Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Kebetulan Sekali


__ADS_3

Itu dia, yang di belakang sana


Yang pakai hijab berwarna hitam dan ada rumbai di bawahnya itu


Sebelah ceweknya si Amar itu namanya Aini


Beberapa orang yang mengenal Aini saling berbisik kepada orang yang tidak tahu. Sekarang semua mata tertuju kepada dua orang cewek di bagian belakang, yakni Aini dan Sara.


"Ya Allah, cobaan apa ini? Malu sekali aku di lihatin semua orang," batin Aini.


Aini yang dari tadi menundukkan pandangan, kini sedikit memberanikan diri menoleh ke arah Sara. "Ra, ayo kita pulang!" ucapnya sedikit berbisik.


Sara yang juga masih tidak percaya kalau Bagas memberanikan diri menyatakan perasaannya pada sahabatnya itu tak mendengar ucapan Aini karena suara teman lain yang membicarakan Aini lebih besar dari suara bisikan sahabatnya itu.


"Sara, ayo kita pulang!" Sekali lagi Aini memanggil sahabatnya sambil memukul lengannya pelan.


"Eh, apa Ni? Mau pulang? Ya sudah ayo!" Sara sangat paham dengan situasi yang sangat dibenci sahabatnya ini. Mana pernah mau Aini menjadi pusat perhatian semua orang.


"Hei.. Aini.. mau kemana?" tanya mc yang sudah kembali memegang pengeras suara di tangannya.


"Jawab dulu pernyataan Bagas," lanjutnya lagi.


Dari tempat Aini berdiri nampak Bagas membisikkan sesuatu kepada mc. "Baiklah, karena perjanjian kita tadi hanya menyatakan perasaan terhadap orang yang kita suka dan tidak perlu mendapat jawaban, jadi Aini tidak harus menjawabnya," ujar mc dari depan sana.


Semua orang bersorak kecewa karena tidak bisa menyaksikan secara langsung teman mereka yang akan jadian di acara ulang tahun Trisya. Tak lama Trisya terlihat mengambil alih pengeras suara itu untuk mempersilahkan teman-temannya menikmati semua hidangan yang telah disediakan.


"Hmm.. Aini.. maaf, soal yang tadi jangan dipikirkan ya, aku cuma bingung mau bilang suka ke siapa, berhubung cuma kamu yang aku kenal, jadi aku sebutkan saja namamu," ucap Bagas yang begitu canggung setelah kembali bergabung dengan Aini dan Sara.


Sara mengernyit. "Jadi itu tadi tidak serius?" batinnya.


"Ya, aku maafin," sahut Aini datar.


"Beneran kan di maafin?" tanya Bagas yang sedikit ragu melihat ekspresi wajah Aini.


"Hmm.." sahut Aini lagi. Ia memang sedikit kesal karena tadi semua orang jadi menatap ke arahnya. Situasi tadi adalah situasi yang paling di benci Aini, sedangkan berada di tengah orang ramai begini saja Aini merasa tidak nyaman, apalagi menjadi pusat perhatian semua orang. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke dasar laut agar tidak terlihat semua orang.


Bagas masih merasa bersalah akan hal itu. Namun ia tidak lagi membahasnya karena saat ini Aini, Sara dan dirinya sedang menikmati makanan, bahkan sekarang Amar ikut bergabung dengan mereka.


Usai semua acara selesai, satu per satu dari tamu undangan meninggalkan kediaman Trisya.


* * *

__ADS_1


Aini sudah tiba di rumah setelah tadi pulang menaiki taksi online kembali dengan Sara. Ia terus memikirkan kejadian memalukan tadi.


"Mau ditaruh mana muka ku besok kalau bertemu dengan teman-teman? Pasti semua orang membicarakan ku di sekolah," gumamnya yang sudah membaringkan diri di atas ranjang.


Aini menoleh ke arah tempat tidur kedua adiknya. Di sana adiknya nampak sudah tertidur pulas. Wajar saja, karena Aini pulang sudah lewat dari jam sepuluh malam.


Dering handphone Aini terdengar dari dalam tas yang dibawanya tadi karena ia belum mengeluarkannya dari sana. Satu panggilan tak terjawab dari bang Baim tertera di layar handphonenya. Aini meletakkan saja benda pipih itu di atas nakas. Rasanya ia masih belum bersemangat menghubungi siapapun sebab kejadian tadi.


Lagi, handphone itu berdering dan mengeluarkan suara lebih nyaring dari sebelumnya akibat gesekan antara benda pipih itu dengan meja di bawahnya. Aini segera mengangkat panggilan itu.


Assalamualaikum ~ Baim


Wa'alaikumsalam ~ Aini


Adek tadi pergi kemana? abang datang ke rumah tapi adek tidak ada ~ Baim


Tadi Aini pergi ke pesta ultah temen, ini baru pulang ~ Aini


Oh, pergi sama siapa? ~ Baim


Sama temen ~ Aini


Cowok? ~ Baim


Hmm.. cewek rupanya. Oh ya dek, tadi abang bawa martabak ke rumah, kalau masih ada di makan ya. Karena nggak tahu juga kalau udah di habisin adek-adek ~ Baim


Iya, nanti Aini lihat di dapur kalau masih ada ~ Aini


Abang tutup ya teleponnya, sudah malam, pasti adek capek dan mau istirahat, Assalamu'alaikum ~ Baim


iya, Wa'alaikumsalam ~ Aini


"Seperti sudah pacaran saja bertanya pergi dengan teman cowok atau cewek," batin Aini setelah sambungan teleponnya terputus.


"Tadi, bang Baim bilang apa? martabak? Bukannya tadi sebelum aku pergi si Iva minta belikan martabak di persimpangan jalan ya?" Aini bertanya-tanya sambil mengingat perkataan adiknya tadi.


"Mengapa bisa kebetulan sekali, Iva yang lagi pengen makan martabak, kemudian bang Baim datang membawakannya. Seperti ada ikatan batin saja dengan orang-orang terdekatku," pikirnya lagi.


"Beruntung sekali si Iva jadi makan martabak malam ini. Ah, sudahlah, lebih baik aku pikirkan nasibku besok, gimana caranya menghindari gosip yang akan menyebar di sekolah," batinnya.


*

__ADS_1


"Syukurlah kalau Aini pergi sama temannya yang bernama Sara, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Baim setelah mengakhiri panggilan dengan Aini.


Ternyata saat Aini pergi dengan Sara ke pesta teman mereka, Baim datang membawakan martabak untuk Aini, tetapi malah gadis itu tidak ada di rumah. Iva yang memang sedang ingin memakan martabak tentu saja kegirangan saat tau Baim membawakannya. Akhirnya setelah Baim memberi martabak tersebut keoada ibu Ema, martabak tadi di makan oleh Iva dan keluarga Aini lainnya. Baim tidak tahu pasti apakah makanan itu masih tersisa buat gadis kecilnya atau tidak, karena saat ibu Ema bilang kalau Aini tidak ada di rumah, Baim pamit pulang karena ingin mengantarkan martabak juga buat Umi.


* * *


Setelah sampai di rumah, Bagas kembali merasakan gelisah. Ia takut hubungannya dengan Aini malah akan menjauh. Padahal selama ini dia sudah merasa begitu dekat.


"Seharusnya selangkah lagi aku bisa menjadikan Aini pacarku, tapi kenapa harus dengan cara seperti tadi aku mengungkapkan perasaanku terhadapnya!" Bagas kesal dengan dirinya sendiri. Padahal tadi dia sendiri yang berkata bahwa tidak mengapa mengikuti permainan itu sebagai seru-seruan sebelum mereka berpisah saat ujian akhir telah usai. Tapi dia sendiri yang terjebak dengan permainan itu dan mengacaukan perasaan gadis yang di idamkannya selama ini.


"Apa lebih baik aku telepon lagi Aini sekarang ya?" pikirnya.


"Tapi ini sudah pukul sebelas malam, dia pasti sudah tidur."


"Baiklah, besok aku akan menghubunginya kembali. Semoga dia sudah melupakan masalah tadi."


Bagas sibuk dengan berbagai asumsinya sendiri, ia bahkan lupa mengganti pakaiannya tadi dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Handphone di genggamannya juga tidak ia lepas sampai ia terlelap dengan sendirinya.


.


.


.


.


.


tbc


_____________


PENGUMUMAN


sekedar info, author menerbitkan novel baru berjudul


'KETIKA SI BAD GIRL JATUH CINTA'


jika berkenan, mampir juga ya ke novel ku yg ke 2


author amatiran ini masih butuh kritik dan saran dari kalian

__ADS_1


😊🙏♥️♥️


__ADS_2