
"Tapi masalahnya bukan hanya itu. Ada hal lain yang buat aku tidak semudah itu mengambil keputusan," tutur Aini.
"Maksudnya? Hal lain apa?" tanya Sara dan kembali menutup buku yang baru saja dipegangnya.
"Kau ingat bang Baim yang pernah aku ceritain itu 'kan?" Sara menganggukkan kepala mendengar ucapan Aini. "Dia juga sudah menyatakan perasaannya kepadaku, sepertinya dia sangat serius," lanjut Aini.
"Whatt??" Sara begitu terkejut mendengar pengakuan Aini yang selama ini ditutup rapat olehnya. "Sejak kapan?" lanjut Sara.
"Biasa aja dong kagetnya. Sakit tau telingaku mendengar suara cemprengmu!" celetuk Aini. "Dia nyatain perasaannya lewat surat, sekitar satu atau dua bulan lalu 'lah," lanjut Aini.
"Surat? ah, gak jentel dia tuh!" cibir Sara.
"Kau tidak tahu permasalahannya, intinya dia tidak seperti itu!" Aini seakan tidak terima jika Baim dikatakan tidak jentel.
"Sepertinya kau menyukainya?" tukas Sara, lalu ia mengambil segelas minuman yang sempat ia buatkan untuk dirinya dan Aini tadi.
"Entah 'lah, aku juga bingung dengan perasaanku. Aku akui kalau aku ada rasa sama bang Baim, cuma merasa nggak pantas aja gitu. Kalau aku terima dia, takutnya dia akan berharap kalau aku ini calon istrinya. Padahal aku tidak berpikiran sejauh itu saat menjalin hubungan dengan lelaki. Apalagi ini untuk yang pertama kali, masak iya aku langsung bilang aku mau jadi istrinya? Sementara dia sudah jauh lebih dewasa dari aku dan aku masih bocah ingusan gini. Ah, belum mikir sampai sana deh pokoknya!" terang Aini.
Sara yang sepertinya memang suka kalau Aini jadian sama Bagas terus saja menghasut Aini. "Kalau begitu, lebih baik kau terima Bagas saja. Kita sama-sama masih remaja, suka hepi-hepi, suka jalan-jalan, dan itu semua bisa kita lakukan bersama. Seperti waktu itu saat kita di mall. 'Kan seru kalau kita nanti double date."
Aini menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan perkataan Sara. "Masuk akal sih ucapanmu, kalau sama Bagas setidaknya aku tidak berpikir sampai ke arah pernikahan 'kan? toh kita masih sama-sama muda, di bikin santai aja," tutur Aini.
"Nah, benar tu. Ya sudah, kau terima saja si Bagas," bujuk Sara sekali lagi.
"Baiklah, akan ku pikirkan," sahut Aini.
* * *
"Assalamu'alaikum.." Aini mengetikkan kalimat itu di layar handphonenya. Saat ini dia sedang mengirim pesan ke Bagas untuk memberitahukan jawaban dari pernyataan cintanya minggu lalu.
Cukup lama Aini menunggu, namun pesan itu belum menunjukkan centang biru yang menandakan telah dibaca oleh Bagas.
"Kakak lagi nungguin pesan siapa sih? Dari tadi Iva lihat bolak-balik intipin layar handphone!" celetuk Iva yang melihat tingkah aneh kakaknya. Saat ini sudah pukul delapan malam, kedua adik Aini juga sudah masuk ke kamar untuk melanjutkan mengerjakan tugas setelah tadi selesai mengerjakan salat isya.
"Ini, nunggu balasan pesan dari teman," sahut Aini sekilas.
"Teman atau teman? jangan-jangan nungguin pesan dari bang Baim ya?" ledek Iva.
"Enggak ya! Dasar anak kecil, sok tau!" Aini mendorong pelan dahi adiknya yang dekat dengannya. "Sana kerjakan PR mu, keburu ngantuk!" usirnya pada Iva yang masih duduk di tepi kasur Aini.
"Iya ih, bentaran aja duduk di sini nggak boleh!" Iya kembali duduk dekat kasur Tia, adik bungsu mereka nampak sudah selesai mengerjakan tugas. Sedangkan Iva baru mengerjakan separuh tugasnya.
"Kak, bantuin kerjakan tugas ku dong, udah ngantuk ni," rengek Iva pada kakaknya yang masih sibuk dengan benda pipih di tangannya.
__ADS_1
Aini tadinya tidak ingin membantu adiknya karena ia sempat melihat tugasnya mudah, hanya menyalin apa yang ada di buku cetak ke buku tulis saja, namun ia urungkan niatnya agar adiknya itu segera tidur. Ia khawatir akan di ledek adiknya lagi jika dia ketahuan tengah berkirim pesan dengan teman laki-lakinya. Selama ini memang tidak pernah ada laki-laki yang dekat dengan Aini kecuali bang Baim yang sudah diketahui keluarganya.
Bagas : Wa'alaikumsalam
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Bagas membalas pesan Aini. Untung saja dia membalas pesan setelah Iva dan Tia sudah tertidur.
Aini : Maaf aku ganggu ya?
Bagas : Enggak kok, seneng banget malah
Aini : oh
Aini hendak memberitahukan jawaban dari pernyataan cinta Bagas, namun ia masih ragu untuk memulainya
Bagas : betewe, tumben ngechat aku, ada apa ini?
Aini : ada yang mau aku omongin
Bagas : soal apa?
Aini : soal dari pernyataanmu minggu lalu
Bagas tak lagi menjawab pesan Aini, tapi kini ia malah melakukan panggilan. Mungkin Bagas ingin mendengar langsung jawaban dari mulut Aini walau hanya lewat telepon.
Wa'alaikumsalam.. jadi apa jawaban kamu? ~ Bagas
Aku.. hmm.. ~ Aini
Katakan saja, tidak perlu khawatir, kita tetap berteman walau jawabanmu membuatku kecewa nantinya ~ Bagas
Aku.. terima kamu ~ Aini
Apa? kurang jelas deh kayanya, bisa ulangi lagi? ~ Bagas
Aku mau jadi pacar kamu ~ Aini
Benarkah? Apa aku sedang bermimpi? ~ Bagas
Ia menepuk pipinya sendiri. Rasanya Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya dari seberang telepon. Takutnya ia bermimpi karena terlalu mendambakan Aini. Tapi setelah menepuk pipinya ia tersadar bahwa ini nyata adanya.
Kamu tidak sedang bermimpi, mulai sekarang kita pacaran ~ Aini
Mimpi apa aku semalam? Aku benar-benar tidak menyangka dengan jawabanmu. terima kasih untuk kesempatan yang kamu beri ~ Bagas
__ADS_1
Baiklah, tapi selama kita pacaran, aku mohon jangan pernah menyentuhku sedikit pun ~ Aini
Siap!! akan ku ingat selalu ~ Bagas
Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, ini sudah malam, takutnya ibu terganggu jika mendengarku teleponan semalam ini ~ Aini
Selamat malam sayang.. have a nice dream ~ Bagas
Iya.. Assalamu'alaikum ~ Aini
Belum sempat Bagas menjawab salam dari Aini, telepon itu sudah terputus. Bagas yang masih tidak percaya dengan jawaban Aini malah meletakkan handphone di dadanya, seakan-akan ia sedang memeluk erat Aini walau hanya khayalan semata.
Sementara di sebuah kamar kecil, seorang gadis tengah termenung usai menelepon teman sekelasnya yang mulai saat ini menjadi pacarnya.
"Kok agu geli ya di oanggil sayang sama Bagas. Apa semua orang pacaran akan melakukan hal yang sama?" pikir Aini.
"Apa aku salah mencoba ini? Maafkan aku ya Allah, jika aku membuka jalan untuk melakukan dosa. Aku hanya ingin membuktikan perkataan Sara sekaligus merasakan gimana rasanya pacaran. Semua teman di sekolah selalu membahas pacar, aku jadi minder kalau mendengar itu," tutur Aini lagi.
Tak mau ambil pusing, ia pun segera membaca doa hendak tidur dan segera memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
tbc
_____________
readers : lah, kok aini malah jadian sama Bagas thor?
author : sabar readers, namanya juga hidup, butuh pengalaman
readers : langsung aja nikahin sama bang Baim biar dapat pengalaman sekaligus berpahala
author : suka2 aku dong, kan aku authornya😄😄
Like Vote Komen yakk😘🙏
__ADS_1