
"Bu ustadzah bisa galak juga rupanya!" celetuk Sara, kemudian ia kembali melihat kertas formulir dihadapannya dan segera mengisinya.
"Astaga, kok jadi ribut gini sih!" batin Bagas yang merasa tak enak hati melihat Aini marah terhadapnya.
Akhirnya Bagas mengalah. "Maaf, aku tidak akan mengulanginya. Kalau begitu sekarang kamu mau 'kan memakai pulpen ini.." Bagas kembali menyodorkan pulpen ke arah Aini.
Aini menatap Bagas sekilas lalu diam sejenak. "Baiklah, tapi janji tidak akan mengulanginya?" tanya Aini memastikan.
"Iya janji sa.. Aini.." Hampir saja Bagas kembali mengulang kata sayang, untung dia keburu ingat.
* *
"Yank.. sayang.. kamu masih marah?" ucap Bagas sambil mengejar Aini yang sudah lebih dulu jalan ke luar gerbang sekolah MAN.
Beberapa saat yang lalu ketika Aini sudah menyelesaikan formulir pendaftaran, ia segera menyatukan semua berkas yang diperlukan untuk disertakan dengan formulir itu dan memberikannya kepada pegawai yang mengurus administrasi sekolah. Ia lalu bergegas meninggalkan Bagas dan Sara yang masih menunggu antrean berhubung banyaknya calon siswa/siswi yang mendaftarkan diri di sana.
"Aini.. tunggu.." teriak Sara yang juga ikut mengejar sahabatnya itu.
Aini menghentikan langkahnya diantara penjual jajanan di depan sekolah. Dia mengeluarkan pecahan uang berwarna coklat untuk membeli makanan yang bertuliskan tela-tela di bungkusan makanannya.
"Yank.. maafin ya," rengeknya di depan Aini yang sedang mengunyah makanannya.
"Jaga bicaramu!" ketus Aini.
"Maaf.." ucap Bagas lirih.
Sara nampak ngos-ngosan saat tiba di hadapan Aini dan Bagas. Ia yang terakhir menyiapkan semua berkas pendaftaran, terpaksa mengejar Aini yang sudah jauh berjalan meninggalkannya tadi.
"Huhh!" Sara membuang napas kasar. "Aku capek ngejar kau, eh kau enak-enakan makan di sini!" gerutu Sara.
"Lapar tau! Begitu panjang antrean tadi, membuat cacing di perutku meronta-ronta!" sahut Aini cuek.
"Ini kenapa lagi sama si Bagas? Kok wajahmu cemberut begitu?" tanya Sara yang melihat Bagas berdiri di sebalah Aini.
"Tu, temanmu! Gara-gara masalah tadi ngambeknya nggak udah-udah!" celetuk Bagas.
"Siapa yang ngambek? Aku hanya lapar!" sangkal Aini.
"Jadi kamu sudah tidak marah?" tanya Bagas memastikan. Aini hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan. Sepertinya dia memang sangat lapar.
"Kita makan mie ayam yuk?" ajak Bagas yang sekarang tampak kegirangan. Dia pasti hapal makanan favorit pacarnya dan gadis itu pasti tidak akan menolak ajakannya.
"Ayo, aku juga lapar," sahut Sara. Padahal Bagas tentu mengajak Aini, tapi tampaknya Sara yang begitu bersemangat.
"Sorry.. sorry ya, yang ngajak situ siapa?" ledek Aini pada sahabatnya yang suka ceplas ceplos itu.
__ADS_1
"Oke, fine. Aku pulang!" Sara merajuk dan hendak pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bisa merajuk juga dia?" celetuk Bagas.
Aini hanya mengangkat kedua bahunya. "Sensi kali dia, karena nggak ada Amar," sahut Aini.
"Terus aja ledekin aku yang menjomblo ini. Awas kalian ya, ntar aku aduin sama Amar!" ancam Sara dengan nada bercanda.
Aini dan Bagas tertawa lepas. "Lucu juga kalau Sara merajuk," ucap Bagas di sela tertawanya. "Sudah ayo, kita jalan sedikit ke depan sana! Aku tahu tempat jual mie ayam terenak di daerah ini," lanjut Bagas.
* *
Dua hari kemudian
Pagi ini Aini akan kembali ke sekolah MAN untuk mengikuti ujian seleksi. Peserta yang mengikuti ujian di bagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama pada pukul tujuh lewat seperempat, sedangkan gelombang kedua pukul sepuluh. Aini sendiri dapat jadwal di gelombang pertama, namun berbeda dengan Sara dan Bagas yang malah di gelombang kedua. Mau tidak mau dia harus berangkat sendiri pagi ini.
"Ihh.. angkot pada kemana sih? Nggak tau orang sudah hampir telat!" gerutu Aini saat menunggu angkot di persimpangan.
Aini melihat jam dipergelangan tangannya. "Sudah hampir setengah tujuh, lima menit lagi angkot tidak datang, aku pasti telat!" gumam Aini.
Tiiinn.. tiiinn...
"Dek, mau kemana? Bukannya sekolah masih libur?" sapa bang Baim setelah membunyikan klakson motornya di depan Aini.
"Eh abang, mau ke sekolah MAN bang. Hari ini ujian seleksi untuk menentukan siswa yang bakal diterima atau tidak di sekolah itu," sahut Aini yang tampak cemas.
"Tujuh lima belas, bang."
"Sekarang sudah setengah tujuh, apa tidak terlambat?" Bang Baim tahu kalau untuk sampai ke sekolah MAN paling cepat sekitar setengah jam, itupun kalau tidak macet, kalau macet ya bisa sampai empat puluh menitan juga, karena saat bang Baim ngampus dulu, ia selalu melintasi sekolah tersebut, jadi dia tahu perkiraan untuk sampai ke sana.
"Iya, Aini tahu bang. Tapi dari tadi angkot yang melintas tidak ada yang jurusan ke sekolah MAN," adunya pada Baim.
"Kalau begitu cepat naik!" titah Baim.
Aini tertegun heran. "Maksudnya apa bang?"
"Kok masih tanya. Aini cepat naik, biar abang antar sampai ke sekolah!" jelas Baim.
"Tidak usah bang, biar Aini menunggu angkot saja. Sebentar lagi juga lewat," tolak gadis itu.
"Sudah hampir telat masih saja tidak terima bantuanku!" batin Baim.
"Tidak usah sungkan, abang juga tidak ada urusan pagi ini. Jadi biar abang antar saja ya, dari pada nanti telat, bisa tidak di ijinkan ikut ujian 'kan?" terang Baim meyakinkan. Sebenar nya ia tadi di suruh Umi menjemput kotak kue yang sudah habis di warung yang tak jauh dari persimpangan, namun demi pujaan hati ia rela menunda pekerjaan itu.
Aini jadi serba salah. Ia mau menolak ajakan Baim karena takut jika Bagas tahu, maka ia dikira tidak menghargai hubungannya dengan Bagas karena jalan dengan laki-laki lain saat masih berstatus pacaran, tapi dia juga takut kalau hari ini terlambat untuk mengikuti ujian seleksi.
__ADS_1
"Hari ini Bagas dan Sara 'kan ujian di gelombang kedua, itu artinya mereka tidak akan tahu kalau aku diantar bang Baim," batin Aini.
"Aini.. hei.. cepat naik!" tegur bang Baim lagi saat mendapati Aini masih saja diam di tempat. Aini langsung menaiki motor bang Baim sambil berdoa dalam hati semoga tidak ada yang memberitahu Bagas akan hal ini.
Bang Baim begitu kegirangan saat Aini mau diajak naik motornya, setelah sekian lama mereka tidak pernah sedekat ini lagi. "Beruntungnya hari ini aku bisa bertemu Aini di simpang dan punya kesempatan mengantarnya ke sekolah," batin Baim. Baim segera melajukan motornya agar cepat sampai ke tujuan mengingat waktu sudah sangat mendesak.
*
"Makasih ya bang, maaf ngerepotin," ucap Aini saat sudah tiba di depan gerbang sekolah MAN.
"Tidak masalah, abang senang membantu adek," sahut Baim.
"Kalau begitu, Aini masuk dulu ya bang, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, semoga ujiannya lancar ya," teriak Baim saat Aini sudah melangkah pergi meninggalkan nya.
"Ya Allah, semoga gadis kecilku lulus seleksi masuk ke sekolah ini," doa Baim sesaat sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan sekolah itu.
*
"Aini.." tegur seseorang saat Aini mau masuk ke ruang ujian yang telah ditentukan.
Aini menoleh dan mendapati Ela di belakangnya. "Ela, kau daftar di sekolah ini juga?"
"Iya, tadinya Umi ku mau masukin aku ke pesantren, cuma nggak cukup uang karena biayanya mahal. Jadi aku di suruh sekolah di sini deh," jelas Ela. "Eh, betewe, tadi siapa yang anterin?"
"Waduh, mati aku. Ela pakai lihat segala, aku 'kan jadi bingung mau jawab apa," batin Aini.
"Abang sepupu kau ya?" tukas Ela, karena tidak mendapat jawaban dari Aini.
"Ehmm, itu.. Iya. Saudara 'lah pokoknya," jawab Aini asal. Setidaknya iya menjawab jujur, bukannya semua umat muslim bersaudara? Jadi ia jawab saudara tadi maksudnya saudara sesama muslim. hehehe
"Ya sudah, ayo masuk! Nanti kita nggak di kasih masuk kalau telat!" ajak Aini. Ia takut kalau Ela akan bertanya yang macam-macam nantinya.
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1
________________
Like nya jan lupa ya readers😊🙏