
Malam harinya ....
Andrea kini telah bersiap-siap untuk pergi menemui customer istimewa yang bersedia membayarnya mahal, berpuluh-puluh kali lipat dari tarif biasa. Meskipun begitu, ia merasa gundah, tidak senang. Padahal sebelumnya ia selalu semangat-semangat saja melakukan itu.
Penyebabnya ....
"Oh, kau sudah mau pergi, Andrea?" sambut Yayan melihat Andrea masuk ke kos-kosan bagian laki-laki.
ia tidak langsung pergi karena ingin meminta pendapat Yayan.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Andrea.
Yayan cuma mengangguk-angguk, sembari terus melemparkan keripik pisang yang baru dia beli dari warung. Dia asyik menonton TV.
"Yah, bagus, cantik. lalu apa lagi? Kau harusnya sudah tau apa yang akan kau lakukan. Kau itu berpengalaman!" seru Yayan.
Namun, Yayan menyadari suatu keanehan dari Andrea.
'Pakaiannya lebih tertutup dan tidak ketat? Aneh!'
Yayan memang pernah menyuruh Andrea untuk membeli pakaian yang lebih sopan, agar tidak menarik gairah para pria. Namun, wanita itu berambut cokelat itu tidak pernah memakainya. Baru kali pertama Andrea memakainya, sebuah sweater lengan panjang berwarna biru dengan bawahan rok sampai tumit.
__ADS_1
"Apakah kau gugup?" tanya Yayan spontan. Andrea tampak terkejut.
"Tentu saja bukan! Ini sudah menjadi hal biasa bagiku. Untuk apa aku gugup?" bantahnya.
"Begitu, 'kah?"
"Tentu saja."
Andrea kemudian hendak pergi, ia berpamitan dengan Yayan dan menagih upah atas kerjanya malam ini. Yayan sedikit kesal kerena ditagih terus-menerus.
“Janjimu, Yan?!“
"Cih, kau bisa memegang omonganku, aku tidak akan menariknya. Lagi pula, aku sudah memberimu pelayanan belum lama ini, 'kan?"
Wanita itu keluar. Perasaannya bercampur aduk, ia sekilas merasa ragu. Perasaan seperti tidak ingin ada yang menyentuhnya. Yah, terlambat untuk memiliki perasaan itu. Tubuh Andrea telah dicicipi oleh banyak pria di masa lalu.
“Aku memang aneh! Kenapa aku seperti tidak ingin lagi disentuh oleh pria, selain Yayan. Perasaan apa itu? Apakah aku?“ Andrea tersenyum dengan sendirinya.
“Apakah aku sungguh bisa menumbuhkan perasaan semacam itu pada lawan jenis?“ Ia geleng-geleng kepala, menyangkal prasangka yang hadir.
Plak ….
__ADS_1
“Sudah! Aku harus fokus pada tugas ini!“ Ia menampar pipinya dengan pelan.
Andrea pergi ke tempat pertemuan dengan pelanggannya.
Di sisi lainnya, nampak seorang pria memantau Andrea, bukan, tapi rumah yang dijadikan kos-kosan itu.
“Target bergerak!“ Ia berucap pada ponselnya, terhubung sebuah panggilan.
Sementara itu … si penguntit juga tidak sadar bahwa diawasi oleh seseorang.
'Yayan memang berkata jika selalu diawasi. Tapi, apakah separah ini?' batin orang itu. Ia adalah Azka yang bersama Aji.
Mereka berjalan dari jalan raya dan menyusuri gang yang lumayan gelap dengan pencahayaan temaram.
“Hei, ada apa?“ bisik Aji. Ia sedikit heran dengan temannya itu, yang mendadak berhenti berjalan. “Wah, mungkin, 'kah?“
Aji langsung bisa menangkap isi pikiran Azka saat melihat seorang pria berbusana serba hitam, sedang asyik telponan, pria itu beberapa kali melihat ke arah kos-kosan milik Bu Salma.
Pria misterius itu kemudian pergi melajukan motornya, lewat di depan kos-kosan.
“Kita harus memberitahu Yayan. Aku tidak menyangka bahwa orang seperti Yayan memiliki musuh!?“ usul Azka, bergegas pulang ke rumah.
__ADS_1
Andrea sendiri memilih jalan lain. Itulah mengapa mereka tidak saling berpapasan.
Kabar tentang ini harus segera diberitahu atau tidak, akan ada seorang korban.