
Teeettt... teeettttt.. teeetttt...
Bel sekolah berbunyi menandakan waktunya istirahat. Semua siswa berhamburan menuju kantin dan meramaikan toilet untuk sekedar buang hajat. hehehe
"Ni, temani aku ke kelas Amar yookk.." ajak Sara kepada Aini yang akan berdiri dari bangkunya itu.
"Mau ngapain? Aku laper, pengen ke kantin," jawab Aini ogah-ogahan.
"Isshh.. bentar aja.. habis tu janji kita langsung ke kantin," sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Hmmm... yaudah ayoo.. jangan lama-lama ya..!" pinta Aini.
"Oke boss..." kata Sara lagi.
Setelah keluar dari kelas mereka, sekarang mereka telah sampai di kelas 8b, yakni kelas Amar. Sara sudah mendatangi Amar, ternyata dari percakapan yang Aini dengar, nanti sepulang sekolah Sara mau kencan dengannya. Bukan kencan-kencan romantis kayak yang ada di novel-novel itu ya. Hanya sekedar jalan bareng makan siang berdua aja. Eh, tapi tunggu, tadi Aini dengar nama dia di sebut-sebut. What???
"Kenalin Mar, ini teman aku Aini namanya," kata Sara mengenalkan Aini ke Amar. Padahal dari tadi mereka sudah mengobrol panjang lebar, tetapi Sara baru memperkenalkannya, pasti dia hampir lupa kalau kemari bersama Aini. Ckk
Amar mengulurkan tangan hendak berkenalan namun Aini menolaknya. "Haii.. aku Aini," katanya sambil mengatupkan kedua tangannya seperti meminta maaf karena tak ingin bersentuhan tangan.
Amar tersenyum menandakan mengerti keinginan Aini. "Aku Amar."
"Ni, ntar siang temani aku ya," ucap Sara kembali.
"Kemana?" tanya Aini keheranan, karena tadi dia dengar Sara mau pergi dengan Amar, tapi kenapa Sara mau mengajak Aini juga.
"Aku mau makan siang di cafe dekat ujung jalan depan sekolah sama Amar, karena ini kencan pertama ku, jadi aku mau mengajakmu. Hitung-hitung aku traktir karena uda jadian sama Amar," Sara tertawa kecil mengatakannya.
Aini berdehem memikirkan sesuatu. Ternyata ini alasan mengapa nama ia tadi disebut-sebut Sara. Kalau ia ikut, maka dia jadi orang ketiga diantara mereka, nanti dia dong yang dikira jadi setannya, atau kalau dia ikut dia akan jadi penyelamat mereka dari godaan setan?
"Tapi lumayan juga makan siang gratis, jarang-jarang bisa makan di cafe," gumamnya.
"Oke.. aku mau..," jawabnya kemudian.
Ada sepasang mata yang memperhatikan perbincangan mereka bertiga. Kalian nggak lupa kan kalau Amar sekelas dengan Hairul. Tentu yang memperhatikan itu ialah Hairul. Entah apa yang ada dalam pikirannya, padahal jelas-jelas ia sudah ditolak Aini, tapi dia masi menaruh rasa terhadapnya.
"Bu.. es jeruk satu," teriak Aini kepada penjaga kantin.
Iya, kini Aini dan Sara telah sampai di kantin tempat mereka mengisi perut kosong mereka.
"Aku es rasa mangga ya bu," kata Sara.
__ADS_1
"Ni.." kini Sara menatap ke arah Aini.
"Hmm.." sambil berdiri mengambil sendok dan garpu untuk menyantap mie ayam yang sudah tersedia di mejanya.
"Kau tadi nggak lihat si Hairul?" tanya Sara.
"Nggak.. malas juga tuh," kata Aini cuek.
"Dia lihatin kau terus tau.. aku rasa walau pun kau tolak cintanya, dia masi suka deh sama mu," Sara mengaduk-aduk minuman yang baru diantar penjaga kantin.
"Ya... biarin sih... Semua manusia berhak jatuh cinta.. Tapi tak berhak memaksakan cintanya harus berbalas pula kan?" kata Aini lagi.
"Ia sih.. cuma kalau lihat tatapannya tadi, kok aku jadi takut ya.." sambil bergidik ngeri.
"Takut kenapa sih? kayak lihat hantu aja," jawab Aini sekenanya sambil menyantap makanan favoritnya itu.
"Bukan gitu.. tapi tatapannya seperti berbeda dari tatapan Amar kepadaku.. Kalau Amar tatapannya menyejukkan kalau dia menyeramkan," kata Sara sambil tertawa.
Aini ikut tertawa. "Ada-ada saja, dasar bucin(budak cinta). Uda cepat habiskan makananmu, aku uda selesai, biar kita segera kembali ke kelas.
Mereka sudah berjalan beriringan menuju kelas. Sara melihat-lihat ke depan kelas Amar, berharap Amar juga melihatnya saat melintasi depan kelasnya.
Aini yang memperhatikan gerak-gerik Sara jadi lucu sendiri. "Begini rupanya kalau orang jatuh cinta," batinnya.
"Ibu akan menjelaskan tentang materi kita hari ini. tolong disimak baik-baik, ibu akan bacakan sebuah hadis"
لا يخلون أحدكم بالمرأة إلا مع ذي محرم. (متفق عليه)
"Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian berdua-duaan dengan perempuan kecuali bersama mahramnya."(Muttafaq 'Alaihi)
Anak-anakku sekalian, zaman sekarang ini banyak sekali orang yang tidak takut terhadap larangan-larangan agama. Terutama terkait dengan hadis yang baru ibu sampaikan tadi. Apalagi seperti kalian ini, anak remaja yang sedang mengalami masa puber. Ingin mengenal lawan jenis, bersenang-senang, tidak suka aturan dan ingin bebas. Itu semua tidak bisa dicegah kalau bukan dari diri kita sendiri.
Ibu tahu, masa-masa seperti kalian ini ialah masa pencarian jati diri. Ibu berpesan kepada kalian semua, agar menghindari berdua-duaan dengan lawan jenis ya nak, karena kita nggak tahu setan bakal menggoda kita dengan cara apa.Jangan sampai kalian menyerahkan mahkota berharga kalian pada lelaki yang tidak sepantasnya. Karena sesungguhnya itu harus kalian berikan kepada suami sah kalian nantinya.
Begitu penjelasan guru Agama yang mengisi pembelajaran di jam-jam akhir di hari ini.
"Ternyata benar kata ayah," pikir Aini saat guru tadi menjelaskan tentang suatu hadis. Aini ingat betul pesan ayah Broto yang melarangnya berdua-duaan dengan lawan jenis. Bersyukurnya dia bersekolah di tempat yang berbasis islam, jadi tiap hari selalu ada saja nasihat-nasihat keagamaan yang di dengar nya dari para guru.
Bel pulang telah berbunyi. Kini Aini mengekori Sara menunggu Amar di depan gerbang sekolah.
"Ra, kau nggak ingat kata bu guru tadi?" tanya Aini memecah keheningan, karena dari tadi Sara sibuk merapikan hijabnya yang di mata Aini sudah sangat rapi itu.
__ADS_1
"Ingat kok," sahutnya singkat.
"Terus? kok nggak di batalin aja kencannya?" tanya Aini lagi.
"Dengar Aini sayang... kata bu guru itu kita tidak boleh berduaan, tetapi aku kan ngajak kau, berarti kita bertiga dong ya," tangan Sara mengusap lengan Aini lembut.
"Dasar!! pandai sekali kau kalau mencari alasan, pantas saja kau sengaja mengajakku," celetuk Aini.
Tak lama Amar datang dan mereka berjalan kaki menuju cafe karena memang tidak begitu jauh dari sekolah. Ternyata bukan hanya mereka yang ada di sana, banyak murid-murid Tsanawiyah(Nama lain untuk SMP berbasis islam di kota Medan) yang tak lain teman-teman mereka juga meramaikan tempat itu.
Kini mereka tengah duduk di pojok kanan cafe dekat kaca transparan sebagai pembatas cafe dan area parkir agar dapat melihat suasana di luar cafe.
Amar memesankan makanan dan minuman untuk mereka bertiga sebelum akhirnya ikut bergabung dan duduk bersama. Sara dan Amar sibuk dengan dunia mereka. Tak habis-habisnya mereka tertawa riang dan saling tatap-tatapan layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mereka melupakan Aini yang duduk di dekat mereka. Aini hanya bisa pasrah dengan keadaan.. "Biarlah aku jadi kambing congek, dari pada membiarkan sahabatku kencan berduaan dengan si Amar yang jelas-jelas dilarang agama,"batinnya.
.
.
.
.
.
tbc
___________
Pada tau kan ya kambing congek???
komen dong readers..
pengen tau pendapat kalian tentang karya ku
bagus nggak sih??
kok aku jadi ragu ya..
Visual Amar
__ADS_1
Sara dan Amar