Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

**Hai.. Hai.. readers..


aku datang lagi..


kali ini mau beri quotes buat menyambut hari ini.


*Hidup tidak semulus jalan tol


terkadang harus melewati kerikil-kerikil kecil tajam agar sampai ke tujuan


untuk itu jalani hidupmu, nikmati setiap prosesnya dan syukuri apa yang telah kamu capai (Lisda_A***)


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Disebuah rumah yang cukup luas tampak semua orang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Hari libur sepertinya tidak menjadi alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan.


"Baim... cepat kemari.." panggil umi dari arah dapur, sedang bang Baim berada di kamarnya.


"Iya mi, ada apa?" tanyanya, kemudian ia menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. Rasanya ia masih sangat ngantuk.


"Hari ini tugas kamu membersihkan kamar mandi ya.. Tolong bangunkan Fahri dan Fahmi agar mereka membersihkan halaman belakang!" perintah umi.


"Iya mi.." sahutnya. Ia berlalu pergi dan menuju kamar Fahri dan Fahmi yang merupakan dua anak laki-laki umi.


Abi, sebutan selain ayah untuk suami umi. Pagi ini juga Abi sudah berada di pekarangan depan rumah sudah siap dengan sarung tangan dan gunting kebunnya. Abi bertugas membersihkan halaman depan, dari mulai merapikan tanaman, mencabuti rumput liar dan menyiram tanaman yang memerlukan air.


Ya, rumah umi memang bisa dikatakan lebih luas tiga sampai empat kali lipat dari rumah Aini. Rumah umi memiliki empat kamar tidur tapi tidak semua kamar memiliki kamar mandi, hanya kamar umi dan abi saja yang ada. Lalu ada ruang tamu yang dilengkapi sofa, ruang makan, ruang sholat, dapur yang cukup luas serta terdapat dua kamar mandi di sana dan halaman depan rumah serta belakang rumah juga ada. Walau begitu luas, rumah umi tetap nampak sederhana, tidak terlihat begitu mewah dan mencolok seperti rumah-rumah orang kaya pada umumnya.


Srekk.. srekk.. srekk..


Begitulah bunyi sikat kamar mandi yang sedang dimainkan oleh tangan bang Baim. Iya, dia hari ini dapat tugas membersihkan dua kamar mandi yang ada di dekat dapur. Dengan telaten ia membersihkan semua lantai hingga bersih mengkilap.


"Huhhh... akhirnya siap juga," bang Baim membuang nafas kasar.

__ADS_1


"Baim.. uda siap belum? kalau sudah tolong bawakan teh hangat dan camilan ini ke depan untuk Abi," kata Umi yang melihat Baim keluar dari kamar mandi.


Umi memang berada di dapur menyiapkan makanan, jadi ia tahu betul kalau Baim sudah selesai membersihkan kamar mandi yang berada di dekat dapur itu sendiri.


"Untuk Abi aja ni Mi? Baim nggak boleh?" tanya pria itu.


"Iya, untuk semua juga boleh.. ajak Fahri dan Fahmi kalau mereka sudah selesai, " sambung Umi menjelaskan kesalahpahaman ucapannya tadi.


"Siap Umi.." Baim segera membawa teh hangat dan camilan ke teras depan rumah. Disana terlihat Abi masih sibuk dengan kebun kecil miliknya. Di halaman depan banyak sekali bunga-bunga tumbuh bermekaran, membuat siapa saja yang melihatnya merasa takjub dengan keindahan warna-warni bunga itu.


"Abi.. udah dulu kerjanya.. sini minum teh.. uda Baim bawain.." ucap bang Baim yang melihat Abi begitu senang merawat kebunnya.


"Iya, sebentar lagi selesai.. minumlah duluan kalau sudah haus.." sahut Abi.


"Ya uda deh, Baim panggil adek-adek dulu kalau gitu.." Baim pergi menuju halaman belakang.


"Fahri.. Fahmi.. nggak kelar-kelar kerjaan kalian?" tanya bang Baim yang melihat mereka berdua masi sibuk dengan sapu ditangannya.


"Belum bang, banyak sekali daunnya yang berguguran, jadi harus di sapu dulu semuanya.


"Uda yokk bang, kami uda selesai," kata Fahmi yang mengajak Baim dan di ikuti Fahri dibelakangnya.


"Ya uda ayoo.. abang juga sudah lapar ini.." sahutnya.


Mereka bertiga sudah duduk di teras depan. Abi juga sudah bergabung bersama mereka disusul Umi yang sudah siap dari dapur.


"Bang, gimana kabar gadis kecil itu?" tanya Fahri sambil memakan camilan yang sudah ada di atas meja.


"Baik.." ucap Baim yang mulutnya dipenuhi makanan.


"Semalam jadi mengantarnya?" kini giliran Fahmi yang bertanya. Fahmi ini anak bungsu dari Umi dan Abi. Sebenarnya mereka mempunyai empat orang anak. Dua anaknya yang sulung sudah menikah dan mereka tinggal di kota Aceh. Jadi tinggallah Fahri dan Fahmi yang ada di rumah bersama mereka.


"Jadi dong.." Baim mulai menampakkan lengkungan garis di bibirnya menandakan betapa senangnya ia semalam.

__ADS_1


"Terus.. terus.. gimana dia? senang nggak dia diajak naik motor baru?" Fahri nggak kalah antusias bertanya.


"Dia sih biasa aja.." jawab Baim lagi.


"Ah, nggak seru.. masak biasa aja.. senang kek, sampai guling-guling dipasar, atau sampai loncat-loncat ke atas gedung yang ada di persimpangan itu," celoteh Fahmi yang nggak masuk akal.


"Emang dia cewek apaan sampai segitu lebaynya gara-gara naik motor baru doang.. Aneh!" timpal bang Baim.


"Lagian dengan dia biasa aja abang malah jadi kagum, itu tandanya dia bukan wanita matre.. liat barang baru dikit langsung kegirangan."


"Kalau itu Fahri juga uda yakin kali bang, kalau dia matre mana mau dia dari dulu dekat sama abang yang nggak punya apa-apa ini.."


Umi dan Abi hanya mendengarkan perbincangan ketiga anak mereka. Ya, bang Baim juga sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Umi dan Abi.


"Ya uda, apapun yang kalian bilang.. pokoknya makin hari abang makin cinta..." kata bang Baim dan mendapat pukulan dari Fahri dan Fahmi berbarengan dikedua lengan pria itu.


"Assalamu'alaikum..."


Terlihat seorang wanita masuk dan melewati pagar rumah Umi.


Baim terkejut melihat wanita itu. "Mau apa dia kemari?"


.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


___________


vote dan like jan lupa sayangkuuhh😘😘


__ADS_2