari ukuran di kakinya.
"Uda.. nggak usah komplain.. syukur ibu belikan sepatu baru!" celetuk ibu.
Iva mengerucutkan bibirnya kesal. "Ibu gitu ihh, sebel..!" Ibu Ema sering melakukan hal demikian, membelikan sepatu selalu dilebihkan dari ukuran kaki anaknya, alasannya agar sepatu itu bisa lama dipakainya, kalau dibeli pas-pas ukuran kaki ntar kaki uda makin panjang kan tidak bisa di pakai lagi. Sementara anak-anak terkadang masa pertumbuhannya juga cepat, pasti ukuran kaki juga cepat bertambah, jadi lah ibu melakukan hal yang demikian.
"Sabar ya dek.. lagian kalau kebesaran kan masih bisa di sumpal ujungnya pakai kertas, tapi kalau kekecilan malah tidak bisa dipakai," jelas Aini membujuk adiknya.
"Iya dek, bener kata kakakmu," sambung ayah.
"Ibu-ibu tidak pernah salah, jadi kita yang waras ngalah aja," kata ayah lagi.
"Eng.. enggak ada kok, ayah bilang ibu selalu benar," jawab ayah terbata-bata.
"Jadi ayah pikir ibu nggak waras?" gerutu ibu.
"Ayah tidak ada bilang ibu nggak waras lhoo.. ya kan kak, dek?" tanya ayah pada anak-anaknya agar mendapat pembelaan.
"Iya.. nggak ada kok," sahut Iva dan diangguki Aini dan Tia si bungsu.
"Oh gitu.. jadi semua bela ayah.. Oke.. besok ibu mogok masak!" ancam ibu.
"Jangan....!!" teriak Aini dan kedua adiknya. Ayah hanya diam saja mendengar ancaman ibu.
"Ibu curang ih.. main ancam-ancam segala," cibir Aini.
"Biar aja kak, ayah masih punya uang untuk beli nasi bungkus," ledek ayah yang tak mempan dengan ancaman ibu.
"Kalau gitu ibu mogok masak tiap hari, sampai uang ayah habis!" Ibu melipat kedua tangannya di perut dengan kesalnya.
"Yah.. ibu ambekan ni.." celetuk Iva.
"Lagi PMS ya bu?" tanya Aini.
"Ayah.. udah.. ngalah aja sama ibu.. ntar ibu beneran ngambek bisa gawat kita," bisik Aini di dekat ayah Broto.
__ADS_1
"Ibu.. Ibu kalau lagi cemberut makin cantik deh.." bujuk ayah yang akhirnya mengalah.
Ibu sedikit tersenyum. " Ayah bilang apa? Ibu nggak dengar."
"Ibu makin cantik kalau lagi cemberut," ulang ayah.
"Masak sih?" tanya Ibu meyakinkan.
"Iya.. bener.. kalau ibu tidak cantik, mana mau ayah dulu sama ibu," kata ayah lagi.
"Ciah.. Ayah pande ngegombal juga," celetuk Aini.
"Cuit.. cuit..." ledek Iva dan Tia.
Ibu makin melebarkan senyumnya. "Ayah... jangan buat ibu malu deh di depan anak-anak."
"Jadi ibu uda nggak marah ni ceritanya? Nggak jadi mogok masak kan?" tanya ayah memastikan. Ayah khawatir juga kalau ibu beneran mogok masak, bisa kelaparan anak-anaknya nanti.
"Tergantung," jawab ibu asal.
"Tergantung apa?" tanya ayah lagi.
"Tergantung ayah masih menyalahkan ibu atau tidak. Jadi ibu tidak salah kan? Ibu waras kan?" kata ibu yang masih tidak terima dikatai tidak waras.
"Iya.. Ibu benar.. Ibu paling benar.. tidak pernah salah.." Ayah rela mengalah daripada ibunda ratu merajuk, bisa gawat dunia persilatan. hahaha
Aini dan kedua adiknya menggelengkan kepala. Lucu juga lihat ayah yang nampak sangar tapi bisa lemah dihadapan ibu. Beruntungnya ia berada dikeluarga yang penuh kehangatan seperti ini.
.
.
.
.
.
tbc
_____________
ayoo ayoo
Like nya mana?
vote dong jan pelit
komen juga
biar author tau kalau tiap eps itu tanggapannya cemana
baik atau buruk?
kalo gak da yg komen, author mana tauπ
__ADS_1
masukkan ke daftar favorit β₯οΈ ya
biar dapat notif kalo uda up ππ