Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Tekanan Darah Rendah


__ADS_3

Aduh.. keceplosan kan aku tadi.. semoga aja dia nggak sadar kalau selama ini aku selalu memperhatikannya makan di kantin ini. Cukup aku jadi penggemar rahasianya aja, agar dia tidak menjauhiku," batinnya.


"Jangan-jangan.. kau...."


Aini baru akan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


"Woii.. main ninggalin aku aja ya.. pergi ke kantin sendiri, aku nggak diajak," kata Sara yang tiba-tiba datang dan menepuk bahu Aini.


"Astaghfirullah.. kau ini suka sekali mengejutkanku! untung jantungku tidak copot!" sahut Aini dengan begitu kagetnya.


"Hussshh.. hussshh.. hussh.. Sana kau Fi, aku mau duduk disebelah Aini!" usir Sara kepada Alfi.


"Mengganggu saja!" batin lelaki itu.


Tak lama Alfi pun pindah duduk berhadapan dengan mereka.


"Amar mana?" tanya Aini setelah Sara duduk di sebelahnya.


"Mau latihan futsal," jawabnya kesal.


"Oh.. pantas saja kau mencariku, coba saja masi ada Amar, pasti kau lupa denganku," gerutu Aini.


"Tidak.. tidak seperti itu Ni, kau jangan bicara seperti itu la.. aku kan jadi merasa bersalah, selama ini kau kan selalu ku ajak kalau aku lagi jalan-jalan sama Amar," jawab Sara sambil memasang wajah sedih.


"Aku uda siap, kalian masi mau di sini atau ikut balik ke kelas?" tanya Aini tanpa memperdulikan ucapan Sara.


"Aku juga uda siap, ayoo kita balik ke kelas," sahut Alfi dan diikuti Sara tanpa berkata apapun.


**********


"Ni.. tunggu.. aku pulang bareng kau.." teriak Sara mengejar Aini yang lebih dulu keluar kelas.


Aini terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


"Ni, kau kenapa sih?" tanya Sara yang sudah berjalan beriringan dengan gadis itu.


"Nggak apa-apa.. mau cepat pulang saja," sahutnya cuek. Entah mengapa siang ini ia begitu lelah dan ingin segera terlelap di kasur empuknya.


"Ni.. wajahmu sepertinya pucat," ucap Sara yang melihat Aini tampak lesu dan wajahnya pucat.


"Nggak tahu ni, kepalaku pusing," sahut gadis itu lagi.


"Ya udah, ayoo kita segera pulang, agar kau bisa segera istirahat," ajak Sara sambil menggandeng tangan Aini.


Sesampainya di rumah, Aini segera merebahkan tubuhnya di kasur. Tak butuh waktu lama ia sudah terlelap dalam tidurnya. Waktu Ashar telah tiba, tapi Aini sedari tadi belum juga keluar kamar. Ibu Ema heran, tidak biasanya anak sulungnya itu tidak terbangun untuk melaksanakan sholat. Jadi ibu segera membangunkannya.


Ceklek..


Bunyi suara pintu kamar Aini yang dibuka ibu.


"Kak.. bangun kak.. uda waktunya sholat ashar.. ayoo cepat bangun, habis itu bantu ibu menyiapkan makanan untuk malam nanti."


Ibu Ema menggoyangkan lengan Aini, dan betapa terkejutnya ibu, lengannya terasa panas. Kemudian ibu memegang dahinya juga terasa panas, sepertinya Aini demam.


"Ya ampun, Aini demam," gumam ibu.


Ibu segera keluar kamar dan mengambil kompres untuknya, serta obat penurun panas.

__ADS_1


"Kak, bangun dulu.. Ibu bawakan obat, ayoo diminum.. biar panasnya turun," ujar ibu yang sudah membawa obat serta kompres untuk anak sulungnya itu.


Aini bangun dan duduk ditepi tempat tidurnya. "Kepala kakak pusing bu," ucap Aini setelah ibu memberikan obat penurun panas.


"Iya, sebentar lagi juga sembuh kalau sudah minum obat ini," sahut ibu.


"Ayoo ibu bantu ke kamar mandi untuk berwudhu, kakak kan belum sholat ashar,."


Aini mencoba berdiri tapi ia tidak sanggup karena kepalanya benar-benar pusing.


"Ayo, pegang bahu ibu, biar ibu bantu, nanti selepas sholat kita pergi ke klinik ya," tutur ibu yang sudah memakai tubuh Aini menuju kamar mandi.


*********


"Jadi bagaimana bu dokter, apa anak saya baik-baik saja? apa sakitnya hanya demam biasa?" tanya Ibu Ema kepada bu dokter setelah tadi pergi ke klinik menaiki betor.


"Ya, anak ibu tidak apa-apa.. hanya saja tekanan darahnya rendah," kata bu dokter.


"Ini saya berikan obat yang harus diminum anak ibu."


"Ya, terimakasih bu dokter, selain obat ini apa ada lagi makanan yang harus dikonsumsi anak saya agar tekanan darahnya kembali normal?" tanya Ibu Ema kembali.


"Banyak minum air putih ya bu, biar tidak dehidrasi. Lalu konsumsi makanan yang mengandung garam, karena dapat meningkatkan tekanan darah, dan konsumsi buah dan sayur seperti alpukat dan bayam ya bu," jelas bu dokter.


"Baik bu, kalau begitu kami permisi," sambung ibu Ema.


Sepulang dari klinik, Aini istirahat kembali. Tetapi ia dapati handphone nya bergetar, ia segera mengangkat panggilan masuk itu.


Bang Baim: Assalamu'alaikum


Aini: Wa'alaikumsalam


Aini: Lagi nggak enak badan bang


Bang Baim: Uda berobat belum? abang anterin ya ke dokter?


Aini: Uda tadi sama ibu ke klinik. Uda di kasi obat juga kok


Bang Baim: Oh, yauda adek istirahat la.. maaf abang ganggu ya


Aini: Enggak kok bang.. kalau begitu Aini istirahat dulu ya


Bang Baim: Assalamu'alaikum


Aini: Wa'alaikumsalam


Usai menelpon gadis kecilnya, Baim langsung pergi keluar rumah mengendarai motornya.


"Assalamu'alaikum.." Baim mengucap salam saat tiba di depan rumah Aini.


Ya, tadi bang Baim keluar ingin membeli sesuatu untuk gadis kecilnya yang sedang sakit itu dan segera ke rumahnya untuk mengetahui kondisinya saat ini.


"Wa'alaikumsalam, ya sebentar.." jawab bu Ema dari dalam rumah.


"Eh, nak Baim.. ada apa nak?"


"Ini bu, katanya Aini sakit ya? Jadi saya bawakan buah untuk Aini," kata Baim sambil memberikan bingkisan buah yang dibawanya.

__ADS_1


"Aduh.. repor-repot nak.. mau masuk dulu? biar ibu panggilkan Aini nya?" tanya ibu Ema yang sudah memegang bingkisan itu.


"Eh, nggak perlu bu.. saya langsung pulang aja, lagian Aini pasti lagi istirahat kan bu, saya nggak mau ganggu.." kata Baim yang hendak pamit pulang.


"Oh, kalau boleh tau Aini sakit apa ya bu?"


"Pusing katanya kepalanya, tadi diperiksa dokter ternyata tekanan darahnya rendah," balas ibu Ema.


"Bu... Ibu.. " panggil Aini dari dalam kamarnya.


"Bentar ya nak Baim, Aini manggil ibu." Ibu Ema masuk ke dalam, dan ternyata Aini minta tolong dibantu mau ke kamar mandi.


Dari luar Baim dapat melihat Aini dan Ibu Ema melintasi ruang tamu menuju dapur.


"Itu Aini, kasihan sekali dia, mukanya terlihat pucat," gumam Baim.


Usai dari kamar mandi, Aini di bantu ibu ke teras depan menemui Baim yang tadi belum jadi pulang.


"Eh, adek kok keluar ? Uda masuk aja ke kamar, abang cuma kasi buah-buahan aja untuk adek, ini juga tadi mau pulang tapi keburu adek manggil ibu jadi abang belum sempat pamit," kata Baim yang melihat Aini dibawa ibu Ema untuk menemuinya.


Hati Aini sedikit menghangat dengan perlakuan Baim yang menurutnya itu sweet banget. Sebelumnya Aini belum pernah merasakan hal seperti ini. "Tenyata begini rasanya diperhatiin lawan jenis," batin Aini.


"Dek.. kok melamun, uda buruan masuk ke dalam, istirahat yang cukup, biar cepat sembuh," kata Baim lagi.


"Tu kan.. sweet banget..," gumam Aini.


Aini menatap Baim dalam-dalam, selain membuat Aini terpesona, ternyata pria ini juga selalu membuat degup jantungnya jadi tak beraturan.


"Astaghfirullah.." Aini tersadar bahwa ia tidak boleh memikirkan pria yang bukan siapa-siapa nya itu.


"Kalau begitu, saya permisi ya bu," ucap bang Baim seraya mengucapkan salam.


"Ibu lihat, Baim kok perhatian sekali ya sama kakak?" tanya Ibu setelah melihat Baim pergi meninggalkan rumah mereka.


"Nggak tahu bu, mungkin hanya menunaikan kewajiban sesama muslim aja kali bu. Menjenguk orang sakit kan salah satu kewajiban seorang muslim," jawab gadis itu mencoba menghilangkan pikiran yang tidak-tidak dari sang ibu. Padahal dia sendiri tadi juga mikir ada hal lain dari perhatian Baim kepadanya. Tapi mengingat keduanya memiliki perbedaan umur yang cukup jauh, Aini tidak yakin kalau Baim memang menaruh hati terhadapnya.


"Mungkin memang benar yang aku bilang ke ibu tadi, kalau bang Baim hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim saja," batinnya.


.


.


.


.


.


tbc


_____________


Maaf ya cuma 1 episode hari ini


Lagi buntu otakku🤭🤭


vote, like, komen jan lupa ya😉😉

__ADS_1


__ADS_2