Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 33: Menjadi guru yang baik


__ADS_3

“Semangat! Kau tidak sendirian, mbak Kunti dan mas poci setia menemani, kok!?“ gurau Vina cekikikan, niat sekali ia mengejek Yayan.


Lalu, yang menjadi bahan olok-olokan cuma berdehem malas, matanya fokus pada monitor di depannya.


'Ini merepotkan!'


Kini hanya Yayan seorang yang masih berada di ruangannya. Yah, dia bukan satu-satunya pegawai yang lembur. Namun, tetap saja … hawa di kantor berubah mencekam saat malam, ketika sebagian lampu telah dimatikan. Yayan bekerja dengan perasaan was-was.


'Perasaan ini sungguh tidak mengenakkan!' resahnya, masih berusaha fokus. Sedikit suara bisa membuatnya kaget. Contohnya pada sebuah notifikasi di ponselnya.


“Hah … hah. Oke, tenang, rileks saja! Ayo cepat selesaikan tugas ini lalu pindah tempat!“ Yayan melakukan pernafasan perut secara perlahan.


Setelah berkutat selama hampir satu jam dengan angka dan kalkulasi, Yayan akhirnya bisa menghela nafas lega. Hal yang pertama dilakukan adalah melirik icon jam di pojok kanan PC di depannya.


“Belum terlalu malam. Mungkin rencana dengan Nazuna bisa terlaksana,” ucapnya puas.


Dia tidak sadar ada sesuatu yang sedari tadi mengawasinya dari belakang.


“Selesai?“


“Aaaa——”


Yayan hampir tersungkur ke belakang akibat refleknya pada suara misterius di belakangnya. Beruntung kursi putarnya ditahan oleh …


“Rukawa-san? Kenapa tidak bilang-bilang? Aku hampir terkena serangan jantung.“ Yayan masih berusaha menenangkan diri, dia mengelus-elus dada.


“Gomen.“ (Maaf?) Nazuna menunduk dengan menyesal.


Yayan menarik nafas sebelum bicara, “Tidak apa. Jadi, gimana? Kita akan belajar di mana?“


Nazuna sedikit bingung pada awalnya, ia menimang-nimang keputusannya. Yayan fokus membaca isi pikirannya, dia sedikit terkejut dengan keputusan dari Nazuna.


'Yah, aku tak berhak mengintervensi pilihannya, sih. Tapi ….' Yayan melirik sekitar lalu berhenti pada Nazuna. 'Kami hanya berduaan di sini. Karyawan lainnya sudah pada pulang sejak tadi. Apakah itu ide yang bagus?'


Yayan mulai mengajari Nazuna bahasa Indonesia meskipun ilmunya pas-pasan, dia memang tidak terlalu pintar urusan akademik. Meski begitu Yayan mengajari Nazuna dengan baik atau wanita itu saja yang memang mudah paham?


Yayan menyuruh Nazuna untuk menulis semua kosa kata bahasa Indonesia yang ia tahu. Dan ternyata ia sudah menghafalkan ratusan kosa kata. Walaupun rata-rata adalah kosa kata benda yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.


“Rukawa-san, Anda sebelumnya sudah pernah kursus bahasa Indonesia, 'kan?“ tanya Yayan di sela-sela mereka belajar.

__ADS_1


Nazuna mengangguk. “Nande?“ (Kenapa)


“Bukan apa-apa. Hanya saja … kenapa harus aku?“


Nazuna cuma diam, suasana menjadi canggung. Yayan sadar apa yang telah dia perbuat.


'Seharusnya aku tidak bertanya begitu! Bodoh! Itu sama saja aku merasa istimewa sampai-sampai wanita cantik ini nyaman denganku!' gerutu Yayan dalam hati.


Untuk penetralisir suasana canggung, Yayan memberikan perintah pada Nazuna untuk menulis kosa kata baru yang lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.


Yayan juga mengajarkan struktur kalimat SPOK, kalimat aktif dan pasif, serta beberapa imbauan seperti di-, me-, -i.


'Huh, harusnya ini sudah semuanya. Cuma ini yang kutahu,' batin Yayan.


Dan untuk terakhir kalinya, Yayan memberikan kartu memo kata dengan motif kucing. Dia juga sudah lupa kenapa memiliki benda itu, seingatnya itu selalu ada di bilik kerjanya, tidak pernah tersentuh. Yayan berpikir akan lebih bermanfaat jika diberikan pada Nazuna.


'Eh? Apa benda ini akan berguna? Zaman sekarang sudah ada ponsel pintar yang hampir bisa melakukan segalanya.'


Yayan berubah pikiran, dia hendak mengambilnya lagi. Namun, siapa sangka Nazuna akan sangat menyukainya. Mungkin karena motif kucing?


“Arigatou.“ (Terima kasih) Nazuna tersenyum pada Yayan.


“Ehem … hal yang perlu diingat, Rukawa-san. Jangan gunakan bahasa Jepang! Biasakan lah menggunakan bahasa Indonesia. Terutama melancarkan pengucapan untuk 'Ng'!“


Malam semakin larut, semua pengetahuan yang Yayan punya telah diajarkan. Jadi, tidak ada alasan untuk dia berlama-lama di sana bersama Nazuna.


[Misi berhasil diselesaikan]


[Host mendapatkan 100 spera dan 5 poin kecerdasan]


'Huh, usaha yang tidak sia-sia.'


Setelah beres-beres sebentar, mereka bersiap-siap pulang. Nazuna menawarkan Yayan tumpangan karena dia belum membeli kendaraan pribadi. Motor hasil yang dia tukar dari mayat para penculik belum diambil dari dunia System.


“Sepertinya merepotkan, tidak usah. Aku bisa naik apa saja,” tolak Yayan dengan halus.


“Wata——aku. A-aku sudah membuatmu repot harus dibayar … m-membalas——”


“Budi!“ sela Yayan merampungkan kalimat Nazuna. Ia masih terbata-bata dalam menyusun kalimatnya.

__ADS_1


“Ya, aku harus membalas budi pada kamu.“


“Huh, jika Ruka——Nazuna memaksa … mau gimana lagi?“ Yayan menyerah. “Terima kasih.“


Yayan membuat perjanjian untuk tidak memanggil Nazuna dengan nama depan lagi.


'Huh, rasanya sedikit aneh ditawari tumpangan oleh cewek!?'


Yayan menunggu di pintu gerbang gedung kantornya, dia ngobrol sebentar dengan satpam shift malam.


“Tumben kau lembur?“ tanya satpam itu.


“Yah, mau gimana lagi. Aku akhir-akhir ini sering bolos, kerajaan jadi numpuk.“


“Hmm … lalu? Kau sedang apa? Menunggu seseorang?“ tanyanya lagi bingung.


Jawaban dari pertanyaan itu pun tiba. Sebuah mobil hendak keluar dari area gedung kantor. Si satpam sedikit terkejut karena masih ada yang lembur, ia mengira Yayan adalah yang terakhir.


Dan begitu terkejutnya ia saat mengenali mobil yang hendak keluar itu. Si satpam jelas mengetahuinya karena telah menjadi buah bibir di kantor beberapa hari ke belakang.


“Nona Nazuna?“ gumamnya dengan kaget, ia menatap Yayan dengan pandangan tidak percaya.


Kekagetannya semakin menjadi-jadi saat Nazuna keluar dan menyuruh Yayan yang menyetir, dia memang bisa naik mobil. Yayan pun membuka pintu mobil dan masuk.


Nazuna sedikit membungkuk untuk memberikan rasa terima kasih pada satpam yang telah bekerja dengan giat.


Yayan membunyikan klakson, “Kami pulang dulu.“


Si satpam hanya geleng-geleng, ia tidak habis pikir. “Apa yang dia gunakan? Bisa dekat dengan Nona Nazuna?“ Ia mengangkat topinya dengan resah.


Sementara itu ….


'Hmm … para kacungnya Yani?! Dia terus mengawasi dan mengintaiku. Apa niat mereka sungguh ingin membuatku bonyok setiap hari?' ucap Yayan dalam hati, melihat sebuah mobil, yang membuntuti mobil Nazuna melalui kaca spion.


'Keputusan untuk menumpang pada Nazuna adalah pilihan tepat. Mereka tidak berani mengusik wanita ini?'


Namun, anggapan Yayan itu salah. Mobil yang sebelumnya membuntuti tiba-tiba menyalip dan menghadang. Yayan reflek mengerem, dia dan Nazuna hampir tersungkur ke depan, andai tidak memakai sabuk pengaman.


“Apa-apaan ini?“

__ADS_1


__ADS_2