Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 81: Strategi yang berbeda-beda


__ADS_3

Yayan masih berada di venue pertarungan, dia pergi dari sana karena ingin melihat wajah dan kemampuan para peserta. Terlebih ronde kedua akan segera dimulai.


Ini sudah memasuki pertandingan ke 8. Dan sudah ada 4 peserta yang mengundurkan diri di ronde pertama, sisanya tinggal enam orang. Yayan jadi cuma perlu melawan 5 orang lagi.


“Para peserta rata-rata p*ikopat?! Kenapa cara mereka bertarung sangat brutal? Tidak seperti kamu, nggak usah ngeluarin banyak tenaga untuk menang!“ sebal Vina ketika menyaksikan seorang peserta dengan luka parah ditandu keluar oleh petugas medis.


“Itu hanya intimidasi! Yah, tapi bisa saja mereka memang p'ikopat dan tujuan mereka mengikuti turnamen karena ingin menyalurkan hasrat terpendamnya,” jelas Yayan mengangkat kedua bahunya.


Sementara itu, keluarga Rinto sibuk meyakinkan malaikat kecil mereka untuk segera pulang. Pertarungan yang disajikan sangat tidak cocok untuk dilihat oleh anak kecil. Meski begitu, Wulan nampak baik-baik saja. Ia tidak terpengaruh dengan darah dan adegan-adegan gore.


“Wulan, ayo kita pulang!“ bujuk Aida. Si anak menggeleng keras.


“Wulan mau melihat kak Yayan!?“ rengek gadis cilik itu, ia sungguh bersikeras tidak mau beranjak dari tempat tidurnya.


Rinto dan Aida pun pasrah saja, membiarkan Wulan melihat beberapa duel yang akan terjadi.


Pertarungan di ronde pertama telah selesai dilakukan. Peserta yang bertahan cuma 6 orang, termasuk Yayan. Di papan klasemen, Yayan meraih peringkat 3. Yah, hasil yang lumayan.


Sebelum lanjut ke ronde 2, peserta diberi waktu istirahat dan menyiapkan diri selama setengah jam. Sebetulnya kualifikasi dilaksanakan dalam waktu 2 hari, tapi karena pertarungan cenderung berjalan singkat, apalagi ada yang mengundurkan diri setelah ronde pertama. Makan panitia memutus untuk menyelesaikan tahap kualifikasi dalam waktu satu hari.


“Hei!“


Ada seseorang yang memanggil Yayan dari kejauhan, yah perasannya. Dia tidak mau kepedean, jadi panggilan itu diabaikan sampai si penanggil menghampirinya. Toh, tidak ada kerugian juga bila ia menganggap Yayan sombong lalu mengurungkan niat.


“Aku memanggilmu. Kau tidak dengar?“ ucap orang itu, tepatnya wanita itu. Ia bertutur dalam bahasa Inggris.


'Yah, aku dengar, sih,' Dia mengatakannya dalam hati.


“Jadi, apa ada yang bisa kubantu?“ balas Yayan yang terdengar ingin segera menyelesaikan urusan dengan wanita berambut pirang di hadapannya.


Pasalnya kruetiga istrinya mengeluarkan aura yang sedikit membuat tak nyaman. Mereka memang tidak suka ada wanita lain yang mendekati Yayan tanpa sebab.


“Bukan apa-apa. Namaku Vanetta, aku dari tempat kualifikasi lain. Aku tidak sengaja melihat pertandinganmu tadi,” wanita berambut pirang yang mengaku bernama Vanetta itu menjulurkan tangan, meminta berjabat tangan.

__ADS_1


'Hmm … jadi, urusannya ingin berkenalan. Hebat juga diriku bisa menggaet wanita ini! Eh? Dari kualifikasi lain? Di sana sudah selesai?' batin Yayan membalas jabat tangan Vanetta.


“Umm … entah kenapa perasaanku tidak nyaman, ya? Apa ada orang yang tidak suka?“ Vanetta menunjukkan gelagat ngeri, bergidik dan memeluk diri sendiri.


“Cuma perasaanmu saja!“ ucap Yayan.


“Kurasa. Ini seperti aku sedang ingin merebut sesuatu yang sudah menjadi milik seseorang?!“


Entah kenapa, ucapannya terkesan sarkas. Vina, Andrea, maupun Mikha lantas menunjukkan sedikit kekesalannya.


'Huh, apa tujuan dari si Nona pirang? Hmm … kekaguman semata, dia ingin mengalahkanku! Aku dinilai sebagai orang yang hebat, ya?' batin Yayan setelah mengintip isi hati dari Vanetta.


“Hmm … tunggu sebentar! Katamu tadi … dari kualifikasi lain, 'kan? Cepat sekali selesainya?!“ heran Yayan.


“Ah, itu … sebelum itu. Bolehkah aku duduk di sini?“ Vanetta menunjuk tempat duduk di samping Mikha.


Yayan melirik Mikha, ia tidak menunjukkan penolakan.


“Terima kasih.“ Vanetta melanjutkan ucapannya. “Karena semua peserta di sana mengundurkan dir, bahkan sebelum ronde pertama dimulai. Yang tersisa cuma aku dan seorang pria.“


“Itu tidak wajar! Apa mereka digertak?“


“Aku juga kurang mengerti, tapi kemungkinan itu ada!?“


“Selain digertak, kurasa ada juga kemungkinan untuk disuap?!“ ucap Yayan melirik Vanetta. Dia akhirnya paham dengan niatan asli dari wanita berambut pirang itu.


Dari suara hatinya, Yayan sudah mengetahui semuanya.


“Jaga main mata!“ bisik Vina yang berada di samping Yayan yang lain, berseberangan dengan Mikha dan Vanetta.


“Siapa yang main mata, sih?“ sangkal Yayan yang ikut berbisik.


“Jangan mengelak! Aku tau kamu dari tadi terus melirik dia!“ Vina mencubit pinggang Yayan.

__ADS_1


“Ya, apa masih kurang? Kau mau Tuan Putri … lalu si pirang? Aku sebetulnya malas berbagi, Yayan!“ Andrea setuju dengan Vina. Hanya urusan seperti ini yang membuat mereka akur dan sepaham.


Di sela-sela perdebatan Yayan dengan kedua istrinya, Vanetta kemudian berdiri, ia hendak pergi.


“Kalau gitu, sampai jumpa. Ayo, kita sama-sama ke putaran final. Oh, ya … kau belum memberitahukan namamu.“


“Panggil saja aku Yayan.“


Vanetta tersenyum, “aku tidak sabar bisa bertarung denganmu, Yayan.“


Setelah itu, Vanetta undur diri. Ia kelihatannya pergi menghampiri peserta lain. Niat awalnya adalah mengenal semua peserta.


“Apa niat wanita itu? Lihat saja … bukannya dia sedikit genit? Semua pria diajak kenalan. Dasar sok cantik!“ Andrea mengeluarkan unek-uneknya saat melihat Vanetta menghampiri satu per satu peserta yang ada di tribun.


“Aku malah teringat dirimu saat melihat dirinya, Andrea!“


“Hah? Apaan? Aku tidak mirip dengannya dan aku tidak ingin menjadi seperti dirinya!“ bantah Andrea, ia bingung kenapa suaminya itu cuma tersenyum kecil.


“Yah, kau mungkin akan segera tau maksud dari perkataanku!?“


“Kau malah cuma membuat bingung, sayang!“


Jam istirahat hampir rampung dan ronde kedua akan segera dimulai. Namun, sebelum itu …. datang pengumuman dari drone yang sedari awal sudah terbang di tengah lapangan.


“3 peserta mengundurkan diri! Sekarang tinggal tersisa 3 peserta.“


Yayan tidak kaget, dia cuma tersenyum tipis. Dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi setelah berinteraksi dengan Vanetta.


'Yah, setiap peserta memang memiliki strategi yang berbeda-beda. Baik itu uang, kekuatan, kekuasaan, atau apa pun itu!'


Di tempat Yayan kini cuma tersisa dua ronde lagi. Peserta yang memiliki poin tertinggi akan lolos ke putaran final.


Pertarungan pertama di ronde kedua adalah Yayan melawan si psikopat yang bahkan tidak segan memutil4si lawannya, andai diizinkan di turnamen ini.

__ADS_1


__ADS_2