Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Mereka Pelakunya


__ADS_3

"Kalian ngapain?" tanya Sara lagi yang kini sudah berada di antara Aini dan Bagas. Siswa yang yang menolong Aini memang Bagas dan untuk kedua kalinya, dia sudah menyelamatkan Aini.


"Jangan bilang kalian pacaran diam-diam di toilet ini ya," tukas Sara pada mereka berdua.


Aini mendorong dahi Sara dengan jari telunjuknya. "Sembarangan kalo ngomong!"


"Ya terus, yang tadi kalian lakukan apa coba kalau bukan seperti sepasang kekasih," ujar Sara lagi.


"Tadi Aini terkunci di toilet, kebetulan aku lewat karena memang ingin ke toilet juga, jadi aku tolong dia," Ucap Bagas yang sudah sepenuhnya bisa mengendalikan diri dari keterkejutannya atas kejadian tadi.


"Jadi adegan tadi apa maksudnya? Nggak mungkin cuma nolongin doang bisa sampai..." belum selesai Sara mengutarakan isi hatinya tetapi Aini keburu menutup mulutnya.


"Udah, nggak usah di lanjutin! Tadi itu tidak disengaja, aku terkunci di toilet dan di dalam ada kecoa, terus saat Bagas buka pintunya ya aku langsung lari dan menabrak dia, ya terjadilah insiden tadi," tutur Aini.


"Ya sudah, ayo kita ke kelas, pasti guru sudah masuk," sambung Aini.


Sara ber Oh ria. "Ya aku kemari emang mau mengajakmu masuk kelas, tadi pas aku ke luar kelas guru belum masuk, mungkin sekarang sudah," ucap Sara.


"Eh, makasi ya Gas, uda menolongku untuk yang kedua kali," ucap Aini dan melihat ke arah Bagas yang berada di sebelah kanan Sara.


"Iya.. sama-sama," jawab siswa berkaca mata itu.


"Ayo Ra," ajaknya lagi dan menggandeng tangan Sara. Mereka berdua hendak berjalan meninggalkan toilet dan Bagas terlihat mengikuti mereka dari belakang.


"Loh, bukannya tadi kau bilang mau ke toilet ya Gas?" tanya Sara saat menoleh ke belakang dan mendapati Bagas mengikuti mereka.


Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Eh, iya ya, aku lupa. Ya sudah, aku ke toilet dulu ya, kalian duluan saja," ujarnya.


Aini dan Sara menggelengkan kepala. "Ada-ada saja, masak dia bisa lupa kalau mau buang hajat," ucap Sara, kemudian menatap Aini.


"Ni, siapa sih yang menguncimu di toilet tadi?" tanya Sara penasaran.


"Nggak tau Ra, tapi tadi sebelum Bagas datang, ada ku dengar suara dua orang siswi yang menertawaiku. katanya aku sok kecakepan. Sejak kapan kau lihat aku sok kecakepan Ra?" tanya Aini balik.


"Idihh.. rabun kali mata mereka. Kau aja orangnya kalem gini, nggak banyak tingkah, nggak suka dekat-dekat cowok, rajin menabung, suka menolong, apa lagi ya?" kata Sara memuji sahabatnya itu.


"Sudah, jangan terlalu memujiku seperti ini, nanti aku besar kepala lagi," tutur Aini sembari tersenyum.


"Bilang aja kalau kau senang dipuji begitu," cibir Sara.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka sambil tangan Aini mengetuk pintu. Mereka sudah sampai di depan kelas dan di dalam kelas sudah terlihat guru menerangkan materi pelajaran.


"Wa'alaikumussalam.." jawab guru dan beberapa siswa lainnya. "Dari mana saja kalian?" tanya pak Doni yang melihat Aini dan Sara memasuki kelas itu.


"Dari toilet pak," sahut Sara. Kini mereka berdua tengah berdiri berhadapan dengan guru bertubuh besar dan perutnya sedikit berisi itu.


"Mengapa lama sekali? Apa tidak cukup waktu istirahat tadi kalian gunakan untuk ke toilet?" Pak Doni kini menatap tajam ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"I.. itu tadi pak, saya terkunci di toilet," ujar Aini.


Di dalam kelas itu ada dua pasang mata yang saling bertatapan. Ada rasa takut diantara tatapan mereka. Namun mereka mencoba sesantai mungkin seperti tidak terjadi apa-apa.


"Bisa saja itu hanya alasan kamu!" tukas pak Doni.


"Tidak pak, beneran Aini tadi terkunci. Saya saksinya kalau bapak tidak percaya," tutur Sara menjelaskan.


Pak Doni menatap ke arah Sara. "Iya, saya juga saksinya pak," timpal Bagas yang sudah terlihat di depan pintu kelas.


"Kamu juga dari toilet?" tanya pak Doni saat Bagas melangkah masuk ke dalam kelas.


"Iya pak, saya juga yang membukakan pintu saat tau pintu terkunci dari luar pak," sambungnya.


"Sudah.. sudah.. kalau begitu kalian duduk di bangku masing-masing." Pak Doni sepertinya percaya pada pernyataan Sara dan Bagas, jadi dia tidak memperpanjang masalah ini.


* * *


"Ni, kau tau tidak.."


"Tidak," sahut Aini cepat. Padahal Sara belum menyelesaikan perkataannya. Sepertinya Aini senang sekali memotong pembicaraan Sara.


"Ya ampun.. aku belum selesai tau!" Sara memukul pelan lengan Aini.


Aini tertawa kecil. "Ya maaf.. mau bilang apa tadi?"


Aini mengunyah jajanan yang baru di belinya. "Gak boleh nuduh orang tanpa bukti."


Sara menggeleng. "Tapi mereka memang mencurigakan. Kau ingat tidak, waktu kita bertiga makan di kantin sama Alfi, aku juga melihat mereka berdua menatap sinis ke arah kita lho.."


"Hah? masak sih?" sahut Aini tak percaya.


"Iya.. Kau nggak percaya sama aku?"


"Percaya boleh aja sih, tapi kan harus dibarengi dengan bukti yang nyata," balas Aini.


"Lihat saja, aku pasti menemukan buktinya nanti!" jawab Sara tegas.


"Terserah kau sajalah." Aini telah melambaikan tangan pada angkot yang akan lewat. Mereka dari tadi sedang berada di halte bus di depan sekolah dan akan segera pulang ke rumah.


* * *


"Bang Baim," gumam Aini. Gadis itu telah sampai di di depan rumahnya, dan tadi ia melihat motor Baim parkir di halaman rumahnya.


"Aduh, aku harus kabur kemana coba," batinnya lagi.


Aini berjalan pelan melewati rumahnya, niatnya ia ingin ke rumah nenek dari pihak ibu yang rumahnya berjarak 2 rumah ke arah kanan dari rumah Aini.

__ADS_1


kress..


Aini menginjak bungkus jajan yang ada di depan rumahnya. Baim yang lagi duduk di ruang tamu bersama ibu tentu saja menoleh ke arah luar.


"Apes ini namanya," batin Aini, kemudian ia melihat ke arah Ibu dan Baim yang sedang memperhatikannya. Mau tidak mau ia terpaksa membuka pagar dan mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah.


"Kakak mau kemana tadi? Kok ibu lihat sudah melewati pintu pagar rumah?" tanya Ibu curiga.


"Isshh ibu, kenapa di bahas sih!" gerutunya dalam hati.


"Eh, itu kakak tadi mau kutip sampah jajanan yang berserakan di depan pagar," kilah Aini.


"Mau kemana lagi kak?" tanya Ibu saat melihat Aini hendak pergi begitu saja tanpa menegur Baim yang sudah dari tadi menunggunya.


"Mau ganti baju terus istirahat bu," sahutnya.


"Siap ganti baju jangan istirahat dulu, ini nak Baim katanya ada perlu sama kakak," ujar ibu dan memberi tatapan yang sulit diartikan Aini.


Aini diam saja dan berlalu pergi. "Sebentar ya nak Baim," pamit ibu pada Baim, kemudian ikut menyusul Aini ke kamarnya.


.


.


.


.


.


tbc


___________


makasih yg masi setia menunggu update novel saya.


semoga yang baca dilancarkan rezekinya biar selalu ada paket utk terus membaca novel ini sampai tamatπŸ˜„πŸ˜„


jan lupa bahagia hari ini


klik like


vote


komen


β™₯️β™₯οΈπŸ™πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2