Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Aku Lulus?


__ADS_3

"Bu, kakak nanti pulangnya agak lama ya," pamit Aini pada ibu yang sedang membersihkan rumah.


"Mau kemana rupanya? Hari ini 'kan hanya melihat pengumuman saja, kenapa lama?" tanya Ibu secara detail. Bukan ibu Ema namanya kalau tidak suka menginterogasi anaknya yang akan pergi di luar jadwal yang sudah seharusnya.


Hari ini hari pengumuman siswa/siswi yang lulus masuk sekolah MAN, jadi Aini dan Sara rencananya mau pergi makan siang di luar karena Amar hari ini juga menemani Sara melihat hasil pengumumannya, untuk itu Aini pamit pada ibu agar tidak mengkhawatirkannya jika pulang tidak tepat waktu.


"Sara ngajakin makan di cafe yang baru buka di dekat sekolah MAN bu," jelas Aini.


"Hanya makan?" tanya Ibu. Aini hanya mengangguk sambil memakai kaos kakinya. "Jangan-jangan kalian mau pacaran? Kakak sudah punya pacar?" selidik ibu.


"Emm.. itu.. enggak ada kok bu," kilah Aini.


"Benarkah? Tidak bohong 'kan?"


"Jadi ibu mengizinkan tidak, kalau Aini makan siang di luar nanti bareng Sara?" Aini kembali bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah, jangan terlalu lama. Jangan lupa waktu salat, itu yang terpenting!" petuah ibu.


Aini menempelkan jari-jarinya ke dahi membentuk hormat. "Siap bu bos!" ucap Aini, lalu ia mencium tangan dan mengucap salam pada ibu karena akan segera pergi. Ia hari ini pergi bersama Sara, tapi karena Aini sudah lebih dulu selesai dan Sara belum datang, jadi mereka janjian bertemu di persimpang saja.


*


"Mana nih Sara? Tumben lama tu anak!" oceh Aini sendiri saat menunggu di simpang. Sepuluh menit sudah ia menunggu di sana, namun Sara belum juga menampakkan batang hidungnya.


Saat Aini hendak mengambil handphone dari dalam tasnya, di saat bersamaan benda itu juga berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari Sara. Sahabatnya itu mengabarkan kalau dia sedikit terlambat sampai ke simpang karena harus membantu mamaknya yang sangat repot pagi ini, berhubung akan diadakannya acara arisan keluarga di rumahnya esok hari.


Aini masih setia menunggu karena Sara sudah mengabarkan akan segera datang. Ia hendak mengambil kembali benda pipih yang sudah di simpannya ke dalam tas, namun ia urungkan niatnya mengingat banyaknya orang yang sering kena jambret saat memainkan handphone di pinggir jalan begini.


"Aini.." sapa Sara saat sudah sampai di persimpangan dan melihat Aini sedang memperhatikan jalanan yang begitu ramai.


Aini menoleh. "Maaf ya aku lama," ucap Sara lagi.


"Tumben lama, ngapain aja sih di rumah? Jangan-jangan kau lama karena harus berdandan dulu biar terlihat lebih cantik saat bertemu Amar ya?" ledek Aini.


"Nggak perlu dandan cantik juga si Amar sudah tergila-gila sama aku kali!" sahut Sara sedikit angkuh.


"Susah memang kalau punya kawan pedenya selangit!" celetuk Aini.

__ADS_1


Sara tertawa ringan. "Aku bukan berdandan Aini, tapi aku membantu mamak ku mencuci piring buat acara besok," terang Sara.


"Ada acara apa di rumahmu?"


"Ada arisan keluarga, jadi piring-piring yang di dalam lemari 'kan sudah pada berdebu, makanya mamak ku menyuruh aku untuk membersihkannya kembali."


"Oh begitu.." sahut Aini. "Eh, itu angkot kita, yuk berangkat!" ajak Aini saat sudah menyetop angkot yang akan melintas di hadapan mereka.


*


"Misi.. Misi.. gantian dong!" ucap Sara saat berada di kerumunan orang yang sedang melihat papan pengumuman.


Beberapa saat yang lalu mereka sudah tiba di sekolah MAN. Mereka langsung pergi ke tempat yang terlihat begitu ramai. Ternyata di sana semua orang sedang melihat papan pengumuman nama-nama siswa/siswi yang lulus seleksi masuk ke sekolah ini.


"Aini kau pegang tas ku ya, jadi kita tidak terpisah. Lihat Di sekeliling kita sangat ramai, aku takut kau di culik orang!" titah Sara.


"Astaghfirullah, emang aku bocah pakai takut di culik orang segala!"


"Sudah menurut saja, nanti aku susah mencari mu kalau kita terpisah! Di sini 'kan sangat ramai sekali!" pinta Sara.


"Iya.. ini aku sudah pegang tas mu. Kita bagi tugas biar cepat ketemu nama kita. Kau baca nama-nama di lembar atas dan aku yang di bawah," titah Aini pula.


Cukup lama mereka membaca satu per satu nama-nama murid yang lulus seleksi. Hingga akhirnya Sara menemukan nama Aini di lembar ketiga.


"Dapat!" ucap Sara.


"Kau lulus?" tanya Aini yang menghentikan kegiatannya sejenak.


"Bukan aku, tapi kau," sahut Sara sedih.


"Benarkah? Aku lulus?" tanya Aini lagi.


"Iya, coba lihat ini," tunjuk Sara pada lembar yang tertera nama Aini di sana.


"Alhamdulillah.." ucap syukur Aini lalu ia menatap Sara yang tampak sedih. "Kau jangan sedih, aku yakin kau juga pasti lulus. Kita 'kan belum melihat seluruh nama-nama yang lulus. Aku juga baru melihat lembar kedua, masih ada tiga lembar lagi. Mungkin di situ akan ada namamu dan Bagas," tutur Aini.


"Benar juga, ayo kita lanjutkan!" ucap Sara semangat.

__ADS_1


Mereka kembali melihat lembaran kertas yang belum sempat terbaca di papan pengumuman.


"Nah, ini dia!" Kini giliran Aini yang menemukan nama Sara.


"Mana? Namaku 'kan?" tanya Sara memastikan, karena Aini tadi sempat menyebut akan mencari nama Bagas, jadi ia tidak mau kecewa jika yang ditemukan Aini itu bukan namanya.


"Iya 'lah, ini namamu!" tunjuk Aini pada lembar ke empat yang dibacanya, lalu Aini melanjutkan membaca satu lembar terakhir berharap ada nama Bagas di sana.


"Alhamdulillah aku lulus juga. Yeay, kita satu sekolah lagi," ucap Sara kegirangan. "Eh, tapi tunggu dulu. Aku sudah melihat lima lembar di bagian atas dan tidak menemukan nama Bagas, apa dia tidak lulus?" tanya Sara.


"Belum tahu, aku juga masih mencarinya," sahut Aini yang masih sibuk membaca dengan teliti lembaran kertas yang menempel di papan pengumuman tersebut.


"Gimana? Tidak ketemu juga?" tanya Sara kembali.


Aini menggelengkan kepalanya. "Aku sudah baca dengan teliti, tapi tidak menemukan namanya. Apa benar di lembar yang kau baca tadi juga tidak ada namanya?"


"Tidak ada Aini. Aku juga baca dengan teliti. Biar pun otakku pas-pasan, tapi kalau cuma untuk mencari nama orang di lembar pengumuman begini aku masih sanggup!" jawab Sara sedikit kesal. Ia merasa kalau Aini tidak percaya dengan dirinya yang sudah benar-benar membaca setiap lembar kertas dengan teliti.


"Kalau kau masih ragu, coba saja cari kembali nama Bagas di lembar kertas bagian atas yang sudah ku lihat tadi!" lanjut Sara.


"Iya, kau benar, memang tidak ada nama dia di sini," ucap Aini saat sudah selesai membaca kembali lima lembar teratas yang sudah di baca Sara.


"Ya sudah, berarti kita sama," jawab Sara. Aini mengernyit heran karena tidak mengerti maksud Sara. "Aku juga tidak satu sekolah dengan Amar dan sekarang kau juga," terangnya.


"Tapi aku tidak sedih seperti kau. Aku malah bersyukur, setidaknya Allah menjauhkanku dari dosa-dosa kecil yang ku perbuat," batin Aini.


Selama ini dia sebenarnya merasa gelisah karena harus berbohong dengan ibu kalau ia memang sudah punya pacar. Ia juga takut kalau ia beneran satu sekolah dengan Bagas, pasti dia akan sering telat pulang sekolah karena Bagas pasti mengajaknya jalan atau sekedar makan siang di luar.


"Ayo kita keluar, agar yang lain bisa gantian melihat pengumuman, sekalian kita tunggu Bagas dan Amar di depan," ajak Aini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


LIKE nya jan lupa👍😊♥️♥️


__ADS_2