
"Sudah pergi sana! Mengganggu saja!" gerutu Baim sambil melempar bantal ke arah pintu.
Fahmi yang begitu sigap langsung menutup pintu, sehingga bantal yang dilempar Baim hanya mengenai pintu kamarnya. "Dasar bucin!" batin Fahmi.
* * *
Keesokan paginya, Baim datang ke rumah Aini. Ia sengaja datang di saat Aini sudah pergi ke sekolah agar kado yang ia berikan menjadi surprise saat gadis itu pulang sekolah nantinya.
"Assalamu'alaikum.." ucap Baim saat tiba di depan rumah Aini.
"Wa'alaikumsalam.." sahut ibu Ema dari dalam. Ibu Ema yang sedang menyapu rumah menghentikan kegiatannya sejenak untuk segera membuka pintu.
"Ada nak Baim, silahkan duduk nak," ucap ibu sambil menunjuk kursi di terasnya.
"Iya bu, terimakasih. Saya ingin memberikan ini.." Baim menyodorkan bingkisan kado yang cukup besar ke tangan ibu Ema.
"Eh, ini apa nak?" tanya Ibu yang sedikit terkejut.
"Ini kado buat Aini bu. Baim titip ke ibu saja ya, karena Aini kan belum mau bertemu Baim. Hari ini hari ulang tahunnya kan bu?" tanya Baim memastikan.
"Iya benar, hari ini memang hari ulang tahunnya. Nak Baim tau darimana?"
"Ya, dulu pernah tanya ke Aini, sebelum dia mendiamkan saya." Lagi, wajah Baim nampak murung jika membahas masalah ini.
"Maaf ya nak Baim, Aini itu orangnya memang keras kepala, susah untuk menggoyahkan keyakinan yang sudah dibuatnya. Ibu yakin dia sudah memaafkan kamu, tapi mungkin masih enggan untuk bertegur sapa," tutur ibu Ema untuk menghibur Baim.
"Benarkah?" gumam Baim.
"Iya, tidak apa-apa bu. Setiap orang punya prinsip masing-masing. Nanti kalau tau kebenarannya juga Aini pasti mau memaafkan saya," ucapnya yang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Semoga saja begitu ya nak," balas ibu yang merasa tidak yakin. Dia tahu betul bagaimana sifat anak sulungnya itu. Bukan sulit untuk memaafkan orang lain, tetapi sekali ia merasa tersakiti, maka pasti dia akan menjaga jarak dengan orang tersebut, walau ia sudah memaafkannya.
Baim bangkit dari duduknya, untuk segera berpamitan pulang. "Bu, saya permisi dulu ya. Umi menunggu saya di rumah, tadi janji mau pergi ke pasar."
"Iya nak, kirim salam sama Umi ya." Ibu Ema juga sudah bangkit dari duduknya. Usai Baim mengucap salam dan pergi meninggalkan kediamannya, IBU Ema segera masuk ke kamar Aini untuk meletakkan kado itu.
"Ibu sebenarnya sedih kalau menatap Baim, pasti dia begitu terpukul dengan sikap mu beberapa bulan belakangan ini," gumam ibu sambil menyentuh kado Aini yang sudah diletakkannya di atas kasur.
* * *
Di sekolah, Aini semakin akrab dengan Bagas. Bahkan sekarang mereka sering pergi makan ke kantin berbarengan. Walau bukan hanya berdua, melainkan bersama Sara dan terkadang juga bersama Amar.
"Aini mau pesan apa? Biar aku yang pesankan," tanya Bagas saat mereka berempat sudah sampai kantin. Ya, hari ini Aini dan ketiga temannya sedang ingin makan bareng ke kantin. Tiga temannya itu yakni Sara, Amar dan tentunya Bagas.
"Pesankan punya ku dan Amar juga dong Gas," pinta Sara yang mendengar ucapan Bagas tadi.
"Minta pesankan Amar sana!" celetuk Bagas.
"Idihh.. parah! Awas ya kalau minta tolong sama aku, nggak akan ku tolong!" ancam Sara.
"Nggak akan!" timpal Bagas.
"Sudah.. Sudah..! kok jadi pada ribut. Kita kan mau makan, bukan mau ribut!" ucap Amar melerai mereka berdua.
__ADS_1
"Udah yank, biar aku yang pesankan punya kamu," lanjut Amar lagi sambil menatap ke arah Sara.
"Aku juga bisa pesan sendiri kok," sambung Aini.
"Kita duduk sini saja Ni! Biar cowok-cowok yang pesan makanannya!" titah Sara.
"Iya bener, sekarang bilang Aini mau pesan apa?" Bagas kembali bertanya.
"Ya sudah kalau dipaksa, aku bisa apa," ucap Aini pasrah.
"Aku pesan nasi soto aja deh," lanjutnya lagi.
"Oke, pesanan segera datang," sahut Bagas dan bergaya seperti seorang pelayan.
Amar sudah lebih dulu memesan makanan, karena dia pasti tahu makanan favorit sang pacar.
"Ni, ku lihat belakangan ini kau sangat dekat sama si Bagas itu. Apa kalian udah jadian?" tanya Sara saat Amar dan Bagas masih memesan makanan.
"Tidak, hanya sebatas teman biasa saja," balas Aini.
"Tapi kok aku rasa ada yang beda dari pertemanan kalian," tukas Sara.
"Itu hanya perasaan mu saja!" timpal Aini.
"Kau tidak mau ucapin selamat buatku?" lanjutnya.
"Selamat? buat apa? Jangan bilang kalau kau sudah jadian!" tukas Sara lagi.
Aini menarik pelan ujung hijab Sara bagian belakang. "Jadi kau beneran lupa kalau hari ini aku ulang tahun?" tanya Aini sedikit kesal.
"Aamiin.. eh, tapi yang terakhir jangan deh!" tolak Aini saat mendengar doa Sara yang terakhir.
"Kenapa jangan? Bukannya sekrang sudah ada calon pacar?" tanya sara menggoda. Aini hanya memasang wajah bingung. "Sekarang aku tanya lagi, kau suka nggak sama dia?"
"Maksudmu si.. " Belum lagi Aini menyambung kalimatnya, Bagas dan Amar sudah kembali dengan masing-masing membawa dua gelas di tangan mereka. Bagas dengan dua es jeruk dan Amar dengan dua es mangga.
Mereka berempat saling bercerita sambil meminum sedikit demi sedikit es yang telah di pesankan para cowok tadi sambil menunggu makanan datang.
* * *
Angkot sudah melaju menuju arah simpang rumah Aini dan Sara. Mereka memang sudah pulang dari sekolah. Setelah sampai di simpang, mereka segera menyuruh angkot itu berhenti dan membayar ongkos mereka.
"Sampai jumpa besok," ucap Aini sambil melambaikan tangan saat dirinya dan Sara berpisah menuju gang rumah mereka masing-masing dan di balas sama oleh Sara.
"Assalamu'alaikum.." Aini mengucap salam saat tiba di depan rumahnya. Namun tidak ada yang menyahutinya sama sekali. Aini sudah paham, kalau begini pasti ibu dan kedua adiknya pasti lagi tidur siang. Ia segera membuka knop pintu dan masuk ke kamarnya.
Aini mengernyit heran saat telah masuk ke dalam kamar. "Kado siapa ini?" gumamnya, lalu ia melihat tulisan di atas kertas kado itu. "Untuk gadis manis yang lagi berulang tahun, semoga berkah umur dan rezekinya, serta selalu diberi kesehatan dan tercapai semua cita, Baim," ucapnya dalam hati dan mendapati nama Baim di pojok kanan bawah kertas itu.
Aini meletakkan tasnya di atas tempat tidur di sebelah kado itu. Ia membiarkan kado itu tergeletak di tempatnya dan langsung mengganti seragam sekolahnya. Sehabis itu ia pergi ke dapur untuk segera makan siang.
"Kak, di kamar kok ada kado besar? punya siapa kak?" tanya si bungsu yang baru pulang bermain dan melihat Aini sedang asyik mengunyah makanannya.
"Baca aja kertas di atasnya kalau penasaran!" Aini merasa enggan menyebutkan nama Baim, jadi ia menyuruh si bungsu untuk membacanya sendiri. Si bungsu yang memang begitu penasaran berlari lagi menuju kamar untuk mengetahuinya.
__ADS_1
"Oh, kado kakak dari bang Baim rupanya," ujar Tia saat kembali ke dapur.
Aini hanya mengangguk. "Adek udah makan? sini kakak suapin," ajaknya pada si bungsu.
"Udah tadi sama ibu, adek mau tidur sekarang. Kakak jangan habiskan makanannya ya, adek nanti bangun tidur mau makan lagi!" pinta si bungsu.
"Iya, emang kakak habis tidak makan seminggu sampai akan menghabiskan semua makanan ini?" balasnya dengan menggelengkan kepala. "Ada-ada saja adiknya ini," pikirnya.
"Ya, kali aja kakak kelaparan, jadi lupa untuk menyisakan makanan itu buat adek," sahut Tia.
"Ya sudah, segera tidur sana! nanti kalau ibu bangun dan mendapati adek belum juga tidur, pasti adek kena marah!"
"Iya, ini adek juga mau tidur!" Tia sudah kembali ke kamar untuk segera tidur siang, dan di kamar sudah ada Iva yang memang sudah tidur dari tadi.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka kembali, Aini pikir itu si bungsu yang kembali lagi karena belum bisa tidur.
"Kakak sudah pulang?" tanya Ibu saat sudah sampai di dapur. Ternyata yang membuka pintu tadi ibu Ema, bukan Tia si bungsu.
"Sudah bu, ini juga sudah selesai makan," sahut Aini.
Ibu duduk di sebelah Aini dan meneguk segelas air putih. "Oh ya kak, tadi Baim datang dan memberikan kado buat kakak. Apa kakak sudah melihatnya?" tanya Ibu.
"Sudah bu," jawab Aini singkat.
"Apa isinya?" tanya Ibu yang mau tahu.
Aini mengangkat kedua bahunya. "Ya nggak tahu."
"Tapi katanya sudah di lihat, kenapa tidak tahu isinya?"
"Cuma lihat tulisan dari atasnya doang, isinya belum lihat," sahutnya malas.
Ibu ber Oh ria. "Nanti kalau sudah di buka, beritahu ibu ya, apa isinya," pinta ibu yang lagi kepo. Aini hanya melirik sekilas ke arah Ibu yang sudah beranjak pergi ke kamarnya lagi.
.
.
.
.
.
tbc
_____________
Like
Vote
Oh iya, mau tanya. Untuk Cover baru novelnya cocok gak ya? Atau lebih cocok yang lama?
__ADS_1
KOMEN YA😊♥️🙏💪