Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 85: Boneka!


__ADS_3

Yayan selanjutnya kembali ke hotel untuk bersiap dengan agenda pentingnya. Sementara itu, Putri Rachial diserahkan pada Eta.


“Bom di stasiun XXX berhasil dijinakkan. Untuk ….“


Yayan secara tidak sengaja melihat berita itu di TV. Dia cuma bergumam datar.


'Ternyata begitu triknya Eta?!'


“Hmm … Yan, mau pakai baju apa?“ tawar Andrea membawa beberapa sampel busana.


“Terpenting pakaian formal dan tidak terkesan norak. Aku pilih baju yang memiliki warna gelap,” balas Yayan.


“Warna gelap? Hmm … apakah ini?“


“Tidak, sebaiknya pakai ini saja!“ Vina menyela. Ia menyodorkan sebuah baju. Andrea sontak menatapnya sinis.


“Batik bisa menunjukkan identitasnya sebagai orang Indonesia. Ini juga menunjukkan bahwa kamu orang pribumi. Indonesia murni!“ Vina menyerahkan batik motif mega mendung dengan warna biru dongker.


“Benar juga, sih.“


“Nah, 'kan?“ Vina tersenyum. Andrea pun gigit jari, ia tidak bisa membantah. Argumen Vina benar kali ini.


Setelah bersiap-siap selama hampir setengah jam. Yayan sudah sedia kapan saja untuk menemui Raja. Ini akan jadi pertemuan yang menentukan nasib bisnis Yayan dan negara Rugia.


“Sayang, jemputan dari pihak istana sudah sampai. Di bawah banyak wartawan yang datang.“ Mikha datang dengan membawa kabar kurang sedap.


“Ahh, itu merepotkan! Suruh pihak hotel untuk melakukan penjagaan!“


“Tenang saja, aku sudah melakukannya. Harusnya kamu akan selamat ke dalam mobil!“ Mikha berucap dengan datar, meskipun Yayan merasa ada sedikit gurauan di sana.


Sedangkan di sisi lainnya, para rombongan besar keluarga dan kenalan Yayan pergi bersenang-senang. Mereka mendatangi berbagai tempat wisata yang ada. Yah, itu tidak masalah, niatnya memang liburan. Khusus untuk Yayan, waktu liburannya akan tiba setelah urusannya selesai.

__ADS_1


Sesuai dengan ucapan Mikha, pihak hotel mengawal Yayan dan ketiga istrinya masuk ke dalam Limosin yang terparkir tepat di depan hotel. Para awak media nampak diblokir oleh pihak hotel. Nah, sekarang sudah aman.


“Apa aku akan jadi target pembunuhan?“ gumam Yayan yang asal, tapi tidak sepenuhnya karena gabut dalam perjalanan ke istana.


'Ah, pihak musuh sepertinya sudah menduga jika aku adalah ancaman,' pikir Yayan tidak sengaja melihat keberadaan Eta di salah satu atap bangunan.


Eta dan para bawahannya mengawal kendaraan yang ditumpangi oleh Yayan. Mereka membereskan pihak-pihak yang dirasa menganggu.


“Terget pembunuhan? Pastinya … tapi, apakah ada yang bisa melakukannya? Para perfect worker hampir semuanya memiliki kemampuan dasar Assassin, 'kan? Yang ada malah sebaliknya!“ sahut Vina. Ia duduk di samping Yayan, sedangkan dua wanita lainnya duduk bersebelahan dengan mereka.


“Lalu, bagaimana dengan kalian semua? Jika tidak bisa menyentuh target, kenapa tidak menyentuh orang-orang yang dekat dengan target?“ Yayan menatap tajam ketiga istrinya.


“Kami bisa menjaga diri, apalagi para member Black Robe yang selalu bersiaga!“ Vina membalas dengan ragu. Andrea dan Mikha mengangguk, mereka sependapat dengan Vina.


Begini-begini, kemampuan bela diri mereka jauh berkembang. Mungkin menghadapi sekelompok preman dengan senjata pisau tidak menjadi masalah. Tapi, Jika membicarakan soal senjata api bahkan para darah murni … mereka bertiga tidak akan bisa menang.


Yayan tidak menjawab, dia menyangga kepalanya dan melihat keluar jendela. Limosin yang ditumpangi rupanya dikawal oleh mobil-mobil polisi.


Di depan istana, Yayan sudah disambut banyak orang. Mereka ramah dan mengantarkan ke ruangan pribadi Raja. Di antara orang-orang itu, Yayan juga melihat perwakilan dari perdana menteri. Yah, itu Rudolf … ayahnya mungkin berhalangan hadir sebab mengurus sesuatu.


Istana yang megah, vibe abad pertengahan begitu terasa. Dekorasi yang menghiasi sangat antik, Yayan berpikir bahwa usianya malah lebih tua dekorasi itu.


'System keamanan yang ada di istana ini lumayan rumit! Eta harusnya kesulitan menyelinap ke sini!' Yayan memerhatikan beberapa CCTV yang terpasang. Dia tahu bahwa kamera itu bukan sekedar menjadi pengawas, lebih dari itu.


Bagaimana Yayan tahu?


System yang menyandarkannya.


“Yang Mulia ada di dalam. Saya permisi.“ Pegawai istana yang mengantarkan Yayan ke ruangan Raja pergi begitu saja.


Yayan kini cuma berhadapan dengan pintu yang sedikit memiliki lapisan emas itu.

__ADS_1


'Apakah semua benda di tempat ini bisa dicuri? Gila, sih?! Tapi, wajar … Raja Richard IV merupakan salah satu orang terkaya di dunia.'


Yayan membuka pintu itu, yang menyambutnya ruangan sederhana yang penuh dengan rak buku. Beraneka ragam jenis buku ada di sana.


Yayan kemudian melihat seorang pria duduk membelakanginya yang ada di sebalik meja kerja yang penuh kertas tercecer.


“Oh, Anda … Tuan Yayan? Dari Indonesia?“ Raja Richard IV memutar kursinya dan tersenyum pada Yayan.


Ia merupakan pria berumur 60-an tahun, rambut ubannya tersamarkan oleh rambut silvernya. Hal yang menjadi petunjuk bahwa ia cukup berumur adalah kerutan-kerutan di wajahnya.


Dia cuma mengangguk pada sikap ramah Raja. 'Aku tidak menyangka akan separah ini! Kukira dia masih bisa diselamatkan?!“


Yayan beruntung memiliki skill mental out yang sudah dalam tahap maksimal. Dia bisa melakukan pembacaan pikiran pada semua orang tanpa terkecuali. Dia bisa tahu siapa saja yang memiliki niat buruk. Yah, semua penghuni istana, mereka adalah kaki tangan orang lain, yang tersisa cuma Putri Rachial. Keputusannya untuk kabur dirasa tepat.


Pertemuannya dengan Rudolft sangat tepat, berkatnya … dia tahu semua rencana busuk dari dirinya dan perdana menteri.


Raja Richard IV mempersilahkan Yayan duduk di sofa yang ada di pinggir ruangan, itu area untuk menyambut tamu.


Selanjutnya, Yayan berusaha untuk bersikap biasa saja dan profesional. Dia tidak ingin terlihat tertekan atau memikirkan sesuatu.


Dia pertama-tama menunjukkan proposal dan melakukan sedikit presentasi. Semua itu berjalan lancar, Raja tampak tertarik. Terlebih pada jenis-jenis teknologi baru didemonstrasikan.


Yayan memberi jaminan bahwa itu yang pertama di dunia, baru Rugia dan Indonesia yang memilikinya. Raja akhirnya setuju untuk kerja sama, memudahkan segala urusan operasional Yaavim, seperti memanfaatkan sumber daya dan segala hal yang mengiringi. Sebagai gantinya, Yayan akan menjadi investor pada beberapa perusahaan lokal di Rugia dan bersedia berbagi ilmu. Win-win solution.


Yah, kesepakatan telah terbuat. Yayan tidak perlu ragu untuk menancapkan pengaruhnya di negara itu.


“Mohon kerjasama, Ya, Tuan Yayan.“ Raja berucap dengan bahasa Inggris, ia mengulurkan tangannya pada Yayan. “Tolong majukan negeri ini!“


“Dengan senang hati,” balas Yayan yang tersenyum, membalas jabat tangan Raja.


Sedangkan dalam hatinya Yayan ….

__ADS_1


'Maaf, Putri. Aku sepertinya tidak bisa menyelesaikan seluruh masalahmu, tidak untuk masalah ayah tercintamu. Aku kira dia cuma dikendalikan oleh semacam bakat yang dimiliki klan Sema. Tapi, rupanya aku salah …. Raja Richard IV cuma boneka yang diisi oleh kesadaran yang lain.'


__ADS_2