Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 90: Buronan?


__ADS_3

Putri Rachial terus menyusuri lorong-lorong yang ada di Colloseum, ia mencari-cari keberadaan dari orang yang telah ia harapkan. Namun, yang ia temukan malah jasad para tamu VIP di sepanjang lorong. Terbunuh dengan kondisi mengenaskan, darah menggenang di lantai batu marmer Colloseum.


Putri Rachial menjadi sedikit takut, “Kenapa dia membunuh semua orang? Apa mereka juga bersalah?“ gumamnya yang cemas. Ia melihat kenalannya juga ikut menjadi korban.


Pikirannya tentang Yayan pun menjadi liar. Di satu sisi ia ingin bertemu, di sisi lainnya ia takut pada sosoknya.


“Yang Mulia!“ panggil seseorang.


Putri Rachial sontak menoleh, ia cuma melihat sosok berjubah hitam yang menutupi muka bagian atasnya dengan topeng. Setahunya … mereka adalah bawahan Yayan.


"Kau ... apa tujuan kalian? Kenapa membunuh orang-orang ini? Mereka juga bersalah?" teriak putri Rachial pada seseorang yang dikiranya adalah Yayan. Tapi, ia langsung tersadar bahwa orang yang berdiri di depannya bukan lah Yayan.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Ikutlah denganku!" orang itu mendekat dan mengulurkan tangan pada Putri Rachial.


"Tidak akan! Di mana dia? Kau bukan dia!" sangkal sang putri.


'Ahh, aku memang tidak memiliki bakat menyamar! Alpha jauh lebih hebat dariku!' batinnya.


Benar firasat Putri Rachial, ia bukan Yayan, melainkan Eta.


"Aku memang tidak bisa meniru Tuan sama sekali!" Eta membuka kupluk jubah beserta topengnya.


"Tapi, anda harus ikut saya! Di sini belum aman!"


"Wanita? Eta? Kenapa harus kau? Di mana dia?" erang Putri Rachial mendesak. Ia meraih jubah Eta dan ditarik ke arahnya.


"Aku butuh penjelasan! Kalian membunuh pendeta, lalu ... orang-orang ini. Apa mereka benar-benar bersalah?" Putri Rachial mengguncang tubuh Eta sambil menumpahkan air mata.


"Perempuan dengan dress berwarna biru itu adalah temanku! D-dia tidak mungkin terlibat dalam semua ini! I-itu tidak mungkin ...."


Eta melirik seorang perempuan yang telah tergeletak tidak bernyawa dengan semua darah yang bersimbah.


"Eta, jawab!" desak Putri Rachial yang putus asa.


Tentu saja Eta membisukan mulut, ia tidak diberi izin untuk memberi tahu apa pun pada sang Putri.


“Jawab!“


“Kau sungguh ingin mendengarnya, Putri?“


Putri Rachial tertuju pada suara itu. Suara langkah kakinya terdengar kian menggelar yang berarti dia semakin dekat. Orang itu lantas muncul dari persimpangan lorong.


“Tuan?“

__ADS_1


Eta langsung sumringah. Sementara Putri Rachial cuma memberikan respon sinis. Meski di lubuk hatinya ia sangat berterima kasih pada Yayan.


“Tentu saja. Aku perlu tahu alasanmu membunuh mereka.“


Yayan menghela nafas sebentar lalu menghampiri wanita berambut perak itu. Dia tersenyum melihat sang Putri yang agak ketakutan dan termundur terus ke belakang.


“Kau tidak perlu takut! Aku tidak mungkin menyakitimu! Kau harusnya tau itu, 'kan?“ Yayan tersenyum, menghapus noda darah di pipi Putri Rachial.


Si pemilik pipi sontak menyentak tangan Yayan menjauh. Ia dengan geram membentaknya. “Jangan basa-basi! Jawab pertanyaanku! Apa alasanmu membunuh mereka? A-aku cuma ….“


“Baiklah, kau mau jawabannya? Silahkan saksikan sendiri!“


Putri Rachial mulai menangis lagi saat melihat Yayan, tepatnya mata pria itu. Potong-potongan adegan berputar di kepalanya dengan sangat jelas. Semua pertanyaan yang selalu ia tanyakan pun terjawab semua melalui film pendek yang Yayan putar di kepalanya.


Setelah selesai menyaksikannya, Putri Rachial tertunduk dalam dan tak berselang lama tubuhnya ambruk ke arah Yayan.


“Yah, kau pasti berat menerimanya?! Tapi, memang begitu lah kenyataannya.“ Yayan membopong sang Putri.


“Eta, urus kekacauan di sini! Aku akan pergi ke tempat aman! Oh, ya … anak buahmu sedang kesulitan menghadapi beberapa darah murni yang ada di pihak musuh, para peserta pun ikut membantu. lebih baik kalian mundur saja!"


Yayan dan yang lainnya mundur sebab merasa tidak ada gunanya lagi berada di sana. Cuma buang-buang waktu untuk menghadapi bawahan perdana menteri yang merupakan darah murni. Setidaknya, tujuan Yayan untuk menggagalkan pernikahan dadakan Putri berhasil.


Yayan membawa putri Rachial ke home base dari penggemarnya.


"Eta, rawat dia baik-baik. Kita akan bergerak lagi setelah dia sadar!" ucap yayan pada Eta sebelum meninggalkan ruangan itu.


Yayan melihat Aji yang nampak frustasi di meja bar, ia ditemani oleh rekan-rekannya. Jika mereka tidak memakai atribut organisasi, mereka sekumpulan anak sma atau kuliahan.


"Yah, kau berhasil mengacaukan sesuatu, sih." celetuk yayan. Mereka berenam menoleh.


"Maafkan, saya Tu ...." 430 langsung mengganti cara bicaranya saat mendadapat delikan mata dari yayan.


"A-aku minta maaf. Ini adalah tanggung jawabku!" 430 menampar punggung 435 atau Aji dengan keras. "Minta maaflah, ini adalah kesalahanmu!"


"Oke, oke ... aku mengaku salah."


"Wajahmu tidak menunjukan penyesalan!" 430 dan 435 terus bersitegang.


"Yah, lupakan saja. Kejadian hari ini adalah improvisasi rencana, hasilnya lumayan. Dan kau ... apa rasanya nikmat melakukannya dengan Vanetta?"


"Hmm, ya." taji mengangguk dengan polos. "tapi lebih enak dengan Teta, sih!"


"Lastinya! Mereka tidak ada yang mengecewakan."

__ADS_1


Yayan lalu pergi dari tempat itu.


Aji langsung mendapat tatapan membunuh dari para rekannya. "Apa-apaan ini? Bagaimana kau bisa berhubungan dengan Nona Teta?"


"Ya, inilah namanya jalur orang dalam!" Aji menyeringai licik.


.


.


.


.


Yayan kembali dengan jemputan milik hotel tempatnya menginap, mungkin Vina mengirimkannya untun Yayan.


"Bagaimana harimu, Tuan?" sapa ramah sang supir.


Memang hotel bintang 5, mobil yang digunakan bukan mobil sembarangan. Yah, pokoknya mobil yang sering dinaiki oleh para elit dunia.


"Kurang berjalan baik. Kekacauan di Colloseum sangat parah!" ucap Yayan lesu, menyandarkan kepalanya di sandaran.


"Oh, itu berarti antda berada di sana saat kekacauan itu terjadi?"


"Begitulah."


"Ini mungkin menjadi lampu merah bagi Rugia. Acara festival dewa perang mungkin akan dibatalkan. Efek yang ditimbulkan oleh serangan teror1s itu terlalu besar. Dari warga sipil memang tidak ada korban, tapi semua menteri terbunuh dengan keji!"


"Teror1s?!" ulang yayan dengan menaikan sebelah alisnya.


Si supir terlihat tersenyum dari kaca spion.


"Rugia bertindak cepat. Kasus ini dilaporkan pada pbb, dan kelompok berjubah hitam itu menjadi buronan semua negara. Hmm ... kata-katanya, kelompok itu berasal dari Asia, tepatnya indonesia." ucap si supir panjang lebar, memberitahu yayan informasi yang belum diketahuinya.


'Efeknya terlalu besar, sih. Tapi, masa bodoh jika dianggap penjahat.'


Yayan selanjutnya mencoba menghidupkan TV. Dan ya, dia langsung menemukan berita tentang organisasinya. Terlebih lagi ….


“Peserta Festival Dewa Perang bernama Ika duga sebagai member kelompok jubah hitam.“


Chanel TV itu lantas memaparkan detail informasi tentang Aji. Semua biodatanya terpampang jelas …. Pihak PBB ternyata bergerak sangat cepat.


'Hehe, apakah ini akan berakhir?'

__ADS_1


__ADS_2