Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Diinterogasi Ibu


__ADS_3

Para readers yang baik hati..


author cuma pengen nanya, ini karya author uda bagus atau belum?


Beri kritik dan saran yang membangun ya, biar author makin semangat buat lanjutinnya..


Happy reading...


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Semua murid sibuk mencari jawaban dari soal-soal yang ada di lembar ujian, tapi Aini tampak tenang dan santai. Berulang kali teman-temannya memberi kode kepadanya untuk meminta jawaban, namun guru selalu saja mengawasinya, akhirnya mereka tak berkutik sama sekali.


Hari ini adalah hari terakhir ujian. Jadi murid-murid ingin segera pulang dan merayakan hari libur mereka. Ini adalah ujian kenaikan kelas, jadi libur mereka juga pasti lebih panjang dari libur tengah semester.


"Alhamdulillah.. selesai juga.." kata Aini yang sudah menyelesaikan soal ujian terakhirnya.


Aini lalu menyerahkan lembar soal dan jawaban kepada guru yang bertugas mengawas di kelas mereka.


"Ni.. tunggu aku ya.." bisik Sara saat Aini kembali ke bangkunya untuk mengambil tas.


Aini mengangguk menandakan iya.


Setelah menunggu beberapa menit, Sara tampak sudah keluar dari kelas.


"Ni.. temani aku ya.. seperti biasa.." pinta Sara dengan wajah sok imutnya.


Apalagi kalau bukan meminta Aini menemaninya untuk jalan bersama Amar. Aini hafal betul kalau Sara sudah memasang wajah itu, karena bukan sekali dua kali Aini menemani Sara kencan dengan Amar, tapi sudah sangat sering. Sepertinya Sara memang takut kalau hanya berduaan dengan Amar seperti yang dijelaskan bu guru tempo hari, tetapi dia juga berat untuk meminta putus ke Amar karena ia terlanjur mencintainya. Jadilah Aini si kambing congek yang selalu dimanfaatin Sara saat berkencan.


"Hmm.." jawab Aini singkat.


**********


"Ihhh... yang itu lucu deh Mar..," kata Sara sambil menunjuk salah satu barang di dalam toko.


Iya, kini mereka tengah berada di salah satu mall di kota Medan. Jadi Sara tadi mengajak Aini untuk ke mall karena ada yang ingin dibelinya.


Sara berjalan beriringan dengan Amar, sementara Aini berjalan dibelakang mereka. Tadi Sara melihat tas berbentuk koper dalam ukuran yang sangat mini yang dilengkapi tali panjang untuk menyandangnya. Sepertinya tas itu kini tengah viral dikalangan remaja, membuat Sara juga ingin memilikinya. Ternyata tas itu yang tadi ditunjuk Sara saat melewati toko. Walau mereka sekarang menjalin hubungan, namun yang Aini lihat tidak ada adegan pegang-pegangan tangan apalagi mesra-mesraan, itu sudah membuat Aini bernafas lega, karena jika itu terjadi sudah pasti Aini ikut berdosa karena membiarkan mereka melakukannya di depan mata kepalanya sendiri.


"Ra... jangan lama-lama ya.. aku takut di marah ayah dan ibu karena pulang telat.." ujar Aini saat mereka melihat-lihat tas yang ingin dibeli Sara.


"Iya.. tenang aja.. Habis ini kita makan Ice cream di tempat yang lagi ngehitz di sosmed itu baru kita langsung pulang ya.. Ntar aku bantu jelasin ke ibumu kalau kau menemaniku kemari.." kata Sara menenangkan.


"Aini nggak ikutan juga beli tas kek gitu?" tanya Amar kepadanya.


"Nggak Mar," jawabnya singkat.


"Kalau pun mau beli juga nggak punya uang," batinnya lagi.

__ADS_1


Selesai acara memilih-milih tas yang sesuai selera Sara, mereka langsung menuju cafe yang menyediakan berbagai varian rasa ice cream yang menggugah selera.


"Pilih aja Ni, ntar kami bayarin," kata Sara saat mereka melihat-lihat daftar menu yang terletak di atas meja cafe.


Aini merasa tak enak karena terus di traktir Sara kalau ikut dengannya. "Sama in aja sama kalian."


"Oh, yaudah.. kamu pesan yang mana Mar?" tanyanya juga kepada Amar.


"Terserah kamu, aku ikut aja...," balas Amar.


"Yang ini 2 dan yang ini 1," tunjuk Sara pada daftar menu dan dicatat oleh waitres.


Tak lama pesanan datang. Ternyata Sara memesan ice cream yang berbeda untuk Aini. Avocado Sundae begitu kalau tidak salah nama menu ice cream yang sudah tersaji di depan Aini. Ice cream yang padukan dengan buah alpukat dan diberi saus coklat pula diatasnya. Sara memang sahabat terbaiknya, karena selain menggemari es jeruk, Aini juga sangat menyukai alpukat, jadi mungkin Sara sengaja memesan menu itu untuk Aini karena diyakini Aini pasti menyukainya. Sementara Amar dipilihkan menu yang sama dengannya, Chocolate Choco Sundae yang didalamnya full dengan coklat dan ditaburi choco chip sesuai namanya.


Usai menikmati menu ice cream tersebut, mereka segera kembali. Kali ini mereka tidak pulang bertiga, melainkan Amar pulang sendiri karena angkot menuju rumahnya berbeda dengan angkot menuju rumah Sara dan Aini.


**********


"Apa kakak uda pulang dek?" tanya Ibu pada si bungsu yang lagi bermain di teras rumah. Ibu baru saja kembali dari pasar membeli berbagai kebutuhan dapur.


"Belum bu..," jawab si bungsu.


"Kemana dia?" gumam ibu.


Saat ibu hendak masuk ke dalam rumah, Aini pulang bersama Sara tentunya, karena Sara janji akan membantu menjelaskan perihal keterlambatannya pulang. Orangtua Aini memang begitu protektif terhadap anak-anaknya. Mereka selalu menginterogasi jika anaknya pulang terlambat dari jam sekolah biasanya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab ibu Ema.


Aini dan Sara masuk dan menyalami ibu Ema yang masi berdiri di depan pintu rumah.


"Dari mana saja kakak? Bukannya hari ini ujian? Kenapa pulangnya lama sekali?"


Begitulah rentetan pertanyaan yang dilayangkan ibu pada Aini.


"Tadi Aini nemenin Sara beli ini bu," ujar Sara sambil memberitahukan barang yang dibelinya tadi.


"Oh, pergi sama nak Sara.. Ya sudah, lain kali kalau mau pergi beritahu ibu, jangan buat ibu khawatir. Zaman sekarang susah jaga anak perempuan, bilangnya temenin kawan, padahal malah pergi pacaran," celoteh ibu berkepanjangan.


"Aduh, kok ibu bisa tahu ya, untung bukan aku yang pacaran," batin Aini.


"Iya bu, maaf uda ngajak Aini jadi dia ikut telat pulang," jawab Sara lagi.


"Nggak apa-apa kalau perginya sama nak Sara, jangan ajak Aini ke tempat yang macam-macam ya, Aini masi polos, dia nggak ngerti apa-apa," sambung ibu.


"Iya bu.. kalau gitu Sara pamit pulang ya.. sekali lagi Sara minta maaf uda bawa anak ibu pergi," Sara mencium kembali tangan ibu Ema dan mengucap salam sebelum pulang.


"Kakak memang cuma pergi berdua sama Sara kan?" tanya Ibu kembali kepada Aini.

__ADS_1


Aini bingung, mau jawab jujur atau tidak. "I.. Iya bu.."


"Beneran? kok jawabnya gugup gitu? kakak nggak bisa bohong lhoo dari ibu," lanjut ibu menginterogasi Aini.


Akhirnya Aini memilih jujur. "Sebenarnya bertiga bu, sama teman Sara lainnya."


"Siapa? perempuan apa laki-laki?" tanyanya kembali.


Nah lhoo.. gitu tu si ibu, kalau uda di jawab jujur pasti terus ditanya sampai ke akar-akarnya. Aini kan jadi nggak bisa menyembunyikannya dari ibu. Mana ibu Ema tahu betul kalau Aini berbohong, mau cari alasan apalagi coba Aini.


"Laki-laki bu..," tutur Aini sambil menunduk karena tak berani melihat tatapan ibu Ema.


"Laki-laki???" suara ibu mulai naik satu oktaf.


"Teman atau pacar?" tanya Ibu penasaran.


Habis sudah pertahanan Aini selama ini untuk tidak menceritakan tentang hal pribadi Sara.


"Pacar bu.." sahutnya lirih.


Ibu Ema tampak menarik nafas dan membuangnya kasar. "Bukan pacar kakak kan?"


"Bukan bu.. Pacar Sara..," mata Aini sudah mulai berkaca-kaca karena takut ibu marah besar dan memberitahukan kepada ayah. Padahal bukan ia yang ketahuan pacaran, tapi ia begitu takut terhadap ibunya.


"Oh syukurlah..." jawab ibu mulai melunak sambil mengelus dada menandakan apa yang dipikirkannya tadi salah.


"Ya sudah, cepat masuk ganti baju, sholat dan istirahatlah. Nanti sore tolong bantu ibu menyiapkan masakan untuk makan malam," titah ibu kepada Aini.


Memang sebagai anak sulung, Aini sering membantu ibunya menyiapkan makanan dan beberes rumah. Itu semua diajarkan ibu agar kelak Aini dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri, ia sudah terbiasa akan hal itu.


"huuuhhhh..." Aini membuang nafas lega karena bebas dari interogasi ibu yang membuat jantungnya hampir copot.


"Gara-gara Sara aku jadi di interogasi ibu habis-habisan," batinnya.


.


.


.


.


.


tbc


___________

__ADS_1


vote, like, ♥️, koment ya


__ADS_2