
"Seragam sekolah sudah rapi.. hijab juga sudah rapi.. oke.. aku siap berangkat," kata Aini yang memperhatikan dirinya di depan cermin kamarnya.
Gadis mungil itu keluar dari kamarnya.
"Ayah, Ibu.. kakak berangkat ya.." ucapnya setelah sampai di meja makan.
"Kok cepat sekali kak?" tanya Ibu Ema.
"Iya.. ntar ada ulangan bu.. Takut telat jadi mau pergi cepat.." sahut Aini sambil memasukkan bekal nya ke dalam tas.
"Jadi nggak sempat sarapan dulu?" tanya Ibu kembali dan terlihat sedang menyuapi si bungsu sarapan.
"Nggak bu.. makanya ni kakak bawa bekal, nanti makan di sekolah aja.." sahutnya lagi.
Aini mencium kedua tangan orangtuanya. "Kakak pergi dulu ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.." jawab mereka berbarengan.
********
"Alhamdulillah sampai juga.." kata Aini yang sudah tiba di kelasnya dan sudah mendudukkan diri di singgasananya.
"Hei..Ni, tumben cepat banget datangnya?" tegur Sara dari arah belakang.
"Iya lah, ulangan matematika hari ini, takut aku telat," sahut gadis itu, kemudian membuka bekal yang di bawanya tadi.
"Ra, uda sarapan? Sini temani aku yok," ajaknya pada sahabatnya itu.
"Uda sih, tapi kalau dipaksa ya aku mau aja," kata Sara sambil tertawa kecil.
"Huhh.. Dasar..! Bilang aja kau nggak nolak kalau gratisan..." cibir Aini dan sudah menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Mana? Aku mau dong.. enak ini nasi goreng buatan ibu mu.." ucap Sara yang sudah duduk di sebelah Aini.
"Nah, makan lah.." Gadis itu menyodorkan kotak nasi yang dipegangnya agar gantian dimakan oleh Sara.
Sara memasukkan beberapa sendok nasi goreng sampai terlihat memenuhi mulutnya.
"Pelan-pelan.. ntar keselek baru tahu! Uda baca doa belum tadi?" kata Aini.
Sara mengunyah makanan itu dan mengangguk mengiyakan pertanyaan Aini tadi.
"Enak banget nasi goreng buatan ibumu ni.. besok-besok bawa bekal terus ya, biar aku bisa minta lagi," tutur Sara."
"Enak di kau nggak enak di aku.. sebenernya males ribet-ribet bawa bekal, tapi karena tadi takut telat, ya makanya aku bawa bekal," sahut Aini lagi.
"Udah sini gantian aku lagi. Dari tadi kau terus yang makan." Aini mulai kesal dengan sahabatnya itu, uda bolak-balik dia makan dan Aini hanya baru sesuap doang.
"Eh, iya.. aku lupa," jawabnya sambil mendorong kotak bekal nasi itu ke hadapan Aini.
"Wiihh.. lagi pada sarapan.. ikutan dong," kata Alfi yang merupakan ketua kelas.
Belakangan ini Alfi nampak akrab dengan Aini. Padahal waktu kelas 8 dulu mereka bahkan jarang bertegur sapa. Tetapi semenjak menjabat sebagai ketua kelas dan Aini sebagai sekertaris, membuat keduanya semakin akrab karena sering berada di situasi yang sama. Misalnya saat dipanggil guru untuk bertanya absensi kelas, maka ketua dan sekertaris biasa dipanggil guru untuk ke kantor.
__ADS_1
"Yah.. terlambat kau Fi, uda mau habis di makan Sara," sahut Aini yang menggerakkan dagunya ke arah Sara.
"Ah, Sara kalau makan nggak ingat-ingat kawan," kata Alfi yang sudah menarik satu kursi di depan Aini dihadapkan ke arah belakang agar bisa bercerita dengan mereka.
"Kau belum sarapan rupanya?" tanya Sara yang masih mengunyah makanannya.
Alfi menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Hmm.. uda sih..."
"Jadi ngapain minta-minta bekal Aini? Pengen banget makan nasi goreng buatan camer," cibir Sara.
"Camer??" tanya Alfi dan Aini berbarengan.
"Iya.. camer.. calon mertua maksudnya," jawab Sara sambil menutup kotak nasi yang sudah habis isinya itu.
"Apaan sih Sara..." Alfi nampak menahan malu dengan ucapan Sara.
"Apaan sih maksudnya.. Nggak jelas.." sambung Aini lagi karena memang tidak paham dengan omongan Sara.
Belum ada kejelasan dari ucapan Sara, tiba-tiba bu Tuti sudah datang dan mengucap salam.
Semua murid berhamburan kembali duduk ke bangku masing-masing.
"Anak-anak.. Minggu lalu ibu sudah bilang kalau hari ini kita ulangan.. Jadi kumpulkan semua tas kalian di depan, tinggalkan alat tulis dan kertas kosong untuk coretan kalian dalam mencari jawaban dari tiap soal nantinya."
Semua murid bergantian ke depan meletakkan tasnya seperti perintah bu Tuti. Ulangan segera dimulai dan dipastikan semua murid pasti akan pusing dengan hal ini. Tidak banyak yang menyukai pelajaran matematika ini, karena rumus-rumus yang ada pasti bikin pusing kepala. Tetapi tidak untuk Aini, ia begitu menggemari matematika, walau tidak semua soal bisa di jawabnya dengan benar, setidaknya dia sudah berusaha.
********
"Sara.. ada yang nyariin tu.." teriak Alfi dari depan pintu.
"Siapa?" sahut Sara.
Belum Alfi menjawab, orang yang dimaksud sudah menampakkan diri di depan pintu.
"Amar..." panggil Sara.
Amar melambaikan tangan ke arah Sara. Kemudian Sara segera menyusulnya ke depan pintu kelasnya.
"Oh, ternyata mereka sudah baikan," gumam Aini yang melihat sahabatnya itu tampak tersenyum senang.
Sara dan Amar sudah pergi. Nggak tau kemana, mungkin makan berdua di kantin atau nongkrong berdua di perpus. Itu hanya modus saja agar bisa berduaan.
"Loh.. Loh.. Loh.. kok aku ditinggal sih.. biasa juga ngajak aku tu anak," kata Aini yang kesal sendiri.
"Jadi aku sama siapa ke kantin? Mana perut laper lagi, tadi kan si Sara yang banyak ngabisin bekal yang ku bawa, jadi perutku sudah terasa lapar sekarang. Ah sudahlah, aku pergi sendiri aja, lagian di kantin pasti banyak orang, mungkin nanti aku bisa duduk sama salah satu dari mereka. Semoga aja ada teman yang aku kenal di sana."
Aini menuruni tangga dan berjalan dikoridor sekolah menuju kantin. Alfi memperhatikan Aini yang melintasinya di koridor sekolah tadi. Ia mau menegur gadis itu, tapi ragu karena banyak sekali murid yang berjalan di koridor. Akhirnya ia hanya mengikuti gadis itu menuju kantin.
Aini sedang menunggu pesanannya diantar. "Hei.. boleh aku duduk sini?" tanya Alfi yang sudah berada di samping Aini.
"Oh.. boleh aja Fi.. duduk sini." Aini menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan temannya itu duduk di sebelahnya tapi ada jarak diantara mereka.
"Makasih.." sahut Alfi.
__ADS_1
"Tumben nggak bareng Sara?" tanyanya penasaran.
"Lah tadi kan lihat sendiri Sara pergi bareng Amar, ya jadi aku sendiri la.." kata gadis itu dengan sedikit kesal.
"Ini pesanannya dek.." kata penjaga kantin yang mengantarkan pesanan Aini.
"Makasih bu.." jawabnya.
"Kau nggak pesan apa-apa Fi?"
"Eh, iya.." Alfi gelagapan karena tadi ia melamun melihat Aini yang mengungkapkan kekesalannya terhadap Sara. Entah apa yang ada dipikiran Alfi sampai ia melamun seperti itu.
"Yaudah, aku pesan dulu ya.." Alfi pergi memesan makanannya dan meninggalkan Aini sendiri.
"Aini suka banget mie ayam ya?" tanya Alfi yang sudah siap dengan pesanannya.
"Iya.." jawabnya singkat.
"Oh.. pantesan hampir tiap hari pesan itu," balas Alfi.
"Kok tahu?" tanya gadis itu penasaran.
"Iya.. tiap hari aku kan perhatiin kamu.." kata Alfi keceplosan.
"Maksudnya, tiap hari apa?" tanya Aini meyakinkan yang didengarnya tadi.
"Eh.. itu.. aku.. hmmm.. Nggak usah dipikirin.. Nggak penting juga." Lagi-lagi Alfi gelagapan dihadapan Aini.
"Aduh.. keceplosan kan aku tadi.. semoga aja dia nggak sadar kalau selama ini aku selalu memperhatikannya makan di kantin ini. Cukup aku jadi penggemar rahasianya aja, agar dia tidak menjauhiku," batinnya.
"Jangan-jangan.. kau...."
.
.
.
.
.
tbc(To be continue)
bersambung...
_________________
vote nya say
like
komen
__ADS_1
♥️♥️
🙏😊