
“Harap dimaklumi, wanita ini memang sedikit , yah ….“ ucap Yayan membuat gestur yang susah dimengerti.
Itu tersampaikan dengan baik pada Azka dan Aji, terkecuali untuk Andrea. Ia yang sedikit Lola, loading lama atau bodoh, ia tidak bisa menangkap maksud dari gestur wajah acak yang ditunjukan Yayan. Pada akhirnya Andrea tidak peduli.
Yayan kini mengajak Azka dan Aji untuk makan-makan di luar, di sebuah restoran bintang 5. Itu sebagai ganti atas Andrea yang telah memakan makanannya. Sedangkan untuk Andrea sendiri, ia sebetulnya tidak diajak, tapi memaksa ikut.
“Wah, kesambet apa nih? Seorang Yayan mengajak makan-makan, bahkan di resto bintang 5. Gajimu sudah naik?“ tanya Aji dengan senyum cengengesan.
“Aku belum lama ini mendapat sumber uang yang tidak diduga-duga.“
“Oh, biar kutebak … paling jaga lilin!“ girang Aji dengan suara keras. Pengunjung yang lain langsung mendelik ke arah Yayan dkk.
Aji seketika ciut, menunduk bersembunyi di sebalik meja. Namun, ia ketahuan tersenyum, itu artinya ia tidak menyesal. Mukanya benar-benar tebal.
“Azka, kau tahan punya teman seperti ini?“
“Huh, siapa juga yang tahan? Tapi, ya … lebih tepatnya terbiasa, sih,” balas Azka agak ragu pada jawabannya
Seorang pelayan pria menghampiri meja mereka. Yayan dan yang lainnya mulai memesan makanan yang diinginkan.
“Sudah, itu saja.“
“Baik, mohon tunggu sebentar!“ Si pelayan undur diri.
Sembari menunggu pesanan tiba, Yayan sedikit bercengkrama dengan Azka dan Aji. Mereka telah dua tahun berada di kosan yang sama, meskipun kini umur mereka terpaut 7 tahun.
“Mas Yayan yang terhormat. Begini … sebentar lagi kami akan lulus SMA, apa tidak ada posisi yang bisa diberikan pada kami di perusahaan tempatmu bekerja?“ ucap Aji menyanjung Yayan, ia memang hanya bersikap sopan bila ada maunya.
“Huh, orang dalam?“ gumam Yayan tidak senang. “Meski aku bekerja di sana sudah lumayan lama, jabatanku itu biasa-biasa saja. Kau akan tetap diseleksi, presentase diterima hanya 20%.“
“Itu sudah cukup bagus!“ timpal Aji tidak peduli pada penjelasan Yayan sebelumnya.
“Kau, Azka? Kau juga mau ikut?“ tawar Yayan. Jika Aji masuk, maka Azka harus ikut. Mereka sudah jadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, bisa kacau nanti.
“Ya, menjadi OB kurasa tidak masalah,” balas Azka sedikit acuh, menyangga kepalanya dengan tangan dan melihat ke arah lain.
Yayan tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
__ADS_1
“Bagaimana jika bekerja padaku saja? Aku bisa memberikan gaji yang jauh lebih besar dari pada upah minimum di kota ini!“
“Hah?“ kejut Azka dan Aji, mereka saling berpandangan.
“Aku sih, oke, jika kau memang bisa membayar kami.“ Azka yang pertama menimpali. Sedangkan Aji masih ragu, ia mengira Yayan sedang bercanda.
“Tapi, aku belum memikirkan ingin membuka usaha apa. Namun, modal sudah terkumpul! Aku rasa itu mencukupi,” beritahu Yayan.
“Huh, oke … terpenting kita bisa mendapat uang. Bekerja apa pun akan kusanggupi, bila memang bisa kukerjakan!“ ucap Aji.
Sementara itu, Andrea sedari tadi membungkam mulutnya, tidak berniat nyemplung pada obrolan.
Setelah penantian cukup lama, pesanan mereka pun sampai. Semuanya adalah menu mewah dan baru kali pertama bakal dicicipi.
Aji sudah mempermasalahkan soal porsinya, ya itu hanya beberapa suap.
“Nggak perlu heran. Yang dijual di tempat ini adalah predikat bintang dan kemewahan,” sahut Azka. “Jika mau makanan segunung … kenapa tidak ke warteg saja?“
Intinya beda kelas, semua elemen dasar di restoran bintang 5 dan rumah makan biasa bagaikan langit dan bumi. Mulai dari bahan-bahan premium, peralatan masak yang mahal, serta juru masak yang profesional.
“Kalian tau, kita harus meningkatkan kasta lidah kita. Kita mencari pengalamannya saja. Setelah ini kita pindah dan beli satu rumah makan.“
Tidak butuh waktu lama untuk mereka berempat menghabiskan makanannya. Kini semuanya telah siap pergi dan menuju destinasi selanjutnya.
“Kalian keluar lebih dulu! Aku akan membayarnya!“
“Berapa tagihannya?“ Aji sedikit penasaran.
“Umm … kira-kira 4 juta,” jawab Yayan enteng, seolah-olah bukan nominal yang besar.
Aji cuma mengangguk-angguk sebagai respon.
“Yan, sepertinya dari tadi ada yang mengawasi kita.“ Azka tiba-tiba mendekat dan berbisik pada Yayan.
Yayan sontak mengedarkan lirikannya.
“Kau mengenalnya?“ lanjut Azka.
__ADS_1
“Tidak, tapi ini sudah biasa. Tidak perlu risau!“ Yayan menepuk-nepuk bahu Azka dan menyuruhnya segera menyusul Aji dan Andrea.
'Yani?! Dia benar-benar tidak akan menghentikan ini sebelum aku benar-benar menderita.'
Yayan membayar tagihannya ke kasir. Setelah selesai, dia bergegas menyusul yang lainnya.
'Rupanya aku tidak akan mendapat pengembalian jika ada laki-laki lain selain diriku saat bersama wanita. Huh, aku mengerti,' batin Yayan.
Selanjutnya, Yayan dkk pergi ke warteg sesuai rencana. Mereka memesan semua yang ada di sana, menggratiskan kepada semua orang. Kegiatan foya-foya yang sedikit berguna bagi orang lain.
Dan sebuah fakta, Yayan masih tetap dibuntuti. Yayan memperkirakan bahwa mereka akan memukulinya setelah dia sedang sendirian, seperti yang sudah-sudah.
Yayan izin keluar sebentar dari warteg. Tentu saja niatnya untuk membereskan stalker menyebalkan itu.
'Saatnya memberi peringatan!'
Warteg berada di samping jalan raya, tempatnya sedikit strategis karena dekat terminal. Banyak orang berlalu lalang.
Yayan langsung bergerak ke tempat persembunyian si penguntit, dia berusaha mengelabuinya.
“Kemana dia?“ kejut kacungnya Yani. Lalu, sebuah benda tajam telah melingkar ke lehernya.
“Jangan bergerak!“ ancam Yayan. Dia menggunakan pisau yang diambilnya dari warteg.
“Dibayar berapa kau? Berapa personel kalian?“ tanya Yayan sembari mendekatkan pisau ke leher si stalker.
“Bisa kau lihat sendiri?“ ucapnya enteng.
Dari segala penjuru datang belasan orang, bahkan mendekati puluhan.
'Apa-apaan wanita itu? Dia punya bawahan berapa, sih?' bingung Yayan.
[Apa yang akan Host lakukan pada orang-orang ini?]
'Huh, abaikan saja kali, ya? Lagipula jumlah mereka terlalu banyak. Aku pasti kepayahan saat menghadapi mereka. Aku harus meningkatkan kekuatanku terlebih dulu.'
'System, gunakan mental out! Hapus ingatan mereka! Waktunya setengah hari ke belakang!'
__ADS_1
Yayan seketika langsung mimisan setelah membuat mereka semua linglung akibat dihapusnya sebagian ingatannya. Mereka tidak akan mengingat mendapat tugas untuk mengawasi Yayan sebagai target.
'Ugh … staminaku! Skill level satu digunakan untuk mengendalikan puluhan orang, tentu saja hampir overload!'