Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 52: Jadikan aku yang pertama di hatimu!


__ADS_3

[Misi dikonfirmasi]


[Bantu seorang dokter menyelesaikan masalahnya]


[Reward: 5 poin kharisma]


'Misi? Menyelesaikan masalah? Membantu menyembuhkan pasien?' terka Yayan.


Yayan kini masih berada di kantin rumah sakit untuk sarapan. Dia sedikit terkejut menerima misi dari System, sebab setelah mengaktifkan misi harian, misi random jadi sedikit berkurang. Baru kali ini Yayan mendapat lagi.


Yayan sebetulnya sudah tidak terlalu membutuhkan poin-poin statistik, seperti poin kekuatan, poin kecepatan. Statistiknya sudah sangat tinggi, beberapa kali lipat dari rata-rata manusia. Dan masih ada banyak sisa poin yang belum digunakan.


Prioritas Yayan mungkin mengumpulkan spera, mata uang System. Dia ingin segera menggunakan fitur shop.


'Huh, sebetulnya sia-sia aku mengerjakan misi ini. Tidak ada spera sebagai hadiahnya. Tapi, yah …. membantu orang tidak akan membuat rugi.'


Yayan segera menyelesaikan sarapannya, saat dia mengecek ponsel. Ada banyak notifikasi, kesemuanya dari kantor. Para atasan mencoba meminta konfirmasi kenapa Yayan tidak kunjung datang padahal sudah pukul setengah 9.


“Yah, aku lupa mengabari.“ Yayan pun mencoba memberikan kabar perihal dirinya yang absen.


Dia memilih sang manajer keuangan, Intan, untuk dihubungi.


“Umm … halo, manager. Aku hari ini absen, mohon maaf karena telat mengabari. Ya, aku tau tidak kompeten dan profesional. Jika para atasan sudah muak padaku … silahkan pecat saja,” ucap Yayan panjang lebar.


“Kau ini sedang sarkas atau apa? Kau tidak mungkin dipecat mengingat jasamu akhir-akhir ini. Setidaknya sebulan setelah kau berhasil mendapatkan lahan untuk pabrik baru,” sembur Intan.


“Oh, begitu?“


“Huh, tapi tetap jangan seenaknya! Karyawan lain mungkin bisa iri dan membencimu. Mereka pikir perusahaan menganakemaskanmu,” ucap intan menasehati.


“Ada urusan apa sampai menyebabkan dirimu absen?“ lanjutnya bertanya.


“Aku kini berada di rumah sakit——”


“Siapa yang sakit? Kau?“ sela Intan, ia panik begitu Yayan memberitahukan tentang keberadaannya.


“Huh, manager, tenang! Bukan aku tapi Vina. Dia kini sedang sendirian di rumah, tidak ada yang bisa mengantarnya untuk berobat. Jadi, aku yang membawa Vina ke rumah sakit.“


Intan terdengar menghela nafas dengan lega kekhawatirannya cuma alarm palsu.

__ADS_1


“Apa sakitnya Vina separah itu?“


“Ya, bisa dibilang sedang ke arah biasa. Dia kena gejala tifus,” beritahu Yayan. Dia berdiri lalu membayar pesanannya pada penjaga kantin.


“Apa dia baik-baik saja?“


Yayan kemudian berjalan kembali ke ruangan Vina sambil teleponan.


“Keadaannya kini sudah stabil.“


“Syukurlah. Oke, Yan … aku akan memberi kabar perihal alasanmu absen,” ucap intan terakhir kali sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


“Terima kasih, manager.“ Ponselnya kembali dimasukkan ke dalam saku.


Yayan berjalan dengan santai ke ruangan Vina.


Sementara itu, Luna masih setia membuntuti dari belakang walaupun Yayan telah mengetahui keberadaannya. Wanita itu masih kesal dengan kejadian tadi.


“Yayan?“ gumamnya sembari memegangi dadanya. “Cih, aku tidak terima ini!“ Ia melihat layar ponselnya, nampak nama kontak yang baru disimpan, yaitu Yayan.


Luna memutuskan untuk pergi dari rumah sakit. Ia mengira sudah tidak ada gunanya berada di rumah sakit.


Wanita itu dengan bosan berbaring di ranjang rumah sakit, ia melihat sekeliling, tepatnya fasilitas yang tersedia di ruangan itu.


“Ruangan VIP, ya?“ celetuknya. Ia kemudian melirik ponselnya yang tergeletak di meja, tepat di samping ranjang.


Vina memposisikan dirinya duduk bersandar dan mencoba menggapai ponsel itu. Namun, saat sedang sedikit mencondongkan badan, ia hampir terjerembap sebab badannya yang lemas.


Beruntung, Yayan sudah datang dan mencegah kejadian itu.


Yayan menghela nafas lega, dia kembali membaringkan Vina dan mengambilkan ponselnya.


Yayan memastikan Vina benar-benar tidak apa-apa. “Tidak ada yang terluka?“


“Ya, terima kasih, Yan,” ucap Vina yang menghindari kontak mata.


Yayan lantas menggigit bibir bagian bawahnya, dia selalu mendengarkan suara hati Vina dan mencoba tidak bereaksi apa-apa. Kini berbeda ….


'Ini sudah batasnya! Ini juga salahku karena seolah-olah memberikannya harapan,' geram Yayan dalam hati, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

__ADS_1


Parameter tingkat kesukaan Vina sudah menyentuh angka 100, Itu tahap maksimal. Vina adalah pasangan paling ideal untuk Yayan.


'System, bagaimana jika aku melamar Vina meskipun aku tidak memiliki perasaan romantis, hanya sebatas rasa sayang sebagai teman atau sabahat?'


[System tidak akan menghilang. System akan menghilang jika Host juga memiliki perasaan yang sama]


Yayan melirik Vina, dia tahu bahwa wanita itu kini sedang kepikiran soal Mikha. Ya, Vina syok karena Yayan ternyata memiliki calon istri sesempurna Mikha. Mental Vina tentu saja terserang, ia minder. Mungkin itu yang membuatnya sampai sakit.


“Yan?“ panggil Vina tiba-tiba.


“Hmm … perlu sesuatu?“ Yayan menoleh, dia siap siaga bila temannya itu butuh sesuatu.


Vina mencoba duduk dan menggerapai tangannya Yayan. Jadi, Yayan yang menggenggam tangan Vina.


“Ada apa? Apa yang kau butuhkan?“


“Aku cuma ingin kau berada di sisiku, Yan. Tolong teruslah bersamaku. Jadikan aku yang pertama di hatimu, selain ibumu.“ Vina menitihkan air mata. Ia kini berani menatap balik Yayan.


Sementara itu, Yayan diam sementara. Dia menunggu Vina agar selesai bicara.


“Aku tidak bisa lagi menahannya lagi, Yan.“ Vina merobohkan diri di pelukan Yayan.


“Maaf, sudah merusak pertemanan——persahabata kita. Tapi aku ingin lebih dari itu …. m-maaf, m-m-maaf.“ Vina menangis tersedu-sedu.


“Jika kau punya perasaan yang sama … t-tolong——”


“Sudah, sudah, Vin. Aku mengerti,” ucap Yayan, membelai rambut Vina.


'Bagaimana? Bagaimana? Apa yang harus kulakukan?'


Yayan bimbang dengan keputusannya. Dia tidak memiliki perasaan romantis pada Vina, tapi di sisi lainnya dia juga tidak ingin menyakiti hatinya.


Namun, Yayan merasa ini adalah kesalahannya sendiri. Dia mendekati Vina dan beberapa wanita lain, dengan harapan perasaan cinta itu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Tapi, tidak ada yang berubah, perasaan Yayan tetap sama. Malah perasaan para wanita itu yang semakin besar.


'Ya, aku memang harus bertanggung jawab.'


“Vina … Davina … aku akan selalu bersamamu, senantiasa di sisimu. Kau akan menjadi wanita nomor satu selain ibuku. Aku menjawab perasaanmu.“


Vina tidak bisa membendung lagi air matanya, bukan kesedihan, tapi kebahagiaan. Ia memeluk Yayan semakin erat.

__ADS_1


'Aku harus bisa belajar mencintai Vina. Jika tidak … itu akan sangat buruk!'


__ADS_2