
"Akhh ...." Yayan bereaksi dengan sentuhan kompres yang Andrea lakukan pada bengkak-bengkak di wajahnya.
"Apa sangat sakit?" tanya wanita itu cemas, menarik kembali kompres es.
"Apakah hal seperti itu perlu ditanya." Yayan meminta kompresannya. Dia mau melakukannya sendiri.
"M-maaf." Andrea menunduk dalam, kentara menyesalnya. “Ulahku sendiri ... akh, ini memang sangat perih!?" ucap Yayan menempelkan handuk berisi es ke luka lebamnya.
Dia bisa saja menggunakan poin kesehatan untuk menyembuhkan lukanya. Namun, itu hanya akan membuat semua orang menjadi curiga. Jadi, Yayan akan membuat penyembuhannya terlihat normal.
Yayan dan Andrea kini sedang mengungsi di rumahnya Rinto. Sebab terlalu beresiko untuk kembali ke kos-kosan. Rumah si penjual nasi goreng adalah tempat yang mungkin Vicky atau Yani tidak ketahui. Jadi, mereka di sana aman-aman saja.
Rinto nampak kembali dari belakang, menuju ruang tamu, yang mana adalah keberadaan dari Yayan dan Andrea. Ia membawa sesuatu di tangannya.
“Apa Wulan sudah tidur?“ tanya Yayan
“Ya. Sudah dari tadi. Oh, ini aku ada sedikit pakaian … mungkin Andrea bisa memakainya.?!“ Rinto menawarkan sebuah daster dengan motif bunga.
Andrea tentu saja menerimanya, ia tidak boleh pilih-pilih untuk keadaan kali ini.
“Terima kasih.“
__ADS_1
“Tak perlu dipikirkan. Temannya bos juga termasuk pemilik wewenang untuk memerintahkan sesuatu pada bawahan,” ucap Rinto.
“Nah, bos. Ceritakan apa yang sebetulnya terjadi?“
Yayan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hotel. Kenapa keadaan Yayan serta Andrea dalam keadaan buruk. Tidak ada fakta yang disembunyikan, Yayan membeberkan semuanya.
Setelah cerita selesai, Rinto tidak tahu harus berperilaku seperti apa. Ia melihat Andrea secara seksama. Ia kini mengetahui jati dirinya, Rinto tidak menyangkanya sama sekali.
“Itu sangat buruk! Untung kau datang tepat waktu!“
“Ya, aku hampir terlambat. Huh, memang sangat nyaris,” ucap Yayan.
“Apa kau sebegitunya cemas padaku, Yan?“ Andrea tiba-tiba menyahut.
“Tidak juga. Ini hanya demi diriku. Aku tidak senang jika ada seseorang yang susah karenaku. Aku menyelamatkanmu cuma untuk kepuasan diriku,” beritahu Yayan yang terdengar sedikit angkuh.
Andrea menunduk dengan murung, “Begitu, ya?“
“Hahaha … kenapa kau ini? Kau bukan Andrea! Dia tidak mungkin bersikap semanis ini!“
Andrea mendongak dan melongo menatap Yayan.
__ADS_1
“Aku tidak se-apatis itu! Aku akan menyelamatkan siapa saja yang kukenal, memiliki hubungan denganku,” ucap Yayan seraya tersenyum lebar.
Andrea sontak memutar bola matanya, menghindari kontak mata dengan Yayan.
“Hmm … baiklah.“ Wanita itu tidak sadar bahwa di pipinya muncul semburat warna merah, ia sangat malu.
“Bagaimana? Apa kalian akan menginap di sini? Aku akan segera menyiapkan——”
“Tidak usah, kami akan pulang saja,” tolak Yayan.
“Tapi, bisa saja mereka bisa menemukan kalian?!“ was-was Rinto.
“Itu tidak terjadi!“ Yayan berucap dengan percaya diri.
Yayan dan Andrea bersiap-siap undur diri dari rumahnya Rinto.
“Ini ada sedikit uang jajan untuk Wulan. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini.“ Yayan menyerahkan uang senilai 5 juta, yang dicetak System pada saat itu juga.
“Padahal kontribusiku rendah. Tapi, terima kasih. Aku akan selalu mendoakanmu, semua tujuanmu akan tercapai.“
“Aku sangat tersanjung!“
__ADS_1
Yayan dan Andrea akhirnya pulang.
“Huh, Yayan memang bukan orang biasa! Padahal dia tidak membawa uang sepeser pun. Namun, dia bisa mengeluarkan uang sebanyak ini. Aku sangat beruntung bisa mengenalnya,” gumam si penjual nasi goreng.