Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Salah Apa?


__ADS_3

"Tidak apa-apa bu, saya hanya mengantar makanan dari Umi saja," sahutnya. Padahal dari raut wajahnya tampak ia merasa kecewa.


"Sayang sekali dia lagi tidur, padahal aku sangat ingin bertemu dengannya," batinnya.


Sekitar setengah jam yang lalu, Baim melihat jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah Aini. Baim masih penasaran kenapa semalam gadis itu tidak mau menjawab teleponnya. Ia harus cari cara bagaimana bisa bertemu dengannya. Akhirnya dia meminta makanan yang sudah di masak umi untuk sebagian diberikan kepada Aini.


Itu sebabnya ia berada di rumah Aini saat ini. "Kalau begitu, saya permisi pulang ya bu," pamitnya pada ibu Ema.


"Iya nak, kirim salam sama umi ya," ujar ibu.


Baim menganggukkan kepala. "Iya bu."


* *


Baim meneguk segelas air saat dirinya berada di dapur rumah umi. Umi yang masih sibuk dengan adonan kue nya memperhatikan sekilas raut wajah Baim yang kusut itu.


"Kamu kenapa Im?" tanya umi.


Baim diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Biasanya kalau dari rumah Aini wajahmu sumringah gitu, tapi sekarang kok malah cemberut?" tanya umi lagi.


"Bagaimana tidak cemberut mi, ketemu juga enggak!" jawabnya dengan kesal.


"Kenapa bisa tidak ketemu? Emang dia belum pulang sekolah?" Umi yang penasaran sejenak menghentikan aktivitasnya mengadon kue.


"Udah mi.. tapi dia tidur, " sahutnya lemas.


"Ohhh..." Umi melanjutkan aktivitasnya kembali.


"Ya ampun.. cuma Oh doang jawabnya mi? nggak tau apa kalau anaknya udah nahan rindu setengah mati," gumamnya.


"Apa? Ngomong apa kamu barusan Im?" tanya Umi yang tidak mendengar ucapan Baim yang begitu lirih.


"Tidak.. Tidak mengapa mi.. Baim cuma pengen ke kamar aja!"


"Ya sudah ke kamar sana! Umi juga masih sibuk sama adonan kue umi. Umi nggak mau ya, kalau kue umi nantinya jadi nggak enak gara-gara kamu tularin hawa-hawa sedih di sini," ledek umi yang melihat Baim memasang wajah murung.


"Emang bisa gitu ya mi, kue jadi nggak enak gara-gara ketularan hawa sedih orang disekitarnya?" tanya Baim polos.


"Ya bisa la!" Umi menutup mulut menahan tawanya.


"Umi kenapa tutup mulut? Baim kok jadi curiga, jangan-jangan Umi bohongi Baim ya?" ucap Baim yang mulai sadar telah dibohongi.


"Kamu sih, uda tua juga gampang banget dibohongi." Umi tertawa lepas karena tidak bisa lagi menahannya, terlebih melihat ekspresi wajah Baim yang begitu lucu seperti anak kucing yang dikerjain majikannya saat memberi makanan tapi hanya digantungkan di udara.

__ADS_1


"Tau ah! Baim lagi galau gini malah umi ngerjain Baim." Pria itu bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan umi di dapur.


"Mau kemana Im?" tanya umi.


"Mau tidur, malas di dapur! Terus-terusan di kerjain umi!" kesal Baim.


"Mulai deh lebaynya!" gumam Umi.


Baim yang tidak mendengar perkataan umi berlalu begitu saja untuk terus melangkahkan kaki menuju kamarnya.


* *


"Lapar juga," ucap Aini lirih. Gadis itu masih berada di atas ranjangnya. Sejak pulang sekolah tadi ia belum memakan apapun karena harus berpura-pura tidur saat Baim datang.


"Kakak sudah bangun? Bukannya seharusnya baru tidur ya?" tanya Ibu saat mendapati Aini berada di dapur.


"Iya bu, kakak lapar, jadi nggak tenang tidurnya," ujarnya dengan jujur. Walau sebetulnya ia tidak benar-benar tidur tadinya.


"Ya sudah makan gi, tadi Baim datang bawain makanan juga!" Ibu sudah membuka tudung saji untuk memperlihatkan hidangan apa saja yang ada di meja.


"Wihh.. enak ni bu, ayam goreng," ucap Aini.


"Iya, itu yang tadi di bawa Baim. Kakak tumben pulang sekolah langsung tidur, biasa begitu ganti baju langsung makan?" tanya Ibu yang memang tau kebiasaan anaknya itu.


"Pusing lagi? Jadi sekarang bagaimana?" tanya Ibu mulai panik, karena memang Aini sangat sering merasa pusing saat tekanan darah rendah menyerangnya.


"Sekarang sudah tidak apa-apa bu," sahutnya lirih. Merasa bersalah juga sudah membuat ibunya panik karena kebohongannya.


"Alhamdulillah.. syukurlah.. Kalau begitu Ibu mau lanjut tidur siang, kakak lanjutin makannya ya, ibu tinggal dulu," ucap ibu dan sudah beranjak pergi meninggalkan Aini.


Aini mengelus dada. "Syukur deh, ibu nggak curiga kalau aku berbohong." Ia pun melanjutkan makannya sendirian di dapur sambil memikirkan sesuatu.


"Bang Baim udah dicuekin juga kok masih perhatian aja ya?" tanyanya dalam hati. Apa dia sudah tak cinta lagi dengan pacarnya itu? Atau dia ingin mendua hati? Ah, laki-laki bisanya hanya menyakiti hati wanita saja!" batinnya lagi.


Sore hari saat Aini usai melaksanakan sholat ashar, ia memainkan handphonenya untuk sekedar berselancar di dunia maya. Tak lama handphonenya berdering dan menampilkan nama bang Baim di layarnya. Lagi, Aini segera menggeser tombol merah untuk mengakhiri panggilan itu. Bahkan setelahnya, gadis itu memblokir nomor bang Baim agar tidak dapat menghubunginya lagi.


"Maaf bang, Aini terpaksa memblokir nomor abang, agar abang tidak menggangguku lagi," gumamnya, dan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Ya Allah.. kenapa sesedih ini cuma karena ingin menjauhinya. Bukannya aku sering bilang pada diriku sendiri kalau dia bukan siapa-siapa aku, lalu kenapa untuk menjauhinya terasa menyesakkan dada," ucapnya sambil memegang dadanya.


* *


Baim yang baru terjaga dari tidur siangnya melihat jam sudah menunjukkan waktu ashar, ia pun segera menunaikan kewajibannya itu. Setelah sholat, ia segera mengambil handphone nya untuk menghubungi gadis kecilnya.

__ADS_1


tuuuttt...


Nada panggilan tersambung ke nomor gadis kecil, namun tidak di jawab, bahkan setelah beberapa kali terdengar nada sambungan malah tertera di layar bahwa panggilan berakhir.


"Aini kenapa ya? Panggilanku kok di reject lagi," gumamnya.


"Apa aku ada salah ya? Tapi kemarin kami masih baik-baik saja. Eh, tapi tunggu, kemarin waktu aku bertemu dengannya di warung, dia sudah mulai menampakkan gelagat aneh, dia tidak menoleh saat ku bunyikan klakson untuk menegurnya," ucap Baim dengan dirinya sendiri.


Baim mengingat-ingat kejadian kemarin. Dari mulai pagi ia bangun sampai menjelang tidur malam apa saja yang ia lakukan, siapa tau dengan begitu ia bisa mendapat petunjuk tentang kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga ia merasa di jauhi oleh gadis kecilnya.


.


.


.


.


.


tbc


_____________


Maaf baru update nak-anak


mamak abis paket🤭🤭


semoga hari ini bisa up 2 episode ya


kalau lagi gak sibuk dan pikirannya jernih


tolong di bantu yak


like


vote


komen


yang banyakkkk🙏😊


buat yang belum menambahkan novel ini di daftar favorit kalian, bisa di klik tombol hati♥️😊

__ADS_1


__ADS_2