
'Sial! Benar-benar tipe penjahat, tidak peduli pada kelompoknya.' Yayan perlahan kehilangan kesadarannya.
Suara di sekitarnya terasa menggema dan pecah-pecah.
“Yan! Yayan! Yayan!“
Ada yang terus menyebutkan namanya dengan nada panik. Yayan menoleh dengan sisa tenaganya, dia melihat Vina berdiri membelakanginya. Wanita itu merentangkan tangannya lebar.
“Jangan mendekat! Kalian tidak boleh mendekat!“
Tentu saja tidak akan digubris, Vina hanya perempuan biasa. Ia sangat rapuh, mudah dilumpuhkan.
“Bawa anak itu sekalian wanita ini!“ perintah salah seorang dari mereka, nampak seperti bosnya.
“Ok, bos. Malem ini kita akan bersenang-senang!“
Mereka menahan kedua tangan Vina dan yang lainnya mengambil Wulan kembali.
“Lepas! Lepas! Kalian——” Vina disumbat mulutnya oleh sebuah sapu tangan yang dibasahi oleh obat bius.
[Menggunakan poin kesehatan]
“Aku masih belum kalah!“
Yayan mendadak bangkit, terus menjegal salah satu dari mereka. Dia seketika merebut senjata api rakitan yang dimiliki oleh salah satu dari para itu. Tanpa berbasa-basi, Yayan memberondong peluru ke segala arah, dia telah memperkirakan tembakannya tidak akan mengenai Vina dan Wulan.
Beberapa orang tumbang. Namun, beberapa dari mereka masih sanggup berdiri dan membalas tembakan dari Yayan
Pegawai kantoran itu reflek berlindung di balik barang-barang tua yang dirasa terbuat dari besi.
Baku tembak pun terjadi, Yayan melawan lebih dari empat orang. Dia tetap tersudut.
Jdarr … jdarr … jdarr …
Yayan mengenai salah satu dari mereka dan itu dibayar dengan bahunya yang terserempet peluru pada bagian bahunya
“Akhh!“
Yayan tidak berhenti, dia terus menembak sampai pelurunya habis.
'Sial!'
Rentetan tembakan dari Yayan berhenti, kelompok penculik itu perlahan mendekat dan sesekali memberikan tembakan. Yah, mereka memang harus tetap waspada.
'Ini bahaya! Aku bisa mati!' ucap Yayan dalam hati.
“Cepat habisi dia! Tidak boleh ada yang tahu tentang kita.“
Yayan hanya memiliki gunting cukur sebagai alat pertahanan. Dia tahu itu tidak akan berguna, lawan yang dihadapi lebih dari satu dan terlebih memiliki senjata api. Andai hanya satu orang maka Yayan bisa mengatasinya dengan kemampuan yang sekarang.
'Cih, aku kehabisan pilihan!'
“Tangkap ini!“
__ADS_1
Yayan melemparkan secara acak barang-barang di dekatnya, kotak-kotak kardus, meja dan kursi tua, bahkan kotak besi yang dijadikan barikade. Namun, siapa sangka benda itu sangat berat, jadi, Yayan memilih benda-benda yang lebih ringan.
Para penculik itu kelabakan dan panik, menembak acak ke segala arah. Yayan memanfaatkan itu dengan mendekat dan langsung meringkus Mereka. Dia tanpa ampun merebut senjatanya dan langsung memberondong peluru.
Genangan darah semakin banyak tercipta.
“A-aku membunuh mereka semua? Bagaimana ini?“ ucap Yayan cemas melihat pemandangan di sekitarnya.
"Hah ... hah ... hah ... a-aku sungguh melakukan ini?" Dia terengah-engah, adrenalinnya terpacu tadi.
Tindakannya adalah hasil insting bertahan hidup. Dia tak sungguh-sungguh berniat membunuh mereka semua, hanya untuk mempertahankan keselamatan dirinya. Lagipula, ini adalah pertama kalinya bagi Yayan dalam membunuh sesama manusia.
Dan pengalaman pertamanya saja sudah membunuh belasan orang.
Yayan mendekati Vina dan Wulan yang tergeletak tidak sadarkan diri. Dia sangat beruntung tidak ada peluru yang nyasar.
Yayen menepuk-nepuk pipi rekan kerjanya, “Vin? Vina?“
Tindakan itu percuma, sepertinya obat bius yang digunakan terlempau kuat.
“Bagaimana ini? Mayat-mayat ini tidak boleh dibiarkan di sini begitu saja,“ bingung Yayan, dia menatap jeri pemandangan di sekitarnya.
[Host bisa membuang mereka di dunia System]
“Eh? Dunia macam apa itu?“
[Itu adalah tubuh System sendiri]
“Apakah tidak masalah untuk membuang sampah di tubuhmu?“
“Hebat, jadi, aku bisa menukarnya menjadi apa pun?“
[Batasannya adalah barang fisik dan ada di dunia ini]
“Oh, berarti hal-hal berbau fantasi tidak bisa. Baiklah, aku mengerti.“
[Host ingin menukar sampah ini menjadi apa?]
“Beri aku motor baru! Itu hal yang kubutuhkan, tapi selalu lupa kubeli.“
[Hanya satu barang. Host bisa meminta lebih banyak barang]
“Huh, baiklah. Beri aku ganti baju bersih dan makanan dan air! Oh, ya … jangan dimunculkan lebih dulu, aku harus pindah tempat!?“
[Dimengerti]
Yayan menggendong Vina dan Wulan secara bersamaan, dia menapaki anak tangga yang lumayan curam. Jujur itu sangat merepotkan, tapi kekuatan fisik Yayan telah meningkat, jadi bukan lagi masalah.
Keadaan Barbershop telah sepi, tidak ada seorang pun. Keramaian yang Yayan lihat sebelumnya telah lenyap. Dia jadi berpikir bahwa pegawai dan pelanggan barbershop ini termasuk komplotan penculik. Namun, Yayan berkeliling untuk memastikan keadaan benar-benar aman.
“Meski tadi ada bunyi tembakan yang membabi buta, tapi keadaan sekitar masih adem-ayem,” gumam Yayan melihat keadaan di sekitar barbershop itu dari lantai dua.
Semuanya dipastikan kondusif, Yayan selanjutnya memutuskan untuk membawa Vina dan Yani ke lantai dua karena di sana ada sofa.
__ADS_1
“Vin, Vin, bangun!“ ucap Yayan pelan seraya memaparkan bau minyak kayu putih yang tidak sengaja dia temukan ke hidung Vina.
Tak berselang lama wanita itu membuka mata secara perlahan. Hal pertama yang dilihat tentu adalah wajah Yayan.
“Y-ya … Yan?“ gumamnya pelan belum sepenuhnya sadar. Butuh beberapa detik untuk Vina bisa ingat semua kejadian mengerikan tadi.
“Yayan!“ Seketika Vina bangkit dan langsung memeluk rekan kerjanya itu dengan sangat erat. Ia sebelumnya sudah sangat takut akan kehilangan Yayan.
“A-aku takut sekali, kau tertembak, perutmu mengeluarkan darah, dan kau … dan kau ….“ Wanita itu menangis jeri, menumpahkan air ke baju Yayan.
“Aku sangat bersyukur,“ ucap Vina sesenggukan.
“Maaf, Vin. Namun, sekarang sudah tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.“ Yayan dengan pelan mengelus rambut hitam Vina, berupaya menenangkannya.
'Aku tadi sangat beruntung karena punya beberapa poin kesehatan. Jika tidak … aku mungkin sudah mati.'
“Aku tidak tau gimana jadinya jika kau tidak bisa selamat .…”
“Sudah, tidak perlu dipikirkan, yang terpenting aku masih selamat!“ Yayan melepaskan pelukannya, dia secara perlahan mengusap air mata rekan kerjanya itu.
“Kita lupakan saja kejadian hari ini!“
Wanita itu menggeleng, ia terfokus pada perut Yayan. Terdapat bercak darah di bajunya.
“Lukamu …?!“ ia mengernyitkan kening, secara perlahan membelai perutnya. “Bagaimana bisa?“ herannya lalu menatap Yayan.
Pria itu hanya mengangkat bahunya sebagai respon.
“Tidak masuk akal!“ Vina menyibak bajunya Yayan ke atas untuk mengecek bekas luka tembak.
'Tidak ada?'
“Bagaimana mungkin? Yan, kenapa lukamu bisa sembuh secara instan? Tidak masuk di akal,” ucap Vina.
“Aku pun tidak tau. Kau pikir aku tau?“ balas Yayan acuh, dia mengalihkan perhatian dengan mendekat ke arah Wulan.
Minyak Kayu putihnya disodorkan ke hidung Wulan. Gadis kecil itu sadar setelah beberapa saat. Ia linglung sebentar. Yayan menjelaskan apa yang terjadi dan menenangkannya.
“Tenang saja, kamu sekarang aman. Kita akan segera bertemu dengan ayahmu. Namun, sebelum itu … kamu harus makan dulu.“
Yayan memberikan sebotol air untuk Wulan. Ia pun meneguknya dengan lahap, kentara hausnya.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku, kak Yayan dan ….“ Si gadis kecil itu memiringkan kepalanya.
“Kamu bisa memanggilnya tante Vina!“
“Hei, aku belum setua itu!“ Protes Vina. “Panggil kak Vina saja.“
“Yah, terserah kau saja lah, Vin.“
Sontak celotehan Yayan membuat Wulan tertawa dan menular ke Vina. Mereka telah melupakan kejadian baku tembak di ruang bawah tanah.
Mereka kembali saat Wulan sudah selesai makan.
__ADS_1
[Selamat, misi berhasil diselesaikan]
[Host mendapatkan 50 spera dan 6 poin kharisma]