Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 89: Chaos


__ADS_3

'Saya sangat menyesal, Tuan. Saya akan bertanggungjawab!' ucap Eta yang kedengaran sedih dari seberang sambungan telepatinya.


'Huh, sepertinya tidak perlu. Biar aku saja, ini butuh sedikit improvisasi!'


'Tapi, tapi——'


Yayan memutus sambungan telepatinya. Dia menghela nafas sejenak sebelum bicara.


“Apakah kita pulang saja? Aku tidak tertarik sebetulnya pada pernikahan ini!“ ucap Yayan dengan nada malas.


Ketiga istrinya memberikan respon yang tidak terduga. Mereka serempak menyatakan pendapat yang sama.


“Tidak!“ Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan. Jarang bisa kompak begini, apalagi Vina dan Andrea.


“Aku ingin melihat Tuan Putri.“ Vina mengucapkan alasannya.


“Y-ya, aku sama, sih!?“ Andrea malu-malu untuk mengakuinya.


Sedangkan Mikha cuma mengangguk.


'Begitu, ya? Ya sudahlah!'


Yayan agak tersenyum masam. “Ok, jika maunya kalian begitu.“


Yayan memang sangat menyesalkan keputusan istri-istrinya. Jika begini dia tidak bisa beraksi untuk menggagalkan pernikahan Putri Rachial, membuatnya baper dan memuluskan rencananya.


'System, jabarkan rencananya pada Eta! Aku mau, dia yang beraksi. Oh, ya … suruh dia menyamar agar kelihatan seperti pria!'


[Baik, Host]


Yayan gigit jari melihat podium tempat para VIP sedang didekor untuk tempat mengucap janji suci pernikahan.


'Kau ceroboh sekali, Putri! Kau pasti diancam!'


Colloseum yang tadinya tidak terlalu ramai kini malah bertambah setiap menitnya. Mereka tampak penasaran pada sang Putri. Wanita itu seperti mempunyai daya tarik tersendiri. Berarti wajar jika ia memiliki fraksi atau bahkan sekte yang memujanya.


Dekor di podium sudah selesai. Pernikahan itu harusnya akan segera dimulai.


Mempelai wanita dan pria muncul di podium utama, para utama berbaris di pinggiran untuk membiarkan calon pengantin muncul. Sedangkan, pendeta memang sudah dari tadi menjadi tamu. Jadi, ia cuma tinggal menunggu pasangan pengantin yang bakal dipersatukan.


Semua penonton terfokus pada mereka berdua. Putri Rachial tampak cantik dengan gaun berwarna ungu, ia memegang sebuah buket bunga berwarna violet. Mukanya ditutupi oleh kain ungu transparan, Putri berjalan dengan pandangan terus diarahkan ke bawah, menatap buket bunga yang ia bawa.

__ADS_1


'Apa akan berkahir seperti ini? Aku harus menikah dengan bajin9an ini?' Putri Rachial sebetulnya tidak rela dirinya menikah dengan pria yang tidak ia cintai.


Namun, saat ia melihat senyuman dari Raja atau ayahnya. Hatinya merasa sangat dilema. Jika ia memberontak, maka Raja Richard dan seluruh keluarga kerajaan akan dibunuh seketika. Perdana menteri sudah menyiapkan skenario yang pas, yaitu membuat Putri sendiri yang menjadi pelakunya.


'Mereka sangat licik! Mereka menjadikan semua keluarga kerajaan menjadi boneka! Apa aku juga akan bergabung dengan mereka?' Putri Rachial rasanya ingin menangis.


'Ini salahku sendiri! Kenapa aku bertindak bodoh dengan ingin membunuh perdana menteri karena sudah memperalat keluargaku?! Andai saja aku menuruti kata mereka untuk bersabar, hal ini tidak akan terjadi. A-aku … aku tidak akan ….“


Rudolf sudah menyibak penutup muka pada wajahnya Putri Rachial. Dua cincin pernikahan sudah disiapkan. Acara sakral itu akan dimulai.


Pendeta mulai melafalkan pertanyaan pada Rudolf dan pria itu menjawab dengan lantang pasal janji suci pernikahan.


Sedangkan Putri Rachial sibuk melirik ke arah bangku penonton. Mencari keberadaan seseorang yang ia kenal di antara puluhan ribu orang. Orang yang pernah bilang akan menyelesaikan seluruh masalahnya. Yah, tapi Putri Rachial sadar diri. Orang itu pasti sudah malas karena dirinya sudah menghancurkan rancangan rencananya.


Meski begitu, Putri Rachial tetap berharap agar orang itu masih tetap mau membantunya.


'Kau …? Aku mungkin sudah mengecewakanmu. Tapi, jika kau benar-benar serius pasal perasaanmu padaku … ke sini! Selamatkan lah aku! Aku akan menerimamu sepenuh hati.'


“Yang Mulia Putri Rachial, apa Anda bersedia——”


“Помоги мне!“ (Tolong aku!) Putri Rachial berkata dengan lirih.


Syutt …


Klang …


Petugas kemanan berhasil menghalaunya. Mereka memakai rompi anti peluru yang tertempel beberapa plat besi di bagian-bagian vital. Mirip kesatria sebab menggunakan pedang sebagai senjata.


“Apa-apaan ini? Siapa orang yang merusak acara ini?“ rutuk Rudolf dengan kesal. Ia salanjutnya memerintahkan bagian keamanan untuk mencari pelaku yang kemungkinan berbaur dengan penonton.


“Tenang lah, anakku! Dia pasti akan segera tertangkap! Lebih baik fokus dengan pernikahan kalian. Begitu, 'kan, Raja?“


“Tentu saja. Rachial, lanjutkan pernikahanmu!“ Raja Richard IV tersenyum.


'Tidak, kau bukan Ayahanda. Dia pasti tidak akan membiarkan aku menikah dengan pria ini!'


Pendeta melanjutkan dengan dijaga oleh 2 orang ksatria. Mereka tidak tahu saja bahwa di antara para ksatria itu …..


Slashh ….


“Dasar 435! Dia membuat rencana Tuan menjadi berantakan!“ ucap kesal seorang ksatria yang baru saja menebas kepala pendeta.

__ADS_1


Kondisi di tribun menjadi riuh, para tamu VIP berebutan lari dari sana kecuali si Perdana Menteri dan Raja.


Sedangkan para penonton sendiri juga ikut berhamburan keluar sebab mengira bahwa ini adalah serangan teror1s. Masa tidak bisa ditenangkan, berdesak-desakan tidak bisa terhindarkan. Itu adalah keadaan kacau, korban mungkin berjatuhan.


'Huh, Eta … ini terlalu heboh! System, gunakan poin kesehatan untuk semua orang. Jangan sampai ada yang menjadi korban!'


[Baik, host]


[Transfer poin]


Yayan kini jauh lebih tenang. Dia memerhatikan Putri Rachial. Wanita itu tampak sedikit lebih lega, tidak tertekan seperti tadi.


'Ini perbuatanmu, 'kan? Bukan teror1s sungguhan, 'kan?' batin Putri Rachial menatap jeri 430 yang sedang menyamar.


Slash …


430 menebas rekan ksatrianya. Darah merah mengenai gaun dan pipi Putri Rachial yang ketakutan.


“Sekarang giliran kalian!“


Tebasan hampir mengenai Rudolf, tapi sayang sekali. Ia, perdana menteri, serta Raja mendadak tertarik oleh sebuah benang tipis yang hampir tidak kelihatan. Mereka tertarik ke arena dan terlihat seseorang yang mengendalikan benang tadi.


“Terima kasih, Neil,” ucap perdana menteri pada seorang pria yang mengendalikan benang baja.


“Bodoh! Kenapa kau tidak ikut membawa Putri?“ bentak Rudolft, mereka baru sadar karena Putri tertinggal di podium.


Kesempatan itu dimanfaatkan untuk 430 menjelaskan situasinya pada Putri Rachial.


“Anda tidak perlu takut, Yang Mulia! Kami ada di pihak Anda!“ beritahu 430. Ia mengenakan jubah hitamnya, kulit silikon yang menutupi wajahnya dilepas, ia membelakangi Putri agar tidak terlihat wajah aslinya.


“Tuan sudah menunggu di bawah! Kami sudah membereskan jalan untuk Anda! Ke sana lah!“


Putri Rachial sontak berlari keluar dari podium, ia memungut pedang ksatria yang tewas lalu merobek gaunnya hingga di atas lutut. Ia kini pun bisa bergerak leluasa.


'Terima kasih, terima kasih.'


Di sisi lainnya … kondisi tribun berangsur-angsur normal, para penonton sadar bahwa sikap mereka mungkin bisa mencelakai orang lain. Mereka mengungsi dengan tertib setelah beberapa ksatria yang identitas aslinya adalah 431, 432, 433, dan 434.


“Huh, semuanya sudah terkendali! ucap Yayan pada ketiga istrinya yang memeluk erat.


“T-tadi sangat berbahaya, kita hampir terinjak-injak!“ lega Vina mengelus dadanya.

__ADS_1


“Benar-benar gila!“ Andrea semakin tidak mau melepaskan pelukannya pada Yayan.


'Huh, kekacauan ini akan berlanjut!'


__ADS_2