Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Terbongkar


__ADS_3

"Loh, kenapa kak Una pulang mi?" tanya Fahmi yang tidak tau masalah Yuna. Pasalnya tadi Yuna dan umi sedang berada di dapur, jadi yang sempat ia dengar hanya saat Yuna menanyakan hal apa yang disukai Baim dari Aini saja.


"Umi juga tidak tahu, mungkin dia tersinggung dengan kata-kata umi," sahut Umi enteng. Ia tidak begitu merasa bersalah, karena pikirnya lebih baik Yuna sakit hati di awal ketimbang di akhir, saat dia berharap banyak bisa kembali lagi sama Baim.


"Umi habis bilang apa sampai dia tersinggung?" tanya Fahmi lagi sambil mulai mengambil piring untuk makannya.


"Sudah, kamu makan saja, nggak usah kepo sama urusan perempuan," celetuk Umi.


Abi yang baru ikut bergabung disana ikut bingung mengenai apa yang dibahas ibu dan anak itu.


"Fahri dan Baim mana Mi?" tanya Abi yang sudah ikut duduk.


"Fahri belum pulang, mungkin lembur. Kalau Baim baru pulang dari masjid langsung ke kamar," ujar Umi, kemudian meletakkan piring yang sudah berisi nasi di hadapan Abi.


"Yuna mana? Bukannya tadi Abi pulang kerja dia ada di sini?" tanya Abi lagi.


"Dia sudah pulang," sahut Umi singkat.


"Fahmi, kamu panggil Baim untuk makan, sekalian bilang kalau Yuna sudah pulang!" titah Umi pada anaknya.


Fahmi pergi ke kamar Baim, sedangkan Abi dan Umi melanjutkan makan mereka.


* * *


Keesokan paginya, Baim diminta menemani umi berbelanja ke pasar usai mengantar kue ke pelanggan-pelanggannya.


"Mi, Baim nunggu di parkiran saja ya," ucap Baim saat tiba di pasar.


"Ikut ke dalam dong Im, Umi ntar nggak kuat angkat belanjaan sendiri," pinta Umi.


Baim tidak bisa menolak permintaan umi, bagaimana pun Umi sudah dianggap seperti ibunya sendiri. "Iya deh mi," sahutnya.


Ditengah kesibukan umi memilih sayur, Baim memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak sengaja melihat ibu Ema yang berada tidak jauh dari tempat umi membeli sayur. "Mi, Baim tinggal sebentar ya," ucapnya dan diangguki oleh Umi.


"Sini bu, biar Baim bantu." Baim menghampiri ibu Ema hendak menawarkan bantuan karena wanita itu nampak kerepotan membawa banyak belanjaan di tangannya.


"Eh, nak Baim. Tidak usah nak, ibu bisa sendiri," ucapnya sedikit terkejut karena Baim tiba-tiba memegang belanjaannya.


"Tidak usah sungkan bu, saya juga tidak merasa direpotkan. Lagian Umi masih lama belanja nya, jadi saya bisa bantu ibu dulu," sambung Baim.


"Baiklah kalau kamu memaksa," jawab ibu Ema pasrah.


"Apa ibu masih ingin belanja yang lainnya?" tanya Baim yang sudah berjalan mengikuti ibu Ema.


"Tidak nak, ibu sudah selesai. Jadi ibu sudah akan pulang. Tolong kamu antarkan ibu ke arah pintu keluar ya, nanti di sana ibu akan naik betor," tuturnya.


Baim mengangguk mengerti. "Aini apa kabar bu?" tanyanya sambil terus berjalan.


"Baik-baik saja," balas ibu.


"Ibu boleh tanya sesuatu sama kamu?" ucap ibu ragu-ragu.


"Apa itu bu?"


"Kamu sudah punya pacar ya?" Ibu sudah berhenti di depan pasar hendak menunggu betor.

__ADS_1


"Belum bu, memangnya kenapa?" tanya Baim penasaran.


Ibu Ema teringat perkataan Aini semalam.


Flash back on


Semalam sore, saat Aini sudah bangun dari tidurnya untuk menghindari Baim, ibu bertanya kembali perihal apa yang menyebabkan Aini tidak ingin bertemu Baim.


"Kak, sekarang cerita deh sama ibu, kamu sama Baim ada masalah apa?" tanya Ibu saat mereka berdua sedang memasak di dapur. Lebih tepatnya ibu yang memasak, Aini hanya mengupas bawang dan memotong sayur saja.


"Tidak apa-apa bu," balas Aini yang belum mau terbuka.


"Baim tadi sedih banget nggak bisa ketemu kakak, pasti dia mau menyampaikan sesuatu," ucap ibu lagi.


Aini menghela nafas. "Biarlah bu, Aini uda nggak mau dekat-dekat dia lagi."


"Siapa yang suruh kakak dekat-dekat dia? Bukan muhrim tau!" sindir ibu.


"Maksud Aini bukan dekat-dekatan seperti itu bu. Tapi Aini sudah tidak mau berjumpa dengannya lagi," ucap Aini menjelaskan.


"Tapi alasannya apa?"


"Dia sudah punya pacar bu." Akhirnya Aini jujur juga.


Ibu menghentikan aktivitasnya sejenak. "Memang kamu tau dari siapa?"


"Pacarnya sendiri yang telpon Aini seminggu yang lalu."


"Bisa saja cewek itu hanya mengaku-ngaku," bantah ibu akan pemikiran Aini.


Ibu mengangguk membenarkan. "Iya juga sih."


Flash back off


"Nah, begitu nak Baim ceritanya. Makanya ibu ingin memastikan, apakah benar kamu sudah punya pacar atau belum?" tanya Ibu Ema pada Baim yang baru paham akar permasalahannya selama ini.


"Belum bu, Baim berani sumpah," ucap Baim sungguh-sungguh.


"Nggak usah pakai sumpah, nanti kalau memang tidak benar kamu bisa kena balanya. Ibu cuma tidak mau kamu memainkan perasaan anak ibu," tutur ibu Ema.


"Sekarang ibu mau tanya lagi, apa niat kamu ingin mendekati anak ibu? Cuma iseng-iseng saja, atau ada kearah yang lebih serius?"


"Saya serius bu," jawabnya penuh penekanan.


"Tapi kamu tahu kan kalau anak ibu masih terlalu kecil? Bahkan sifatnya juga pasti masih kekanak-kanakan," tutur ibu.


"Iya, saya tau bu, saya bisa maklumi itu," sahut Baim.


"Kamu lihat sekarang, hanya masalah sepele begini saja dia sudah tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu. Ibu tidak yakin kamu akan kuat menghadapi tingkahnya." Ibu cukup kasihan melihat Baim yang nampak frustasi saat menceritakan masalahnya dengan Aini.


Baim tertunduk lesu. Mau menjawab tapi bingung juga. Kalau dikatakan dia sanggup menerima segala kekurangan Aini, nyatanya dia sekarang sudah mulai goyah, tetapi untuk berhenti mencintai gadis itu nyatanya dia lebih tak sanggup lagi. Bahkan setiap detiknya hanya Aini yang mengisi hati dan pikirannya.


Ibu menepuk pundaknya pelan. "Ibu rasa kamu perlu pikir-pikir lagi kalau mau serius sama anak ibu. Ibu mendukung setiap keputusanmu, karena masa depan Aini untuk meraih cita-cita masi panjang. Sedangkan kamu sudah cukup dewasa untuk segera memiliki pendamping hidup," saran ibu pada Baim.


"Iya bu," ucapnya sambil menoleh ke arah ibu.

__ADS_1


"Perlu saya bantu memanggil abang betornya bu?" tanyanya setelah sadar kalau mereka sudah cukup lama berdiri di depan pasar.


"Tidak perlu, terima kasih sudah membantu mengangkat belanjaan ibu, nanti juga abang betornya pasti menghampiri ibu. Lebih baik kamu kembali ke dalam untuk menjumpai Umi, pasti dia sudah lama menunggu," ujar ibu.


"Astaga, iya Baim lupa kalau Umi menunggu di dalam. Kalau begitu Baim pamit untuk menyusul Umi ya bu. Ibu hati-hati, assalamu'alaikum." Baim segera pergi untuk menemui Umi saat ibu Ema sudah menjawab salamnya.


* * *


Di bangku kantin, Aini sedang duduk sendiri memakan nasi beserta telur ceplok yang dibawanya tadi pagi. Ia hanya memesan minuman saja pada penjaga kantin. Sara yang masi berada di kelas Amar sampai saat ini belum juga menampakkan batang hidungnya. Jadilah Aini hanya makan sendiri.


"Lihat tu, ada Aini," ucap Mia saat berada di pintu kantin.


"Iya ya, kita kerjain lagi yuk, mumpung dia sendiri," balas Nila.


"Tapi kita kerjain apa ya? Kemarin waktu kita kunciin di toilet dia berhasil keluar karena dibantu Bagas," sambung Mia.


"Aduh.. aduh.. aduh..," ucap Mia dan Nila berbarengan. Tiba-tiba Sara datang dan mendengar pembicaraan mereka.


Sara menjewer telinga mereka berdua. "Bagus.. Jadi benar kalian berdua pelakunyanya ya? Aku sudah menduganya."


"Sekarang, ikut aku ke ruang BK (Bimbingan Konseling) untuk mengadukan perbuatan nakal kalian!" ajak Sara pada mereka.


"Ampun Sara, jangan adukan kami sama guru BK," pinta Mia.


Sara menarik kedua tangan mereka untuk menjumpai Aini. "Eh, kita mau diajak kemana?" sahut Nila.


"Sudah diam! Ikut saja denganku!" titah Sara.


Aini terkejut saat melihat Sara, Mia dan Nila tiba-tiba berada di hadapannya. "Mau apa mereka kau tarik-tarik Ra?"


"Mereka mau menjelaskan sesuatu padamu Ni," balas Sara. Mia dan Nila hanya saling bertatapan.


.


.


.


.


.


tbc


_____________


Tinggalkan jejak kalian guys


Like


Vote


Komen


😊🙏

__ADS_1


__ADS_2