
'Pada akhirnya aku menang. Yah, memang itu tujuannya, mendapatkan tanah ini. Namun ….'
Ada seorang wanita yang mengobati luka-luka Yayan. Berparas cantik, berkulit putih, rambut hitam panjang, serta mata berwarna merah berkilau layaknya rubi. Ia mengenakan cadar, tapi cuma untuk menutupi hidung sampai mulut.
“Kapan pernikahan kalian akan dilangsungkan?“ tanya Saka antusias. Ia juga ada yang mengobati, tak lain adalah sang istri.
Mereka semua berada di kediaman keluarga Saka, setelah duel yang dibuat-buat yang isinya omong kosong.
“Apalah sakit?“ tanya wanita yang mengobati Yayan, ia adalah anak tunggalnya Saka, Mikha, sedang membersihkan darah dan mengompres lebam-lebam di wajah Yayan.
“Hmm, y-yah, sedikit!?“ balas Yayan pelan.
“Hei, jawab pertanyaan itu!“ desak Saka menggebrak meja.
“Apa, sih? Duel itu hanya omong kosong! Semua yang dipertaruhkan juga … untuk apa aku menikahi anakmu?!“
Meski tepat di sampingnya, Mikha tak menunjukkan respon apa-apa. Penolakan dari Yayan seolah bukan masalah besar, wanita itu tetap tenang mengobati Yayan.
“Kau gila, ya? Menolak wanita secantik ini? Apa kepalamu sempat terbentur saat pertarungan tadi?“ ucap Saka geleng-geleng tidak percaya, yang di hadapannya bukan manusia normal, memiliki kelainan.
“Aku berhak memutuskan, dan yah … aku menolak. Cantik itu relatif, kakek!“ tegas Yayan sambil meledek.
“Oh, begitu cara mainnya? Oke … jika duel tadi omong kosong … maka kami tidak sudi menjual tanah pada kalian. Carilah di tempat lain!“ ancam Saka.
Yayan terbungkam. Saka tersenyum puas.
“Tolong, belakangi aku! Aku ingin mengobati luka-luka di punggungmu!“ titah Mikha.
Yayan dalam keheningan duduk membelakangi Mikha di kursi panjang itu. Anaknya Saka itu mulai mengoleskan obat tradisional ke punggung Yayan, dia memang sudah bertelanjang dada sejak tadi.
Yayan sedikit melirik Mikha yang berada di belakangnya. Dia mulai mempertimbangkan penawaran Saka.
'Apa aku harus menerimanya? Eh, tidak … namun, bisa sedikit kuusahakan!'
Yayan menarik nafas panjang sebelum bicara, mengungkapkan keputusannya. “Baiklah, aku akan mempertimbangkan untuk menikahi anakmu.“
“Untuk apa pertimbangan? Aku maunya jawaban yang pasti, konkret!“ timpal Saka tidak senang.
Yayan sudah menduga respon Saka. Setelah adu jotos dan sedikit bincang-bincang, Yayan bisa mengetahui perangai dari pria tua itu. Ia hanya seorang kakek-kakek yang keras kepala dan suka memaksakan kehendak, itu menurut Yayan.
“Hmm … jika tidak mau, ya sudah. Aku tidak mau menikahi wanita yang tidak kucintai. Bukannya ada yang istilah PDKT? Namun, Jika kau masih bersikukuh ….“ Yayan mengangkat kedua bahunya. “Kami bisa mencari tanah lain. Bumi ini luas!“
Yayan berdiri, meminta Mikha untuk berhenti mengobati lukanya.
“Sudah cukup. Terima kasih, Mikha.“ Yayan beranjak pergi dari ruang tamu dengan perlahan.
Dia menunggu Saka mencegahnya dan menerima keputusan untuk penjajakan dengan Mikha. Yayan was-was dengan gertakannya. Gawat bila Saka berisikap acuh.
__ADS_1
“Baiklah, baiklah. Kau bebas mau menikahinya atau tidak. Aku sangat tertarik denganmu, kau harus menjadi menantuku,” Saka menyerah. “Aku juga tidak peduli meskipun Mikha menjadi istri yang ke berapa.“
“Aku bahkan tak pernah berpikir untuk poligami,” timpal Yayan. Dia melirik Mikha yang seperti robot saja, ia bahkan diragukan jika seorang manusia.
'Wanita ini terlalu datar, seakan tidak memiliki emosi. Lalu, apa-apaan dengan mata merahnya. Itu sungguh menakjubkan! Apa mungkin hanya sebuah lensa kontak?' pikir Yayan.
“Baiklah, Mikha. Kau bisa ikut calon suamimu! Cepat bersiap!“
“Baik, ayah.“
Mikha pergi ke belakang untuk mempersiapkan kebutuhannya untuk pindah ke tempat Yayan.
'Huh, serius, nih. Dia akan kubawa ke kos-kosan. Eh, jangan-jangan!' Yayan membantah gagasannya sendiri.
'Sebaiknya aku beli rumah saja untuknya. Harus yang besar, sekalian untuk Andrea!' pikir Yayan.
Mikha selesai bersiap, ia nampak menyandang tas ransel ukuran sedang dan menyeret koper. Sebagai seorang pria, Yayan menawarkan untuk membawanya.
“Terima kasih.“
Yayan memintanya untuk keluar lebih dulu, dia masih ingin ngobrol sebentar dengan Saka.
“Ada hal yang ingin kau katakan?“ tanya Saka.
“Begini, sebetulnya aku juga butuh bantuanmu,” ucap Yayan terus terang.
“Apa itu?“ balas Saka yang tertarik.
“Hmm … tawaranmu lumayan menarik.“
“Tenang saja, aku akan membayarmu.“
“Ya, setuju!“ Saka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Yayan menerimanya.
“Aku bisa mulai kapan saja.“
.
.
.
.
Yayan tidak kembali ke kantor, dia izin untuk merawat luka-lukanya. Yah, cuma alasan. Faktanya, dia keluar bersama Mikha untuk membeli rumah di suatu perumahan elit.
'Diamond town! Benar-benar mengerikan! Apa-apaan dengan harga rumah di sini? Uang 5 miliar hanya bisa mendapat rumah dua tingkat yang kecil. Itupun adalah rumah termurah di sini.'
__ADS_1
Yayan tidak memiliki opsi untuk memilih, budget-nya sangat pas-pasan dan hanya bisa mendapat rumah termurah. Yah, tapi harus diakui bahwa rumah itu sudah sangat mewah.
“Ya, saya ambil rumah ini! Saya akan langsung mentransfernya,” ucap Yayan pada seorang wanita.
“Diamond town memiliki biaya angsuran yang terbilang rendah——”
“Saya tidak berencana untuk mengangsur. Semuanya dibayar dimuka,” sela Yayan acuh.
Wanita itu langsung menunduk menyesal. Perbuatannya berusan secara tidak langsung telah merendahkan Yayan.
“Maaf, saya tidak bermaksud——”
“Ya, ya, tenang saja. Saya orangnya santai saja.“
Transaksi selesai, wanita itu menyerahkan kunci rumahnya dan memberikan sedikit penjelasan tentang rumah yang baru saja dibeli. Yayan mengerti.
“Terima kasih, semoga kalian betah di sini.“ Wanita itu undur diri.
Yayan langsung menyerahkan kuncinya pada Mikha yang seolah-olah tidak ada, keberadaan benar-benar seperti udara.
“Mulai sekarang kau tinggal di sini. Mungkin akan segera mendapat teman, tapi tunggu saja. Aku akan berkunjung kapan-kapan,” terang Yayan.
Mikha cuma mengangguk dengan patuh. “Baik, terima kasih.“
[Selamat, Host mendapatkan pengembalian 5 kali lipat, 25 miliar]
'System, apa kau bisa mencetak kartu ATM? Jumlah uang yang ingin kuberikan padanya terlalu banyak.'
[Bisa]
Yayan merasakan di saku celananya ada sesuatu.
'Bagus, beri uang 1 miliar di kartu ATM itu!'
Yayan merogoh saku celananya, dia mengambil kartu ATM itu lalu memberikannya pada Mikha.
“Ini uang bulananmu, 1 miliar. Jika kurang bilang, aku akan memberikannya lagi.“
'Aduh, sial. Sudah seperti sepasang suami istri.'
“Ya, terima kasih, Mas Yayan.“
'Huh, panggilan yang lumayan mesra!?'
[Selamat, Host mendapatkan pengembalian 5 kali lipat, 5 miliar]
Ponsel pintar milik Yayan berdering, dia mendapat panggilan dari ibunya.
__ADS_1
“Halo, Yayan. Kami telah sampai di kosanmu. Kami tunggu kau pulang kerja.“
“Hah?“