Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Jadi Gila


__ADS_3

Aini menjalani hari-hari seperti biasa. Tapi belakangan ini sedikit ada yang berbeda. Ia semakin akrab dengan teman sekelasnya yang bernama Bagas itu. Sejak mereka pernah satu kelompok beberapa bulan lalu, mereka jadi sering bertukar kabar lewat pesan, membahas soal pelajaran lewat telepon dan membicarakan banyak hal. Ia sejenak melupakan masalahnya dengan Baim. Bahkan enam bulan belakangan dia tidak pernah lagi bertegur sapa dengannya, hanya melihatnya sekilas saat di masjid, namun tidak pernah ada yang memulai untuk menyapa.


"Kenapa kamu kak?" tanya Ibu saat melihat anak sulungnya tersenyum-senyum sendiri dengan handphone di tangannya.


"Tidak apa bu, ini teman kakak mengirim pesan yang lucu," balasnya kemudian terus mengetikkan sesuatu di layar handphonenya. Ternyata dia sedang berbalas pesan dengan Bagas.


Ibu hanya menggelengkan kepala. "Anak zaman sekarang banyak yang kayak orang gila, bisa senyum-senyum sendiri padahal cuma pegang handphone doang," gumam ibu lalu beranjak pergi dari hadapan anaknya itu.


* * *


Lain Aini, lain pula Baim. Jika Aini sekarang bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Baim, namun Baim tidak sedikitpun. Enam bulan lamanya mereka tidak bertegur sapa membuat Baim semakin uring-uringan. Makan tak enak bahkan tidur pun tak nyenyak. Tiada hari yang dilaluinya tanpa memanjatkan doa kepada Allah agar dirinya kelak bisa berjodoh dengan gadis kecil itu. Ia sengaja memberi ruang kepada Aini agar gadis itu dapat menikmati masa remajanya dengan semua teman-temannya tanpa merasa terikat dengan Baim nantinya. Karena sebentar lagi Aini akan segera tamat dari bangku SMP dan beralih ke SMA yang artinya gadis itu akan beranjak ke fase dewasa, dimana pada umumnya seorang yang mulai dewasa pasti lebih serius menjalani hidup dan cita-citanya menuju masa depan.


"Kamu sedang apa Im?" tanya Umi yang melihat Baim begitu sibuk dengan kertas kado di tangannya.


"Mau bungkus kado mi," sahutnya sekilas sambil tangannya terus menyusun barang-barang yang akan dibungkusnya.


"Mau kasi kado ke siapa?" tanya Umi.


"Aini mi, besok dia ulang tahun, jadi Baim akan memberinya kado sekaligus sepucuk surat," jelas Baim.


"Surat apa? Surat cinta?" tanya umi lagi.


"Umi pikir kamu sudah nyerah Im, bahkan kalau Umi ingat-ingat sudah setengah tahun ini kalian tidak pernah saling menyapa dan tak sekalipun kamu menelponnya. "


"Iya mi, Baim ingin memantapkan hati Baim. Bukan tidak ingin menelponnya, tapi nomor Baim masi saja di blokirnya, juga bukan tidak ingin menegurnya, namun Baim ingin memberinya waktu untuk menenangkan diri dari kejadian Yuna yang menelponnya waktu itu," tutur Baim.


Umi mengangguk paham. "Jadi kamu sekarang sudah mantap dengan pilihanmu? Kamu siap mengambil resiko apapun yang terjadi dikemudian hari? Kalau nanti Aini tidak memilihmu bagaimana?"


"Baim sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menegurnya bahkan berusaha tidak melihatnya saat di masjid mi, namun perasaan Baim semakin tak tenang. Seperti ada rindu yang memuncak dan siap akan meledak suatu saat nanti. Biarlah saat ini dia mendiamkan Baim, tapi Baim yakin dia pasti mau menerima Baim nantinya.


"Seyakin itu kamu Im? Umi kok jadi khawatir kalau nanti kamu jadi sakit jiwa jika Aini menolakmu," tutur Umi, kemudian ia menyusun kotak kue yang sempat diletakkannya di lantai saat tadi melihat Baim membungkus kado. Umi baru pulang dari warung untuk mengambil kotak-kotak kue yang kosong yang digunakannya untuk menaruh kue setiap harinya.


"Astaghfirullah.. Umi nyumpahin Baim jadi gila?"

__ADS_1


"Bukan nyumpahin Im, umi hanya takut saja. Tak sedikit loh orang yang gila karena cinta," ujar Umi dan sudah berdiri hendak pergi dari sana.


"Tapi umi doakan kalau keyakinan kamu ini memang benar, dan semoga semua doamu di ijabah oleh Allah," ucapnya lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Baim.


"Aamiin, makasih ya mi uda mau doain Baim," balas Baim dengan terharu.


Baim sudah selesai membungkus kado yang ingin ia berikan kepada Aini, ia hendak masuk ke kamar untuk meletakkan kado itu di kamarnya.


"Kado buat siapa tu bang?" tanya Fahmi yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Baim sedang membuka pintu sambil salah satu tangannya memegang sebuah kado.


"Buat calon bini," jawab Baim tanpa ragu.


"Abang uda mau nikah? Sama siapa? Kok aku nggak tahu? Ah, ketinggalan berita aku ni kayaknya," tanya Fahmi dengan hebohnya.


"Fahmi kenal kok orangnya," sambung Baim dan sudah masuk ke dalam kamarnya.


Fahmi yang masih penasaran terus mengikuti Baim dan juga ikut masuk ke kamar pria itu. "Siapa sih bang? bikin penasaran aja!" ucapnya saat sudah masuk ke kamar Baim.


"Aini?" tanya Fahmi memastikan.


"Tu kamu tahu!" celetuk Baim.


"Fahmi pikir kalau abang sudah membuka hati buat yang lain," ujarnya sambil ikut duduk disebelah baim.


"Tidak mungkin, abang kalau sudah jatuh cinta susah move on," balas Baim sambil tersenyum sumringah.


"Berarti abang masih mencintai kak Yuna dong," ledek Fahmi.


"Abang akui dulu memang iya. Tapi setelah tau dia selingkuh dan mengkhianati abang, rasa itu hilang seketika. Tak ada lagi ruang buat dia di sini," tunjuknya pada dada bidangnya. "Yang ada hanya kebencian," lanjutnya lagi.


"Terserah abang deh. BeTeWe, abang kapan baikan sama gadis itu?" tanya Fahmi yang teringat bahwa selama ini Baim masi terus murung karena belum juga bisa berhubungan baik lagi dengan gadis kecilnya.


"Sebentar lagi," ucap Baim, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil miliknya.

__ADS_1


"Maksudnya, abang belum juga baikan dengan dia?"


Baim menganggukkan kepala pelan. "Terus kado ini maksudnya apa?" tanya Fahmi lagi yang begitu penasaran.


"Dengar ya Fahmi, besok itu hari ulang tahun Aini, jadi abang mau kasih kado sekaligus ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Abang juga yakin kalau mulai besok, hubungan abang dan dia akan membaik," ujar Baim penuh percaya diri.


"Kalau Aini tidak juga mau memaafkan abang bagaimana?" tanya Fahmi berusaha menggoyahkan keyakinan Baim.


"Tidak mungkin, Aini pasti memaafkan abang," ucap pria itu mantap dan tersenyum semakin lebar.


Fahmi menggelengkan kepala karena tak habis pikir dengan jawaban Baim. "Memang benar kata orang, cinta bisa membuat kita menjadi gila," gumam Fahmi.


"Ya sudah, nikmati khayalan abang, Fahmi mau pergi dulu. Awas gila beneran bang!" Lanjut Fahmi yang sudah berada di depan pintu kamar Baim.


"Sudah pergi sana! Mengganggu saja!" gerutu Baim sambil melempar bantal ke arah pintu.


.


.


.


.


.


tbc


___________


Sabar ya nunggu kelanjutannya.


sambil nunggu jan lupa di Like😊🙏♥️

__ADS_1


__ADS_2