Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 79: Tidak mempengaruhi apa pun!


__ADS_3

Rudolf sudah masuk dalam manipulasi pikiran Yayan. Apa pun yang ia ketahui dari panca indera telah ditentukan oleh Yayan. Seperti tadi, Rudolf merasa sudah memperkirakan jarak serangannya dengan tepat, tapi tebasan pedangnya tetap kurang satu inci.


Si Putra perdana menteri berkeringat dingin karena ketidaktahuannya dengan Yayan. Meski begitu, jika ia menyerah, mau ditaruh mana mukanya? Apalagi ini adalah cara kalah dan menyerah yang memalukan. Sudah terlanjur banyak orang yang memerhatikan duel pedangnya.


'Cih, mungkin aku yang terlalu takut dan gugup. Asalkan aku bisa mengendalikan diri … seranganku pasti kena!' Rudolf mencoba menenangkan diri. Ia masih ingin menjaga martabatnya sebagai calon suami dari Putri Rachial.


Yayan sendiri cuma tersenyum cengengesan. Rudolf memang bukan apa-apa baginya, tanpa perlu bergerak dia seharusnya sudah bisa membuat K.O si Putra perdana menteri.


[Rudolf adalah seorang non-clan, jadi host tidak perlu bekerja keras]


'Non-clan? Yah, apakah mungkin orang sok jago ini mau cari mati dengan mengikuti turnamen?'


[Mungkin dia punya suatu rencana?]


'Yah, itu sudah pasti!?'


Rudolf selanjutnya terus menyerang Yayan secara membabi buta. Semua serangannya dilancarkan untuk menyerang organ-organ vital, ia tidak segan jika Yayan terbunuh. Namun, sayang sekali, setelah belasan ayunan pedang, tidak ada satu pun yang tepat sasaran. Semuanya cuma menebas angin.


Para penonton yang melihat duel itu cuma geleng-geleng kepala. Apa yang mereka lihat dari pertarungan Yayan sungguh aneh. Beberapa orang mulai berspekulasi. Di antara mereka memang ada calon peserta, dan pastinya ingin mempelajari kemampuan calon lawannya.


“Apakah ini normal? Kenapa serangannya selalu meleset?“


“Mungkin seorang darah murni?!“


“Dari klan apa?“


“Mana kutahu? Makanya perhatikan pertarungannya!“


Yayan akhirnya memberikan sedikit kesempatan untuk Rudoft merasa senang, memberinya sedikit harapan. Tapi, dia akan menjatuhkan mentalnya beberapa saat kemudian.


Slash ….


Rudolf berhasil menebas Yayan, dia terluka di bagian bahu kanan. Pakaiannya robek dan darah mulai mengalir, tapi Yayan tetap tenang.


'Akhirnya!' Rudolf jadi girang dan bersemangat.


Rudolf semakin gencar mengayunkan pedangnya seiring harapannya yang kian tinggi.


Slash … Slash … Slash …


Ia berhasil mendaratkan beberapa sayatan lagi. Yayan terhuyung ke belakang, jatuh terduduk. Semua orang yang melihatnya tidak bisa berkata apa-apa. Mereka sungguh bingung dengan jalannya pertarungan.


'Apa batasan kemampuan pria itu cuma sampai di sini? Apalagi aku belum mengetahui apa kemampuannya?' batin salah satu peserta.


“Gwahaha … rasakan itu! Aku pemenangnya!“ Rudolf mendekati ke arah Yayan lalu menodongkan pedangnya. Ia melihat ke arah Andrea.


“Heh! Sayang sekali, ya? Suamimu ternyata cuma omong besar, Nona!“

__ADS_1


'System, sangat disayangkan.'


[Ya, Host]


[Menggunakan poin kesehatan]


Slash ….


“Fokuslah pada pertarunganmu, perdana menteri, sebab ini belum berakhir. Kau sudah menyerahkan nyawamu sendiri bila ini adalah peperangan sesungguhnya!“ Yayan menyeringai tips.


Pedang yang digenggam Rudolf terlucut dari tangannya. Itu disebabkan karena Yayan sekalian memotong jari-jarinya Rudolf. Jeritan lantas terdengar, para penonton menatap jeri pada jemari Rudolf yang meneteskan darah dalam jumlah yang banyak.


“Yap, aku pemenangnya di sini!“ ucap Yayan yang langsung menancapkan pedangnya ke tanah. Setelah itu, dia berlalu pergi bersama ketiga istrinya.


Rudolf sampai berlinang air mata meratapi jari tangan kanannya yang hilang. Para bodyguard-nya segera menghampiri untuk memberikan pertolongan.


Para penonton sendiri tetap jadi penonton. Mereka tidak peduli pada kondisi Rudolf dan langsung bubar.


“Festival Dewa perang kali ini mungkin akan sangat menarik, ya? Salah satu peserta sudah memamerkan kekuatannya!“


Yayan sendiri ….


“A-aku sangat terharu. Kau melakukan itu demi diriku!?“ Andrea menangis di pelukan Yayan. Yah, ia hanya pura-pura untuk memanas-manasi Vina.


Namun, Vina tidak terpengaruh, ia merasa ada yang lebih penting dari pada meladeni Andrea.


“Kau tenang saja. Kita akan tetap menuntaskan tujuan kita di negara ini. Aku jamin tidak akan jajal. Percayalah padaku!“


“Y-ya, aku akan selalu mempercayaimu!“


Kekhawatiran itu wajar, lawan Yayan adalah orang berpengaruh di Rugia. Membuat masalah sama saja dengan mencari mati di negara orang.


'System, beri kabar pada Eta malam ini! Aku ingin bertemu dengannya.'


[Baik, Host]


.


.


.


.


'Hmm … Eta sudah datang, ya?'


Yayan menyelinap dari kamarnya dan pergi menuju kolam renang yang ada di atap bangunan hotel. Ini sudah tengah malam, harusnya nihil orang yang ada di atas sana.

__ADS_1


Yayan sudah sampai di sana. Dia disambut oleh wanita dengan rambut berwarna marron. Ia duduk di pinggiran kolam dengan mengenakan pakaian renang dengan warna yang sama dengan rambut panjangnya itu.


Yayan tidak mau berkomentar dengan penampilan dari Eta.


“Gimana kabarmu, Eta? Ini adalah kali kedua kita beratap muka!“ ucap Yayan.


Eta adalah perfect worker yang hampir tidak pernah bertemu Yayan semenjak diciptakan. Ya, itu karena Eta berperan sebagai Intel, mata-mata.


“Saya selalu baik, Tuan. Dan ini adalah suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda dalam kondisi berduaan.“


Yayan cuma mengangguk. “Yah, tidak usah basa-basi. Jadi, gimana dengan laporanmu!“ Dia berjalan menghampiri Eta berada di sisi lain kolam.


“Pengintaian terhadap Putri Rachial berjalan dengan normal. Selain itu, tentang perdana menteri … ya, saya juga sudah mengantongi beberapa informasi. Saya akan menjabarkan detail dan bukti-bukti di System!“


“Kerja bagus, Eta!“


“Saya sangat tersanjung dengan pujian Anda.“


Selanjutnya Yayan sibuk berpikir untuk langkah selanjutnya, dia menatap kolam yang bercahaya dengan indah.


“Umm, Tuan. Apa ini kurang terbuka? Anda bahkan tidak pernah melirik saya!“ ucap Eta tiba-tiba yang nampak malu memainkan rambut maroon-nya.


“Ugh … bukan!“ Saat sadar, Yayan memang mulai memerhatikan tiap inci tubuh Eta. Apa yang perlu diragukan. Semua perfect worker memang memiliki spesifikasi yang tinggi jika soal penampilan.


“Umm … j-jangan menatap saya seperti itu! Saya sedikit malu.“ Eta malu-malu menutupi dadanya dengan lengan.


'Lha? Katanya suruh melirik?' bingung Yayan dalam hati.


“Kau cantik, Eta. Tidak kalah dengan perfect worker yang lain!?“


Eta pun nampak salting, ia memalingkan muka sebab muncul rona merah di wajahnya.


Yayan cuma tersenyum kecut, dia yang mengatur sifat Eta. Yah, ini adalah pelayanan yang bagus.


Seseorang kemudian muncul di kolam renang, ia melihat Yayan dan Eta yang berduaan di pinggir kolam. Sadar akan posisinya, orang itu undur diri sambil berkata.


“Maaf, sudah menggangu. Gunakan kolam ini untuk sesuka hatinya.“ Itu dalam bahasa Prancis.


Yayan tidak mengerti artinya, tapi System langsung menerjemahkannya.


'Huh, bahaya juga jika ada orang yang melihat ini. Mereka akan salah paham!?'


Yayan memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya. Namun, tiga istrinya sudah menyambut di pintu akses ke kolam.


Mereka tampak tidak senang.


“Baiklah, malam ini tidak akan kata istirahat, sayangku. Ayo, bermain-main sampai kamu kering!“

__ADS_1


'Yah, ini hukuman, sih. Eh? Atau tidak?'


__ADS_2