
Yayan sekeluarga check-out pada siang harinya. Untuk apa-apa berlama-lama di hotel saat sudah memiliki rumah yang bisa dibilang nyaman? Begitulah, mereka pindah ke perumahan Diamond town.
Yayan di sana memiliki dua rumah. Satunya Mikha dan satunya lagi rumahnya, baru dibeli beberapa hari yang lalu. Dan yah … rumah itu cukup besar, berlantai 3, salah satu rumah paling mahal di perumahan elit itu.
Sarah dan suaminya tentu kagum, anak sulung yang sewaktu kecil adalah anak cengeng dan bandel, kini bisa membeli rumah yang sebanding dengan belasan hektar sawah. Sebagai orang tuanya, tentunya tidak akan menyangka. Mereka turut bahagia.
“Hei, hei, kak … apa kita akan pindah ke rumah ini?“ tanya seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 12 tahun. Ia adalah adiknya Yayan, namanya Dian.
Yan sedikit terkejut mendengar pertanyaan adiknya yang paling bontot. Dia belum merencanakan untuk tinggal bersama orang tua, ya untuk sekarang.
'Hmm … apa aku beli rumah lagi, ya?' pikir Yayan. 'Eh, sepertinya tidak terlalu perlu.
Aku sementara bisa tinggal bersama keluargaku.' Dia mengangguk-angguk.
“Tentu … untuk apa tinggal di kampung lagi? Asal tau saja … kakakmu ini akan jadi orang terkaya di negara ini, eh bukan … malahan dunia ini!“ Yayan dengan bangga membusungkan dadanya ke depan.
“Ya, ya … orang terkaya sedunia.“ Adik Yayan yang lain manggut-manggut. Kali ini perempuan berumur 15 tahun yang memiliki rambut panjang hitam berkilau, namanya Diana.
“Dan sebagai orang kaya … bisakah kakak tersayangku ini membelikan ponsel apel untuk adikmu yang paling cantik ini?“ Diana dengan manja memeluk lengan kanan Yayan, membuat sedikit melas ekspresi wajahnya. Gadis itu memang terbiasa bersikap seperti itu pada Yayan.
Dian mendecih seraya memalingkan muka. “Cih, paling cantik? Paling jelek baru benar!“
“Apa? Tidak suka? Benar lah paling cantik … karena aku adik perempuan satu-satunya. Oh, apa kau mau menjadi sainganku?“
“Jaga mulutmu, Mak Lampir! Aku masih waras!“ Dian bersungut-sungut, ngotot menunjuk-nunjuk Diana.
Yayan menghela nafas melihat kelakuan adik-adiknya, 'Ibu dan ayah pasti kewalahan menghadapi mereka berdua tiap hari.'
Yayan dan sekeluarga masuk ke rumah besar itu, memindahkan barang bawaan. Terutama Vina dan Mikha.
Mereka berdua akan berpisah dengan orang tua masing-masing dan membuat keluarganya sendiri. Rasanya sedikit berat, terlebih Vina yang merupakan anak tunggal.
Sementara itu, Andrea … ia cuma melihat tanpa bersuara. Yayan memutuskan untuk mendekatinya.
“Tidak apa-apa. Sekarang akulah keluargamu.“
Andrea menoleh dan langsung sumringah. “Itu ada benarnya. Ahh … aku tidak sabar untuk melahirkan anakmu! Aku ingin membuat tim futsal dari anak-anak kita.“ Ia dengan manja merapatkan dirinya pada Yayan, memeluk lengannya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
Yayan lantas menyangkal, “Tidak, tidak, itu terlalu ramai. Apalagi nanti ditambah dari Vina dan Mikha. Idealnya satu dan maksimal dua dari kalian bertiga.“
__ADS_1
“Banyak anak, banyak rezeki, Yan. Kau tidak tau pepatah itu?“
“Itu jadul. Dan tidak realistis, pepatah itu bisa menjadi nyata hanya untuk sedikit golongan. Lagian … jika punya banyak anak, memangnyakau bisa mengasuh mereka? Aku tidak akan memperkerjakan baby sister. Mengurus anak itu merepotkan?“
“Repot?“
“Kau akan mengetahuinya jika punya seorang bayi. Lalu, rasakan sendiri!“
Andrea terpengaruh akan oleh hasutannya Yayan. Sang suami sedikit mendongak dan bergumam dalam hati.
'Untuk anak … ya, aku akan menerimanya. Meski itu setara dua tim sepakbola.'
Acara pindahannya selesai, barang-barang tambahan telah menghiasi rumah itu. Contohnya bingkai foto seluruh keluarga dengan ukuran jumbo, yang terpasang di dinding.
Yayan menatap foto itu. 'Mereka nampak sangat bahagia dengan senyumannya, dan aku tidak akan membiarkan senyuman itu luntur.' Dia menguatkan tekad.
Ponsel Yayan mendadak berdering, dia seketika mengambilnya dari saku. Di sana tertulis Nesa, tanpa ragu Yayan menghubungkan panggilannya.
“Oh, sudah dimulai, ya? Baiklah, aku akan menyusul ke sana?“
Yayan pergi ke kamar untuk berganti baju. Ketiga istrinya yang kebetulan ada di dalam sedikit heran.
“Kamu mau pergi kemana?“ tanya Vina.
“T-tapi, tapi——”
Yayan tidak membiarkan Vina merespon, dia mengecup bibir Vina, tak ketinggalan Andrea dan Mikha.
“Tenang saja, aku tidak akan aneh-aneh!“
Vina menyentuh bibir yang baru dikecup Yayan, ia seketika menurunkan bahunya. “Padahal aku masih ingin bermesraan. Kira-kira Yayan ada urusan apa, sih?“
Sedangkan di sisi Yayan …
Dia langsung bergegas menuju Distrik Timur sesuai permintaan Nesa. Ia katanya sudah menemukan Yani, sisanya tinggal eksekusi.
Singkat cerita, Yayan berhasil sampai di sana. Dia ketemuan di sebuah halte bis. Nesa menyambut kedatangan Yayan.
“Maaf, sudah menganggu waktumu. Namun, urusan ini harus diselesaikan,” ucapnya.
__ADS_1
“Yah, aku mengerti. Tidak ada yang lebih penting dari ini!“ Yayan melihat-lihat sekeliling. “Aku telah tinggal di kota ini selama beberapa tahun, tapi belum pernah sekali pun pergi ke distrik lain.“
Nesa kemudian mengantar Yayan ke tempat tujuan. Mereka berdua menyusuri area pertokoan, berjalan di trotoar. Selain, kios-kios toko, pedagang kaki lima juga eksis di badan trotoar, ya itu ilegal. Mereka bisa saja ditertibkan.
Yayan melihat pemandangan yang cukup biasa. Preman yang tengah meminta uang keamanan. Sistem semacam itu … rupanya masih ada. Pura-pura memberi perlindungan padahal cuma memeras. Memberi perlindungan pun paling dari kelompok lain yang berniat mengambil alih wilayah ini.
“Nesa, kemana kita?“
“Dekat, sebentar lagi sampai, hoam!?“ Ia menguap, menepuk-nepuk mulutnya.
Tepat setelah mengatakan itu, Nesa meminta Yayan untuk masuk ke gang sempit yang bahkan motor pun tidak bisa lewat, cuma pejalan kaki.
“Nah, itu dia!“ Nesa menunjuk seseorang yang kelihatan sedang menunggu seseorang.
Begitu mata ketiga orang bertemu, pria yang mengenakan jaket rompi berwarna abu-abu itu seketika bersujud sembari gemetaran takut.
“T-tolong, jangan bunuh aku! Aku sungguh tidak ada hubungannya——”
“Kau akan kuhabisi jika tidak segera bangkit,” gertak Nesa.
Pria itu seketika duduk bersimpuh menghadap Yayan dan Nesa. Pandangannya selalu tertuju ke bawah.
“Nah, ini adalah orang yang ingin mendengar ceritamu.“
Yayan melirik Nesa untuk meminta konfirmasi. Laki-laki itu cuma diam, Yayan pun tanpa basa-basi langsung mengintrogasi pria di hadapannya.
“Kau kenal atau pernah melihat wanita ini?“ Yayan menyodorkan foto Yani di ponselnya.
Pria itu mengangguk dengan takut.
“Di mana?“
“Di ….“
Jleb …
Sebuah pisau mendarat di leher pria itu, ia seketika timbang dengan darah bercucuran deras. Jelas terkena pembuluh darahnya.
“Oh, mereka anak buahnya, ya?“ gumam Yayan.
__ADS_1
Dari ujung-ujung gang yang lain, beberapa orang berjalan mendekati Yayan dan Nesa yang seolah-olah terkurung.
'Memang tidak mungkin berjalan semulus itu.'