Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 49: Anak yang malang


__ADS_3

“Hei, Nesa! Di mana kau?“ Yayan menghubungi salah satu anak buahnya.


“Di tempat biasa. Woah, aku sudah menugaskan orang lain ke Distrik Timur. Kau tinggal duduk manis dan terima hasil.“ Nada bicara laki-laki itu selalu malas, tidak bergairah, memang kurang tidur. Entah apa yang membuatnya susah terlelap.


“Oke … bergegas pergi ke tempatku! Aku akan mengirim alamatnya.“


Yayan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


“Wo~ah, g-gawat … aku susah berkonsentrasi. Aku sudah mencapai batas!?“ ucap laki-laki berambut itu dengan sorot mata yang berbeda.


“Aku harus menemukan waktu yang pas untuk tidur!“ gumamnya memandang langit yang masih gelap, keadaan memang masih fajar. Yayan menghubungi di saat-saat orang normal masih tertidur.


Nesa lalu berjalan dengan agak sempoyongan ke tepian gedung yang belum selesai, masih setengah dengan rangka dasarnya saja. Ia memandang ke kejauhan, tapi pikirannya terbang kemana-mana.


“Sebaiknya aku lebih berhati-hati kali ini.“


Ia kemudian meluncur ke tempat Yayan setelah mendapat pesan yang berisi suatu alamat.


Sesampainya Nesa di kos-kosan Yayan yang sederhana. Laki-laki itu agak bingung, pria yang memiliki uang sebanyak Yayan memilih tinggal di tempat yang sederhana. Pemikirannya pun sedikit berubah pada Yayan.


'Pria ini!'


“Ah, kau sudah datang? Bagus, yang perlu kau lakukan adalah menjadi guru bela diri untuk teman-temanku——”


“Bukan perjanjian kita——” Nesa hendak mengelak.


“Kau hanya perlu menyanggupi apa yang kutugaskan. Sedari awal memang tidak ada perjanjian tentang rincian pekerjaannya.“


Yayan berhasil menghentikan Nesa yang hendak mencari celah untuk menolak perintahnya.


Si rambut perak sedikit manyun, tapi tersamarkan oleh wajah ngantuknya.


“Sudah, aku mau joging. Kau mau ikut?“ Yayan memang sudah siap untuk lari pagi. Selain bagus untuk badan juga karena itu adalah misi harian yang perlu Yayan kerjakan bila ingin mendapat poin System.


“Silahkan masuk ke gubuk sederhana ini,” ucap Yayan yang berlalu pergi meninggalkan Nesa.


Nesa masih berada di depan pintu, ia awet memandangi bekas jalur baru dilewati Yayan. Setelah beberapa saat si rambut perak akhirnya masuk tanpa mengucapkan kata-kata basa-basi. Ia asal duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Nesa duduk dengan menyilangkan tangan di bawah, agak menundukkan kepala, dan memejamkan mata. Ia bukan tertidur, cuma istirahat.


Sampai pada akhirnya, Azka terlihat keluar dari kamar kos-kosannya, diikuti oleh Aji. Mereka berdua nampak bingung dengan keberadaan orang asing yang berada di ruang tamu.


“Siapa dia?“ Aji berbisik pada Azka.


“Aku pun tidak tau, tapi bisa diasumsikan sebagai orang asing yang nyelonong masuk. Anggap saja orang jahat,” balas Azka dengan pelan.


“Bagaimana kalau kenalannya Yayan atau Andrea?“


“Orang seperti Andrea tidak mungkin memiliki kenalan. Dan Yayan pasti akan memberitahu jika ada temannya yang ingin bertamu. Sudah … pergi ke dapur! Ambil amunisi!“ titah Azka, ia fokus memerhatikan gerak-gerik si orang asing yang memiliki warna rambut yang mencolok, putih-perak.


Aji segera pergi ke dapur dengan berupaya meredam bunyi langkahnya. Lagi pun, orang yang duduk di sofa ruang tamu terlihat tertidur.


Aji telah kembali membawa dua buah pisau. Ia dengan ragu menyerahkan salah satu pada Azka.


“Hei, apa kita akan asal menikamnya tanpa——”


“Tentu saja tidak, aku tidak sebodoh itu!“ Azka bersungut-sungut. Ia perlahan mendekat ke ruang tamu.


“Kau tunggu di sini! Biar aku yang mengurusnya!“


Azka tidak menggubris perkataan Aji.


Ia mengendap-endap dari belakang badan si orang asing berambut perak. Pisau di tangannya pun digenggam semakin kuat. Azka sempat menarik nafas panjang untuk memenangkan diri. Ia harus benar-benar fokus bila tidak ingin ada yang terluka, atau bahkan terbunuh.


“Siapa kau?“ tanya Azka seraya melingkarkan tangannya ke depan leher si rambut perak, lalu menodongkan pisaunya.


Si rambut perak atau Nesa membuka mata secara perlahan, ia melirik ke belakang.


“J-jawab, siapa kau——”


Nesa mencengkeram pergelangan tangannya Azka. Ia seketika panik.


'Berat! Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tanganku,' batin Azka berupaya membebaskan tangannya. Dan tidak berhasil, malah Nesa menguatkan cengkramannya.


'Sial, sial! Apa tujuannya?'

__ADS_1


Nesa menarik tangan Azka, ia tertarik ke depan dan berpikir bakal dibenturkan ke meja. Akan tetapi, Nesa malah membanting Azka ke samping hingga terhempas menabrak tembok.


Aji yang melihat temannya dihajar reflek melemparkan pisau yang dipegang.


Syutt ….


Nesa dengan mudah menangkapnya tanpa harus berbalik badan, hebatnya lagi …. ia cuma menggunakan dua jarinya untuk menangkap.


Azka dan Aji tentu saja langsung terserang mentalnya.


Sementara itu ….


Yayan sudah menyaksikan joging-nya, misi harian System sudah hampir komplit. Dan dia kini sedang berusaha menyelesaikan sisanya


Dia kini berada di TPS atau tempat pembuangan sampah. Wilayah yang penuh dengan sampah berbagai jenis dan belum dipilah. Tempat itu sangat bau, bagi yang tidak terbiasa mungkin sudah merasa mual.


Namun, masih ada rumah semi permanen yang berdiri di sana. Berdekatan dan hidup bersama sampah.


“Nasib orang-orang seperti ini … kenapa tidak ada yang pedul?“ Yayan terus menelusuri tempat itu.


Yayan sesekali melihat jam di ponselnya, hampir jam 6 pagi. Dia mestinya harus kembali dan segera berangkat ngantor.


“Anak-anak?“ Yayan melihat seorang anak kecil berada di sebuah gunungan sampah sedang mengais-ngais sampah yang dirasa bisa dijual.


Itu merupakan pemandangan yang memperihatinkan. Anak sekecil itu masih polos-polosnya, hanya tau bermain dan belajar. Namun, anak itu sudah meminggul beban yang berat. Ia dewasa terlalu cepat.


Yayan berniat menghampirinya dan memberikan sedikit kebahagiaan pada anak itu. Dia mendadak mengurungkan niatnya.


Yayan melihat sesosok pria, ia merebut karung sampah bocah itu, terlihat mengecek isinya.


Pria itu nampak seperti membentak bahkan menamparnya.


Yayan bisa memperkirakan apa yang diucapkan oleh pria itu.


“Jangan bermalas-malasan, bocah! Kau harus mencapai target! Ingat … aku yang sudah menampungmu dan memberi tempat tinggal.“


Anak itu tentu sedikit terisak, kondisinya lusuh, ada beberapa luka memar yang entah didapatkan pada waktu kapan?

__ADS_1


“Huh, ternyata masih ada bisnis seperti ini, ya? Berpura-pura menjadi pahlawan, menyelewengkan konsep balas budi. Heh … ini namanya perbudakan, bodoh!“


__ADS_2