
Suara siapa itu? Tidak.. Tidak..! maksudku siapa wanita yang ada di sampingmu? Bukannya kau bilang sedang sendirian? ~ Aini
Emm.. Itu, temanku baru saja datang. Aku sekarang sedang berada di rumah nenek yang ada di kampung sebelah ~ Bagas
"Bagus, bisa-bisanya dia main ke rumah neneknya, tapi dia bilang selama ini sibuk menjaga warung kakek dan tidak sempat menghubungi ku? Sebenarnya dia pacar macam apa sih? Rasanya aku sudah muak dengan semua ini!" umpat Aini dalam hati.
Hmm, sudah dulu ya. Aku sedang sibuk. Assalamu'alaikum.... ~ Bagas
Wa'alaikumsalam ~ Aini
"Tuh kan, tadi katanya lagi tempat nenek. Sekarang dia juga bilang sibuk? Padahal jelas-jelas teman wanitanya baru datang dan dia langsung bilang sibuk? Sepertinya dia sudah bosan denganku, kalau begitu lebih baik ku akhiri saja ini semua!"
Aini menggerutu sendiri di kamarnya. Bahkan butiran bening dari kedua kelopak matanya meluncur bebas begitu saja. Ia tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi, padahal awal mula berpacaran dengan Bagas ia hanya iseng saja dan hanya sekedar ingin tahu bagaimana rasanya berpacaran, tapi mengapa sekarang dia merasa kehilangan saat Bagas jarang menghubunginya? Mungkin selama ini dia sudah salah mengambil langkah untuk berpacaran. Sekarang ia tidak bisa menghindari rasa sakit di hatinya.
Benda pipih yang masih berada di tangannya segera ia mainkan kembali. Mengirimkan pesan singkat ke Bagas dengan menyatakan bahwa ia ingin mengakhiri hubungan mereka.
Tak beberapa lama, pesan yang ia kirim telah dibaca oleh Bagas, namun pesan itu tidak di balas sedikitpun. Aini yang masih terbawa emosi kembali menelepon Bagas, tetapi nomor lelaki itu kini sudah tidak aktif dan tidak dapat dihubungi. Akhirnya ia membaringkan diri di kasur nya untuk meredakan emosi yang menyelimuti pikirannya saat ini hingga ia memejamkan mata dan tertidur.
*
Malam harinya, Aini dan keluarganya makan malam bersama seperti biasa. Aini makan dengan tertunduk untuk menutupi matanya yang masih tampak membengkak dikarenakan ia tertidur dalam keadaan menangis sore tadi.
"Alhamdulillah...," ucap Aini saat selesai menghabiskan makanan yang tadi mengisi piring nya. Ia segera membereskan bekas makannya dan meletakkan di tempat tumpukan piring kotor di westafel.
"Buru-buru sekali, mau kemana, kak?" tanya Ibu yang melihat putri sulungnya hendak pergi meninggalkan meja makan. Padahal semua anggota keluarga masih asyik menikmati makanan mereka masing-masing.
"Mau ngerjain tugas sekolah, bu," sahut Aini. Dia tidak menoleh ke arah ibu sama sekali karena takut ibu akan melihat wajahnya yang sembab.
"Jangan malam-malam tidurnya, agar besok tidak kesiangan," pesan ibu.
"Iya, bu." Aini segera pergi meninggalkan ayah, ibu dan kedua adiknya yang masih menyantap makanan di meja makan. Untung saja tidak ada yang benar-benar memperhatikannya malam ini. Jadi ia bisa bernafas lega karena tidak pusing mencari alasan jika ada yang bertanya sebab bengkaknya matanya tadi.
Sampai di kamar, ia bukan mengerjakan tugas sekolah seperti yang dikatakannya pada ibu, tetapi ia malah membuka handphone nya berharap ada pesan dari Bagas yang menyatakan penolakan akan keputusan Aini sore tadi. Entah apa yang ada di pikiran Aini saat ini, tetapi ia merasa tidak rela jika benar-benar putus dengan Bagas. Padahal dia sendiri yang sudah mengakhiri hubungannya dengan Bagas walau hanya lewat pesan. Dasar Aneh!
*
__ADS_1
Keesokan harinya, Aini datang ke sekolah dengan wajah yang ditekuk seakan memiliki beban hidup yang begitu berat. Guru BK yang sering kali memergoki Aini yang sering datang terlambat pun ikut heran dibuatnya. Bukan hanya heran dengan Aini yang datang cepat pagi ini, tetapi juga heran karena Aini jalan dengan lemas melintasi gerbang sekolah dengan wajah kusutnya. Padahal biasanya Aini selalu berlari jika sudah turun dari angkot, karena ia segera ingin menuju lapangan untuk mengikuti apel pagi.
"Aini, kamu sakit?" tanya pak Na'im.
"Tidak, pak," jawab Aini sambil menyalami tangan gurunya itu.
"Kalau tidak sakit, jangan-jangan kamu kesambet ya? Tumben datang cepat hari ini?"
"Datang cepat salah, terlambat juga salah. Jadi saya harus gimana, pak?" sahut Aini kesal.
"Bukan salah, cuma heran saja. Biasa kamu lari-lari dari seberang sana, tapi dari tadi saya perhatikan kamu lemas sekali jalannya, seperti ayam sakit saja," ledek pak Na'im.
Aini yang malas menyahuti perkataan gurunya itu segera pergi saat sudah menyalami salah satu guru di sebelah pak Na'im, karena ada dua guru yang bertugas menyambut murid di depan gerbang pagi ini. Eh, bukan pagi ini saja, tetapi memang setiap pagi pak Na'im selalu di temani guru yang berbeda setiap harinya, namun karena Aini sering datang terlambat, jadi ia hanya bertemu dengan pak Na'im saja saat tiba di sekolah, berhubung guru yang menemani pak Na'im sudah tentu masuk ke kelas yang akan mereka ajar, berbeda dengan pak Na'im yang memang tidak memiliki jam ajar karena ia hanya guru BK.
"Aini, kalau kamu tidak enak badan, kamu masuk ke kelas saja, tidak perlu ikut apel pagi!" teriak pak Na'im saat Aini sudah berjalan sedikit jauh darinya. Biar bagaimana pun, Aini tetap 'lah muridnya yang harus ia perhatikan, walau murid yang satu ini sering membuatnya kesal karena keterlambatannya yang hampir setiap hari.
Gadis itu melangkahkan kaki menuju kelas untuk meletakkan tasnya terlebih dahulu sebelum ia menuju lapangan untuk mengikuti apel pagi. Seharusnya memang seperti itu, tetapi berhubung Aini sering terlambat, jadi biasanya ia tidak ke kelas dulu untuk meletakkan tasnya, karena jika itu ia lakukan, bisa-bisa apel pagi segera usai. Jadi biasa ia meletakkan tasnya di bawah pohon yang ada di pinggir lapangan dan langsung memasuki barisan di sana.
Di lapangan, ia bertemu dengan Sara, sahabatnya. Namun karena mereka berbeda kelas, jadi tidak bisa satu barisan yang sama. Namun Sara tidak kehabisan akal, ia masuk saja ke barisan kelas Aini. Siapa yang tahu kalau mereka tidak sekelas, karena anggota osis tidak akan mengecek satu per satu setiap siswa yang baris. Untung saja teman sekelas Aini tidak ada yang bermulut ember, alias suka bocor. Jadi Sara merasa aman-aman saja untuk ikut baris di deretan teman sekelas Aini.
"Ni, tumben kau cepat datang?" tanya Sara.
"Kau kenapa lagi? Dari semalam galau melulu!" ucap Sara lagi.
"Nggak apa-apa," jawab Aini lirih.
"Masih masalah Bagas?" tukas Sara.
Aini menganggukkan kepalanya untuk membenarkan perkataan Sara. Sementara apel pagi baru saja di mulai.
"Oke, habis ini kau harus cerita sama Ku!" seru Sara. Kemudian mereka berdua memperbaiki posisi mereka agar barisan lebih rapi, karena tadi Sara membalikkan badan ke arah Aini.
Usai apel, Sara terus menghujani Aini dengan berbagai pertanyaan, sampai Aini pusing dibuatnya.
Ada apalagi kau dengan Bagas?
__ADS_1
Dia menyakitimu?
Dia belum juga membalas pesanmu?
Atau dia selingkuh?
"Bisa nggak sih, kalau bertanya itu satu-satu. Pusing aku tuh jawabnya," keluh Aini.
Mereka berdua masih duduk di pinggir bebatuan yang di buat melingkar seperti pot besar untuk pohon-pohon yang sengaja di tanam di pinggir lapangan. Berhubung bel masuk belum berbunyi, mereka masih ada waktu untuk berbincang sebentar.
"Baiklah, kau bisa cerita dari manapun yang kau mau," ucap Sara.
"Aku putus." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Aini. Padahal banyak sekali yang ingin ia ceritakan dengan sahabatnya ini.
"Putus? Kenapa?" tanya Sara dengan kagetnya.
Aini menceritakan bahwa semalam ia menghubungi Bagas tetapi belum lama berbincang, lelaki itu malah mematikan teleponnya dan mengatakan bahwa ia sibuk, sedangkan Aini sendiri mendengar ada suara wanita di sebelah pacarnya itu dan di akui sebagai temannya. Jadi Aini merasa tidak lebih penting dari wanita itu dan langsung memutuskan hubungannya dengan Bagas.
"Lalu kenapa kau sedih? Bukannya kau yang memutuskannya? Seharusnya dia yang sedih dong," tutur Sara.
"Itu masalahnya. Aku menyesal!" sahut Aini.
"Astaga, sekarang aku yang pusing kau buat. Kenapa kau terburu-buru mengambil keputusan? Aku 'kan sudah bilang kalau kau harus berfikir positif, agar bisa mengambil keputusan dengan benar," celoteh Sara.
"Jadi aku harus gimana dong?" tanya Aini.
"Ya kalau kau mau menghilangkan gengsi, minta balikan saja dengannya," sahut Sara.
"Eumm...." Belum lagi Aini menanggapi jawaban terakhir Sara, bel masuk telah berbunyi, membuat mereka mengakhiri perbincangan mereka pagi itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.