
Mentari pagi menyinari bumi dimana tempat Gadis kecil berpijak. Hari ini sangat cerah, walau masih pukul tujuh lewat seperempat, tapi tak secerah hati Aini pagi ini. Dia yang sering terlambat datang ke sekolah kini mengulang kegiatan itu kembali. Langkah kaki yang semula kecil kini sudah melebar melebihi lebarnya kaki para pemain sumo.
Ia setengah berlari saat turun dari angkot di seberang sekolahnya. Jarak yang harus ia tempuh memang tidak jauh, hanya sekitar tiga puluh meter saja, tapi berhubung waktu sudah sangat mendesak, tentu jarak itu serasa membuat Aini ingin memakai jurus menghilang seperti yang pernah ia lihat di televisi agar ia langsung tiba di lapangan sekolah.
Pasalnya, setiap pagi sekolahnya selalu mengadakan apel sebelum memulai pelajaran. Bukan apel yang merupakan nama buah ya, tapi apel seperti upacara singkat untuk para siswa tanpa diikuti oleh para guru. Apel itu biasa diawasi oleh anggota osis, dimana para petugas apel yang membacakan tertib acara, doa atau ceramah singkat biasanya ditunjuk dari para siswa di salah satu kelas secara bergantian setiap harinya.
"Ampuuuunn ... lihat kamu Aini!" seru guru BK yang menunggu di depan gerbang sekolah. "Sudah berapa kali kamu telat dalam seminggu? saya sampai bosan melihat kamu lari-larian dari seberang sana!" lanjutnya.
"I.. Iya maaf, pak. Rumah saya 'kan jauh ...," sahut Aini.
"Pandai sekali kamu membuat alasan! Kalau rumah kamu jauh, kamu harusnya datang lebih pagi agar tidak terlambat!"
"Sudah, pak. Tapi tadi ...."
"Ah, sudah ... sudah! Sekarang kamu cepat ke lapangan!" titah pak Na'im. "Saya hari ini lagi baik, jadi kamu tidak saya hukum," lanjutnya lagi.
"Makasih, pak. Bapak baik ... banget," ucap Aini sok imut.
"Kamu orang ke seribu satu yang bilang saya baik. Jadi saya sudah biasa mendengar kata-kata itu," ucap pak Na'im dengan pede nya.
Aini memutar bola matanya malas. Ia tahu betul jika guru BK yang satu ini selalu saja membuat orang jijik dengan tingkat pedenya yang luar biasa. Ia segera berlari menuju lapangan untuk mengikuti apel pagi.
*
"Ni, kau nggak ke kantin?" tanya Rika. Teman sebangku Aini ini merasa heran melihat gadis itu. Tidak biasanya ia tampak murung dan tidak bersemangat dalam belajar. Selepas apel tadi, Aini masuk ke kelas dengan wajah yang tak sedap di pandang mata. Ia bahkan tidak mendengarkan materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru dan itu tak luput dari perhatian Rika yang selaku teman sebangkunya.
"Nggak, Ka. Kalau kau mau ke kantin tidak apa, aku di kelas saja," sahut Aini. Ia menyandarkan dagunya di atas satu tangan yang ia lipatkan di atas meja sambil tangan lainnya memainkan pena.
"Hmmm.. Kau nggak titip makanan? Nanti aku belikan," tanya Rika lagi.
"Tidak usah. Aku bawa bekal dari rumah," sahut Aini. Bukan tidak ingin membeli makanan di kantin, tapi hari ini mood Aini memang lagi tidak baik, bahkan bekal yang dibawanya saja enggan untuk ia lahap.
"Baiklah, aku pergi dulu." Rika meninggalkan Aini sendiri di kelas. Sebenarnya ia tidak tega, tetapi ia lebih kasihan kepada cacing di perutnya yang sudah meronta-ronta meminta makanan.
Saat di kantin, Rika bertemu dengan Fani dan Sara. Kedua sahabatnya itu tentu menanyakan Aini. Sara yang lebih dekat dengan Aini selama ini tentu tahu kalau sahabatnya itu sudah tampak murung di sekolah, pasti ia mempunyai masalah yang belum terselesaikan. Sara segera pamit meninggalkan Fani dan Rika untuk menemui Aini di kelasnya.
*
"Ada apa? Coba cerita." Sara yang baru tiba di kelas Aini langsung mendudukkan diri di kursi yang biasa di tempati Rika yaitu tepat di sebelah Aini.
Aini menoleh, karena ia dari tadi masih memejamkan matanya yang tertutup oleh tangan yang ia lipat di atas meja. "Aku hanya mengantuk."
"Tidur itu di rumah, bukan di kelas! Cari alasan yang kreatif dikit napa!"
Aini tersenyum kecut. Sulit baginya membohongi Sara yang sudah hafal dengan watak dirinya selama ini.
"Bagas, susah sekali di hubungi," keluh Aini. Akhirnya ia mengungkapkan isi hatinya kepada Sara.
"Mungkin dia banyak tugas, jadi tidak sempat menghubungimu," tukas Sara.
"Oke, aku bisa ngerti kalau soal itu. Tapi ini lain, dia bahkan tidak sekalipun membalas pesanku walau di hari libur. Apa itu wajar?"
"Kalau begitu, aku rasa tidak. Tapi coba di tanya baik-baik aja dulu, dia pasti punya alasan sendiri." Sara mencoba menenangkan Aini, karena ia tahu bahwa hubungannya dulu dengan Amar juga buruk karena kurang komunikasi, jadi ia tidak mau memberi saran yang membuat Aini menyesal nantinya.
__ADS_1
Aini membereskan buku yang masih terletak di atas meja dan memindahkannnya ke dalam tas ransel miliknya."Gimana mau di tanya, kalau orangnya di hubungi saja susah!"
"Aku pikir kau ada masalah apa. Sampai aku bela-belain nggak jadi makan di kantin buat liatin kau. Rupanya cuma gara-gara Bagas! Baru tau sekarang rasanya jadi bucin 'kan?" ledek Sara.
Aini tertawa lepas. "Maaf-maaf ya, aku nggak sebucin kau. Pokoknya kau tetap yang nomor satu."
"Dasar! Sudah bucin nggak ngaku juga!" ucap Sara sambil mendorong bahu Aini.
Tak lama Rika kembali ke kelas di ikuti oleh Fani. Mereka juga pemasaran hal apa yang membuat Aini murung hari ini.
"Gimana, Ra? Sudah kelar masalah Aini?" tanya Fani yang berdiri di sebelah Sara.
"Tenang, Fan. Semua aman terkendali," sahut Sara.
"Percaya aku tuh kalau sama Sara. Lihat aja tuh Aini sudah bisa tersenyum sumringah gitu," timpal Rika.
Mereka melanjutkan obrolan sampai bel masuk kembali berbunyi. Membuat Sara dan Fani kembali ke kelas mereka masing-masing.
* *
Seusai pulang sekolah, Aini mencoba menghubungi Bagas, berharap lelaki itu membalas pesannya kali ini. Namun sama sekali nihil, karena sudah satu jam lamanya Aini menunggu, tapi tidak satu pun balasan yang ia terima.
Aini yang tidak mau ambil pusing segera keluar kamar dan meninggalkan handphone nya tergeletak di atas tempat tidur. Ia membantu ibu yang sedang meracik bumbu untuk masakannya sore ini.
"Gimana sekolahnya hari ini?" tanya Ibu saat melihat Aini masuk ke dapur.
"Alhamdulillah semuanya lancar, bu," sahut Aini.
"Syukurlah ...." Ibu terlihat sedang memegang alat penggorengan, sambil memasukkan bumbu yang telah di haluskan.
"Kenapa bertanya seperti itu? Jangan-jangan ...."
Aini segera menyahut perkataan ibu. "Jangan-jangan apa sih, bu. Kakak 'kan hanya bertanya."
"Sempat beberapa kali ibu pacaran, tapi yang jadi ayahmu malah bukan salah satu dari pacar ibu," tutur ibu.
"Kok bisa, bu? Jadi ayah sama ibu itu bisa menikah gimana ceritanya?" tanya Aini penasaran.
"Ya, dulu ayahmu pindah dari kabupaten dan merantau ke kampung kita ini. Lalu katanya dia sering lihat ibu menjemur pakaian dan ayahmu seperti ada debaran di dadanya saat melihat ibu. Kemudian tiba-tiba saja ayah datang ke rumah mengajak berkenalan ibu yang saat itu memang ibu sedang tidak punya pacar."
"Terus, bu ... terus...." Aini semakin tidak sabar menunggu kelanjutan cerita ibu yang masih sibuk dengan kelapa yang sedang di peras santannya.
"Terus ... Kali kedua ayahmu datang, katanya di mau ngelamar ibu. Kalau ibu setuju, maka minggu depan orangtuanya akan datang melamar ibu secara resmi," lanjut ibu.
"Ohh, so sweet..., jadi ibu langsung jawab iya waktu itu ya, bu?"
"Kalau ibu jawab tidak, tentu kamu dan adik-adikmu tidak ada di dunia ini!" tegas ibu.
Aini tertawa kecil. "Ih, ibu nggak ada jaim-jaim nya jadi cewek, masak langsung terima aja. Mau nya ibu pikir-pikir dulu kek, biar kelihatan jual mahalnya dikit," ledek Aini.
"Sembarangan kalau ngomong!" ucap ibu sambil menyipratkan sedikit santan ke wajah Aini. "Ibu langsung jawab juga karena sudah ada pertimbangan. Jadi waktu pertama kali ayahmu datang ke rumah, besoknya kakek bilang ke ibu kalau ayahmu itu sepertinya laki-laki baik dan serius. Dari sekian laki-laki yang pernah datang ke rumah, kata kakekmu cuma ayah saja yang menurut kakek cocok dengan ibu," terang ibu pada putri sulungnya.
"Hmm... begitu. Jadi ayah adalah laki-laki beruntung dari banyaknya mantan pacar ibu ya?"
__ADS_1
"Ya ... Begitulah kira-kira," sahut ibu.
"Terus ibu nikahnya kapan?" tanya Aini semakin penasaran.
"Dua bulan setelah ibu di lamar ayah, karena nikah 'kan butuh persiapan," lanjut ibu.
"Ibu kenapa tidak jadi menikah dengan salah satu dari pacar-pacar ibu yang dulu? Apa mereka tidak ada yang serius?"
"Kamu ini, penasaran sekali sepertinya," tukas ibu.
"Nggak apa dong, bu. Biar Kakak tahu kisah ibu dengan ayah itu gimana. Apakah romantis seperti di film di televisi?"
"Tahu apa kakak soal romantis? Jangan dicontoh jika belum menikah!" seru ibu.
"Iya, bu... Kakak hanya ingin tahu saja."
"Dulu ada satu pacar ibu yang serius, tapi tiba-tiba beberapa bulan dia tidak pernah mengunjungi ibu. Bahkan biasa setiap malam minggu dia menjemput ibu pulang kerja, tapi selama beberapa bulan itu dia tidak datang. Ibu penasaran, akhirnya ibu mencari alamat rumahnya dan datang ke sana. Ternyata selama beberapa bulan belakangan adiknya bilang kalau dia sakit dan itu cukup parah. Lalu adiknya juga cerita kalau abangnya itu kasar dan suka membanting barang kalau sedang marah. Akhirnya ibu mundur, karena ibu tidak mau mempunyai suami yang saat marah bisa membahayakan ibu. Itu lah pacar terakhir ibu sebelum mengenal ayahmu."
"Jadi berapa banyak mantan pacar ibu?"
"Ah, sudahlah. Jangan di tanya lagi. Intinya sekarang ibu sarankan agar kakak tidak berpacaran sebelum menikah. Pacaran itu hanya membuang waktu dan membuat sakit hati saja bahkan mendapat dosa pula. Ibu tidak mau anak-anak ibu merasakan hal yang sama. Lebih baik jika sudah ada lelaki yang serius langsung menikah saja. Bahkan saling mengenal setelah menikah jauh lebih romantis dari pacaran sebelum menikah. Selain sudah halal, apapun yang kita lakukan dengan pasangan tentu mendatangkan pahala, bukan dosa seperti saat kita belum menikah."
"Sudah, sekarang bantu ibu menata makanan ini di meja!" titah ibu.
"Baik, bu."
Usai Aini membantu ibu, ia kembali ke kamarnya dan melihat kembali handphone yang ia letakkan di atas kasur nya. Ternyata Bagas membalas pesan singkatnya sekitar lima menit lalu. Ia langsung menekan tombol untuk menghubungi lelaki yang merupakan pacarnya itu.
"Tuuuttt...." Panggilan pertama yang Aini lakukan belum juga mendapat jawaban dari seberang sana, membuat Aini melakukan panggilan kedua kalinya.
"Hallo..." Terdengar sahutan dari dalam handphone Aini saat panggilan kedua hampir saja berakhir. Aini segera menjawabnya.
Hallo... sedang apa di sana? ~ Aini
Lagi duduk santai saja ~ Bagas
Kemana selama ini? Kenapa tidak pernah membalas pesanku? ~ Aini
Tidak kemana-mana, aku sering membantu kakek menjaga warung, jadi tidak sempat membuka handphone ~ Bagas
"Tidak merasa bersalah sekali dia, bukan minta maaf tapi malah menjawab dengan santai!" batin Aini.
Jadi sekarang juga sedang menjaga warung kakek atau apa? ~ Aini
Tidak, ini lagi di depan rumah sendirian ~ Bagas
Setelah ucapan Bagas yang terakhir, dia mendengar ada suara seorang wanita yang tidak jauh dari Bagas, karena suaranya sangat jelas. Membuat Aini berpikir ulang bahwa Bagas pasti tidak sedang sendiri saat ini. Tapi siapa wanita itu?
.
.
.
__ADS_1
.
.