Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Motor Baru


__ADS_3

"Ayoo Ni kita ke kantin.." ajak Sara kepada Aini yang masi duduk di bangkunya.


Aini diam saja karena masi kesal dengan Sara tadi.


"Ni.. ayoo.." ajaknya lagi.


"Kau marah ya?"


"Tau ah! kesel aku tuh!" celetuk Aini sambil melipatkan kedua tangannya diatas dada.


"Ya maaf... aku tadi keceplosan.. niatnya cuma bercanda.. eh, taunya beneran kau dipilih bu Santi Jadi sekertaris." Sara menggenggam tangan Aini yang sengaja ia tarik pelan dan meminta maaf dengan wajah yang memelas.


"Uda, nggak perlu pasang wajah jelekmu itu! nggak akan ngaruh untuk mendapat maafku!" Aini tampak masi kesal dengan candaan Sara yang menurutnya nggak lucu sama sekali.


"Ya uda deh.. aku traktir mie ayam gimana? Mau ya.. mau ya.. maafin aku," Sara memainkan alisnya mencoba merayu sahabatnya itu. Karena ia tahu betul Aini pasti tergoda dengan tawarannya.


"Cepat..! tunggu apalagi? Aku sudah lapar ni.." kata Aini yang sudah berlalu pergi meninggalkan Sara yang masi berdiri di tempatnya.


"Tu kan, sudah ku duga, pasti dia tergoda," gumam Sara dan segera mengikuti Aini yang semakin menjauh dari pandangannya.


**********


Ditempat lain..


"Bang, kapan barangnya sampai?" tanya salah satu anak umi kepada Baim.


"Belum tahu.. Mungkin ntar sore atau paling lama siap maghrib.." jawabnya sambil membantu umi memotong wortel.


"Aku jadi nggak sabar pengen nyobain," kata lelaki itu lagi.


"Enak aja.. cuma dia yang bole nyobain duluan," sahut bang Baim sambil memukul pelan wortel yang dipegangnya ke lengan lelaki itu.


"Cie.. Cie.. abang mulai berani ya ngajak anak gadis orang jalan-jalan.." goda lelaki itu.


"Uda sana buang sampah itu ke tempat pembuangan di depan, ntar umi balik lagi kau dimarahin lhoo.." ucap Bang Baim mengalihkan pembicaraan.


Beberapa minggu yang lalu, bang Baim pergi ke dealer motor. Ia sudah punya tabungan yang cukup untuk membayar DP motor yang mau dibelinya. Menurut survei sales yang kemarin datang, seharusnya motor bang Baim hari ini sudah diantar. Namun siang ini belum juga terdengar suara mobil yang mengantarkan motor baru tersebut.


"Besok aku antar gadis itu ke sekolah," gumamnya.


******


"Assalamu'alaikum..."


Aini masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi itu. Rasanya ia lelah jika harus mencari tahu kemana ibu dan kedua adiknya. Ia baru saja pulang dari sekolahnya dan jalan kaki dari persimpangan menuju rumah, hal itu sungguh membuatnya lelah.


Gadis itu pergi ke dapur untuk mengambil minum dan meneguknya segera agar menghilangkan dahaganya saat ini. Kemudian ia mengganti seragam sekolahnya dan dilanjutkan dengan makan siangnya.


drrttt.. drrttt....


Terdengar getar hp Aini di atas meja tepat di sebelah piring makannya. Aini membuka pesan yang masuk.


Bang Baim: Assalamu'alaikum..


Aini: Wa'alaikumsalam..

__ADS_1


Bang Baim: Apa kabar dek? uda beberapa hari tidak kelihatan di masjid.


Aini: Alhamdulillah baik.. iya, biasa bang lagi nggak bisa ke masjid.


Bang Baim: Oiya dek, besok abang rencana mau pergi pagi-pagi, mungkin melewati sekolah adek, kalau besok kita pergi bareng mau nggak?


Aini: Hmm.. gimana ya..


Bang Baim: Mau ya dek, besok abang jemput ke rumah.


Aini: Eh, jangan... ntar ayah marah..


Bang Baim: Trus maunya gimana? ketemu di simpang?


Aini: Ya uda deh, kalo abang maksa. Jemput di simpang aja


Bang Baim: Oke.. tunggu abang besok ya dek


Aini: Iya.. tapi jangan ketiduran lagi


Bang Baim: Siapp bu boss!!😄


Aini tersenyum membaca pesan terakhir dari bang Baim. Sebenarnya tadi ia ingin menolak ajakan bang Baim, tapi dia ingat kalau besok ada tugas sekolah yang harus di kumpul pagi-pagi sebelum memulai pelajaran jam pertama. Akhirnya ia menerima tawaran pria itu.


******


Keesokan paginya..


"Uda rapi belum ya? Ah, begini saja.. tapi seperti kurang cocok.. Mungkin lebih baik begini" tutur bang Baim yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.


"Duh.. bang Baim mana sih.. lama amat.. nggak tahu apa dia kalau aku buru-buru.." gumam Aini yang sudah menunggu di persimpangan.


Tinn... tinn...


Bunyi klakson sepeda motor yang berhenti di depan Aini. Motor itu terlihat mengkilap seperti baru. Tapi untuk apa dia berhenti di depan gadis itu?


Bang Baim membuka kaca helm nya yang berwarna gelap. "Dek, ayoo naik.. ntar keburu telat.."


"Lhoo.. ternyata itu bang Baim, pantas saja motor itu berhenti di depanku," pikirnya. Aini nggak tahu kalau bang Baim baru membeli motor. Ia kira bakal diantar bang Baim naik motor milik suami umi yang biasa digunakannya untuk bepergian.


"Eh, bang Baim.. Aini kira tadi siapa kok berhenti di depan sini.." kata gadis itu dan mendekat ke arah bang Baim yang berada di atas motor.


"Iya dek, uda buruan naik.. ntar adek terlambat.." ucapnya kembali sambil memberikan helm untuk gadis itu. Kemudian Aini naik, seperti biasa ia meletakkan tasnya di tengah-tengah antara dirinya dan pria itu.


"Motor siapa bang?" tanya Aini saat motor yang dikendarai bang Baim sudah melaju.


"Motor abang.." jawabnya singkat.


"Oh.. baru beli ya bang?"


"Iya.. tapi masi nyicil kok," jawab pria itu merendah.


"Alhamdulillah.. nyicil pun kan tetep bayar pake duit bang, itu artinya abang mampu," sahut Aini menimpali.


"Alhamdulillah dek.. semua rezeki dari Allah.." katanya lagi sambil menatap Aini dari kaca spion sebelah kanannya.

__ADS_1


"Iya.. semua rezeki kita kan memang dari Allah bang."


"Ini motor kok lama amat yak jalannya," batinnya.


"Bang, bisa agak ngebut dikit nggak, Aini ada tugas yang harus di antar ke guru sebelum jam pelajaran dimulai," kata gadis itu yang merasa bahwa dari tadi motor berjalan sangat lambat.


"Eh, iya bisa dek.." jawabnya gelagapan.


Bang Baim menambah laju kecepatan motornya. Tadi ia memang sengaja melajukan motornya sedikit lambat dari biasanya, karena ia ingin berlama-lama menikmati waktu berdua bersama gadis kecil itu. Tapi sayang gadis itu malah meminta ngebut.


Tak berapa lama motor telah sampai di depan sekolah Aini.


"Makasih ya bang," ucapnya sambil memberi helm ke tangan bang Baim.


"Makasih doang ni?" tanya pria itu.


Aini mengernyit heran. "Emang apalagi coba?" batinnya.


"Trus? abang minta bayaran?" kata yang akhirnya keluar dari mulut Aini.


"Bukan itu.." Bang Baim menjulurkan tangan kanannya.


"Apaan ni maksudnya?" pikir Aini.


"Salam kek, uda dianterin juga," pinta bang Baim kepada gadis kecil dihadapannya.


"Idiihhh.. apaan salam-salaman.. Emang abang tu ayah Aini apa, minta di salam segala," cibir Aini dan berlalu pergi meninggalkan bang Baim mematung mendengar perkataan gadis itu.


"Aduh... bodohnya aku.." kemudian menepuk dahinya sendiri. "Mana mungkin gadis itu mau salaman sama ku, kan bukan muhrim," gumamnya.


"Sepertinya aku sudah tidak sabar menunggu hal itu jadi kenyataan." Bang Baim tersenyum memikirkan hal itu yang ntah kapan akan terjadi.


Aini ternyata belum benar-benar pergi, ia menoleh lagi ke belakang setelah memasuki gerbang sekolah dan melihat tingkah aneh bang Baim yang menepuk dahinya sendiri.


"Kenapa tu orang?" batinnya.


.


.


.


.


.


tbc


__________


Siap dibaca jan lupa Like


vote yg banyak


biar author banyakin juga up nya

__ADS_1


kritik dan saran juga masih dibutuhkan ya😊


__ADS_2