Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Jauhi Dia


__ADS_3

Aini menepuk tangannya di depan wajah Alfi. "Hei.. ayo kita ikut ambil sertifikat, biar kita cepat pulang.


Seketika lamunan Alfi buyar. "I.. iya.. ayo..!"


Mereka kembali ke kelas dan tidak mendapati siapa pun di sana. Semua murid sudah pulang karena memang sudah jam pulang sekolah.


"Yah.. Sara mana ni? Kok aku ditinggal," ucap Aini saat memasuki kelas mereka.


"Uda, tenang aja.. pulang bareng aku kan bisa," goda Alfi.


Aini melirik ke arah Alfi yang sedang mengambil tasnya. "Itu sih namanya ngarep!"


"Siapa yang ngarep, aku kan cuma nawarin aja. Kalau Aini takut pulang sendiri ya biar Alfi anterin," sahutnya selembut mungkin.


"Makasih ya.. aku sih masi waras untuk tidak membuat ayah ibuku marah!" kata Aini yang sudah menyandang tasnya.


"Emang ayah ibumu kalau marah seserem apa sih?" tanya Alfi yang ingin tahu.


"Ngeri la pokoknya, ngalah-ngalahin buaya makan anak kambing!" ucapnya bercanda.


"Waduh.. serem banget.. takut deh kalau gitu." Alfi bergidik ngeri mendengarnya.


Aini tertawa kecil. "Percaya amat, orang bercanda juga."


"Oh kirain beneran," Alfi ikut tertawa.


"Eh, aku duluan ya, mau kejar Sara, siapa tahu dia masi nunggu di halte depan," pamit Aini mendahului Alfi.


"Oke.." jawabnya.


******


Aini tampak terengah-engah karena memang iya berlari menuruni anak tangga dan menuju gerbang sekolah. Dari depan sana ia dapat melihat Sara yang masih menunggu angkot di halte bis depan sekolah.


"Huuss.. selamat.. untung aja Sara belum pulang," kata gadis itu sembari berjalan menghampiri Sara.


"Belum pulang Ra?" katanya setelah sampai di hadapan Sara dan Amar.


"Belum lah.. kan nungguin kau.." balasnya sambil tersenyum ke arah Amar.


"Nungguin aku.. apa nungguin Amar?" cibir Aini.


Sara tertawa kecil. "Ya dua-duanya.. kan ibarat pepatah sambil menyelam minum air."


"Kebanyakan minum air, kembung tu perut yang ada." Aini tertawa lepas.


"Uda sana pulang Mar! Aini uda datang, kami juga akan segera pulang," usir Sara pada kekasihnya itu.


"Ya ampun.. kasian sekali Amar, cuma dibutuhkan untuk menemanimu di saat menunggu ku doang," sindir Aini, kemudian ia duduk sambil menunggu angkot datang.


"Iya Sara ni.. tega banget sama aku," jawab Amar memelas.


"Ulu.. Ulu.. sedihnya pacar aku.. maaf ya, aku mau pulang sama Aini, besok kita jumpa lagi.. bye!" Sara sedikit mendorong punggung Amar agar segera pergi dan meninggalkan mereka.

__ADS_1


hiks.. hiks.. hiks


Amar pura-pura bersedih. "Baiklah.. kalau aku sudah tidak dibutuhkan."


Aini dan Sara tertawa lepas melihat kepergian Amar. "Ada-ada saja kekasihmu itu," ucap Aini.


*******


Aini sudah tiba di rumah, ia juga sudah mengganti seragam sekolahnya. Saat hendak membuka pintu kamarnya, handphone berdering. Ia berbalik dan berjalan menuju nakas tempatnya menaruh handphone. Belum Aini menjawab panggilan masuk itu, panggilannya sudah berakhir. Lagi, nomor yang tak ia kenal tertera di layar handphonenya. Ia meletakkan benda pipih itu lagi dan melanjutkan niatnya untuk segera menuju dapur, karena perutnya minta segera diisi oleh makanan-makanan terlezat yang sudah disiapkan ibunya.


Ibu keluar dari kamarnya. "Kak, tolong suapin si bungsu, tadi ibu suruh makan ia belum mau," kata ibu dan pergi meninggalkan Aini kembali.


Aini segera menghabiskan makannya dan mengambil sepiring nasi lagi buat si bungsu. "Tia.. Tia.. ayo makan, ini sudah kakak ambilkan makanannya," teriak Aini mencari si bungsu yang ntah dimana keberadaannya.


"Iya kak.." Si bungsu datang dari arah rumah sebelah. Mungkin ia baru pulang bermain dengan anak tetangga.


"Ada apa kak, tumben teriak-teriak," kata si bungsu setelah sampai di depan rumah dan melihat kakaknya itu membawa sepiring nasi.


"Sini duduk, biar kakak suapin!" titah Aini pada adiknya.


"Malas ah kak, adik nggak selera makan," tolaknya sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Kakak janji, nanti kalau mau makan kita main boneka sama-sama," bujuk Aini agar adiknya mau makan.


"Tapi adik maunya main masak-masakan," pinta si bungsu.


"Iya.. nanti kakak temani adik main apapun," jawab Aini pasrah.


"Yee... asyiik... Yaudah, mana makanannya?" tanya si bungsu kegirangan.


"Di suapin aja deh," sahutnya.


"Ya sudah.. buka mulutnya.. aaaakk," Aini mencontohkan dengan membuka mulutnya juga.


Si bungsu makan dengan lahapnya. Sampai semua makanan dipiring sudah habis kemudian ia minum. Dilanjutkan dengan bermain masak-masakan yang tadi dia janjikan dengan sang kakak.


"Kak, hari ini kita belajar masak tumis kangkung ya.." pinta si bungsu.


"Oke.. sekarang adik ambilkan dedaunan di depan sana sebagai sayur kangkungnya," titah Aini pada adiknya. Si bungsu segera pergi mengambil beberapa lembar daun untuk bermain masak-masakan.


"Ini kak.." katanya menyerahkan dedaunan yang sudah di genggamnya.


Aini berpura-pura memasukkan daun-daun itu ke dalam wajan mainan milik adiknya dan mengaduknya seakan benar-benar memasak. "Sudah selesai.."


"Ah, cepat sekali kak, biasanya ibu kalau masak ada di potong-potong cabai, bawang, tomat trus apa lagi ya," si bungsu menjelaskan sambil berpikir.


"Iya.. ini kan hanya mainan dik.. mana mungkin kita pakai semua bahan itu. Adik mau ibu marah gara-gara kita pakai cabai, bawang dan tomat untuk mainan ini?" tanya Aini pada si bungsu.


Si bungsu nyengir kuda. "Eh, iya ya kak, bisa ngamuk ibu ntar."


"Uda selesaikan masakannya, kakak masuk dulu." Aini hendak masuk ke dalam rumah.


"Loh, kok udahan? kan baru mulai kak.." rengek si bungsu.

__ADS_1


"Udah.. udah.. kakak mau mengerjakan PR, jadi adik lanjutin mainnya sendiri dulu ya," jawab Aini dan berlalu pergi meninggalkan si bungsu.


"Isshh.. kakak.....!!" gerutu Tia si bungsu.


Aini segera berlari agar tidak kena amukan si bungsu. Setelah mencuci piring bekas makannya dan si bungsu tadi, Aini masuk kembali ke kamarnya. Ia memeriksa buku pelajaran yang akan dibawanya besok. Ternyata tidak ada tugas yang harus ia selesaikan. Tak lama terdengar dering handphonenya kembali di atas nakas.


"Bang Baim," bacanya dalam hati. Ia segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.


Assalamu'alaikum..


Tidak ada sahutan dari telepon itu.


Hallo.. bang..


Masi hening juga.


"Ihh.. ngapain nelpon sih kalau nggak mau ngomong!" gerutu Aini dalam hati.


Iya hallo..


Terdengar sahutan dari telepon, tapi bukan suara bang Baim.


Siapa ini?


Aini bertanya-tanya, karena terdengar suara seorang wanita diseberang sana, dan ia tahu betul itu bukan suara umi.


Saya pacar bang Baim.. tolong kamu jauhi dia


duarrrr...!! seperti sambaran petir di siang bolong, kata-kata yang terdengar dari seberang telepon seketika membuat Aini mematung.


.


.


.


.


.


tbc


____________


*duarr..


duarr*..


duarr..


Boom like


Boom vote

__ADS_1


Boom komen dong๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


__ADS_2