Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Akhirnya


__ADS_3

Setelah kepergian Aini, ayah dan ibunya tertawa karena mereka juga tak habis pikir kenapa bisa sambung-menyambung untuk meledek anak sulung mereka itu.


"Ayah kok bisa sih ngomong gitu?" tanya Ibu setelah berhenti dari tertawanya.


"Ayah kan cuma menyambung kata-kata ibu, teringat waktu kita nikah dulu. Ayah berucap dihadapan ayah mertua seperti itu, karena mahar nikah kita dulu memang seperangkat alat sholat kan bu?"


"Ah, iya juga. Tapi kasian juga Aini yah, kan dia jadi malu. Lagian dia juga masih terlalu kecil untuk kita ledekin seperti itu," ucap ibu sedikit merasa bersalah.


"Anak zaman sekarang beda bu, walau kecil pasti sudah tau cinta-cintaan. Tu lihat berita di TV, anak di bawah umur sudah melakukan hubungan terlarang seperti s*ks bebas," jelas ayah.


Ibu mengangguk pelan. "iya juga," pikirnya. "Yah, kalau seandainya Baim memang serius sama anak kita, apa ayah setuju kalau Aini nantinya nikah muda?"


"Ayah juga nggak tau bu, rasanya kasihan kalau si kakak harus nikah muda, dia juga kan pasti ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, atau minimal dia mau bekerja dulu untuk meniti karir."


"Tapi kalau memang sudah jodoh, ayah ya tidak bisa larang," lanjut ayah.


Ibu mengangguk membenarkan. "Ya sudah, ibu masuk dulu ke dalam, nyiangin ikan yang tadi ibu beli," ucap ibu dan berlalu pergi dari hadapan ayah.


* * *


Aini mengambil handphonenya yang berada di atas nakas saat benda pipih itu berdering. Sehabis mengobrol dengan ayah dan ibunya di teras depan tadi, gadis itu memilih masuk ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Bagas : Hai, lagi apa?


Aini membuka pesan yang masuk, ternyata dari Bagas. Dia pun membalas pesan itu.


Aini : Lagi istirahat, situ lagi apa?


Bagas : maaf ya ganggu, yaudah lanjutin istirahat nya


Aini : Eh, nggak ganggu kok. istirahat kan bukan berarti tidur


Bagas : Oh, kirain. Aini uda siap PR untuk besok?


Aini : Sudah, kemarin aku langsung kerjain karena kebetulan lagi nggak ada kerjaan lain. Bagas udah siap belum?


Bagas : Sedikit lagi, bagian terakhir kurang paham, jadi belum dikerjain. Aini bisa ajarin nggak?


Aini : Aku kirimin aja ya fotonya lewat wa. Ntar aku foto dulu bukunya.


Hari-hari Aini memang sering bertukar pesan dengan Bagas. Bukan membicarakan hal yang tidak bermanfaat, tetapi mereka sering bertanya masalah tugas. Saling bertukar pendapat jika salah satunya ada yang tidak paham. Seperti saat ini, Bagas yang meminta bantuan Aini untuk memberitahukan tugas yang dia belum mengerti.


"Kak," sapa Tia saat melihat kakaknya tengah berbaring sambil memegang handphone di tangannya.


"Hmm.." sahutnya sekilas dan sudah meletakkan benda pipih itu di atas nakas kembali.

__ADS_1


"Adek bagi itu dong," tunjuknya pada kotak di bawah ranjang Aini.


"Apa?" tanya Aini yang tidak paham.


"Adek uda lihat kado kakak, ada banyak buku di sana. Adek bagi ya kak, buku adek uda pada habis," jelas Tia.


"Bagus..! siapa yang ngajarin sentuh-sentuh barang orang lain tanpa seizin yang punya?" Aini berbicara dengan nada sedikit tinggi, agar adiknya tidak terbiasa melakukan hal seperti itu dan tidak mengulanginya lagi. Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele, tapi tidak bagi Aini. Ia cukup mendisiplinkan diri untuk tidak sembarangan menyentuh barang yang bukan miliknya, jadi ia terapkan juga pada kedua adiknya.


"Maaf kak.. habisnya Tia penasaran. Kebetulan adek lihat kotaknya juga sudah terbuka, ya adek lihat aja isinya," jelas Tia dengan wajah tertunduk.


"Kali ini kakak maafin, tapi lain kali jangan diulangi!" titah Aini. "Ya sudah, ambil saja berapa banyak buku yang adek perlu, buku kakak juga masi banyak," lanjutnya.


"Yeee... makasi kak," ucap si bungsu kegirangan sambil berjalan mendekat ke arah Aini dan akan segera memeluknya.


"Eitttss.. Mau apa? Jangan peluk-peluk ya, adek belum mandi!" cegah Aini, sedang salah satu tangannya menutup hidung seakan tidak ingin mencium bau aroma tubuh sang adik.


Si bungsu hanya cengengesan. Memang sehabis ia menyikat sepatu tadi, si Iva yang akan duluan mandi. Jadi sampai saat ini si bungsu masih menunggu kakak keduanya itu selesai mandi. " Kalau begitu, adek langsung pilih saja buku tulis yang mau adek ambil ya kak," pintanya.


"Ambillah," sahut Aini.


* * *


Sore harinya, si Iva meminta ayahnya untuk membelikan crayon di mini market dekat persimpangan jalan yang biasa Aini menunggu angkot. Si bungsu tidak mau ketinggalan juga minta ikut walau tidak ada keperluan yang ingin dibelinya.


"Mau nemenin adek mu beli crayon, katanya di suruh bu guru besok menggambar pakai crayon," tutur ayah.


Iva terlihat keluar dari kamar. "Kak, ikut yuk!" ajaknya sambil melihat sang kakak yang asyik menonton TV.


"Males ah, ini filmnya lagi seru!" tolak Aini tanpa menoleh ke arah adiknya.


"Sudah, kakak ikut saja, biar bisa jagain adikmu agar tidak minta yang macam-macam," titah sang ibu yang baru saja datang dari arah dapur. Ibu sangat tahu kelakuan anak tengah dan bungsunya itu, kalau sudah ke mini market pasti semua jajanan di borong dan membeli barang yang tidak terlalu penting. Sedangkan Aini yang lebih dewasa dari kedua adiknya pasti bisa memilah yang harus dibeli atau tidak.


Aini mengangguk pasrah. "Ya sudah, bentar kakak pakai hijab dulu," ucapnya, kemudian segera masuk ke kamar untuk mengambil hijabnya.


tin.. tin..


Ayah Broto sudah menghidupkan motor dan di sana kedua adik Aini juga sudah ikut menaikinya. Tia si bungsu yang menghidupkan klakson itu karena tidak sabar ingin segera pergi, namun sang kakak belum juga keluar dari kamar mereka.


"Iya.. sebentar.." teriak Aini dari dalam kamar.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di mini market. Kedua adik Aini langsung berhamburan ingin segera memilih barang yang akan mereka beli. Aini mengejar si bungsu dan menggenggam tangannya agar tidak pergi sendirian. Sedangkan ayah dan Iva sudah berjalan ke arah rak yang tersusun banyak crayon di sana.


"Iva mau yang ini yah," tunjuknya pada crayon yang tersusun rapi di dalam kotak yang cukup besar dan isinya sangat banyak.


"Ini saja," ucap Aini yang sudah ada di sebelah ayah dan adiknya itu. Kemudian tangannya sudah meraih crayon kecil yang isinya hanya 12 buah.

__ADS_1


"Itu sedikit sekali kak, warnanya tidak lengkap!" Iva mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.


"Adik kan masih kecil, jadi untuk apa punya crayon yang isinya begitu banyak, tidak terlalu bermanfaat dek," jelas Aini. "Kata ibu, kita harus berhemat, kalau masih bisa mempergunakan yang kecil dan sedikit, kenapa harus beli yang besar dan banyak?" lanjutnya lagi.


"Benar juga kata kakakmu, yang ini saja ya," timpal ayah. Akhirnya Iva mengalah, niat hati mengajak sang kakak ingin menanyakan crayon mana yang paling bagus diantara semuanya, malah kakaknya langsung memilihkan yang paling sedikit isinya. nasib.. nasib..


Setelah selesai memilih crayon, mereka membeli beberapa snack kesukaan si bungsu dan tak lupa kacang kulit kesukaan ayah. Sedangkan Aini yang tahu bahwa ini mendekati akhir bulan, pasti ayah belum gajian, jadi dia tidak membeli apapun di sana. Mereka segera menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya.


Saat Aini berjalan duluan dan hendak mendorong pintu mini market, ia berpapasan dengan Baim yang juga akan masuk melewati pintu itu. Mereka berdua nampak terkejut, namun tidak sampai mengeluarkan kata-kata.


"Assalamu'alaikum dek." Baim memberanikan diri untuk menegur gadis itu setelah ia memasuki mini market dan Aini masih menunggu di depan pintu karena belum juga keluar.


Aini tersenyum kecil dan langsung menundukkan pandangannya. "Wa'alaikumsalam," jawabnya lirih, tetapi karena jarak mereka berdekatan, Baim masih bisa mendengar ucapan Aini.


Aini langsung keluar dari mini market itu. Sedangkan Baim masih mematung di sana karena merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia merasa begitu bahagia. "Setelah sekian lama, akhirnya aku melihat kembali senyum itu," batinnya.


.


.


.


.


.


tbc


____________


Jan senyum-senyum sendiri guys


Di Like ya siap di baca


karena novel ini termasuk novel remaja, jadi author ikutan lomba menulis novel #Happyteens dari mangatoon


beri vote juga


komen juga bole


Bagi readers yg uda ikutin novel aku dari awal terbit, aku cuma mau sampein, coba di lihat ulang dari prolog, karena aku baru masukin gambar visual para tokohnya tapi gak sekaligus ada di prolog, jadi di cek2 aja tiap babnya ya😉👍


Terima kasih atas dukungan kalian


Semoga kita semua bahagia selalu🤲😊

__ADS_1


__ADS_2