
"Dek tunggu..! ada yang mau abang bilang," tahan Baim saat Aini akan melangkahkan kaki menuju tangga masjid sebelah kiri.
Aini menghentikan langkahnya. Rasanya sekujur tubuhnya begitu kaku saat mendengar suara pria itu.
"Mau apa dia?" batin Aini.
"Dek, kenapa adek menjauh dari abang? Apa abang punya salah? Kalau ada abang minta maaf," tutur Baim.
Aini diam seribu bahasa. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun ke belakang. Membiarkan bagian belakang tubuhnya yang menggunakan mukena berwana merah muda bercorak bunga sakura itu dilihat oleh Baim. Dia bukan tidak ingin menjawab pertanyaan pria itu, tapi dia bingung harus memulai darimana. Apa mungkin dia akan berkata bahwa dia cemburu karena ada wanita lain yang mencintai Baim? Atau dia akan bilang bahwa dia membenci pria itu karena telah menghancurkan perasaannya yang mulai tumbuh terhadapnya? Tidak mungkin! Dia sadar diri akan hal itu, mustahil ia mengatakannya karena ia bukan siapa-siapanya, bahkan Baim juga tidak pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Aini.
"Tahan Aini.. tahan.. jangan nangis di sini," batinnya. Aini menahan segala emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Akhirnya ia memutuskan untuk terus melangkah pergi dan meninggalkan Baim di belakangnya.
"Dek.. jangan pergi, jawab dulu pertanyaan abang," Baim berjalan mengikuti Aini.
"Bang, di panggil wak dolah, katanya abang di suruh azan, ini sudah masuk waktu isya," teriak Ivan dari tangga sebelah kanan masjid saat melihat Baim sedikit ke arah kiri masjid dekat pintu utama.
Baim berdecak kesal. "Iya," jawabnya. Tidak mungkin ia menolak permintaan wak dolah, tapi ia juga belum mendapatkan jawaban Aini.
"Biarlah, nanti sehabis sholat aku akan coba kembali menemuinya," gumam Baim, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Aini yang sudah memasuki pintu utama masjid.
Saat Aini merasa bahwa Baim sudah tidak mengejarnya lagi, ia menoleh ke belakang dan benar kalau Baim sudah pergi dari sana.
"Maaf bang, tapi lebih baik kita begini. Aku tidak mau menyakiti perasaan wanita lain. Cukup aku yang tersakiti di sini," batinnya.
Imam sudah mengucap salam menandakan sholat berjamaah sudah usai. Aini langsung memanjatkan doa tanpa mengikuti imam. Lalu ia buru-buru pergi agar tidak bertemu dengan Baim kembali, ia tidak ingin merasakan sakit untuk kesekian kalinya. Melihat wajah Baim hatinya begitu sakit karena merasa telah dibohongi olehnya.
"Apa arti kedekatan kita selama ini kalau ternyata bang Baim sudah punya pacar? Apa dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja?" Aini menerka-nerka jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Sementara itu, Baim masih berada di dalam masjid. Sebenarnya usai sholat ia juga ingin buru-buru pergi mengejar Aini, tapi wak dolah memanggilnya.
"Im, kamu mau kemana? Mengapa terlihat buru-buru sekali?" tanya wak dolah saat melihat Baim meninggalkan shaf sholat.
"Iya, Baim mau pulang wak, perut Baim sudah keroncongan," ujarnya memberi alasan.
"Oh, ada yang mau uwak bilang," sambung wak dolah.
"Apa itu wak?" Dalam hati Baim ia ingin segera berlari kencang karena dia yakin pasti gadis kecilnya sudah buru-buru pulang untuk menghindarinya.
__ADS_1
"Uwak mau bilang, kamu kalau habis sholat maghrib jangan langsung pulang sampai masuk waktu isya. Takutnya tidak ada yang azan kalau uwak juga tidak datang. Lagian uwak uda nggak kuat buat azan, nafas uwak suka ngos-ngosan," tutur wak dolah.
"Iya wak, Baim usahain. Biasanya selepas maghrib Baim pulang buat makan wak, kalau nunggu siap isya lama banget," sahut Baim.
"Kalau begitu, kamu makannya sebelum maghrib saja," usul wak dolah.
"Aduh, kok wak dolah jadi ngatur-ngatur jadwal makanku," batin Baim.
"Iya wak," jawabnya pada wak dolah. "Daripada jawab yang enggak-enggak ntar jadi tambah panjang ceritanya," pikirnya lagi.
"Ya sudah, ayo kita pulang, katanya kamu sudah lapar," aja wak dolah.
"Duh.. kok nggak dari tadi sih wak! Pasti sekarang Aini sudah pulang," batin Baim.
"Iya, ayo wak," sahutnya kemudian.
* * *
Aini terengah-engah bahkan ia menarik nafas dalam seakan-akan kehilangan banyak oksigen dalam tubuhnya. "Untung bang Baim nggak ngejar aku," gumamnya.
"Loh, kakak kenapa?" tanya ayah saat mendapati Aini masuk ke dalam rumah dengan terengah-engah.
"Tidak apa-apa tapi nafasnya ngos-ngosan seperti di kejar setan begitu!" celetuk ibu.
"Iya bu, tadi di depan pagar ada kecoa, jadi kakak memang berlari sampai ke rumah," ucapnya berbohong.
"Sama kecoa aja takut," ledek Iva ikut nimbrung.
"Macam kamu berani saja!" cibir Aini.
"Berani dong," ucapnya bangga. Padahal Iva sebenarnya juga takut pada kecoa, hanya saja demi gengsi ia berpura-pura mengatakan kalau ia berani.
"Sudah cepat ganti mukena kamu sana, habis itu langsung makan, nanti kalau sering telat makan bisa kena sakit maag lagi," tutur ibu.
"Iya bu," jawabnya.
* * *
__ADS_1
Baim sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sepulang dari masjid tadi ia sudah makan, kerena biasa memang selepas maghrib ia makan bersama dengan Umi, Abi dan kedua anak mereka. Tapi karena tadi ia berniat menunggu Aini, jadi ia tidak pulang ke rumah selepas maghrib.
"Gara-gara wak dolah aku jadi gagal menjumpai Aini kembali. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu apa kesalahanku terhadapnya." Baim berbicara pada dirinya sendiri.
"Abang salah apa dek? Kenapa kamu tidak mau berbicara sama abang? Bahkan menatap abang saja kamu sudah tidak mau," batinnya lagi. Kini butiran bening dari pelupuk matanya sudah membasahi pipi.
Sebelumnya Baim tidak pernah merasakan hal seperti ini. Hanya karena tidak digubris oleh seorang gadis membuatnya sampai menangis. Padahal sewaktu bersama Yuna dia bahkan sering mengabaikan wanita itu dan Baim merasa baik-baik saja.
"Apa yang membuatku menjadi selemah ini hanya karena menghadapi seorang gadis kecil saja? Apa ini karma karena aku dulu sering mengabaikan wanita yang menyukaiku?" Baim tak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri.
Dia begitu frustasi memikirkan gadis itu, sampai ia lelah dan tertidur dengan sendirinya.
"Astaghfirullah..." Baim terjaga dari tidurnya. Ia baru saja mengalami mimpi buruk. Nafasnya begitu memburu, peluh pun membasahi sekujur tubuhnya. Ia meneguk segelas air putih yang ada di atas nakasnya.
"Pukul 02.00," lihat nya pada jam dinding di kamarnya. Baim memutuskan untuk segera berwudhu dan melaksanakan sholat malam.
Ya Allah Ya Rabbi.. Ampunilah segala dosa hamba, dosa kedua orangtua hamba, dan dosa orang-orang mukmin, lindungilah kedua orangtua hamba dimana pun mereka berada.
Ya Allah.. aku berserah diri kepadamu dari segala prasangka baik dan buruk. Aku tau Engkau telah menentukan jodoh bagi tiap-tiap makhluk di muka bumi ini, tapi satu pinta ku Ya Rabb, Aku ingin dia, gadis kecil yang mengisi seluruh relung hatiku, gadis kecil yang menghiasi kehidupanku belakangan ini. Maafkan aku jika aku egois memintanya kepadamu, tapi hanya Engkau yang mampu mengabulkan permintaanku. Jagalah dia untukku sampai saatnya tiba Ya Allah, bukakanlah pintu hatinya untukku. Kabulkan permintaanku ya Allah, aamiin.. aamiin.. aamiin Ya Rabbal 'aalamiin.
Baim tak dapat menahan air matanya saat bermunajat kepada sang Pencipta. Bahkan matanya sudah sangat merah dan terus mengeluarkan butiran bening itu. Perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata itu hanya mampu diluapkan lewat air matanya. Cintanya begitu besar terhadap gadis kecil itu, namun ia harus meminta restu kepada sang Pencipta agar dia tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.
.
.
.
.
.
tbc
___________
Biasakan sehabis membaca di LIKE ya readers..
__ADS_1
bukan hanya pada novel ku, tapi pada semua novel yang kalian baca. 1 LIKE yang kalian berikan, menambah semangat author utk terus berkarya..
Terima kasih🙏😊😊