Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 50: Membantu anak-anak pemulung


__ADS_3

'Bagaimana jika Nesa melihat pemandangan seperti ini di depannya? Jika cerita Rinto benar …. pria itu pasti langsung dihabisi!' pikir Yayan.


Laki-laki itu memang akan menghabisi siapa saja yang menyiksa anak-anak, tidak peduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Terkecuali bila para anak kecil itu yang saling menyakiti satu sama lain.


Yayan menghembuskan nafas berat, dia sudah muak melihat pemandangan di depannya. Dia mempercepat langkah kakinya untuk mencapai tempat anak yang malang itu.


“M-m-maaf. Aku lapar, Ran.”


Anak itu memohon, memegangi perutnya yang terasa nyeri sebab belum terisi apa pun selama hampir dua hari. Sebetulnya ia mendorong tubuhnya agar tetap mengais sampah. Dengan begitu, ia bisa mendapat sedikit makanan dari pria bernama Ran.


“Lapar? Kenapa kau selalu bermalas-malasan? Bekerja keraslah seperti yang lainnya untuk sesuap nasi yang berharga——”


Pria bernama Ran itu hendak menendang anak yang kini meringkuk pasrah di antara sampah. Akan tetapi, seseorang dari belakang mendorongnya dari belakang hingga ia tersungkur, ikut berkubang dalam sampah.


“Berani-beraninya, siapa kau?“ maki Ran yang tidak terima. Namun, begitu melihat sorot mata dari orang yang telah mendorongnya, nyalinya seketika ciut. Ran seketika minder akan sesuatu yang tidak diketahui.


“Ini jawaban untuk pertanyaanmu … aku adalah orang random yang kebetulan lewat. Dan bertindak sok pahlawan untuk menyelamatkan anak ini!“ tegas Yayan. Dia tidak berniat mengintimidasi, tapi Ran sudah semakin tertekan.


Pria itu mengucurkan keringat dingin, badannya sedikit mengigil. Mulutnya pun terbuka untuk mengucapkan sepatah kata, tapi tidak ada satu huruf pun yang terlontar, kecuali A.


“Sekarang giliranku untuk bertanya … kenapa bukan kau yang bekerja keras dan malah bermalas-malasan? Apa ada suatu alasan?“


“A-a-a ….“


Buaghh!


Yayan melayangkan kakinya tepat ke arah pinggang pria bernama Ran itu.


“Ya, aku tau itu sakit. Dan kau harusnya tau bahwa itu akan terasa lebih lebih lebih menyakitkan jika diterima oleh anak itu. Apa kau tidak pernah memikirkan hal ini?“


Semakin banyak Yayan bicara, semakin redup sinar keramahan di wajahnya. Dia bisa langsung mengirimkan Ran ke alam lain bila tidak ada anak kecil yang menyaksikannya. Dia enggan mempertontonkan sesuatu yang kejam.


Yayan menghembuskan nafas, dia berjongkok di hadapan anak itu lalu berkata.

__ADS_1


“Sudah tidak apa-apa. Kamu sekarang aman! Jangan menangis! Kakak tidak akan membiarkanmu kelaparan lagi!“ Yayan menghapus bekas titik-titik air di mata anak itu, dia menyentuh pipinya, bisa dirasakan bahwa ada bagian yang membengkak.


Yayan membantu anak itu berdiri, “Kamu punya nama?“


Bocah dengan rambut hitam kusut dan kotor akan debu, kentara tidak pernah keramas atau perawatan lainnya itu menggeleng lemah. Ia mendadak menangis jeri, terisak-isak.


“May nggak punya keluarga, hanya Ran, tolong jangan sakiti, Ran! Ran yang telah menyelamatkan May.“ Anak itu memeluk Yayan, menangis sesenggukan.


Yayan mendelik tajam pada pria bertopi, si Ran. Jika tidak ada May, Yayan pasti sudah melenyapkannya.


Yayan menggertakan giginya lalu berupaya untuk tidak lepas kendali. Dia mengubah nada bicara agar kembali lembut.


“Tidak ada yang menyakiti Ran. Tadi cuma main-main, bercanda. May nggak usah nangis lagi!“ Yayan mengusap air mata yang membasahi pipi May. Dia mencoba menenangkannya.


May melepaskan pelukannya dari Yayan lalu menuju ke arah Ran. Anak itu memeluknya, selayaknya sebuah keluarga.


“Apa yang merasukimu? Dia sudah mempercayaimu, menyayangimu, tapi kau memperlakukannya seperti budak?“


Pria itu membelalakkan mata, entah ia baru sadar atau semacamnya. Ia menatap May yang memeluk kencang.


Matahari telah bersinar lebih terik, waktu telah menunjukkan pukul 6 lebih. Seluruh area TPS menjadi terang seluruhnya.


Yayan selanjutnya mengajak May serta seluruh anak pemulung di sana ke sebuah rumah makan. Agak sulit sebetulnya menemukan rumah makan atau warteg yang sudah buka sebab terlalu pagi, tapi beruntung ada warteg yang telah buka.


Yayan memborong warteg itu, anak-anak yang jumlahnya puluhan itu bebas memakan apa pun yang ada di sana asal memang masih bisa dimakan.


'Bajingan ini? Dia tega memanfaatkan anak sebegitu banyaknya dan mendoktrin mereka bahwa dia adalah keluarganya dan orang lain tidak lebih baik darinya? Cih, orang seperti itu pantasnya sudah lenyap.' batin Yayan geram melirik Ran.


Yayan sudah berusaha sabar dan ikhlas. Namun, kesabaran itu telah menjadi setipis kertas. Dia ingin segera menyiksa lalu membunuhnya.


Akan tetapi, keberadaan si malaikat kecil yang lengket dengan Ran membuat Yayan tidak bisa berbuat sesukanya.


'May yang paling dekat dengannya? ada kejadian seperti apa yang pernah terjadi di masa lalu?' batin Yayan melirik ke arah mereka berdua, anak itu memang terlihat manja dengan Ran.

__ADS_1


'Eh? Jika diperhatikan … May itu … anak perempuan??' pikir Yayan baru sadar, tingkahnya yang sedikit feminim membuatnya berpikir demikian. Gender dari May susah diidentifikasi sebab potongan rambutnya yang pendek.


Tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya Yayan berdering. Dia mengambilnya, panggilan dari Vina.


“Ya, ada apa? Kenapa kemarin kau bolos? Beneran sakit?“ ucap Yayan tanpa basa-basi.


“Aku bukan anak kecil yang pura-pura sakit untuk absen. Umm … Yan, aku boleh minta bantuanmumu?“ ucap Vina dengan suara yang agak lemas, ia masih sakit.


“Kau boleh minta apa pun padaku,” balas Yayan sedikit narsis.


“Hahaha … itu so sweet, Yan. Alangkah baiknya jangan jadi bualan belaka! Tunjukkan aksinya. Antar aku berobat ke puskesmas!“


“Huh? Kau kemarin belum berobat?“


“Cuma beli obat dari warung.“


“Kau ini … ya, ok, ok. Aku akan segera ke sana!“


“Terima kasih, Yan.“


Panggilan itu diakhiri. Yayan melihat semua anak pemulung itu, dia sedikit segan untuk meninggalkan mereka secara tiba-tiba.


Permintaan Vina tidak bisa diabaikan. Jika ia meminta bantuan, itu berarti di rumah tidak ada orang yang bisa mengantarkannya berobat. Terlebih, sakitnya Vina kemungkinan sedikit parah.


“May, boleh kakak pergi? Tapi, kalian tetap di sini! Nanti akan ada seseorang yang menggantikan kakak untuk membantu kalian,” beritahu Yayan sedikit menyesal.


May mengangguk mengerti, itu seperti ia tidak terlalu peduli Yayan mau pergi atau tidak.


“Terima kasih atas makanannya, kakak.“


[Misi harian berhasil diselesaikan]


[Reward: 5 spera]

__ADS_1


Yayan langsung tancap gas ke rumah Vina. Di luar warteg nampak ada seseorang yang memperhatikannya. Yah, ia si stalker yang sudah mengawasi Yayan sejak lama.


__ADS_2