
"Kemarin pagi aku bantu umi membuang sampah, lalu memotong wortel, kemudian membaca buku di kamar." Baim mengingat kembali aktivitasnya kemarin untuk mencari tahu letak kesalahan yang dibuatnya sehingga gadis kecilnya menjauhinya.
"Sampai siang aku keluar rumah untuk mengajar, masih baik-baik saja," pikirnya sendiri.
Baim melihat ke sembarang arah. Pikirannya menerawang ke sana kemari. "Oh, siang itu memang ada Yuna datang ke rumah, apa Aini tau soal itu ya?" batinnya. Baim lalu bangkit dari kasur nya, ingin menjumpai umi yang masih di dapur.
"Umi.." panggilnya saat melihat umi masih sibuk menggoreng kerupuk.
"Hmm.." sahut Umi.
"Mi, Baim mau tanya," ucapnya merasa takut mengganggu umi yang sedang sibuk.
Umi melirik sekilas. "Tanya apa?"
"Semalam Aini ada datang kemari tidak, saat Baim pergi mengajar?" tanyanya mulai menyelidik.
"Enggak tuh," jawab Umi singkat.
"Emang kenapa?" Umi balik bertanya.
"Baim merasa Aini seperti menjauhi Baim mi," curhatnya sedih.
Umi meletakkan kerupuk yang sudah ditiris ke dalam toples. "Kok bisa? Emang kamu salah apa?"
"Itulah yang sedang Baim cari tau. Baim juga nggak ngerti salah apa. Menurut umi, apa Aini tau kalau Yuna datang kemari?" tanyanya ingin tahu pendapat umi.
"Mungkin juga," sahut Umi, kemudian berjalan ke arah meja makan untuk meletakkan kerupuk yang sudah selesai digoreng.
"Isshh umi.. jangan takut-takuti Baim dong," rengeknya manja.
"Menakut-nakuti bagaimana? Umi dari tadi cuma goreng kerupuk kok dibilang menakut-nakuti," jawab Umi heran.
Baim menghela nafas. "Iya kalau benar dugaan kita soal Aini yang melihat Yuna datang ke sini jadi menjauhi Baim kan berarti dia salah paham mi. Terus Baim bagaimana menjelaskannya?"
"Tinggal di jelasin aja kalau kamu tidak ada apa-apa sama Yuna saja kok repot," celetuk umi.
"Bukan itu masalahnya mi. Tapi Baim sudah beberapa kali menghubunginya namun dia tidak mau menjawab panggilan Baim. Bahkan sekarang nomornya tidak bisa dihubungi, mungkin Aini sudah memblokir nomor Baim," tuturnya sedih.
"Ya usaha dong Im, kalau cinta itu harus diperjuangkan!" kata umi memberi semangat.
"Baim pasti berjuang mi. Tapi kalau hanya Baim yang berjuang sendiri, bukannya itu menyakitkan?" Baim mengelus dadanya seperti mendramatisir keadaan.
"Tu kan, semenjak kenal Aini lebay kamu makin nambah deh Im," sahut Umi yang melihat tingkah konyol Baim.
"Sudah, nanti saja memikirkan Aini, gantian umi yang mau tanya ke kamu," lanjut Umi.
Baim menatap umi yang sudah duduk di hadapannya. "Mau tanya apa mi?"
__ADS_1
"Omak mu dikampung gimana kabarnya? Sudah lama tidak menelpon umi." Umi mulai bertanya karena memang keluarga Baim dan umi sudah sangat dekat, bahkan orangtua Baim juga menitipkan Baim kepada Umi agar di didik dengan baik.
"Oh mamak Baim baik-baik saja mi. Kemarin Baim sempat menelpon, katanya mamak lagi sibuk beladang karena sebentar lagi pohon cabainya akan segera panen," jawab Baim dengan santai.
"Syukurlah, umi pikir omak mu di kampung sakit, jadi tidak pernah memberi kabar kepada umi. Ayahmu juga sehat kan?" tanya umi lagi.
"Alhamdulillah sehat juga mi."
"Alhamdulillah.. semoga kita semua selalu diberi kesehatan oleh Allah," ujar umi.
Baim mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aamiin."
* * *
Usai sholat maghrib, Baim sengaja tidak langsung pulang. Ia menunggu anak-anak yang mengaji di masjid sampai kumpul semua. Ia mencari seorang gadis yang membuatnya gelisah beberapa hari ini.
"Nah, itu dia. Syukurlah dia datang, nanti aku akan berbicara kepadanya usai mengaji," batin pria itu. Baim lalu duduk di tangga masjid dekat pintu masuk untuk laki-laki. Ternyata di sana juga ada Ivan, salah satu anggota remaja masjid di kampung ini.
Baim menepuk pundak Ivan. "Eh, bang Baim," ucap Ivan saat menoleh ke belakang.
"Tumben nggak langsung pulang Van?" tanya Baim sambil duduk disebelah Ivan.
"Iya, sekalian mau nunggu waktu isya bang," jawabnya.
"Nunggu waktu isya atau nunggu anak-anak pulang ngaji?" tanya Baim menggoda Ivan. Pria itu sedikit banyaknya tau kalau Ivan menaruh hati pada salah satu gadis yang sedang ngaji di dalam masjid. Pasti Ivan sengaja pulang agak lama agar bisa bertemu gadis pujaannya. "Semoga saja bukan Aini yang disukainya," batin pria itu.
Baim tertawa kecil. "Pantas saja."
"Abang juga tumben duduk di tangga begini? Bukannya biasa ikut duduk di dalam, atau langsung pulang?" tanya Ivan penasaran.
"Iya, lagi pengen duduk di sini saja, kebetulan tadi juga karena lihat ada kamu, kan bisa sekalian ngobrol. Uda lama juga kita nggak kumpul bareng anak-anak," ucapnya sedikit berbohong. Pria itu memang tidak jujur kalau dia tengah menunggu seseorang, tetapi juga tidak bohong karena memang sudah lama tidak bertemu Ivan dan anggota remaja masjid lainnya.
Ivan mengangguk membenarkan. "Oh begitu."
Cukup lama mereka berdua berbincang-bincang mengenai rencana kedepannya perihal remaja masjid mereka. Mereka saling bertukar pendapat untuk bisa lebih memajukan kampung mereka, terutama para remajanya. Mereka juga sepakat akan mengadakan pengajian sebagai agenda rutin untuk para remaja masjid agar tidak terjadi kevakuman para anggota organisasi mereka saat tidak adanya acara yang mau mereka buat. Karena memang biasa mereka hanya berkumpul saat ada acara yang akan diadakan masjid saja, selebihnya tidak ada pertemuan lagi.
"Bang, aku ke belakang dulu ya," ujar Ivan yang ingin segera membuang hajatnya.
"Oke," sahut Baim. Baim bersyukur dalam hati karena Ivan segera pergi. "Sebentar lagi Aini kan selesai mengaji, aku bisa segera menemuinya," batinnya.
Dari dalam masjid terlihat anak-anak sudah mengumpulkan Alqur'an mereka di rak-rak yang tersedia. Berarti mereka sudah selesai mengaji.
"Semoga Aini segera keluar, agar aku bisa menemuinya," gumam Baim. Dari tadi rasanya ia begitu tidak tenang, hanya menunggu gadis kecil itu selesai mengaji saja terasa begitu sangat lama. Satu detik saja dia tidak melihat gadis kecilnya seperti sudah setahun lamanya. Ini bahkan sudah hampir dua hari mereka tidak bertemu.
Aini terlihat menuruni tangga dari depan pintu masuk wanita. Baim yang memang sedang berdiri di tangga masjid sebelah kanan melihat dengan jelas ke arah kiri masjid kalau Aini hendak pergi ke toilet wanita.
"Aku harus segera menyusulnya." Baim segera memakai sandal jepitnya untuk mengejar Aini. Namun sayang, Aini lebih dulu masuk ke toilet wanita karena jarak dari tangga sebelah kiri memang lebih dekat ke toilet dari pada dari tangga sebelah kanan tempat Baim menunggu gadis itu tadi.
__ADS_1
"Aku menunggu di sini saja sampai dia keluar," pikir Baim.
Tak berapa lama, Ivan keluar dari kamar mandi pria, karena memang kamar mandi pria dan wanita bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tembok pemisah.
"Abang ngapain di situ?" tanya Ivan yang sedikit terkejut melihat Baim yang bersandar pada tembok pembatas toilet pria dan wanita itu. Pasalnya tadi Baim berada di tangga masjid, kenapa tiba-tiba ada di dekat kamar mandi.
"Eh, ini.. anu.. mau berwudhu juga. Tadi sudah batal wudhunya, jadi mau wudhu lagi," jawab Baim terbata-bata.
"Jadi kenapa hanya berdiri di situ? Lagian tidak perlu mengantri kalau hanya mau berwudhu kan bang, toh keran airnya juga ada banyak tuh," tutur Ivan.
"I.. Iya.. tadi mau ke toilet dulu, kan ada kamu, jadi harus mengantri," balas Baim lagi.
"Oh, ya sudah, aku uda selesai. Abang bisa masuk sekarang. Aku masuk ke masjid duluan ya bang," pamit Ivan.
Baim memgangguk mengiyakan. "Hussshh.. selamat.. untung Ivan segera pergi," ucap Baim sambil mengelus dadanya setelah Ivan pergi.
Setelah Ivan tak nampak di pelupuk mata Baim, ia melihat-lihat sekeliling, berharap tidak ada orang lagi yang mengganggunya saat bertemu Aini nanti.
Aini keluar dari toilet wanita. Sesaat matanya bertatapan dengan mata Baim lalu ia langsung menundukkan pandangannya dan hendak berlalu pergi.
"Dek tunggu.. ada yang mau abang bilang," tahan Baim saat Aini akan melangkahkan kaki menuju tangga masjid sebelah kiri.
Aini menghentikan langkahnya. Rasanya sekujur tubuhnya begitu kaku saat mendengar suara pria itu.
.
.
.
.
.
tbc
___________
Alhamdulillah..
bisa dua episode hari ini yakk
saya sudah menepati janji kanπ
jan lupa like
beri vote dong
__ADS_1
komen juga ya β₯οΈππ