
"Pak Baim.." ucap Tia yang sudah berada di hadapan pria yang sedang termenung. Iva dan ayahnya juga nampak berjalan menyusul si bungsu yang sudah di depan pintu namun berhadapan dengan seorang pria.
Baim masih diam dan tak merespon panggilan Tia. Akhirnya si bungsu itu menggoyangkan tangan Baim agar pria dihadapnnya melihat kalau ada si bungsu yang menegurnya. "Pak Baim, mau belanja juga ya?" tanyanya lagi.
"Emm.. Eh, ada Tia," ucap Baim gelagapan. "Iya, abang mau belanja juga. Jangan panggil bapak dong, berasa jadi bapak-bapak beneran abang," lanjut Baim yang kini sudah mensejajarkan diri dengan Tia.
"Adek.. " panggil ayah. Ayah dan Iva sekarang sudah berada di belakang Tia karena mereka baru selesai membayar belanjaan yang mereka ambil tadi.
"Ayah, uda selesai?" tanya Tia yang melihat ayah dan kakaknya membawa beberapa kantong plastik berwarna putih.
"Sudah.. ayo kita pulang," ajak ayah. Tia menganggukkan kepala dan salah satu tangannya sudah di genggam sang ayah. "Mari nak Baim," pamit ayah pada pria yang baru saja memasuki mini market dan bercerita dengan si bungsu.
"Iya pak," sahutnya, kemudian menggeser tubuhnya agar ayah dan kedua anaknya itu bisa melewati pintu dengan leluasa.
Aini yang sudah menunggu sedari tadi di dekat motor sang ayah melihat ke arah pintu mini market yang terlihat terbuka. Tenyata ayah dan kedua adiknya sudah selesai dengan belanjaan mereka tadi. Ayah pun segera menghidupkan motor dan menuju pulang ke rumah.
* * *
Keesokan paginya, Aini sudah berada di tengah lapangan sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Dia baris berdekatan dengan Ela karena Sara belum menampakkan diri.
"Ni, Sara mana? tumben belum datang?" tanya Ela saat mereka berdua berada di barisan tengah dari para murid kelas 9c. Barisan itu memang sudah diatur agar dibentuk sesuai urutan kelas, jadi jelas saja kalau mereka berbaris dengan teman-teman sekelas mereka sendiri.
"Nggak tahu, mungkin telat," sahut Aini. Tiba-tiba Aini merasa ada yang menepuk punggungnya dari belakang.
"Kenapa nggak nungguin aku datang dulu sih baru baris?" tanya Sara dengan napas yang sudah ngos-ngosan.
"Kau suka sekali mengejutkan ku!" celetuk Aini sambil mengelus dadanya.
"Habis tadi pas kalian mau jalan ke arah lapangan aku tu uda panggil-panggil dari luar gerbang, eh tapi kalian nggak dengar," jelas Sara pada Aini dan Ela.
"Ehemm.." terdengar suara deheman seseorang dari belakang. Mereka bertiga langsung melihat ke arah sumber suara. Terlihat seorang anggota osis di sana.
"Tolong jangan berisik! Upacara akan segera dimulai!" bentak seorang siswi yang merupakan seorang anggota osis itu.
__ADS_1
Aini, Sara dan Ela langsung menutup mulut mereka dan berbalik badan menghadap ke arah podium karena memang sudah terdengar suara dari mikropon di depan sana menandakan upacara akan segera di mulai.
* *
Sudah hampir satu jam upacara berlangsung khidmat. Kini para siswa dan siswi berhamburan ke kelas masing-masing, ada juga yang pergi ke kantin untuk sekedar mengisi perut mereka dan ada juga yang pergi ke toilet untuk membuang hajat.
Aini, Sara dan Ela memilih untuk pergi ke kantin. Bukan Aini atau Sara yang belum sarapan tadi pagi, namun Ela yang mengajak keduanya ke sana karena Ela merasa sangat lapar. Sebenarnya usai upacara, proses belajar mengajar akan berlangsung kembali, namun saat ini masih ada waktu lima belas menit lagi untuk bel yang menandakan pergantian jam pelajaran. Jadilah mereka memilih menghabiskan waktu untuk ke kantin.
Kini mereka sudah berada di kantin dan menunggu pesanan datang. Susu coklat hangat yang dipesan Aini karena suasana pagi ini cukup mendung, jadi ia tidak berminat untuk memesan es jeruk kesukaannya, Sara juga ikut memesan minuman yang sama. Berbeda dengan Ela yang memesan Nasi goreng dan teh manis panas.
"Perhatian.. perhatian.." ucap seorang siswi kelas unggulan. Namanya Trisya, gadis cantik idola para siswa satu sekolahan. Dia bukan hanya cantik, tapi juga kaya. Jelas saja dia masuk kelas unggulan, walau seharusnya kelas unggulan di huni oleh orang-orang pintar, namun sepertinya orang-orang kaya juga mendominasi di kelas itu. "Aku mau bagi-bagi undangan ni.. untuk birth day party. Berhubung aku pengen kalian menyiapkan diri untuk memakai drescode pink bagi yang cewe dan hitam bagi yang cowo, jadi aku cepat-cepat bagi undangan biar kalian bisa dari sekarang menyiapkan bajunya," jelas Trisya yang sudah menyuruh teman di sisi kanan dan kirinya untuk segera membagikan undangan ulang tahunnya itu.
Semua murid di kantin sudah menerima undangan itu termasuk Aini, Sara dan Ela. "Aku sengaja bagiin ini untuk seluruh siswa seangkatan kita, karena ulang tahun ini spesial untuk aku mengingat kita yang sebentar lagi akan berpisah setelah ujian akhir sekolah berlangsung. Anggap saja ini acara perpisahan yang kita adain secara pribadi, bukan dari sekolah," lanjut Trisya lagi.
Tak lama bel berbunyi dan mereka semua berhamburan menuju kelas masing-masing karena jam pelajaran akan segera dimulai.
* * *
Aini sudah tiba di masjid sepuluh menit sebelum azan maghrib. Hari ini dia kembali akan mengikuti kegiatan mengaji setelah hampir seminggu dia libur karena datangnya tamu bulanan.
"Maasyaallah.. begitu indah suaranya. Rasanya aku ingin mendengar suara indah ini setiap harinya, bahkan setiap waktu dan setiap saat," gumam Baim.
"Abang ngapain di sini?" tanya Rani yang hendak masuk melewati pintu utama itu.
Baim yang sedang bersandar di dekat pintu sambil memejamkan mata tiba-tiba tersentak mendengar suara wanita yang ada dihadapannya. " Eh, ini abang tadi cuma mau lewat saja, tetapi tiba-tiba kepala abang pusing, jadi abang bersandar sebentar di sini," kilah Baim untuk menghindari pikiran Rani dari hal yang tidak-tidak.
"Kirain abang mau intipin orang di dalam," tukas Rani.
"Enggak kok, kalau begitu abang permisi ya," ucapnya kikuk.
Baim berlalu dari hadapan Rani yang merupakan teman sesama anggota remaja masjid. Ia berniat menunggu Aini saat gadis itu selesai mengaji nanti.
Usai salat isya berjamaah, Aini segera ingin pulang ke rumah, karena perutnya sudah terasa keroncongan. Namun di luar terlihat rintikan hujan begitu deras mengguyur kampungnya. Akhirnya dia hanya berdiri di dekat tangga masjid di depan pintu utama.
__ADS_1
"Mau pulang ya dek," sapa Baim yang datang dari tangga sebelah kiri dan menggunakan payung. Tadi selepas maghrib Baim sengaja pulang ke rumah untuk ikut makan malam bersama dengan keluarga Umi. Saat azan isya berkumandang, tenyata gerimis sudah mulai membasahi bumi. Jadi Baim datang lagi ke masjid menggunakan payung.
Aini mengangguk sambil melipatkan kedua tangannya karena merasa kedinginan. "Ayo abang antarin, takutnya kalu nunggu reda adek keburu lama sampai ke rumah," ajak Baim pada gadis kecil itu.
Aini yang merasa sudah lapar dan tak sabar ingin menyantap makanan yang ada di rumahnya hanya mengangguk pasrah. Kalaupun ia menolak, pasti ia akan pulang dengan kehujanan karena menerobos hujan.
Baim sudah menaiki tangga untuk menjemput Aini agar segera mensejajarkan diri dengannya. Berhubung payung hanya ada satu, jadilah mereka berjalan berdekatan dibawah payung yang melindungi mereka dari rintikan hujan yang begitu deras.
Sepanjang perjalanan, Baim beberapa kali mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya. Sedangkan Aini hanya menunduk entah karena malu disebabkan tidak biasanya ia berjalan berdekatan dengan seorang pria seperti sekarang ini atau karena dia hanya ingin melihat jalanan yang sudah tergenang air dan menutupi seluruh kakinya agar ia tidak tersandung batu-batu kerikil yang ada.
"Arghhh...," teriak Aini. Pasalnya ada katak yang menempel tepat di kakinya. Ia begitu terkejut hingga tangannya yang terlipat tadi sudah terbuka dan memegang salah satu lengan Baim.
"Ada apa dek?" tanya Baim yang tak kalah terkejutnya. Bukan hanya teriakan Aini yang membuatnya begitu terkejut, namun juga karena salah satu tangan Aini yang tiba-tiba melingkar di lengan Baim yang sedang memegang payung itu yang membuat jantungnya serasa mau copot.
.
.
.
.
.
tbc
__________
Like ya readers
Beri vote juga dong
kritik dan saran kalian aku tunggu juga lho
__ADS_1
Bantuin kasi vote yg banyak ya, kali aja bisa menang ikutan lomba novel๐๐๐๐คฒ๐