
Sederetan nama di daftar kontak bang Baim saat Una melihatnya. Ia berhenti saat mendapati nama yang menurutnya lain dari yang lain.
"Gadis Kecil?" gumamnya.
"Una.. siapa yang menelpon?" teriak umi dari arah dapur. Umi sedikit curiga karena Una tak kunjung kembali setelah umi menyuruhnya mengangkat panggilan masuk dari handphone Baim.
"Tidak tahu mi.." jawabnya, kemudian ia meletakkan kembali handphone Baim di atas meja dan berlalu pergi menemui umi di dapur.
"Lama sekali kamu di depan? siapa tadi yang menghubungi Baim?" tanya umi kembali setelah Una menghampirinya.
"Iya maaf mi, tadi Una menunggu nomor itu menelpon kembali, tapi tidak ada lagi panggilan berikutnya. Una lihat tadi hanya nomor asing yang tidak memiliki nama, saat Una mau mengangkat telponnya ternyata panggilan sudah berakhir," jelas Una yang sedikit berbohong. Padahal tadi ia lama karena mengecek sederetan kontak di handphone bang Baim.
"Oh, begitu.. ya biarkan saja, nanti kalau perlu pasti menelpon kembali," sahut Umi yang percaya dengan alasan yang diberikan Una.
Una kembali membantu umi memotong wortel untuk bahan membuat kue umi. "Aku harus mencari tahu siapa yang dimaksud gadis kecil itu," batinnya.
"Kalau boleh tahu, nak Una tinggal dimana?" tanya Umi memecah keheningan.
"Una tinggal di kampung yang dulu bang Baim tinggal mi," jawabnya.
"Oh, jadi kalian dulu satu kampung?" tanya umi kembali.
"Iya mi.."
Una menggigit ujung kukunya. "Mi, Una boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, emang mau tanya apa?" jawab Umi.
"Bang Baim uda punya pacar belum?" tanyanya mulai menyelidik.
"Pacar belum, cuma ada yang lagi dekat," jawab Umi dengan jujur.
"Oh.. orang mana mi? Uda tamat kuliah? atau sudah bekerja?" Una benar-benar penasaran.
"Satu-satu dong kalau mau bertanya," sahut Umi sedikit terkekeh.
"Eh, iya maaf mi.." jawab Una kikuk.
"Gadis itu tinggal di sekitar kampung sini, dia belum tamat kuliah seperti yang kamu pikirkan, bahkan dia belum bekerja," tutur Umi menjelaskan.
"Lantas, apa gadis itu masih kuliah dan berstatus mahasiswa mi?" tanya Una kembali.
"Tidak... Gadis itu masih pelajar.." jawab Umi enteng.
"Oh.. hanya seorang pelajar," batinnya.
"Pelajar SMA mi?"
Umi tampak berpikir. "Hmmm... hampir," jawabnya.
"Maksud Umi hampir apa?" tanyanya mengulang jawaban umi.
"Belum SMA tapi hampir, karena kalau tidak salah dia masih SMP tingkat 3, berarti bentar lagi akan jadi pelajar SMA kan?" jelas umi.
"Astaga.. Bang Baim segitu frustasinya berpisah dariku, sampai dia ingin main-main dengan pelajar SMP?" pikir Una sambil menepuk dahinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa nak? Kepalamu pusing? Kok di tepuk-tepuk seperti itu?" tanya Umi keheranan melihat tingkah Una.
"Tidak mi, tadi sedikit terasa sakit, mungkin ada nyamuk, jadi Una pukul," ucapnya dengan berbohong.
"Kalau sudah siap memotong wortelnya, tolong simpankan di dalam lemari pendingin ya nak," ujar Umi dan beranjak berdiri ingin menyalakan kompor.
"Iya mi.."
"Eh, umi mau masak apa?" tanyanya yang melihat umi menyalakan kompor.
"Mau masak sambal terasi," kata umi.
"Oh, boleh Una yang memasaknya mi?" pintanya. Ia tahu bahwa sambal terasi adalah makanan kesukaan bang Baim, pikirnya dengan ia yang memasak sambal itu, Bang Baim akan kembali baper mengingat kisah mereka dulu dan lambat laun mungkin ia masih punya peluang untuk kembali bersatu dengan bang Baim.
"Memang kamu bisa?" tanya umi tidak yakin.
"Kalau di lihat dari penampilannya yang modis, sepertinya Una bukan tipe wanita yang hobi memasak di dapur, tapi penampilan juga tidak bisa menggambarkan sesuatu," batinnya.
"Bisa dong mi.. Una dulu sering memasak sambal ini untuk bang Baim, jadi Una pasti tahu cara membuatnya dengan rasa yang pas di lidah bang Baim," tutur Una dengan bangganya.
"Baiklah kalau kamu memang bisa, silahkan kamu yang memasak, umi mau menyiangi ikan ini dulu," kata umi sambil menunjuk ikan yang hendak dibersihkannya.
"Siip deh mi," ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.
Cukup lama Umi dan Una memasak di dapur, kini semua masakan telah selesai dihidangkan di meja makan. Semua makanan yang tadi di masak, akan menjadi menu makan malam mereka hari ini.
Baim tadi juga sudah kembali ke rumah, namun ia langsung masuk ke kamar karena tahu bahwa Una masih berada di rumah umi. Abi dan Fahri juga sudah pulang bekerja. Fahmi yang memang masih menganggur sedari tadi asyik main game di kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat seperempat, sebentar lagi akan masuk waktu maghrib.
"Iya mi, ini Baim lagi ganti baju," sahutnya dari dalam kamar.
Tak lama ia keluar dengan menggunakan baju koko berwarna krem dan sarung bermotif kotak-kotak hijau dan krem serta peci yang berwarna hitam menambah ketampanannya sebagai pria muslim.
"Loh, kamu tadi sudah mandi im?" tanya umi yang melihat Baim sudah rapi dengan pakaiannya.
"Sudah mi, tadi umi lagi masuk ke kamar waktu Abi pulang, jadi umi tidak lihat Baim masuk ke kamar mandi," jelas Baim.
Umi ber Oh ria. "Umi pikir kamu masih tidur."
"Tidak la mi, nanti kalau Baim tidur, siapa yang akan mengumandangkan azan?"
"Kan ada wak dolah.. " sahut Umi sambil terkekeh.
"Ihh, Umi nggak boleh mengejek orang, dosa lho mi.." sambung Baim.
Wak dolah memang sering azan di masjid, tapi karena usianya sudah cukup tua, jadi suaranya sedikit parau dan nafasnya sering teputus-putus, hingga siapa saja yang mendengar azannya malah menjadi lucu dan kasihan juga.
"Astaghfirullah.. Umi nggak ada ngejek kok, umi cuma sedikit lucu saja bila mendengar suaranya," kata umi lagi.
"Sudah.. sudah mi.. Tidak baik membicarakan orang lain, kalau begitu Baim pergi dulu ya.. assalamu'alaikum..," ucap Baim sebelum benar-benar pergi.
"Wa'alaikumsalam..."
**********
__ADS_1
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Makan malam kali ini ada yang berbeda, karena biasanya hanya umi satu-satunya wanita yang ada di antara empat pria itu, tapi kini ada satu wanita lagi yang bagi Baim hanya wanita yang tak dianggap.
Masing-masing orang sudah mengambil nasi dan lauk-pauknya, umi juga sudah mengambilkan nasi untuk suami tercintanya yakni Abi.
Una mencoba mengikuti Umi untuk mengambilkan nasi juga untuk bang Baim tapi ternyata Baim sudah mengambilnya sendiri.
"Gimana, masakan kali ini? enak nggak?" tanya umi disela-sela makan mereka.
"Enak kok mi, sambal terasinya juga enak, tapi sepertinya rasanya sedikit berbeda dari yang biasa," sahut Fahmi si bungsu keluarga ini.
"Ya jelas beda la, yang buat sambal terasinya kan nak Una," jawab umi yang melirik ke arah Una.
Uhukk.. uhukk.. uhukk..
Baim tersedak saat mendengar penuturan umi. Tadinya ia juga merasa ada yang lain dari sambal terasi umi, ternyata itu sambal buatan Una. Tahu gitu dia pasti tidak akan memakannya.
"Ini diminum dulu," kata Una yang sudah mengambilkan air untuk Baim.
Tadinya Baim juga ingin menolak, tapi karena tenggorokannya sudah terasa sakit, ia terima saja air minum itu.
"Mau kemana kamu im?" tanya umi yang melihat Baim berdiri dari tempatnya.
"Mau ke kamar mi, Baim uda selesai makannya," jawabnya malas.
"Uda siap bagaimana? itu makanan kamu masih tersisa banyak di piring," kata umi lagi.
"Iya, biasa bang Baim makannya banyak kalau pakai sambal terasi," timpal Fahri.
"Lagi nggak nafsu makan!" ketus pria itu, kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
"Maafkan Baim ya Una.. mungkin dia lagi kurang enak badan," kata Abi yang ikut membela Baim. Abi tahu dari Umi kalau Una dulunya pacar Baim dan mungkin saat ini ingin kembali, tapi Baim sudah tidak mau. Jadi Abi pikir wajar saja Baim bertingkah laku tidak sopan seperti itu, hanya untuk menghindari wanita ini. Padahal biasanya, Baim orang yang sangat menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama, apalagi di depan orangtua.
.
.
.
.
.
tbc
____________
votenya mana?
nggak ada yang ngasih
sedih aku tuh😭😭
like juga nggak ada
komen apalagi?
__ADS_1
ngarep banget ya thor??🤦♀️🤦♀️