
“Yan, kau mau kemana? Aku ikut!“
Andrea menghentikan Yayan yang hendak membuka pintu. Pria itu berpakaian rapi, baunya harum, hal itu cukup untuk membuat Andrea waspada pada rencana Yayan.
“Tidak! Ini urusan pribadiku!“
“Aku harus ikut! Kau pasti ingin bertemu dengan seorang wanita, 'kan?“ terka Andrea, ia menatap Yayan dengan curiga.
“Kalau iya, kenapa? Kau siapa … seolah-olah sudah memiliki diriku!?“
“Kita sudah pernah melakukan itu, hubungan kita sudah cukup dibilang 'pacar'!“ ucap Andrea percaya diri.
“Teori dari mana itu?“ Yayan langsung membuka pintu, pria itu sadar bila meladeni Andrea tak akan ada ujungnya, dia malah akan terlambat ke pertemuannya dengan Vina.
Yayan langsung terhenti beberapa langkah, dia menoleh kembali ke belakang. Andrea sudah nyengir duluan.
Yayan bisa pergi kapan saja meninggalkan Andrea, tapi itu masalahnya. Tidak ada jaminan wanita itu tak akan menguntitnya terus mensabotase acaranya. Dia perlu disogok, namun bukan dengan uang.
“Baiklah, kau menang! Nanti malam … sepuasmu! Sekarang … jadi perempuan baik dan tetap di kosan.“ Yayan menyesalkan keputusannya, namun tidak ada pilihan.
“Oke … selamat jalan. Jangan lupa nanti malam, sayang!“ sorak Andrea tersenyum, malambai-lambaikan tangan.
“Aku bukan pacarmu!“ Geram Yayan.
Yayan berjalan sampai gang depan, menuju jalan besar. Yah, inilah susahnya tidak memiliki kendaraan, terpaksa pakai tenaga kaki.
Sudah nampak mobil menunggu, itu taksi online pesanan Yayan. Dia langsung masuk dan mengarahkan driver pergi ke alamat Vina.
Jantung Yayan berdegup kencang, dia gugup. Bukan karena Vina, tapi pada orang tuanya. Terakhir kali Vina jalan dengannya, terjadi pengalaman buruk. Jadi, dia sedikit cemas pada respon orang tuanya.
Akan tetapi, Vina sampai saat ini tidak memberikan kabar bahwa rencana jalan-jalannya batal. Namun, itu belum cukup membuat Yayan tenang.
Ada kemungkinan Vina bisa berbohong pada orang tuanya. Jalan dengan siapa, bilangnya sama siapa.
'Hmm … jika ketemuannya bukan di rumahnya langsung, berarti dia berbohong!?'
Vina tidak memberikan kabar sampai Yayan sampai di rumahnya.
'Ah, gimana respon orang tuanya, ya?' cemas Yayan.
Ternyata Yayan yang terlalu overthinking.
“Sudah, ayo!“ Ajak Vina.
Yayan melirik ke belakang, pada si kepala rumah tangga.
'Aku sepertinya diancam?!'
Pikiran Yayan menerjemahkan tatapan ayahnya Vina. 'Jangan sampai ada yang lecet!'
'Yah, anak semata wayang, satu-satunya. Perlakuannya seperti abg umur belasan tahun. Protektif!' cibir Yayan dalam hati.
__ADS_1
Yayan kembali fokus pada Vina. “Pergi kemana?“
“Eh? Kau yang harusnya memutuskan!“ heran Vina menaikkan sebelah alisnya.
“Punya rekomendasi tempat yang bagus?“
Vina mendecih, “Ini sama saja aku yang memutuskan.“
“Mau gimana lagi?“ balas Yayan mengangkat bahu. “Jadi, di mana? Oh, tunggu, sepertinya aku memiliki ide yang bagus.“
Yayan diilhami ide yang bagus. Dia mulai menghubungi seseorang. Vina yang melihatnya jadi sedikit curiga.
“Kau menelpon siapa?“ tanya Vina menyipitkan mata pada Yayan.
“Ada deh.“
“Hmm … oke,“ gumam Vina dengan cemberut.
Yayan sedikit bergeser menjauhi Vina. Wanita itu sedikit curiga pada rekan kerjanya itu.
'Siapa yang ingin ditelepon Yayan? Kenapa aku tidak boleh dengar?'
Butuh beberapa menit untuk Yayan kembali ke tempat Vina.
“Sudah selesai telepon dengan pacarnya?“ sindir Vina menyeringai.
Yayan menunjukkan respon yang mengejutkan. “Ya, sudah. Kenapa?“
'Tidak, tidak. Santai saja Vina! Tidak usah pedulikan!' batinnya berusaha menenangkan diri.
Yayan mengerutkan kening dengan bingung, dia tak mengerti suara hati dari wanita di hadapannya.
'Yah, hanya ketemu anak SD, sih. Aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan,' pikir Yayan.
“Oh, pacar? Kenalin, dong! Aku akan membuat dia menyesal menerimamu.“
“Keinginanmu terkabul, tuan putri. Kita akan menemuinya. Tapi, maaf, ya … aku pangeran kere, tidak punya kendaraan,“ gurau Yayan yang berjalan lebih dulu.
“Jadi, kita akan kemana?“ ucap Vina cepat-cepat menyusul Yayan.
“Ikuti Pangeran tampan ini!“ ucap Yayan sedikit narsis.
'Kenapa dia tiba-tiba menjadi narsis? Eh, tidak! Dipikir-pikir … Yayan jadi lebih … ah, bukan!' Vina bersikeras membantah pikirannya.
Yah, poin kharisma Yayan telah naik. Itulah penyebabnya.
Mereka berdua sampai di tempat tujuan setelah perjalanan seperempat jam dengan memesan taksi online.
Vina sedikit di skeptis, sebab agak heran dengan pilihannya Yayan.
“Tempat nongkrong para ABG? Tak kusangka, pangeranku!“ Vina bergurau, ditambah dengan ia mendadak memeluk lengan Yayen. Sedikit improvisasi supaya peran Putri- pangeran terasa benar. Yah, lebih tepatnya sepasang kekasih.
__ADS_1
Yayan memilih taman dekat kos-kosannya.
“Sepertinya jokes prince-princess dihentikan. Aku lama-lama jadi geli sendiri.“
“Dasar … padahal kau sendiri yang memulainya!“ Vina seketika melepaskan tangan Yayan, ia juga sedikit bergeser.
“Jadi, gimana? Apa yang akan kita lakukan di sini?“ Vina memerhatikan sekeliling.
“Kau lapar?“ tanya yayan.
“Kau masih tanya? Jika ada makanan, langsung let's go ….“
“Kau tau, para wanita sepertinya iri padamu. Meski makan satu bakul nasi dan lauk penuh lemak. Badanmu pasti tetap bagus,” komentar Yayan, mengajak Vina ke lokasi.
“Kau pasti sangat suka dengan nasi gorengnya!“ ucap yayan.
[Misi telah dikonfirmasi]
[Menjaga anak]
[Reward: 10 spera, 6 poin kesehatan]
'Misi? Menjaga anak? Apa maksudnya?'
Yayen dan Vina telah di tempat ngetem si penjual nasi goreng.
“Silahkan, para pembeli VIP-ku," sambut Rinto berlagak seperti pelayan profesional yang tengah menyambut Tuannya.
“VIP?“ Yayan mengerutkan kening.
“Kalian!“ ucapnya mempersilahkan Yayan dan Vina agar duduk di tikar yang telah digelar.
Yayan dan Vina sama-sama jadi skeptis. Mereka berdua secara bersamaan menatap ke arah si penjual nasi goreng.
“Apa? Apa kurang romantis? Aku sudah beli banyak mawar, lho? Apa kurang?“
Yayan hanya geleng-geleng kepala. “Kenapa dia?“
“Yan, apakah ini idemu?“ Vina menyikut-nyikut Yayan.
“Tentu saja bukan! Aku nggak senorak itu. Bunga mawar yang dibentuk love, ada tatakan meja yang sepertinya adalah meja belajar, lilin ulang tahun. Nanggung, mending ke restoran!“ sangkal Yayan.
“Hmm … mana pacarmu?“ Vina seketika mengalihkan pembicaraan.
Yayan mengoper pada si penjual nasi goreng. “Mana Wulan?“
“Eh, Wulan?“
Ada sesuatu yang janggal. Si penjual nasi goreng kemudian kelabakan memanggil-manggil nama anaknya itu. Yayan langsung curiga.
“Wulan hilang? Teledor banget, sih!“
__ADS_1
“Aku tadi menyuruhnya bermain dekat air mancur, lalu … lalu ….“